Arsip Kategori: Forum Publik

Bengkel Seni Budaya #2 Dewan Kesenian Banten

bsb-dkb-2

Setelah sukses dengan Program Bengkel Seni Budaya Edisi Perdana 15 Oktober 2016 lalu, Program Bengkel Seni Budaya Edisi Kedua Dewan Kesenian Banten diadakan pada 26 November 2016, juga di Taman Budaya Banten. Jika pada edisi perdana membutuhkan dua sessi saja, pada edisi kedua ini BSB DKB membutuhkan tiga sessi dari pukul 15.30-22.00 WIB. Sessi Pertama diisi dengan Diskusi Teater Bersama Peri Sandi (Banten) dan Perwakilan Teater Bilik Er (Jakarta). Sessi Kedua diisi dengan pementasan ‘Siklus’ oleh Teater Bilik Er. Dan sessi ketiga diisi dengan diskusi kritik, apresiasi dan saran yang dipandu oleh Sulaiman Djaya (Penanggungjawab Program Bengkel Seni Budaya DKB) dengan menghadirkan pemateri: Peri Sandi (Banten), Teater Bilik Er (Jakarta), R.M. Khalid (Ketua Komite Teater DKB), dan Gito Waluyo (Ketua Komite Seni Rupa DKB).

bsb-dkb-2h

Siklus yang dimainkan oleh Teater Bilik Er dari Jakarta pada Program Bengkel Seni Budaya #2 Dewan Kesenian Banten (26 November 2016) di Taman Budaya Banten ini adalah montase antara seni magis tradisional dan teater gerak (teater tubuh) yang mendadarkan siklus profan dan sakral kehidupan manusia, perbenturan dikotomis kebaikan dan kejahatan serta narasi sublim kehidupan manusia dan sejarahnya: dari kelahiran hingga kematian.

bsb-dkb-2b bsb-dkb-2c bsb-dkb-2d bsb-dkb-2e bsb-dkb-2f bsb-dkb-2g bsb-dkb-2h bsb-dkb-2i bsb-dkb-2j bsb-dkb-2k

Peradaban Syi’ah dan Ilmu Ke-Islaman

Peradaban Syiah dan Ilmu Keislaman

Oleh Prof. Dr. Sulaiman Dunya (Guru Besar Filsafat dari Fakultas Usuluddin di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir)

“Agar terjalin pertalian antara Syi’ah dan Sunni atas dasar prinsip-prinsip persaudaraan, pertalian cinta-kasih dan solidaritas, sekaligus mencerabut benih-benih perpecahan yang telah ditanamkan oleh musuh-musuh kedua mazhab ini”

Segala puji dan syukur hanya kepada Allah; Tuhan alam semesta. Shalawat dan salam atas Rasulullah, sebaik-baiknya makhluk, dan atas keluarganya yang suci nan mulia, serta atas segenap sahabatnya.

Amma ba’du. Beberapa waktu yang lalu, saya telah menulis sebuah risalah sederhana di bawah judul “Antara Syi’ah dan Sunni”; risalah yang menyimpan harapan yang besar dan keinginan yang kuat agar terjalin pertalian antara Syi’ah dan Sunni atas dasar prinsip-prinsip persaudaraan, pertalian cinta-kasih dan solidaritas, sekaligus mencerabut benih-benih perpecahan yang telah ditanamkan oleh musuh-musuh kedua mazhab ini ke dalam jiwa-jiwa setiap penganutnya. Masih di dalam risalah yang sama, saya menyerukan supaya setiap mazhab memandang perspektif mazhab lainnya selayaknya orang alim yang sedang mencari kebenaran, dan menyadari bahwa hanya kebenaranlah yang sepatutnya diikuti.

Telah saya katakan di sana, bahwa bila semangat yang kita warisi dari orang-orang soleh kita yang terdahulu itu telah menekankan keharusan komitmen pada kebenaran di mana pun, dan menerangkan bahwa kebanaran adalah pusaka berharga seorang mukmin yang hilang yang akan ia ambil di mana pun ia menemukannya, meskipun jatuh dari mulut orang kafir. Mereka menegaskan kepada kita bahwa orang yang berakal tidak akan menentukan kebenaran atas dasar figur seseorang, akan tetapi atas dasar bukti dan argumentasi. Maka dengan mengenal kebenaran, ia juga akan mengenal orang-orang yang benar.

Oleh karena itu, telah menjadi keharusan atas kita sebagai generasi penerus mereka, supaya senantiasa mencari kebenaran, berpegang teguh padanya, mempersiapkan diri dalam rangka menyampaikan pesan-pesannya dan bergerak di sekitar porosnya, tanpa lagi memandang siapa yang menyerukannya kepada kita.

Tentunya, dapat dimaklumi oleh orang-orang yang berakal bahwa perkara-perkara yang secara yakin masih belum diketahui selalu menjadi titik silang pendapat. Begitu pula, sikap saling menghormati setiap pendapat oleh setiap pengkaji dalam segala persoalan yang membuka pelbagai macam benturan pemikiran adalah sebuah keharusan dan tuntutan. Maka itu, mereka dapat berselisih pandangan dan, pada saat yang sama, duduk sejajar sebagai sahabat-sahabat yang baik.

Semoga Allah swt. melimpahkan rahmat kepada seseorang yang mengatakan: “Selisih pendapat tidaklah mengancam jalinan cinta”. Sesungguhnya Islam adalah agama yang menjunjung semangat toleransi dan keterbukaan sebegitu tingginya. Al-Quran menyatakan: “Dan berserulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan sebaik-baiknya cara”. Maka, bila seseorang ingin menikmati kebebasan dirinya dan mengekspresikan hasil-hasil kajian dan pikirannya, tidaklah sepatutnya memungkiri hak kebebasan pada orang lain untuk berbicara dan mengungkapkan hasil-hasil pemikiran dan pencarian intelektualnya.

Dan cukuplah sebuah kebanggaan bagi kaum Muslim tatkala mereka bersatu dan mufakat di atas prinsip-prinsip agama. Tampak begitu jelas; bagaimana prinsip ketuhanan menempati puncak sakralitas di dalam jiwa-jiwa Muslim, bagaimana prinsip Hari Kebangkitan, prinsip Kenabian dan kebergantungan umat manusia kepada prinsip-prinsip ini serta penutupan silsilah kenabian oleh Tuan umat manusia, Muhammad bin Abdillah saw., bagaimana mereka semua mempercayai kebenaran Al-Quran Al-Karim dan hadis-hadis sahih dari Rasulullah saw. Semua prinsip kepercayaan agama ini terpatri kuat di dalam dada dan jiwa segenap umat Islam.

Kehormatan dan sakralitas tiap-tiap prinsip itu tak terimbangi oleh sakralitas dan fanatisme agama apapun pada jiwa para penganutnya. Semua di atas tadi telah saya sampaikan bahkan lebih intensif lagi dalam risalah sederhana “Antara Syi’ah dan Ahli Sunnah (Sunni)”, meskipun di dalam risalah ini saya belum sempat menuliskan apa yang ingin aku ungkapkan lantaran pertimbangan kondisi proses penyetakan kala itu.

Dan kini adalah sebuah kebahagiaan besar bagi saya; yaitu diberi kesempatan guna membubuhkan kata pengantar untuk sebuah karya Sayyid Hasan Abu Muhammad, yang berjudul “Peradaban Syi’ah dan Ilmu Keislaman”. Di dalamnya, beliau membuka sebentang cakrawala yang barangkali masih asing bagi kebanyakan masyarakat Sunni.

Pada mulanya, saya ingin sekali mempelajari buku ini secara objektif, sehingga berdasarkan sejumlah data dan argumentasi, akan tampak jelas nilai kebenaran duduk persoalan yang tengah diupayakan oleh penulisnya untuk ditangani. Namun, saya mendapatkan buku ini justru di atas kapasitas dan kualifikasi saya sendiri, sebab penulis ra. memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan kekayaan data yang melimpah, sehingga beliau mampu memetakan semua ilmu-ilmu Islam dan Arab, memberikan klaim dan penilaian selayaknya seorang yang menguasai seluk beluknya, menggali kandungan rahasianya, membongkar faktor-faktor kelahirannya dan melacak tahaptahap perkembangannya.

Pada dasarnya, setiap jenjang ilmiah di atas menuntut keterlibatan sejumlah kelompok pakar dalam setiap ilmu tersebut, sehingga masing-masing pakar meneliti materi penelitiannya, lalu penulis yang mulia menerimanya atas dasar bukti, sebagaimana ia pun dapat menolaknya atas dasar bukti pula. Dan seandainya saya tidak lagi sempat berkecimpung di bidang ini dan mencermati subjek buku ini secara kritis lantaran kepercayaan saya pada kesungguhan para pakar yang begitu besar dalam mempelajari buku ini, tentu saya akan kecewa bila saja saya kehilangan kesempatan guna menorehkan sebuah kalimat yang saya anggap sebagai pendalaman atas apa yang telah tertulis di dalam risalah saya; “Antara Syi’ah dan Ahli Sunnah”. Kalimat itu ialah bahwa penulis yang mulia ra. mengklaim Syi’ah sebagai pelopor dalam merintis ilmu-ilmu agama dan Arab, lalu beliau membawakan bukti-bukti pendukung. Oleh sebab itu, buku ini berkisar pada penguraian klaim ini dan pemaparan argumentasinya.

Sementara di hadapan klaim tersebut, pembaca berada di antara dua sikap: Sikap pertama adalah sikap kaum pelajar, yaitu mereka yang tidak peduli terhadap peletak dan penggagas suatu bidang ilmu, dan hanya sibuk mempelajari materi-materi ilmu itu sendiri. Bagi mereka, tidaklah penting identitas para penggagas ilmu-ilmu; apakah ilmu itu hasil kreativitas Muslim Syi’ah saja, atau hasil kreativitas Muslim Sunni saja, atau hasil kerja sama mereka berdua.

Sikap kedua adalah sikap kaum terpelajar, yaitu mereka yang selain mempelajari ilmu-ilmu itu sendiri, juga mengamati kelahiran dan para penggagasnya serta tahap-tahap perkembangan yang dilaluinya. Karena, semua bidang ilmu mempunyai awal pembentukan dan perumusannya, persis dengan awal kelahiran tokoh-tokoh besar. Maka dari itu, setiap ilmu memiliki latar belakang sejarah sebagaimana akar sejarah kelahiran para tokoh besar tersebut.

Kepada kaum terpelajar saya katakan, bahwasanya buku ini merupakan usaha keras yang patut disyukuri. Penulisnya telah mengetengahkan buku tersebut kepada dunia Islam sebagai langkah partisipasi dalam mengemban tugas yang semestinya dipikul oleh para ulama Islam. Itulah sejarah ilmu-ilmu keislaman dan sejarah ilmu-ilmu lain yang diturunkannya.

Untuk itu, tidaklah pantas membalas budi usaha keras dan besar ini dengan cara pandang yang dangkal yang berdasar pada sikap acuh atau sinis. Tidaklah sepatutnya kita mengatakan, misalnya, bahwa usaha ini hanyalah fanatisme, atau penantangan, atau apa saja yang senada dengan kata-kata ini, sebagaimana yang digunakan sebagai alasan pembenaran diri oleh orang yang tidakmenginginkan dirinya terlibat di dalam jerih penelitian.

Sekali lagi, tidaklah sepatutnya kita beranggapan bahwa hanya ini, tidak ada selainnya. Sebab, tidak ada alasan untuk bersikap fanatik, pun tidak ada dalih untuk berlaga menantang, karena Syi’ah sebagaimana Sunni; mereka adalah Muslimin. Perselisihan pendapat mereka dengan Sunni hanya seputar persoalan-persoalan yang masih berada di bawah dataran prinsip agama. Maka itu, Syi’ah adalah saudara Muslim seiman, dan kepeloporan mereka dalam merintis sebagian bidang ilmu tak ubahnya dengan keunggulan seorang saudara di atas saudara lainnya. Dan bagaimanapun, fakta ini menumbuhkan semangat bersaing dan gairah kompetisi, tanpa menciptakan dampak negatif semacam kecurigaan, permusuhan dan pertikaian. Oleh kerena itu, kita tidak punya selain dua pilihan berikut ini:

Pertama, menundukkan kepala sebagai rasa syukur dan penghargaan atas usaha keras yang telah dicurahkan oleh penulis yang mulia, dan atas hasil-hasil penelitian yang telah dicapainya.

Kedua, membalas usaha keras penulis dengan cara dan kerja serupa, serta menawarkan hasilhasil penelitian yang diraih, berikut bukti-bukti yang kuat dan argumentasi yang dapat diterima.

