Arsip Kategori: Pemikiran

TIGA USIA DERRIDA

Derrida

‘WAWANCARA KRISTINE MCKENNA DENGAN JACQUES DERRIDA’

Jacques Derrida, salah satu figur intelektual paling berpengaruh pada seperempat abad belakangan ini, adalah Bapak Dekonstruksionisme, sebuah sistem analisis-filosofis kontroversial, yang dirancang untuk membongkar bahasa dan membuka bias dan kesalahan-kesalahan asumsi yang melekat di dalamnya. Berakar pada keyakinan bahwa bahasa memuat hal-hal yang tak bisa atau dihalangi untuk mencapai kesadarannya yang penuh, Dekonstruksionisme merupakan sebuah metodologi lentur yang bisa diterapkan pada tiap-tiap dan semua teks—dan memang, dampaknya pada kritik sastra setara, jika tidak lebih besar, dari jejak yang ditinggalkannya pada wacana filsafat.

Lahir pada 1930 dalam keluarga Yahudi Sefardis (pengikut tradisi dan kebiasaan kaum Yahudi yang menetap di Spanyol dan Portugal pada akhir abad ke-15) di Aljazair, Derrida muda mempertanyakan prasangka intelektual pada usia 10 tahun, ketika Aljazair dikendalikan oleh Rezim Vichy dukungan Prancis. Dia dikeluarkan dari sekolah setelah sebelumnya seorang guru memberitahunya bahwa, “kebudayaan Prancis tak dibuat untuk anak Yahudi”. Dia lalu dikenal sebagai murid pengganggu dan berkepala batu, dan pada usia 19 tahun dia pindah ke Paris untuk belajar filsafat di École Normale Supérieure.

Di sanalah dia bertemu Marguerite Aucouturier, seorang psikoanalis, yang dinikahinya pada tahun 1957. Belajar di sana dari tahun 1952 hingga tahun 1956, fokus Jacques Derrida terutama adalah pada karya-karya filsuf Jerman Edmund Husserl dan Martin Heidegger, dan tulisan-tulisannya tentang mereka membuatnya memperoleh beasiswa ke Harvard pada 1956. Dia kembali ke Paris pada 1960 untuk mengajar filsafat di Sorbonne, dan dua tahun kemudian menyatakan kemerdekaannya sebagai filsuf dengan menerjemahkan karya Husserl, Origin of Geometry, dengan memberinya kata pengantar sangat panjang yang membuat esai Husserl jadi tampak tak seberapa.

Pada 1967 dia menerbitkan gagasan pokoknya dalam tiga buku yang terus dibicarakan hingga kini—Speech and Phenomena, Writing and Difference, dan Of Grammatology—yang membawanya ke pusat wacana filsafat. Derrida, yang telah menulis 45 buku dan telah diterjemahkan ke dalam 22 bahasa, diangkat menjadi profesor tamu di University of California at Irvine pada tahun 1986