Selanjutnya, saya menghadapkan diri kepada Allah; Dzat Yang Maha Kuasa, sambil berharap semoga Dia menyucikan jiwa-jiwa dari noda-noda yang mencemari mereka dan menggantikannya dengan benih-benih cinta, ketulusan dan persaudaraan, mengembalikan persatuan kepada Muslimin, memahamkan agama kepada mereka, mengingatkan akibat dari setiap urusan mereka, memberikan taufik-Nya kepada mereka sehingga tertuntun di bawah hidayah Islam dalam kehidupan pribadi dan sosial mereka, dan mengaruniakan inayah-Nya pada mereka agar dapat menyampaikan ajaran agama kepada umat manusia dengan mengamalkannya dan menjaga hukum-hukumnya sebagai bukti yang kuat atas keindahan dan kesempurnaannya.

Pada kesempatan ini, saya ingin sekali menyinggung salah satu keunggulan dan kegemilangan kaum Muslimin yang patut kita angkat dan kita banggakan, yaitu karya-karya Sayyid Muhammad Baqir Ash-Ashadr. Saya tidak mengira bahwa dunia sekarang dapat menciptakan semacamnya di tengah-tengah kondisi yang mempersulit penyusunannya. Kecerdasan beliau yang luar biasa telah menghasilkan dua karya besar; yaitu “Falsafatuna” dan “Iqtishoduna”. Itulah karya-karya yang mengetengahkan akidah Islam dan sistem sosialnya, dengan tetap mengoreksi pandangan-pandangan yang digagas oleh arus ateis Barat dan para antek-antek mereka yang seringkali memakai jubah Islam sedangkan Islam sendiri tampak jauh dari mereka.

Itulah pandangan-pandangan laksana tumbuhan kesembuhan yang sempat mengapung di permukaan laut lalu tenggelam hilang seakan tak pernah muncul. Untuk itu, kepada mereka yang mengoleksi pelbagai teori palsu di dalam kepala, saya menganjurkan agar menelaah karya-karya itu, dengan harapan mereka dapat menyucikan diri dari kotoran dan najis kebatilan dengan air suci kebenaran, dan menangkap cahaya wujud dari balik hati nurani mereka setelah tersesat di tengah arus alienasi, serta dapat menemukan diri mereka setelah menyia-nyiakannya.

Dan kepada kaum remaja Muslim yang terkecoh oleh sebersit janji peradaban yang palsu, saya menganjurkan agar meluangkan waktu guna membaca karya-karya tersebut. Pada saat yang sama, saya pun sadar bahwa bagaimana membaca karya-karya itu menjadi terasa sukar bagi mereka yang hidup dengan gaya hedonistik dan serba puas, hilang kesungguhan, lebih kerap dengan kebatilan daripada dengan kebenaran. Sebab, kebatilan dan hidup bersenang-senang adalah dua kendala yang telah menyelimuti akal, naluri dan hati sehingga mereka lalai dari kesungguhan dan kebenaran.

Begitu pula saya menganjurkan kepada para guru agar mempelajari karya-karya tersebut sehingga dapat membina jiwa-jiwa yang telah rusak, hati-hati yang telah gelap, akal-akal yang telah lumpuh dan terhina di mata para pecandu dunia lantaran mereka tidak mengecap betapa besar berkah dan fungsinya, dan pada gilirannya mereka pun tidak lagi mengenal nilai yang sesungguhnya. Dengan begitu, keadaan mereka tak menentu, kehidupan mereka menyimpang dan harapan-harapan mereka kabur, dan akhirnya mereka jatuh ke dalam kondisi yang perlu diciptakan kembali dari awal.

Di akhir pengantar ini, tidak ada yang layak saya sampaikan selain ungkapan terima kasih kepada saudara yang terhormat, Sayyid Murtadha Ar-Radhawi, pemilik perpustakaan An-Najah di kota Najaf, Republik Irak, atas usaha-usahanya yang mulia dalam menebarkan ilmu dan memperkenalkan khazanah-khazanah yang selama ini terpendam, juga atas kesempatan yang diberikan kepada saya sehingga saya dapat mengetahui karya ilmiah yang berharga ini [Peradaban Syi’ah dan Ilmu Keislaman].

Saya percaya bahwa buku ini akan menjadi subjek penelitian yang amat berarti bagi kaum pelajar dan terpelajar seketika edisi penerbitan terbarunya sampai di tangan mereka, Insya-Allah.

20 Ramadhan 1386 / 1 Januari 1967

Zionisme Amerika (Bagian Terakhir)

Said dan adik perempuannya, Rosemarie (1940)

Oleh Edward W. Said (Penulis buku monumental Orientalism)

Bagaimanapun, setiap aliansi atau kompromi dengan Israel dalam situasi dan kondisi sekarang, ketika kebijakan AS benar-benar didominasi Zionisme Amerika, dapat dipastikan hanya memunculkan hasil yang sama bagi Arab secara umum dan bangsa Palestina pada khususnya. Israel harus dominan, kepentingan Israel lebih utama, dan ketidakadilan sistemik Israel dapat terus berlangsung. Terkecuali Zionisme Amerika diatasi dan dilucuti—sebuah tugas yang sejatinya tidak sulit, seperti yang akan saya tunjukkan pada bagian selanjutnya—maka hasilnya akan sama: kepedihan dan kehinaan bagi kami sebagai Arab.

Peristiwa-peristiwa selama empat minggu terakhir di Palestina benar-benar menjadi kemenangan bagi Zionisme Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak kemunculan kembali pergerakan nasional Palestina modern pada akhir 1960-an. Wacana politik dan publik dengan sangat definitif mentransformasi Israel menjadi ‘korban’ dalam beberapa konflik terakhir. Bahkan meskipun dilaporkan 140 orang Palestina meninggal dan hampir 5000 lainnya terluka, tetap saja dikatakan bahwa “kekerasan orang Palestina” adalah faktor yang menghalangi kelancaran “proses perdamaian”.

Kini ada sebuah ritual kecil dari ungkapan-ungkapan yang setiap pengamat akan mengulanginya kata demi kata atau bergantung kepadanya sebagai sebuah asumsi yang tak terkatakan; semua itu telah terukir di dalam telinga, pikiran, dan ingatan sebagai pembimbing bagi orang yang bingung; sebuah manual atau mesin untuk menghasilkan ungkapan-ungkapan yang telah menghentikan udara selama, paling tidak, satu bulan. Saya dapat membacakan kembali sebagian besar dari ungkapan itu, bahwa: Barak menawarkan konsensi yang lebih banyak di Camp David daripada perdana menteri Israel sebelumnya (90 persen wilayah dan kedaulatan terbatas atas Yerusalem); Arafat penakut dan tidak memiliki keberanian untuk menerima tawaran Israel demi mengakhiri konflik; kekerasan orang Palestina, yang diarahkan oleh Arafat, telah mengancam Israel (semua jenis variasi mengenai ini, termasuk keinginan untuk mengeliminasi Israel, anti-Semitisme, bom bunuh diri untuk tampil di televisi, dan menempatkan anak-anak di garis depan hingga mereka menjadi martir) dan membuktikan bahwa “kebencian” klasik kepada Yahudi memotivasi orang-orang Palestina; Arafat adalah seorang pemimpin lemah yang mengizinkan dan memprovokasi rakyatnya untuk menyerang Yahudi dengan merilis para teroris dan memproduksi buku-buku sekolah yang mengingkari eksistensi Israel.

Mungkin terdapat satu atau dua formula lainnya yang tidak saya kutipkan, tetapi gambaran umumnya adalah bahwa Israel dikelilingi oleh para barbarian yang melempari batu sehingga bahkan rudal-rudal, tank-tank, dan helikopter-helikopter pemburu yang digunakan untuk “membela” Israel dari kekerasan hanyalah sebuah upaya untuk mencegah kekuatan yang mengerikan itu. Perintah Bill Clinton (dengan penuh kesetiaan ditirukan menteri luar negerinya) kepada Palestina untuk “mundur” berhasil mengesankan bahwa orang-orang Palestina menginfiltrasi wilayah Israel, dan bukan sebaliknya.

Juga penting untuk disebutkan bahwa begitu berhasilnya upaya Zionisasi media ini sehingga tidak pernah ada sebuah peta pun yang diterbitkan atau ditunjukkan di televisi untuk mengingatkan para pembaca dan pemirsa Amerika—yang sangat tidak peduli dengan geografi dan sejarah—bahwa kamp-kamp, pemukiman-pemukiman, jalan-jalan, dan barikade-barikade Israel-lah yang mencacah tanah orang Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Lebih jauh, seperti di Beirut pada 1982, terjadi sebuah pengepungan riil Israel terhadap orang Palestina, termasuk terhadap Arafat dan orang-orangnya. Yang benar-benar telah dilupakan—jika ini memang benar-benar dipahami—adalah sistem wilayah A, B, dan C yang dengannya pendudukan militer Israel terhadap 40 persen Gaza dan 60 persen Tepi Barat terus berlangsung, dan yang proses perdamaian Oslo tidak pernah benar-benar dirancang untuk mengakhirinya, atau bahkan tidak memodifikasinya sama sekali.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh tidak adanya geografi dalam konflik yang sebagian besarnya bersifat geografis ini, maka kelemahan yang dihasilkan adalah hal yang sangat penting karena gambar-gambar ditampilkan atau dijelaskan tanpa konteks sama sekali. Menurut saya, penghapusan oleh media yang terzionisasi ini adalah tindakan yang disengaja pada awalnya dan kini lambat-laun menjadi hal biasa. Media yang terzionisasi memberikan tempat kepada para komentator palsu, seperti Thomas Friedman, untuk menjajakan komoditasnya tanpa perasaan malu sedikit pun, menyuarakan ketidakberpihakan Amerika, fleksibilitas dan kedermawanan Israel, dan pragmatismenya yang bijaksana, yang dengannya dia mengecam para pemimpin Arab dan mengejutkan para pembacanya yang membosankan. Ia tidak hanya membiarkan anggapan yang luar biasa absurd tentang Palestina yang menyerang Israel untuk tampil ke permukaan tetapi lebih jauh mendehumanisasi Palestina sebagai binatang-binatang buas yang memangsa tanpa kesadaran dan motif.

Ada sedikit pertanyaan mengapa ketika catatan mengenai siapa yang tewas dan terluka disebutkan, tidak ada informasi mengenai kebangsaan mereka? Hal ini jelas untuk membiarkan orang-orang Amerika berasumsi bahwa penderitaan terbagi secara seimbang di antara “kelompok-kelompok yang bertikai”, dan pada kenyataannya menonjolkan penderitaan Yahudi dan mereduksi atau menghilangkan sama sekali perasaan orang-orang Arab, terkecuali tentu saja bagi kemarahan mereka. Kemarahan dan faktor-faktor penyebabnya tinggal menjadi satu-satunya cara mendefinisikan emosi orang-orang Palestina. Hal itu menjelaskan kekerasan, dan memang, memperlakukannya sedemikian rupa sehingga Israel harus tampil sebagai representasi dari keluhuran moral dan demokrasi yang selamanya dikelilingi oleh kemarahan dan kekerasan. Tidak ada proses lain yang secara logis bisa menjelaskan para pelempar batu itu dan keperkasaan “pertahanan” Israel.

Tidak ada yang dikatakan mengenai penghancuran rumah, perampasan lahan, penahanan ilegal, penyiksaan, dan yang sejenisnya. Tidak ada yang dikutip mengenai apa yang disebut (kecuali bagi pendudukan Jepang atas Korea) pendudukan militer terlama dalam sejarah modern; tidak ada mengenai resolusi-resolusi PBB; tidak ada tentang pelanggaran Israel terhadap seluruh Konvensi Jenewa; tidak ada yang dikatakan mengenai penderitaan sebuah bangsa dan kekeraskepalaan bangsa lainnya.

Lupakan tentang bencana (Nakba) pada 1948, pembersihan dan pembantaian etnis, penghancuran Qibya, Kafr Qassem, Shabra serta Shatila, dan periode panjang pemerintahan militer bagi warga Israel non-Yahudi tidak mengatakan apa pun tentang penindasan yang terus berlangsung terhadap mereka sebagai 20 persen minoritas yang dikorbankan di dalam negara Yahudi. Ariel Sharon, dikatakan, sebagai provokator terbaik, dan bukan seorang penjahat perang sementara Ehud Barak adalah negarawan, dan bukan penjagal Beirut. Terorisme selalu menjadi catatan di pihak Palestina sementara “membela diri” adalah milik Israel.

Apa yang abai disebut Friedman dan “para pecinta perdamaian” pro-Israel ketika mereka memuji kedermawanan Barak yang tak terbayangkan sebelumnya adalah substansi sebenarnya dari hal itu. Kita tidak diingatkan bahwa komitmen Barak untuk melakukan penarikan mundur yang ketiga (dari sekitar 12 persen wilayah pendudukan) yang dibuat di Wye 18 bulan yang lalu tidak pernah terjadi. Maka, nilai apakah yang lebih daripada “konsesi” seperti itu? Kita diberi tahu bahwa Barak akan mengembalikan 90 persen wilayah. Apa yang diabaikan adalah bahwa 90 persen merupakan nilai yang Israel tidak pernah akan kembalikan. Yerusalem Raya pastinya adalah 30 persen Tepi Barat; pemukiman besar yang harus dianeksasi adalah 15 persen lagi; jalan-jalan militer di wilayah-wilayah itu belum diputuskan. Jadi setelah semua ini dideduksikan, 90 persen sama sekali bukan jumlah yang banyak.

Mengenai Yerusalem, konsesi Israel pada prinsipnya adalah mereka konon berkeinginan untuk membahasnya dan mungkin, cuma mungkin, menawarkan pembagian otoritas yang sama atas Haram asy-Syarif. Kemunafikan yang mengejutkan dari persoalan ini adalah bahwa seluruh Yerusalem Barat (mayoritasnya Arab pada 1948) telah disepakati oleh Arafat, plus sebagian besar Yerusalem Timur yang diperluas. Sebuah rincian yang lebih jauh: orang-orang Palestina yang menembakkan senjata-senjata kecil mereka ke Gilo secara rutin dibuat seakan-akan seperti kekerasan yang tak ada pemicunya, sementara tak ada seorang pun yang menyebutkan bahwa Gilo itu sendiri berdiri di atas tanah yang dirampas dari Beit Jala, tempat dimana tembakan itu berasal. Di samping itu, Beit Jala secara membabi-buta terus dihujani rudal oleh helikopter Israel untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk sipil.

Saya melakukan sebuah survei terhadap suratkabar-suratkabar utama. Beberapa kali sejak 28 September, terdapat setidaknya antara satu hingga tiga artikel rata-rata setiap harinya di New York Times, Washington Post, Wall Street Journal, Los Angeles Times, dan Boston Globe. Dengan pengecualian, mungkin, sekitar tiga artikel yang ditulis dari sudut pandang pro-Palestina di Los Angeles Times, dan dua lainnya (satu ditulis oleh seorang pengacara Israel, Alegra Pacheco, dan yang lainnya oleh jurnalis liberal pro-Oslo asal Yordania, Rami Khoury) di New York Times, seluruh artikel yang diterbitkan—termasuk yang ditulis para kolumnis reguler seperti Friedman, William Safire, Charles Krauthammer, dan yang serupa dengan mereka—berposisi mendukung Israel, proses perdamaian yang disponsori AS, dan ide bahwa kekerasan Palestina, kurangnya kerja sama Arafat, dan fundamentalisme Islam adalah yang patut dipersalahkan.

Para penulis yang dimaksud, semuanya, merupakan mantan pejabat militer dan sipil AS, pejabat dan apologis Israel, para spesialis dan ahli, serta pejabat-pejabat lobi dan organisasi pro-Israel. Dengan kata lain, peliputan media arus utama telah benar-benar berasumsi bahwa pandangan Palestina atau Arab atau Muslim mengenai persoalan-persoalan seperti taktik teror Israel terhadap penduduk sipil, kolonialisme pemukiman, dan pendudukan militer sama sekali tidak ada, atau tidak berharga untuk didengar. Hal ini terjadi bukan tanpa preseden dalam catatan jurnalisme AS, dan merupakan sebuah refleksi langsung dari pola pikir Zionis yang menjadikan Israel sebagai norma dalam perilaku manusia, yang dengan begitu mengenyampingkan pertimbangan yang setara dari eksistensi 300 juta Arab dan 1,2 milyar Muslim.

Pola pikir yang sudah saya gambarkan sungguh mengerikan dalam kesembronoannya dan, jika hal itu bukan sebuah distorsi realitas secara praktis dan juga aktual, orang bisa dengan sangat mudah berbicara tentang sebuah bentuk gangguan kejiwaan. Dan ia sangat bersesuaian dengan kebijakan resmi Israel dalam berhadapan dengan Palestina, bukan sebagai bangsa dengan sejarah tentang perampasan hak milik dimana dalam sebagian besar kasus Israel bertanggung-jawab secara langsung, tetapi sebagai suatu gangguan periodik bagi mereka yang memandang kekuatan, dan bukan pemahaman serta akomodasi penuh, sebagai satu-satunya respon yang mungkin. Segala sesuatu selain itu jelas tidak pernah terlintas dalam pikiran.

Ketidakpedulian yang luar biasa ini diperparah di Amerika Serikat karena Arab dan Muslim jarang dipedulikan kecuali sebatas (seperti yang sudah saya tulis sebelumnya) menjadi objek setiap politikus yang berambisi tinggi. Beberapa hari yang lalu, Hillary Clinton mengumumkan, dengan sebuah isyarat kemunafikan yang sangat menjijikkan, bahwa dia telah mengembalikan donasi sebesar $50,000 dari sebuah kelompok Muslim-Amerika karena, Hillary berkata, mereka mendukung terorisme; hal ini sesungguhnya adalah sebuah dusta yang luar biasa, karena kelompok yang dipersoalkan hanya mengatakan bahwa mereka mendukung resistensi bangsa Palestina terhadap Israel selama periode-periode krisis, dan dengan sendirinya bukanlah posisi yang problematik tetapi tetap dipandang kriminal di dalam sistem Amerika hanya karena Zionisme yang totaliter menuntut semua—dan lebih jelasnya saya bermaksud “setiap”—kritik terhadap apa yang Israel lakukan tidak dapat ditoleransi dan termasuk ke dalam kategori anti-Semitisme. Dan hal ini terjadi meski faktanya (kembali dalam maknanya yang paling jelas) seluruh dunia mengecam kebijakan-kebijakan pendudukan militer Israel, kekejaman yang tak sebanding, dan pengepungan bangsa Palestina.

Di Amerika, Anda harus menahan diri untuk tidak melancarkan kritik apa pun terhadap Israel jika Anda tidak ingin didakwa sebagai seorang anti-Semit yang meniscayakan penghinaan yang brutal.

Keanehan lebih lanjut dari Zionisme Amerika, yang merupakan sebuah sistem pemikiran antitesis dan distorsi gaya Orwellian, adalah bahwa tidak diizinkan untuk berbicara tentang kekejaman Yahudi, atau tindakan-tindakan Yahudi yang berkaitan dengan Israel, meskipun segala yang dilakukan Israel dilakukan atas nama Yahudi, untuk, dan oleh negara Yahudi. Fakta bahwa negara seperti itu (Israel) secara istilah tidaklah cocok, karena hampir 20 persen populasinya bukanlah Yahudi, tidak pernah disampaikan kepada publik dan hal ini juga bertanggung-jawab terhadap kesenjangan yang luar biasa, dan memang disengaja, antara apa yang media sebut sebagai “Arab Israel” dengan “Palestina”: mungkin tak seorang pembaca atau pemirsa pun tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sama, yang dalam kenyataannya dipisahkan oleh kebijakan Zionis, atau bahwa kedua komunitas itu merepresentasikan akibat dari kebijakan Israel—kasus apartheid di satu sisi, dan pendudukan militer serta pembersihan etnis di sisi lain.

Ringkasnya, Zionisme Amerika telah menciptakan setiap diskusi publik yang serius mengenai Israel, penerima bantuan asing AS terbesar yang pernah ada, baik masa lalunya maupun masa depannya, sebuah tabu yang tidak boleh dilanggar dalam situasi apa pun. Untuk menyatakan hal ini secara jelas sebagai tabu terakhir di dalam diskursus Amerika akan dipandang sebagai suatu pernyataan yang dibesar-besarkan. Aborsi, homoseksualitas, hukuman mati, bahkan anggaran militer yang suci itu telah dibicarakan dengan bebas (meski selalu harus berada di dalam batas). Bendera Amerika bisa saja dibakar di muka umum, sementara kesinambungan sistematis perlakuan Israel selama 52 tahun terhadap Palestina hampir tak terbayangkan, sebuah kisah yang tidak boleh muncul ke hadapan publik.

Konsensus ini hingga batas-batas tertentu mungkin dapat ditoleransi selama tidak menjadikan dehumanisasi yang terus berlangsung terhadap orang-orang Palestina itu sebagai sesuatu yang bermoral. Tidak pernah ada bangsa di dunia pada hari ini yang pembunuhan terhadap mereka di layar-layar televisi dipandang oleh mayoritas pemirsa Amerika untuk diterima sebagai sebuah hukuman yang wajar. Inilah yang menimpa Palestina yang kematian warganya sehari-harinya dipersepsikan di bawah judul “kekerasan dua pihak”, seolah-olah batu dan katapel anak-anak muda itu, yang lelah dengan ketidakadilan dan penindasan, merupakan kekerasan yang lebih utama alih-alih resistensi mereka yang berani terhadap perendahan nasib yang ditakar kepada mereka, bukan hanya oleh para prajurit Israeli dengan senjata buatan Amerika tetapi juga oleh sebuah “proses damai” yang dirancang untuk memenjarakan mereka di dalam Bantustan dan tempat-tempat penampungan yang hanya cocok untuk binatang.

Bahwa para pendukung Israel di Amerika selama tujuh tahun merencanakan demi menghasilkan suatu dokumen yang utamanya didesain untuk memenjarakan banyak orang layaknya para pesakitan dalam sebuah tempat rehabilitasi atau penjara, adalah sebuah kejahatan yang nyata. Dan bahwa ini bisa disamarkan sebagai perdamaian alih-alih sebagai kebinasaan yang memang terjadi selama ini telah melampaui kemampuan saya untuk memahami atau cukup menggambarkannya sebagai sesuatu yang tidak lain daripada kebejatan yang tanpa batas. Hal terburuk dari semua ini adalah begitu tebalnya dinding yang membatasi wacana tentang Israel di Amerika, bahwa tidak ada pertanyaan yang dapat diajukan kepada pikiran mereka yang menghasilkan Oslo dan bahwa selama tujuh tahun rencana mereka disamarkan kepada dunia sebagai “perdamaian”. Nyaris tidak ada orang yang mengetahui manakah yang lebih jahat: mentalitas yang berpikir bahwa Palestina bukan entitas yang berhak untuk mengekspresikan perasaan ketidakadilan mereka (mereka terlalu rendah bagi hal itu) ataukah mentalitas yang terus merencanakan perbudakan atas mereka?

Apakah seluruh hal tersebut sudah cukup buruk? Namun, status kita yang menyedihkan terkait Zionisme Amerika semakin diperparah oleh tidak adanya institusi di sini atau di dunia Arab yang siap dan mampu menghasilkan sebuah alternatif. Saya cemas bahwa peliputan seputar batu yang dilemparkan para pengunjuk rasa di Bethlehem, Gaza, Ramallah, Nablus, dan Hebron tidak cukup terefleksikan di dalam kepemimpinan Palestina yang serba ragu, tidak mampu untuk mundur ataupun bergerak maju. Dan ini adalah kemalangan yang terakhir.

Catatan:

Tulisan ini dimuat sebagai artikel berseri (bersambung) di Al Ahram Weekly, 21-27 September, 2-8 November, Edisi No. 500-506.

Edward W Said (1935-2003) adalah teoritikus sastra Amerika-Palestina. Ia lahir dari keluarga Palestina Protestan. Posisi terakhirnya adalah Gurubesar Kesusastraan Inggris dan Komparatif pada Universitas Colombia, dan dipandang sebagai salah satu figur pelopor dalam teori posmodernisme. Dalam dunia Islam dan Ketimuran, Said dikenal sebagai salah seorang yang pertama menjelaskan dan mengkritik “Orientalisme”. Selain itu, ia juga populer sebagai aktivis pembela hak-hak bangsa Palestina. Awalnya, Said mendukung “solusi dua negara” dan masuk ke dalam Palestinian National Council (PNC) sebagai salah seorang anggotanya. Menjelang penandatanganan Kesepakatan Oslo 1993, Said mengundurkan diri dari PNC karena merasa Oslo sebagai pengkhianatan atas bangsa Palestina dan tidak akan pernah menghasilkan berdirinya negara Palestina yang berdaulat. Secara khusus, ia menyebut Yasser Arafat telah menjual “hak pulang” bangsa Palestina ke tanah air mereka. Akhirnya, ia mendukung “solusi satu negara” di tanah historis Palestina, dimana warganya, baik Yahudi, Arab, maupun lainnya, bisa hidup damai dan menikmati kesetaraan hak. Karena Leukemia kronis, Edward Said wafat pada 25 September 2003 di New York City pada usia 67 tahun. Pada 2006, seorang antropolog, David Price, berhasil membongkar kumpulan dokumen Biro Penyelidik Federal FBI, yang 147 halaman di antaranya berkaitan dengan Said. Sejak 1971, Said ternyata diawasi dan dimata-matai FBI dengan kode “IS Middle East” (IS= Israel).

Edisi cetakan terjemahan tulisan ini dapat dibaca di jurnal Al-Huda Volume 4, Nomor 14, 2008, halaman 66-84

Zionisme Amerika (Bagian Kedua)

Edward Said by William D Hart

Oleh Edward W. Said (Penulis buku monumental Orientalism)

“AIPAC selama bertahun-tahun menjadi begitu berpengaruh bukan hanya karena didukung oleh populasi Yahudi yang terorganisasi, terhubungkan dengan baik, sangat menonjol, sukses, dan kaya tetapi sebagian besarnya karena sedikit sekali resistensi terhadapnya”

Apa yang hendak saya diskusikan dalam bagian selanjutnya adalah bagaimana satu-satunya strategi politik yang mungkin bagi AS sejauh terkait kebijakan mengenai Arab dan Palestina bukanlah sebuah kesepakatan dengan Zionis maupun dengan kebijakan AS. Namun, strategi itu adalah sebuah mobilisasi kampanye publik yang diarahkan kepada rakyat AS demi kepentingan hak-hak kemanusiaan, sipil, dan politik bangsa Palestina. Semua kesepakatan, apakah itu Oslo atau Camp David, akan gagal karena, sederhananya, diskursus resmi mengenai Palestina secara total didominasi oleh Zionisme dan, dengan beberapa pengecualian, tidak ada alternatif lain yang mungkin. Dengan demikian, semua kesepakatan damai yang diambil atas dasar sebuah persekutuan dengan AS adalah kesepakatan yang justru lebih menjustifikasi kekuatan Zionisme ketimbang melawannya. Untuk menyerah begitu saja kepada kebijakan Timur Tengah yang didominasi Zionis, sebagaimana yang Arab telah lakukan selama lebih daripada satu generasi, tidak akan menghasilkan stabilitas di Palestina dan juga kesetaraan dan keadilan di AS.

Ironinya adalah bahwa masih ada sejumlah besar opini yang siap beroposisi, baik kepada Israel maupun kebijakan luar negeri AS. Tragedinya adalah Arab terlalu lemah, terlalu bercerai-berai, sangat tidak terorganisasi, dan tidak peduli untuk mengambil keuntungan dari kesempatan tersebut. Saya juga akan membahas faktor-faktor penyebabnya pada bagian selanjutnya karena harapan saya tertuju kepada generasi baru yang mungkin terkacaukan dan terlemahkan oleh tempat yang memilukan, dimana kebudayaan dan masyarakat kami kini berada, dan oleh kemarahan yang konstan serta kehinaan yang kami semua alami sebagai akibatnya. Sebuah episode kecil tapi mungkin memalukan terjadi sejak saya menulis bagian terakhir dari artikel ini dua minggu lalu. Martin Indyk, duta besar AS kepada Israel (untuk periode kedua selama masa pemerintahan Clinton), tiba-tiba dicabut jaminan keamanan diplomatiknya oleh Departemen Luar Negeri. Ceritanya karena ia menggunakan komputer jinjingnya tanpa melalui prosedur keamanan yang semestinya, dan karenanya mungkin telah merilis informasi kepada orang-orang yang tidak berwenang. Akibatnya, ia kini tidak bisa memasuki atau meninggalkan Departemen Luar Negeri tanpa pengawasan, tidak bisa tetap berada di Israel, dan seharusnya menjalani sebuah investigasi menyeluruh.

Kita mungkin tidak bisa menemukan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, apa yang menjadi rahasia publik dan sayangnya tidak dibahas oleh media adalah skandal penunjukkan Indyk pada kali pertamanya. Menjelang pelantikan Clinton pada Januari 1993, diumumkan bahwa Martin Indyk, yang lahir di London dan menjadi warganegara Australia, telah disumpah menjadi warganegara AS berdasarkan atas kehendak langsung presiden terpilih. Prosedur-prosedur yang semestinya tidak dilalui. Ini adalah sebuah tindakan dari hak prerogatif eksekutif, sehingga, setelah memperoleh kewarganegaraan AS, Indyk dapat segera menjadi seorang anggota Dewan Keamanan Nasional AS yang bertanggung jawab dalam kebijakan Timur Tengah.

Semua ini, saya percaya, merupakan skandal yang sebenarnya, bukan kecerobohan Indyk setelahnya atau atau ketidakhati-hatiannya, atau bahkan keterlibatannya dalan mengabaikan kode-kode etik yang resmi. Karena sebelum ia datang ke jantung pemerintahan AS pada puncak dan posisi yang seringkali dijalankan secara rahasia, Indyk adalah kepala Washington Institute for Near East Policy, semacam think thank yang terlibat dalam mendukung secara aktif kepentingan Israel, dan yang mengordinasikan aktivitasnya dengan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), lobi paling berpengaruh dan ditakuti di Washington. Patut diperhatikan bahwa sebelum datang ke pemerintahan Bush, Dennis Ross, penasehat Departemen Luar Negeri AS yang memimpin proses perdamaian Amerika, adalah juga kepala Washington Institute. Jadi, lalu-lintas antara lobi Israel dan kebijakan Timur Tengah AS sangatlah reguler, dan memang diregulasikan.

AIPAC selama bertahun-tahun menjadi begitu berpengaruh bukan hanya karena didukung oleh populasi Yahudi yang terorganisasi, terhubungkan dengan baik, sangat menonjol, sukses, dan kaya tetapi sebagian besarnya karena sedikit sekali resistensi terhadapnya. Terdapat ketakutan dan rasa hormat yang kuat bagi AIPAC di seluruh Amerika, dan khususnya di Washington, dimana dalam beberapa jam saja nyaris seluruh anggota Senat dapat digiring untuk menandatangani sebuah surat kepada presiden demi kepentingan Israel.

Siapa yang mau menentang AIPAC dan melanjutkan karirnya di Kongres, atau berhadapan dengannya demi kepentingan, katakan saja, bangsa Palestina ketika tidak ada hal konkret yang dapat ditawarkan dibandingkan dengan apa yang ditawarkan kepada siapa pun yang mendukung AIPAC? Di masa lalu, satu atau dua anggota Kongres memang melakukan resistensi terhadap AIPAC secara terbuka tetapi segera setelahnya pemilihan ulang mereka diblok oleh banyak komite aksi politik yang dikendalikan AIPAC. Satu-satunya senator yang terlihat memiliki pandangan oposisi terhadap AIPAC adalah James Abu Rezk, tetapi dia menolak untuk dipilih kembali dan, karena alasannya sendiri, mengundurkan diri setelah periode enam tahunnya berakhir.

Tidak ada pengamat politik yang secara jelas dan terbuka menentang Israel di AS. Seorang kolumnis liberal, seperti Anthony Lewis dari New York Times, kadang-kadang menulis kritik terhadap praktik pendudukan Israel, tetapi tidak ada yang dikatakannya mengenai 1948 dan seluruh isu tentang pengusiran Palestina yang orisinal, yang menjadi akar dari keberadaan Israel dan perilaku-perilaku setelahnya.

Dalam sebuah artikel, baru-baru ini mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, Henry Pracht, mengungkapkan adanya keselarasan opini yang luar biasa di semua sektor media Amerika, dari film, televisi, radio, suratkabar, hingga terbitan-terbitan mingguan, bulanan, kwartalan, dan harian: semuanya, lebih atau kurangnya, bersentuhan dengan garis kepentingan Israel, yang juga menjadi garis kebijakan resmi Amerika. Inilah keselarasan yang Zionisme Amerika capai sejak 1967, dan yang dieksploitasi dalam sebagian besar wacana publik mengenai Timur Tengah. Dengan begitu, kebijakan AS setara dengan kebijakan Israel, terkecuali dalam beberapa kesempatan yang teramat jarang (misalnya dalam kasus Pollard), dimana Israel melangkahi batas dan berasumsi bahwa ia mempunyai hak untuk menolong dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Kritik terhadap praktik-praktik Israel, karenanya, sangat terbatas pada manuver-manuver yang sporadik, yang sangat jarang hingga nyaris tidak terlihat. Konsensus utamanya benar-benar tak tersentuh kritik dan begitu kuat hingga dapat dipaksakan di mana-mana sebagai arus utama yang diterima. Konsensus ini terdiri dari ‘kebenaran’ yang anti-kritik mengenai status Israel sebagai negara demokrasi, kualitas dasarnya, hingga modernitas dan rasionalitas rakyat serta keputusannya.

Rabbi Arthur Hertzberg, seorang agamawan liberal Amerika, suatu kali pernah mengatakan bahwa Zionisme adalah agama sekuler komunitas Yahudi Amerika. Ini didukung secara jelas oleh beragam organisasi Amerika yang perannya adalah untuk mengawasi kehidupan publik dari perbedaan, bahkan ketika banyak organisasi Yahudi lainnya menjalankan rumah sakit, musium, dan lembaga-lembaga riset demi kebaikan negara ini. Dualitas ini tampaknya adalah sebuah paradoks yang tak tertuntaskan dimana lembaga-lembaga publik yang mulai eksis bersama dengan lembaga-lembaga yang tak berhati nurani dan nyaris tidak manusiawi. Karenanya, sebagai contoh, Zionist Organization of America (ZOA), sebuah kelompok fanatik kecil tapi vokal, memasang sebuah iklan di New York Times pada 10 September 2000. Iklan ini ditujukan kepada Ehud Barak seolah-olah ia adalah pegawai yang digaji Yahudi Amerika.

Iklan ini mengingatkan Barak bahwa enam juta Yahudi Amerika adalah lebih banyak daripada lima juta orang Israel yang telah memutuskan untuk menegosiasikan Yerusalem. Bahasa di dalam iklan itu bukan hanya bernada peringatan tetapi juga mengancam dengan mengatakan bahwa perdana menteri Israel secara tidak demokratis telah memutuskan apa yang ditentang oleh Yahudi Amerika, yang tidak rela dengan sikapnya. Tidaklah jelas siapa yang memberi kelompok fanatik kecil nan agresif ini sebuah mandat untuk menceramahi perdana menteri Israel dalam nada seperti itu. Namun, ZOA merasa mempunyai hak untuk mengintervensi urusan siapa pun.

Mereka secara rutin menghubungi dan menulis surat kepada rektor universitas saya agar ia mengeluarkan atau mencekal saya karena sesuatu yang telah saya katakan, seolah-olah universitas sama dengan taman kanak-kanak dan para profesornya dapat diperlakukan layaknya para penjahat di bawah umur. Tahun lalu, mereka menggalakkan sebuah kampanye untuk menjatuhkan saya dari posisi sebagai presiden Modern Language Association, dimana 30 ribu anggotanya mereka ceramahi seolah-olah kumpulan orang bodoh. Ini adalah jenis intimidasi gaya Stalin yang paling buruk tetapi telah menjadi ciri khas Zionisme Amerika dalam kondisinya yang paling fanatik.

Demikian juga, selama beberapa bulan terakhir, para penulis dan editor Yahudi sayap kanan (seperti Norman Podhoretz, Charles Krauthammer, dan William Kristol—untuk menyebut beberapa nama propagandis yang paling kasar) melancarkan kritik terhadap Israel karena telah membuat mereka tidak rela, seolah-olah mereka lebih berhak memiliki label “Israel” ketimbang siapa pun. Nada bahasa mereka dalam artikel-artikel tersebut, dan artikel-artikel lainnya, benar-benar mengerikan: sebuah kombinasi dari selera rendah, kebodohan yang eksplisit, khotbah soal moral, dan bentuk kemunafikan paling buruk. Semua itu mereka sampaikan dalam suasana kepercayaan diri yang sempurna.

Mereka berasumsi bahwa dengan adanya kekuatan organisasi-organisasi Zionis yang mendukung dan melindungi keliaran mereka, maka mereka bisa bebas begitu saja menampilkan verbalisme yang melewati batas. Namun, hal ini lebih banyak disebabkan oleh mayoritas orang Amerika yang tidak peduli kepada apa yang mereka katakan atau diintimidasi untuk bungkam sehingga membuat mereka terus melenggang dengan semua omong kosong tersebut. Hanya sedikit orang Amerika yang bersentuhan dengan aktualitas-aktualitas politik Timur Tengah yang sebenarnya. Bahkan, orang-orang Israel yang lebih sensitif kerap memandang jijik orang-orang seperti itu.

Zionisme Amerika kini telah mencapai level dari sesuatu yang nyaris murni fantasi, yakni bahwa apa yang baik bagi Zionis Amerika, dalam hegemoni mereka dan wacana fiksi mereka, adalah baik bagi Amerika dan Israel, dan tentunya bagi Arab, Muslim, dan Palestina, yang dipandang tak lebih daripada sekedar rasa gatal yang bisa diabaikan. Siapa pun yang menentang dan berani menantang mereka (khususnya ketika dia seorang Arab atau Yahudi yang mengkritik Zionisme) akan menjadi korban dari pembunuhan karakter dan kekerasan yang paling buruk, dimana semuanya bersifat personal, rasis, dan ideologis.

Mereka tak pernah mengenal lelah dan benar-benar tanpa rasa kasih sayang atau kemanusiaan yang tulus. Mengatakan bahwa serangan dan analisis mereka seperti Perjanjian Lama dalam praktiknya adalah sama dengan menghina Perjanjian Lama itu sendiri.

Dengan kata lain, menjalin persekutuan dengan mereka, seperti yang coba dijustifikasi oleh negara-negara Arab dan PLO sejak Perang Teluk, adalah sebuah ketidakpedulian yang paling bodoh. Zionis Amerika secara dogmatis menentang segala hal yang Arab, Muslim, dan khususnya perjuangan bangsa Palestina serta dengan segera akan menghancurkan segala sesuatunya alih-alih membuat kesepakatan damai dengan kita. Adalah juga benar adanya bahwa sebagian besar orang awam dikacaukan oleh antusiasme dalam nada bahasa mereka seraya tidak menyadari apa yang sebenarnya berada di balik itu. Kapan pun Anda berbicara tentang Palestina dengan orang-orang Amerika yang bukan Yahudi atau Arab, dan tidak akrab dengan persoalan Timur Tengah, seringkali terdapat kemarahan yang ditunjukkan lewat sikap intimidatif, seolah-olah seluruh Timur Tengah adalah milik mereka untuk mereka ambil.

Zionisme di Amerika, saya simpulkan, hanyalah sebuah fantasi yang dibangun di atas fondasi yang lemah. Tidaklah mungkin menjalin persekutuan atau melakukan pertukaran rasional dengannya. Namun, ia juga dapat dibongkar dan dikalahkan.

Berkali-kali sejak pertengahan 1980-an, saya menyatakan kepada para pemimpin PLO dan setiap orang Palestina serta Arab yang saya temui bahwa upaya PLO untuk menarik perhatian presiden AS sepenuhnya merupakan sebuah ilusi karena semua presiden AS kontemporer telah mendedikasikan dirinya kepada Zionisme. Saya mengusulkan bahwa satu-satunya jalan untuk mengubah kebijakan AS dan memperoleh hak menentukan nasib sendiri adalah dengan melalui sebuah kampanye publik yang langsung kepada rakyat Amerika tentang hak-hak asasi bangsa Palestina, yang berefek pada terbongkarnya Zionisme.

Sebagai populasi yang tidak tercerahkan oleh informasi dan masih terbuka kepada rasa keadilan, orang-orang Amerika akan bereaksi seperti yang mereka lakukan terhadap rezim apartheid ANC, yang pada akhirnya mengubah keseimbangan di dalam Afrika Selatan. Secara berimbang di sini, saya harus menyebutkan bahwa James Zogby, sebelumnya adalah seorang aktivis hak asasi manusia yang energik (sebelum dia menjalin hubungan dengan Arafat, pemerintah AS, dan Partai Demokrat), dulu merupakan seorang pelopor ide tersebut. Bahwa dia mengabaikannya sekarang hanyalah tanda bahwa dia telah berubah, dan bukan tanda invaliditas ide itu sendiri.

Namun, juga menjadi jelas bagi saya bahwa PLO tidak akan pernah melakukan ide itu karena beberapa alasan. Pertama, ide itu membutuhkan kerja keras dan dedikasi. Kedua, ia berarti mencakup sebuah pandangan filosofis yang benar-benar berbasiskan pada organisasi akar-rumput yang demokratis. Ketiga, ia harus menjadi sebuah pergerakan daripada sekedar sebuah inisiatif pribadi dalam kaitan dengan pemimpin-pemimpin yang ada sekarang. Dan terakhir, ia meniscayakan sebuah pengetahuan riil, dan bukan superfisial, tentang masyarakat AS. Di samping itu, saya merasa bahwa pemikiran konvensional yang selama ini mengunci kita dalam satu posisi yang buruk adalah sesuatu yang sulit diubah, dan waktu ternyata membuktikan hal itu benar.

Kesepakatan Oslo adalah sebuah penerimaan yang tak terbayangkan oleh Palestina bagi supremasi Israel-AS, alih-alih sebuah upaya untuk mengubahnya. (Bersambung ke Bagian Terakhir)

Zionisme Amerika (Bagian Pertama)

Introduction to Edward Said

Oleh Edward W. Said (Penulis buku monumental Orientalism)

Artikel ini berbicara mengenai peran Zionisme Amerika yang dalam persoalan Palestina kerap salah dipahami dan dinilai. Dalam pandangan saya, peran kelompok-kelompok dan aktivitas-aktivitas Zionis yang terorganisasi di Amerika Serikat kurang mendapatkan sorotan yang semestinya selama berlangsungnya apa yang disebut “proses perdamaian”. Ini adalah pengabaian yang menurut saya luar biasa, mengingat kebijakan Palestina secara esensial bergantung kepada orang-orang di panggung Amerika Serikat (AS) yang minus kesadaran strategis tentang betapa kebijakan AS, sebagai akibatnya, didominasi—jika tidak dikontrol secara keseluruhan—oleh sebuah minoritas kecil dari orang-orang yang pandangannya mengenai perdamaian di Timur Tengah, dalam sebagian cara, jauh lebih ekstrim bahkan daripada orang-orang Israel di Partai Likud.

Izinkan saya memberi sebuah contoh kecil. Harian Israel Haaretz pernah mengirimkan seorang kolomnis ternama mereka, Ari Shavit, untuk berbicara dengan saya selama beberapa hari; ringkasan dari wawancara yang panjang ini hadir dalam bentuk tanya-jawab pada edisi 18 Agustus 2000 dari suplemen harian itu dengan tanpa dipotong dan disensor secara fundamental. Saya menyuarakan pandangan saya dengan sangat jelas, dengan penekanan utama kepada “hak pulang” bangsa Palestina, peristiwa-peristiwa pada 1948, dan tanggung-jawab Israel atas semua itu. Saya terkejut bahwa pandangan-pandangan saya ditampilkan seperti apa yang saya sampaikan, tanpa sedikit pun penyuntingan dari Shavit, yang pertanyaan-pertanyaannya selalu sopan dan tidak konfrontatif.

Satu minggu setelah wawancara itu, muncul respon dari Meron Benvenisti, mantan wakil walikota Yerusalem di bawah Teddy Kollek. Respon itu begitu mengerikan secara personal: penuh dengan cacian dan serangan terhadap pribadi dan keluarga saya. Namun, Benvenisti tidak pernah mengingkari eksistensi bangsa Palestina, atau bahwa kami diusir dari tanah air kami pada 1948. Faktanya, dia mengatakan, “Kami menundukkan kalian, lantas mengapa kami harus merasa bersalah?” Saya menanggapi Benvenisti satu minggu kemudian di Haaretz. Apa yang saya tulis juga diterbitkan tanpa dipangkas. Saya mengingatkan para pemimpin Israel bahwa Benvenisti bertanggung jawab atas pembumihangusan (dan mungkin mengetahui pembunuhan sejumlah orang Palestina) Haret al-Magharibah pada 1967, yang di dalamnya ratusan orang Palestina kehilangan rumah-rumah mereka karena dihancurkan buldozer-buldozer Israel. Namun, saya tidak harus mengingatkan Benvenisti atau para pembaca Haaretz bahwa sebagai sebuah bangsa, kami (bangsa Palestina) eksis dan setidaknya bisa mempertanyakan hak pulang kami (right of return). Hal itu sudah menjadi kebenaran yang diterima begitu saja (taken for granted).

Ada dua hal di sini. Pertama, keseluruhan wawancara tersebut tidak akan bisa tampil di suratkabar Amerika mana pun, dan pastinya tidak di jurnal Yahudi-Amerika mana pun. Dan kalaupun ada wawancara, maka pertanyaan untuk saya akan menjadi konfrontatif, intimidatif, penuh hinaan, seperti, mengapa Anda terlibat dalam terorisme, mengapa Anda tidak mengakui Israel, kenapa Haji Amin seorang Nazi, dan lain sebagainya. Kedua, orang Israel sayap kanan, seperti Benvenisti, tak peduli seberapa besar ia membenci saya dan pandangan saya, tidak akan mengingkari eksistensi bangsa Palestina yang dipaksa pergi pada 1948. Seorang Zionis Amerika sejak awal akan mengatakan bahwa tidak ada pendudukan yang terjadi atau, seperti yang diklaim Joan Peters dalam buku terbitan 1984 yang kini menghilang dan dilupakan, From Time Immemorial (yang memenangi hampir semua penghargaan Yahudi ketika terbit di sini), bahwa tidak ada bangsa Palestina yang hidup di Palestina sebelum 1948.

Setiap orang Israel akan siap mengakui dan tahu secara persis bahwa seluruh Israel sekarang ini dulunya adalah Palestina, bahwa (sebagaimana yang juga diakui Moshe Dayan secara terbuka pada 1976) setiap kota atau desa Israel dulunya memiliki nama-nama Arab. Dan Benvenisti pun mengatakan secara terbuka, “Kami menjajah, lantas apa?” “Mengapa kami harus merasa bersalah karena kemenangan kami?” Diskursus Zionis Amerika tidaklah pernah sejujur itu. Ia selalu saja berputar dan berbicara mengenai penciptaan padang pasir menjadi subur atau demokrasi Israel, dan lain-lain, sehingga benar-benar menghindari fakta-fakta esensial mengenai 1948, dimana setiap orang Israel secara aktual menyadarinya. Bagi Zionis Amerika, semua itu adalah fantasi, atau mitos, bukan realitas. Begitu tercerabut dari aktualitas dan begitu terperangkap ke dalam superioritas sebagai minoritas yang paling sukses dan digdaya di Amerika Serikat itulah Zionis Amerika, sehingga apa yang muncul seringkali adalah kecemasan yang bercampur dengan kekerasan eksplisit terhadap Arab dan ketakutan yang mendalam serta kebencian kepada mereka. Ini adalah hasil dari, tidak seperti Yahudi Israel, ketiadaan hubungan langsung yang berkelanjutan antara Zionis Amerika dengan Arab.

Dengan demikian, bagi Zionis Amerika, Arab bukanlah sesuatu yang nyata, tetapi fantasi dari segala sesuatu yang selalu bisa dijelek-jelekkan dan dibenci; terorisme dan anti-Semitisme lebih khususnya. Saya pernah menerima surat dari seorang bekas mahasiswa saya, yang memperoleh keuntungan karena mendapatkan suatu pendidikan terbaik di AS: dia masih mampu menampilkan dirinya untuk bertanya kepada saya secara jujur dan sopan, mengenai mengapa, sebagai seorang Palestina, saya membiarkan seorang Nazi seperti Haji Amin bisa membentuk agenda politik saya, “Sebelum Haji Amin,” dia berkomentar, “Yerusalem tidak penting bagi Arab. Karena begitu jahat, ia membuat Yerusalem menjadi isu penting bagi Arab dengan tujuan hanya untuk menggagalkan keinginan Zionis yang selalu memandang Yerusalem penting bagi mereka.” Jelas ini bukanlah logika bagi seseorang yang pernah hidup bersama Arab dan mengetahui sesuatu yang konkret mengenai Arab. Ini adalah tentang seseorang yang membicarakan sebuah diskursus yang terorganisasi dan diarahkan oleh sebuah ideologi yang hanya memandang Arab sebagai sebuah fungsi negatif, sebagai manifestasi dari hasrat-hasrat jahat anti-Semit. Dengan sendirinya, maka Arab adalah untuk diperangi dan, jika mungkin, dibuang jauh-jauh. Tak terkecuali Dr. Baruch Goldstein, pembunuh berdarah dingin atas 29 orang Palestina yang tengah mendirikan salat dengan tenang di mesjid Hebron, adalah seorang Amerika, dan juga Rabbi Meir Kahane.

Alih-alih dipandang sebagai penyimpangan yang memalukan bagi para pengikut mereka, baik Kahane maupun Goldstein kini malah dihormati oleh orang-orang lain yang serupa dengan keduanya. Sebagian besar imigran (Yahudi) radikal kanan paling fanatik yang kini menduduki tanah Palestina tanpa kenal lelah berbicara tentang “tanah Israel” seolah-olah tanah itu milik mereka dan membenci serta mengabaikan para pemilik tanah dan pemukim Palestina di sekitar mereka. Dan mereka ternyata juga kelahiran Amerika. Melihat mereka melangkah di jalan-jalan Hebron, seolah-olah kota Arab itu seluruhnya kepunyaan mereka, adalah sebuah pemandangan yang menakutkan. Ini dipicu oleh sikap kasar dan penghinaan yang mereka tampilkan secara terang-terangan terhadap mayoritas Arab.

Saya mengungkapkan semua itu di sini adalah untuk menyampaikan satu hal esensial. Setelah Perang Teluk, ketika PLO mengambil keputusan strategis—yang telah ditempuh sebelumnya oleh dua negara utama Arab—untuk bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat dan jika mungkin dengan lobi kuat yang menguasai perdebatan soal kebijakan Timur Tengah, mereka telah membuat keputusan tersebut berdasarkan atas kepandiran yang besar dan asumsi-asumsi yang luar biasa salah. Gagasan itu, sebagaimana diungkapkan kepada saya setelah 1967 oleh seorang diplomat Arab, adalah untuk benar-benar menyerah, atau katakan saja, kami tidak ingin lagi berjuang. Kini kami bersedia menerima Israel dan juga menerima peran menentukan AS terhadap masa depan kami.

Pada saat itu, dan juga kini, terdapat alasan-alasan objektif bagi pandangan semacam itu, yakni untuk apa lagi berjuang jika semua itu hanya menghasilkan kekalahan yang lebih jauh dan bahkan bencana. Namun, saya sepenuhnya percaya bahwa adalah sebuah kebijakan yang salah untuk menyerahkan kepentingan Arab di pangkuan AS, karena organisasi-organisasi utama Zionis begitu berpengaruh di mana pun di negara itu, seraya mengatakan, kami tidak akan berjuang lagi, izinkan kami bergabung dengan kalian tetapi perlakukan kami dengan baik. Harapannya adalah bahwa jika kami menerima dan mengatakan, kami tidak lagi menjadi musuh kalian, maka sebagai Arab kami akan menjadi teman kalian. Persoalannya adalah kesenjangan kekuatan yang ada. Bagi yang kuat, perbedaan apakah yang bisa diharapkan dari strategi mereka jika musuh mereka yang lemah menyerah dan mengatakan, kami tidak akan berjuang lagi, ajaklah kami, kami ingin menjadi sekutu kalian, hanya tolong pahami kami sedikit lebih baik dan kemudian kalian akan menjadi lebih adil?

Cara terbaik untuk menjawab pertanyaan ini dalam terminologi yang praktis dan konkret adalah dengan memerhatikan proses pemilihan senator di New York, ketika Hillary Clinton bersaing dengan calon Republik Ric Lazio untuk memperebutkan kursi yang ditinggalkan Daniel Patrick Moynihan (D). Akhir tahun lalu, Hillary mengatakan bahwa dia mendukung berdirinya sebuah negara Palestina dan, dalam kunjungan resmi ke Gaza bersama suaminya, memeluk Suha Arafat. Namun, sejak memasuki persaingan kursi senat di New York, dia malah telah mengalahkan Zionis sayap kanan yang paling radikal sekalipun dalam fanatisme kepada Israel dan penentangan kepada Palestina. Lebih jauh, dia bahkan mendorong pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem dan (jauh lebih ekstrem) mengkampanyekan keringanan hukuman bagi Jonathan Pollard, analis intelijen Angkatan Laut AS yang divonis sebagai mata-mata Israel karena telah mengungkapkan sejumlah data intelijen kepada Israel, dan kini menjalani hukuman seumur hidup.

Para pesaing Hillary dari Partai Republik berupaya mempermalukannya dengan menyebutnya sebagai “pecinta Arab” dengan merilis sebuah foro dimana ia memeluk Suha. Karena New York adalah pusat kekuasaan Zionis, maka menyerang seseorang dengan label semacam itu, “pecinta Arab” dan “sahabat Suha Arafat”, sama artinya dengan sebuah penghinaan terburuk yang paling mungkin dilakukan. Semua ini tentu saja terlepas dari kenyataan bahwa Arafat dan PLO justru telah menyatakan diri mereka sebagai sekutu Amerika, penerima bantuan militer dan keuangan AS, dan penikmat dukungan keamanan Dinas Intelijen Pusat CIA.

Dalam kesempatan yang berbeda, Gedung Putih pun kemudian merilis sebuah foto yang menampilkan Lazio sedang berjabat tangan dengan Arafat dua tahun yang lalu. Satu serangan tampaknya layak mendapatkan balasannya.

Fakta sebenarnya adalah bahwa diskursus Zionis merupakan diskursus kekuatan, dan Arab dalam diskursus itu adalah objek dari kekuatan—objek yang tidak termaafkan. Dengan menyerahkan posisi tawar Palestina kepada kekuatan ini sebagai bekas musuh yang menyerah, maka Palestina tidak akan pernah dipandang dalam terminologi yang setara dengan kekuatan tersebut. Karenanya, pertunjukkan yang merendahkan dan menghinakan Arafat (selalu dan selamanya dipandang sebagai simbol kebencian kepada pemikiran Zionis) telah dan terus akan digunakan dalam keseluruhan persaingan lokal di Amerika antara dua kompetitor yang mencoba membuktikan siapa di antara mereka yang lebih pro-Israel. Dan bahkan keduanya, baik Hillary Clinton maupun Ric Lazio, bukanlah Yahudi. (Bersambung ke Bagian Kedua)

Al Mahdi dan Keadilan Sosial Menurut Muthahhari

Diskusi Kubah Budaya 1

Oleh Ahmad Fadhil (Pengajar Filsafat dan Konseling Islam di IAIN Banten)

Kepercayaan akan adanya Hari Akhir adalah salah satu pilar penting dalam iman umat Islam. Di dalam Manzumah ‘Aqidah al-‘Awam Ahmad al-Marzuqi al-Maliki mengatakan, “Imanuna bi yawm akhir wajab wa kulli ma kana bihi min al-‘ajab—Wajib hukumnya kita mengimani Hari Akhir serta segala keajaiban yang ada padanya.” Saat menerangkan bait ini, Nawawi al-Bantani mengatakan, “Setiap mukallaf wajib mempercayai adanya Hari Akhir serta segala sesuatu yang termasuk di dalamnya seperti kebangkitan manusia, perhitungan amal perbuatan, sirat, timbangan, pembalasan, surga, neraka, telaga, dan syafaat.[1]

Beriringan dengan keimanan pada Hari Akhir terdapat riwayat-riwayat tentang tanda-tanda kedatangannya seperti munculnya al-Mahdi, Dajjal, dan Nabi Isa. Walaupun banyak ulama yang telah membahas, tapi tema-tema ini masih dipenuhi kesamaran. Muhammad Isma’il al-Muqaddam, penulis buku al-Mahdi Haqiqah La Khurafah mengatakan bahwa pembicaraan tentang al-Mahdi di kalangan terpelajar kadang-kadang diwarnai sikap yang tidak moderat. Ada orang yang ekstrem menegasi sampai-sampai menolak hadis-hadis yang sahih tentang al-Mahdi, ada juga yang ekstrem mengafirmasi sampai-sampai menerima hadis maudu dan cerita bohong. Sementara itu, orang-orang awam terjebak dalam lumpur kebingungan dan kebimbangan antara mempercayai adanya al-Mahdi atau tidak.[2]

Kondisi yang berbeda terdapat di kalangan muslim Shiah Ithna ‘Ashariyyah. Keyakinan tentang al-Mahdi adalah salah satu pilar yang penting dalam mazhab ini. Para ulama Shiah seolah berlomba menulis buku tentang al-Mahdi. ‘Ali al-Kurani al-‘Amili menulis buku Mu’jam Ahadith al-Imam al-Mahdi selama 5 tahun. Dia juga menulis buku berjudul ‘Asr al-Zuhur yang menggambarkan setting kemunculan al-Mahdi, alur, dan tokoh yang terlibat dalam rangkaian kemunculannya dalam sebuah narasi yang sangat dramatis. Sadr al-Din al-Sadr menulis buku al-Mahdi dan Mirza Lutf Allah al-Safi menulis buku Muntakhab al-Athar yang berisi ulasan tentang hadis-hadis al-Mahdi yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah.

Perhatian besar ini dapat dianggap wajar di antaranya karena keyakinan tentang adanya manusia yang lahir hampir 12 abad yang lalu, masih hidup hingga kini tapi tidak dikenali oleh orang lain, dan umurnya boleh jadi akan bertambah sampai beberapa abad lagi sampai Allah mengizinkannya untuk muncul dan menampakkan diri, tentu saja sulit dipahami sehingga membutuhkan dalil rasional dan tradisional (‘aqli dan naqli) yang terfokus agar konsep ini dapat diterima.[3]

Banyak aspek tentang al-Mahdi telah diungkap di dalam literatur Shiah. Mulai dari afirmasi prinsip atau dasar keyakinan ini dari al-Quran dan Sunnah, inventarisir dan komparasi riwayat-riwayat tentang al-Mahdi dari Mazhab Ahlus Sunnah atau dari sejarah Islam secara umum, bantahan terhadap kontroversi dan keragu-raguan yang ditujukan pada konsep al-Mahdi Shiah, sampai eksplorasi filosofis konsep ini sebagai jawaban terhadap ideologi-ideologi lain yang beredar di dunia pada saat ini.

Murtada Mutahhari adalah ulama Shiah modern yang memberikan perhatian besar terhadap tema al-Mahdi. Dia tidak menulis buku khusus tentang tema ini. Pembahasannya yang secara langsung berkaitan dengan al-Mahdi terdapat minimal di dua tempat. Pertama, di bab kedelapan buku Hayah al-A’immah al-Athar halaman 213-248 dan bagian ketiga di dalam buku Ru’a Jadidah Fi al-Fikr al-Islami dengan judul Nahdah al-Mahdi Fi Daw’ Falsafah al-Tarikh halaman 87-132. Meskipun demikian, tulisan-tulisan Mutahhari yang lain dari satu atau banyak segi berhubungan dengan tema al-Mahdi dalam aspek-aspek tersebut. Tulisan ini akan membahas pandangan Mutahhari tentang al-Mahdi untuk mengetahui apakah al-Mahdi merupakan konsep khas Shiah, bagaimana konsep al-Mahdi menurut Shiah, dan apa muatan filosofis dalam konsep al-Mahdi?

Al-Mahdi: konsep mitologis, teologis, dan filosofis universal

Konsep Ratu Adil bukan konsep eksklusif Mazhab Shiah; bukan mitos karena tidak ada mitos yang mendapat perhatian semua agama langit dan diadopsi oleh para saintis, pemikir dan filsuf; bukan kreasi Yahudi karena konsep ini ada di kalangan Yahudi dan non Yahudi; dan bukan buah dari kondisi tertindas yang dialami oleh para penganut Shi’ah karena banyak orang tertindas yang tidak mengenal konsep ini dan banyak bukan orang tertindas yang mengenal konsep ini.[4]

Orang Jawa memiliki mitos Ratu Adil. Sindhunata menulis buku Bayang-Bayang Ratu Adil diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 1999. Beberapa buku yang ditampilkan laman http://books.google.co.id/ mengaitkan konsep ratu adil dengan beberapa politisi. Buku Mencari Ratu Adil tulisan Moh. Hari Suwarno mengaitkan Ratu Adil dengan figur Soekarno-Hatta. Lalu ada buku Ratu Adil Hidayat Nurwahid: Satria Pinandhita Dari Prambanan tulisan Purwadi dan Ratu Adil Dan Perjalanan Spiritual Megawati oleh Damarhuda.

Di dalam buku Satria Pinilih: Siapa Pantas Jadi Ratu Adil, Arwan Tuti Artha mengatakan, “Ranggawarsita menyebut, ciri Ratu Adil itu adalah satria yang masih tersembunyi, dalam posisi piningit. … tokoh baru, masih bersih, keindahan perangainya bagaikan teratai putih, ….” Di dalam buku berjudul Novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil karya Remy Silado, penerbitnya mengatakan, “… Indonesia negeri elok yang diberkahi Tuhan dengan kekayaan alam … Sayang, … negeri ini tak lagi surgawi, koyak oleh sejuta bencana, sejuta korupsi, …. Dalam kondisi serba tersakiti seperti ini, tak urung bangsa ini merindukan hadirnya sosok yang di tangannya semua orang berharap perbaikan akan terjadi. Rakyat kini menantikan munculnya ratu adil, satria piningit, atau entah apa pun namanya yang mampu memimpin bangsa ini menuju cahaya terang gemah ripah lohjinawi, … pemimpin yang mencintai rakyat sehingga rakyat pun mencintainya, memimpin dengan akal dan hati yang terikat kuat kepada Sang Mahahidup ….”

Kepercayaan akan adanya Ratu Adil, Satria Piningit, Messiah, al-Mahdi, Reformer Relijius Internasional dan berdirinya negara ilahi yang adil di dunia adalah salah satu “poin kesamaan yang jelas antara semua agama dan perbedaannya hanya dalam penetapan identitas reformer yang akan mewujudkan semua tugas para nabi tersebut.”[5] Konsep ini dipercayai juga oleh orang yang tidak beragama dan tidak percaya kepada kegaiban dalam bentuk apa pun.[6]

Keyakinan akan adanya Ratu Adil ini diungkap secara tegas dan eksplisit oleh kitab suci berbagai agama, dan bukan hanya oleh perkataan atau tafsiran para ahli agama terhadap teks yang samar di dalam kitab suci mereka. Muhammad al-Sadiqi menulis buku berjudul Bisharat al-‘Ahdayn untuk menginventarisir teks-teks tersebut. Bahkan, menurut Mahdi Khalil Ja’far, dakwah semua nabi adalah langkah-langkah pengkondisian untuk kemunculan Ratu Adil yang akan mewujudkan tujuan dakwah mereka semua.[7]

Al-Quran menyatakan bahwa kitab-kitab suci terdahulu telah menyebut keyakinan tentang al-Mahdi. Di dalam QS al-Anbiya’: 105 Allah berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (١٠٥)

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis di dalam) al-Dhikr bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.”

Zabur adalah kitab yang dibawa oleh Dawud dan dan al-Dhikr adalah Taurat yang dibawa oleh Musa. Janji Tuhan ini pasti terlaksana pada suatu waktu, meskipun waktu tersebut adalah hari terakhir dalam umur dunia.

Tema al-Mahdi disebut di dalam Mazmur ke-39, 9, Injil Matius fasal 24. Muhammad Taqi al-Mudarrisi di dalam bukunya al-Mahdi Qudwah Wa Uswah mengatakan bahwa kitab suci agama Yahudi menyebut al-Mahdi dengan sebutan “Bahram”, sedangkan Hindu menyebutnya Krisna.[8]

Di kalangan Yahudi, keyakinan akan adanya Messiah telah mendorong munculnya gerakan politik yang berujung pada berdirinya Negara Israel di Tanah Palestina. Mereka meyakini bahwa pendirian negara ini adalah langkah awal bagi kemunculan Sang Messiah dan kembalinya mereka ke Palestina adalah awal dari Armageddon/Perang Akhir Zaman yang akan membidas kejahatan di dunia. Berbagai sekte Umat Nasrani juga percaya bahwa Yesus Kristus akan kembali di akhir zaman dan akan mengangkat senjata untuk mendirikan negara internasional yang adil.[9]

Al-Mahdi dalam Pandangan Syiah

Mutahhari mengatakan bahwa al-Mahdi adalah sebutan yang diberikan oleh riwayat-riwayat Islam bagi figur yang akan mewujudkan harapan-harapan umat Islam yang besar. Yaitu, masa depan saat cahaya Islam menerangi seluruh penjuru dunia, saat nilai-nilai kemanusiaan berkuasa mutlak, dan saat masyarakat yang utama dan ideal terwujud. Kemestian terwujudnya harapan ini diyakini oleh seluruh umat Islam. Semua mazhab Islam sepakat bahwa tentara kebenaran, keadilan, dan keselamatan akan menang dalam perang melawan tentara kebatilan, kezaliman, dan permusuhan.[10]

Al-Mahdi bukan ideologi ekslusif Shi’ah. Umat Islam sepakat bahwa al-Mahdi berasal dari keturunan Rasulullah yang baik dan suci, dari kalangan Ahlul Bayt dan merupakan keturunan Fatimah. Setelah itu, para ulama berbeda pendapat apakah al-Mahdi adalah Putra Hasan al-Askari atau bukan? Semua ulama Mazhab al-Imamiyyah sepakat bahwa al-Mahdi adalah Putra al-Hasan al-‘Askari, telah lahir dan dalam keadaan hidup, tapi dalam keadaan tidak hadir dan tidak dikenali (mastur).[11] Sebagian ulama Ahlus Sunnah—Mahdi Khalil Ja’far menyebutkan 18 nama—sepakat dengan hal itu, di antaranya Muhammad bin Talhah al-Halabi al-Shafi’i di dalam Matalaib al-Su’l Fi Manaqib Al al-Rasul, Muhammad bin yusuf al-Kunji al-Shafi’i di dalam al-Bayan Fi Akhbar Sahib al-Zaman, Ibnu al-Sabbagh Muhammad bin Ahmad al-Maliki di dalam al-Fusul al-Muhimmah, Sibt Ibnu al-Jawzi di dalam Tadhkirah al-Khawas.[12]

Bukti lain bahwa al-Mahdi bukan ideologi khas Shiah adalah riwayat tentang al-Mahdi sangat banyak tersebar di kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah yang disusun oleh al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Tirmidhi, al-Hakim, al-Tabarani, dll. Al-Ha’iri dan Adharshab, setelah menginventarisir 145 nama penulis hadis Ahlus Sunnah yang meriwayatkan hadis tentang al-Mahdi, menginventarisir nama-nama ulama Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa hadis dan riwayat tentang al-Mahdi mencapai derajat mutawatir. Di antara mereka adalah al-Shawkani di dalam kitab ‘Awn al-Ma’bud, Ibnu Kathir di dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah, dan al-Kattani di dalam Nazm al-Mutanathir Fi Hadith al-Mutawatir.[13]

Di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad:

عن جابر: سمعت النبي ص يفول: لا تزال طائفة من أمتي يقاتلون على الحق ظاهرين الى يوم القيامة، قال: فينزل عيسى ابن مريم ص فيقول أميرهم: صل لنا، فيقول: لا، إن بعضكم على بعض أمراء تكرمة من الله لهذه الأمة.

Atau hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad:

كيف أنتم إذ نزل ابن مريم فيكم وإمامكم منكم.

Atau hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

لو لم يبق من الدهر إلا يوم لبعث الله رجلا من أهل بيتي يملأها عدلا كما ملأت جورا.

Atau hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

المهدي من عترتي من ولد فاطمة.

Mutahhari membantah tuduhan yang menyatakan akidah al-Mahdi baru muncul pada paruh kedua abad ketiga Hijrah setelah lahirnya Imam al-Mahdi. Dalilnya, pertama, al-Quran telah mengungkapkan kondisi yang terjadi sebagai konsekwensi dari kemunculan al-Mahdi sebagai sesuatu yang pasti terjadi di masa depan. Kedua, hadis-hadis tentang al-Mahdi tidak hanya diriwayatkan oleh kaum Shiah. Dari perspektif sejarah Islam. menurut Mutahhari sejak paruh kedua abad pertama Hijriyah, berita dan ramalan yang berkaitan dengan masalah al-Mahdi telah menjadi penyebab munculnya banyak peristiwa di dalam sejarah Islam. Sejak saat itu, sudah ada orang-orang yang menyalahgunakaan hadis-hadis tentang al-Mahdi.[14]

Ketiga, pembuktian historis. Mutahhari mengatakan bahwa tidak ada seorang ulama pun sejak masa awal sejarah Islam sampai masa Ibnu Khaldun yang berpandangan bahwa hadis-hadis yang berkaitan dengan al-Mahdi tidak memiliki dasar yang sahih. Semua ulama berpandangan sebaliknya. Jika ada perbedaan pendapat, maka hanya dalam detail masalah. Misalnya, apakah sosok al-Mahdi orang ini atau itu? Apakah dia putra Imam al-‘Askari atau bukan. Apakah dia keturunan al-Hasan atau al-Husayn? Adapun tentang umat Islam akan memiliki al-Mahdi, bahwa dia adalah keturunan Nabi saw dan keturunan Fatimah, bahwa tugasnya adalah memenuhi dunia dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman, maka tidak ada keragunan sedikit pun tentang hal ini di kalangan seluruh umat Islam.[15]

Ada enam fragmen sejarah yang disebutkan Mutahhari. Yaitu, Revolusi al-Mukhtar, komentar al-Zuhri ketika mendengar berita wafatnya Zayd bin ‘Ali bin al-Husayn, Revolusi al-Nafs al-Zakiyyah, tindakan al-Mansur al-‘Abbasi memberi nama anaknya dengan nama al-Mahdi, konflik antara al-Mansur al-‘Abbasi dengan ahli fiqh Madinah yang bernama Muhammad bin ‘Ajlan, dan peristiwa Da’bal membaca puisi di depan Imam ‘Ali al-Rida.[16]

Meskipun akidah al-Mahdi adalah akidah umat Islam secara keseluruhan, tapi kekhasan narasi Shi’ah tentang akidah ini tidak dapat dipungkiri. Ali Khamenei mengatakan, “Karakteristik akidah Shiah dalam tema ini adalah narasinya tidak mengandung kesamaran sama sekali. Shiah menguasai detail tema ini dan sangat mengenal sosok al-Mahdi. Kita mengenal pemimpin, junjungan, dan imam kita, penghulu alam semesta. Kita mengenal ayahnya, ibunya, tanggal lahirnya, serta segala sesuatu yang berkaitan dengan kelahirannya yang penuh berkah. …. Imam kita yang maksum ini sepanjang zaman tinggal bersama komunitas-komunitas manusia. Sekarang, dia ada di antara kita. Tapi, hikmah ilahi menetapkan kita mengalami penantian yang panjang ini dan begitu juga Sang Imam pun mengalami penantian ini.”[17]

Satu aspek yang unik dari keyakinan Shiah, yaitu keyakinan bahwa al-Mahdi telah lahir dengan identitas yang jelas dan kini dia berada dalam keadaan hidup. Shams al-Din membandingkan tidak dikenalinya al-Mahdi dengan tidak dikenalinya Yusuf oleh saudara-saudaranya sampai Yusuf mengenalkan diri (QS Yusuf: 90).[18]

Mutahhari juga menyinggung masalah umur al-Mahdi yang panjang. Jika ilmu pengetahuan belum mampu menjelaskan rahasia panjangnya umur al-Mahdi, maka itu tidak berarti panjangnya umur al-Mahdi adalah sesuatu yang mustahil. Masih banyak sekali hal yang belum dapat dijelaskan oleh ilmu. Ilmu mengupayakan usaha memperpanjang umur manusia. Maka, masalah panjangnya umur al-Mahdi harus diterima sebagai sesuatu yang wajar. Menurut Mutahhari, “Sama saja baik kita mengkaji masalah ini dari segi ilmiah maupun dari segi metafisis, masalah panjangnya umur al-Mahdi tidak dapat diragukan atau disangsikan. Apalagi hadis dan riwayat keagamaan telah menegaskannya. Salah satu fungsi agama adalah membuka akal manusia dan mengeluarkan pemikirannya dari lingkaran yang sempit peristiwa-peristiwa sehari-hari yang biasa mereka alami.”[19]

Kemunculan al-Mahdi ditandai dengan tanda-tanda umum dan tanda-tanda khusus. Termasuk tanda-tanda umum berbagai penyimpangan dalam bidang seksualitas, ekonomi, social, dan etika. Termasuk tanda-tanda khusus seperti al-Sufyani, teriakan, terkubur dalam tanah, dll. Mutahhari mengutip sabda Nabi saw dan Imam Ali tentang zaman kemunculan al-Mahdi. Zaman kemunculan al-Mahdi adalah zaman terbitnya kedamaian, keselarasan, keamanan, kemajuan, keberkahan, kesejahteraan, dan hilangnya kekejian dan kebejatan seperti mabuk-mabukan, zina, dll, juga tentang menyempurnanya manusia secara mental sehingga secara alamiah dia menghindar dari dusta, bergunjing, mengadu domba, memfitnah, dsb. Pada zaman itu, keadilan dilakukan oleh manusia bukan demi keuntungan yang kembali kepada dirinya, tapi karena dia mencintai keadilan.[20]

Al-Mahdi Dan Keadilan Sosial

Menurut Muthahhari, semua rasul diutus dengan membawa dua tujuan utama. Pertama, membangun relasi yang benar antara manusia dengan Allah atau membebaskan manusia dari semua jenis perbudakan, penghambaan, penyembahan kecuali pada Allah saja. Ini terangkum dalam ucapan la ilaha illallah. Kedua, membangun hubungan yang benar di antara sesama manusia dengan berbasis keadilan, kebaikan, kedamaian, cinta, kerja sama, dan saling membantu. Tujuan pertama diterangkan oleh firman Allah al-Ahzab: 46, tujuan kedua diterangkan oleh QS al-Hadid: 25.[21]

Jadi, keadilan adalah prinsip utama terbentuknya masyarakat manusia dan salah satu tujuan utama semua risalah langit. Karena itu, pertanyaan yang harus dijawab adalah, akankah ada bagi umat manusia satu hari saat mereka menyaksikan keadilan yang universal dan komprehensif terwujud sehingga tidak ada setitik pun kezaliman, kesewenang-wenangan, eksploitasi, kedengkian, kebencian, perang, penumpahan darah; juga segala sifat yang tercela yang mengiringi hal tersebut seperti kebohongan, kemunafikan, penipuan, kerakusan, kekikiran, dsb? Ataukah itu hanya khayalan yang takkan terwujud?

Al-Quran menegaskan prinsip keadilan sosial dan menyatakan bahwa penerapan prinsip ini adalah salah satu tujuan utama semua risalah langit. Pertanyaannya, apakah umat manusia akan melihat satu hari saat keadilan terpenuhi secara universal dan komprehensif, saat tidak ada satu pun bekas kezaliman, penindasan, eksploitasi, kebencian, perang, penumpahan darah, serta sifat-sifat tercela yang mengiringinya seperti kemunafikan, penipuan, kerakusan, dan kekikiran di tengah-tengah manusia? Ataukah hal itu hanya utopia?

Menurut Mutahhari akidah al-Mahdi sangat erat berkaitan dengan usaha menegakkan keadilan sosial. Boleh jadi banyak muslim relijius yang tidak mengingkari prinsip keadilan ilahi dan percaya bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan prinsip keadilan. Tapi, melihat parahnya kebobrokan dan kezaliman di dunia, maka dia menyerah dan menganggap penerapan keadilan di tengah-tengah manusia sebagai kemustahilan. Lalu, dia berpandangan bahwa dunia adalah tempatnya kezaliman; keadilan yang penuh hanya ada di akhirat, tempat kezaliman yang terjadi di dunia akan dibalas dan hak-hak akan diberikan kepada pemiliknya. Akidah Islam dan khususnya dalam perspektif Shiah menolak pandangan pesimis seperti itu dan meyakini bahwa masa kezaliman adalah sementara.[22]

Konsep al-Mahdi menurut Mutahhari memberikan perspektif positif terhadap perjalanan alam semesta dan perjalanan sejarah. Konsep ini memberikan harapan akan masa depan dan menghilangkan semua pandangan negatif terhadap apa yang akan terjadi di ujung perjalanan umat manusia. Di dalam riwayat-riwayat Islam, harapan akan tujuan umat manusia secara keseluruhan ini disebut “intizar al-faraj” (menanti kelapangan). Islam menilai perbuatan menanti kelapangan ini sebagai ibadah, bahkan ibadah yang paling baik.

Menurut Mutahhari, prinsip menanti kelapangan ini dapat dideduksi dari prinsip al-Quran (QS Yusuf: 87) tentang “keharaman berputus asa dari rahmat Allah.” Orang-orang yang beriman pada pertolongan ilahi tidak akan kehilangan harapan betapa pun sulitnya keadaan dan tidak akan menyerah kepada keputusasaan. Konsep ini adalah berita gembira bagi semua umat manusia, bukan bagi kelompok tertentu saja, dan bukan bagi individu tertentu saja.[23]

Selain itu, Mutahhari berdalil dengan ayat al-Quran al-Nur: 55. Menurut Mutahhari, ayat ini secara tegas menjanjikan bahwa yang akan menjadi penguasa di masa depan di dunia adalah orang yang beriman dan beramal salih atau panji tauhid dan agama Allah dengan semua nilai yang diajarkannya terutama nilai keadilan. Mutahhari juga berdalil dengan QS al-Tawbah: 33 dan al-Saff: 9 yang menyatakan keniscayaan kemenangan risalah langit; QS al-Anbiya: 105 tentang keniscayaan kemenangan orang-orang yang saleh dan bertakwa. Al-Qasas: 5 tentang keniscayaan kekalahan tentara kezaliman dan kesewenang-wenangan, serta al-A’raf: 138 tentang keniscayaan terbitnya fajar bahagia bagi seluruh umat manusia.[24]

Keyakinan tentang Ratu Adil adalah bahan bakar bagi kebangkitan wong cilik. Pembicaraan tentang al-Mahdi berarti pembicaraan tentang revolusi historis dan perubahan yang niscaya terjadi di muka bumi dari kezaliman kepada keadilan, dari kebatilan kepada kebenaran, dari kegelapan kepada cahaya, dari kekacauan kepada keteraturan.[25] Karena itu, akidah Shiah menurut Mutahhari menolak bentuk penantian al-Mahdi yang salah, yaitu menanti secara pasif dan acuh terhadap kewajiban reformatif atau amar makruf nahi munkar.[26]

Mutahhari memaparkan pandangan beberapa filsuf tentang keadilan, di antaranya Nietsczhe, Machiavelli, Bertrand Russell, para penganut Marxizme.[27]

Keyakinan seperti ini tentu menarik perhatian pihak-pihak yang berkepentingan. Kemunculan al-Mahdi sama dengan kemenangan Islam. Ali al-Kurani mengatakan bahwa setelah kemenangan Revolusi Islam Iran perhatian terhadap akidah al-Mahdi semakin besar di berbagai bangsa sampai-sampai muncul desas-desus bahwa CIA telah menyusun file tentang al-Mahdi dan yang belum memiliki hanya satu, yaitu fotonya saja.[28]

Daftar Pustaka

Abu ‘Abd al-Mu’ti Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali Nawawi al-Jawi al-Bantani al-Tanari, Nur al-Zalam Sharh Manzumah ‘Aqidah al-‘Awam, Dar al-Hawi, Cet. I, 1416 H./1996 M..
Muhammad Isma’il al-Muqaddam, al-Mahdi, Iskandariyyah: al-Dar al-‘Alamiyyah, Cet. VIII, 2004.
Sadr al-Din al-Sadr, al-Mahdi, al-Kuwayt: Maktabah al-Manhal, 1398 H./1978 M., h. 7.
Ayyub al-Ha’iri, al-Imam al-Mahdi al-Muslih al-‘Alami al-Muntazar, Beirut: Dar al-Wala’, Cet. III, 1426 H..
Mahdi Khalil Ja’far, al-Imam al-Mahdi Fi al-Adyan Abhath ‘Ilmiyyah Hawla Fikrah al-Mahdi Fi al-Adyan Bahth ‘Ilmi Istidlali Fi al-Fikr al-Masihi al-Yahudi al-Fara’inah al-Hindus al-Sini al-Hindi al-Adyan Qabla al-Islam, Beirut: Dar al-Mahajjah al-Bayda’, Cet. I, 1429 H./2008 M.
Faruq al-Musawi, al-Hatmiyyat Min ‘Ala’im al-Zuhur, Qum: Mu’assasah al-SIbtayn as al-‘Alamiyah, Cet. II, 1427 H..
Markaz Nun li al-Ta’lif wa al-Tarjamah, Silsilah Fi Rihab al-Wali al-Khamina’i: al-Imam al-Mahdi, edisi revisi 2010 M./1431 H..
Murtada Mutahhari, Ru’a Jadidah Fi al-Fikr al-Islami, Qum: Qalam Maknun, Cet. I, 1427 H..
Murtada Mutahhari, Hayah al-A’immah al-Athar, ….
Mahdi Shams al-Din, Hikayat al-Shaykh Bahjat al-ZUhur wa al-Dawlah Wa Ma Qablaha Wa Ma Ba’daha, terj, Abu Abdullah al-Najafi, Beirut: Mu’assasah al-A’lami, Cet. I, 1431 H./2010 M..
Muhammad ‘Ali Adharshab, Mu’amarah al-Mutajirin Bi al-Din ‘Ard Mujaz Li al-Dajjaj al-Lati Ifta’alaha al-Mutajirun Bi al-Din Hawla Hadith al-Imam al-Khumayn Bi Sha’n al-Mahdi al-Muntazar. …

Catatan:

[1] Abu ‘Abd al-Mu’ti Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali Nawawi al-Jawi al-Bantani al-Tanari, Nur al-Zalam Sharh Manzumah ‘Aqidah al-‘Awam, Dar al-Hawi, Cet. I, 1416 H./1996 M., h. 100.
[2] Muhammad Isma’il al-Muqaddam, al-Mahdi, Iskandariyyah: al-Dar al-‘Alamiyyah, Cet. VIII, 2004, h. 7-8.
[3] Sadr al-Din al-Sadr, al-Mahdi, al-Kuwayt: Maktabah al-Manhal, 1398 H./1978 M., h. 7.
[4] Ayyub al-Ha’iri, al-Imam al-Mahdi al-Muslih al-‘Alami al-Muntazar, Beirut: Dar al-Wala’, Cet. III, 1426 H., h. 16.
[5] Mahdi Khalil Ja’far, al-Imam al-Mahdi Fi al-Adyan, h. 7; Ayyub al-Ha’iri, al-Imam al-Mahdi al-Muslih al-‘Alami al-Muntazar, h. 16.
[6] Faruq al-Musawi, al-Hatmiyyat Min ‘Ala’im al-Zuhur, Qum: Mu’assasah al-SIbtayn as al-‘Alamiyah, Cet. II, 1427 H., h. 11.
[7] Mahdi Khalil Ja’far, al-Imam al-Mahdi Fi al-Adyan, h. 8.
[8] Markaz Nun li al-Ta’lif wa al-Tarjamah, Silsilah Fi Rihab al-Wali al-Khamina’i: al-Imam al-Mahdi, edisi revisi 2010 M./1431 H., h. 9.
[9] Mahdi Khalil Ja’far, al-Imam al-Mahdi Fi al-Adyan, h. 9-10.
[10] Murtada Mutahhari, Ru’a Jadidah Fi al-Fikr al-Islami, Qum: Qalam Maknun, Cet. I, 1427 H., h. 93.
[11] Markaz Nun li al-Ta’lif wa al-Tarjamah, Silsilah Fi Rihab al-Wali al-Khamina’i: al-Imam al-Mahdi, edisi revisi 2010 M./1431 H., h. 10-11.; Mahdi Shams al-Din, Hikayat al-Shaykh Bahjat al-ZUhur wa al-Dawlah Wa Ma Qablaha Wa Ma Ba’daha, terj, Abu Abdullah al-Najafi, Beirut: Mu’assasah al-A’lami, Cet. I, 1431 H./2010 M., h. 5-6.
[12] Mahdi Khalil Ja’far, al-Imam al-Mahdi Fi al-Adyan, h. 168-171.
[13] Mahdi Khalil Ja’far, al-Imam al-Mahdi Fi al-Adyan Abhath ‘Ilmiyyah Hawla Fikrah al-Mahdi Fi al-Adyan Bahth ‘Ilmi Istidlali Fi al-Fikr al-Masihi al-Yahudi al-Fara’inah al-Hindus al-Sini al-Hindi al-Adyan Qabla al-Islam, Beirut: Dar al-Mahajjah al-Bayda’, Cet. I, 1429 H./2008 M., h. 165-167. Ayyub al-Ha’iri, al-Imam al-Mahdi al-Muslih al-‘Alami al-Muntazar, Beirut: Dar al-Wala’, Cet. III, 1426 H., h. 18-20; Markaz Nun li al-Ta’lif wa al-Tarjamah, Silsilah Fi Rihab al-Wali al-Khamina’i: al-Imam al-Mahdi, edisi revisi 2010 M./1431 H., h. 12-24. Muhammad ‘Ali Adharshab, Mu’amarah al-Mutajirin Bi al-Din ‘Ard Mujaz Li al-Dajjaj al-Lati Ifta’alaha al-Mutajirun Bi al-Din Hawla Hadith al-Imam al-Khumayn Bi Sha’n al-Mahdi al-Muntazar, h. 7-26.
[14] Murtada Mutahhari, Hayah al-A’immah al-Athar, Beirut: al-Dar al-Islamiyyah, cet. I, 1413 H./1992 M., h. 233.
[15] Murtada Mutahhari, Hayah al-A’immah al-Athar, h. 239-240.
[16] Murtada Mutahhari, Hayah al-A’immah al-Athar, h. 233-241.
[17] Markaz Nun li al-Ta’lif wa al-Tarjamah, Silsilah Fi Rihab al-Wali al-Khamina’i: al-Imam al-Mahdi, edisi revisi 2010 M./1431 H., h. 17.
[18] Mahdi Shams al-Din, Hikayat al-Shaykh Bahjat, h. 6.
[19] Murtada Mutahhari, Hayah al-A’immah al-Athar, h. 223-225.
[20] Murtada Mutahhari, Hayah al-A’immah al-Athar, h. 226-230.
[21] Murtada Mutahhari, Hayah al-A’immah al-Athar, h. 213.
[22] Murtada Mutahhari, Hayah al-A’immah al-Athar, h. 214.
[23] Murtada Mutahhari, Ru’a Jadidah Fi al-Fikr al-Islami, h. 94.
[24] Murtada Mutahhari, Ru’a Jadidah Fi al-Fikr al-Islami, h. 93-94.
[25] Markaz Nun li al-Ta’lif wa al-Tarjamah, Silsilah Fi Rihab al-Wali al-Khamina’i: al-Imam al-Mahdi, edisi revisi 2010 M./1431 H., h. 9.
[26] Murtada Mutahhari, Hayah al-A’immah al-Athar, h. 243.
[27] Murtada Mutahhari, Hayah al-A’immah al-Athar, h. 218.
[28] ‘Ali al-Kurani al-‘Amili, ‘Asr al-Zuhur, Cet. XVI, 1427 H., h. 5.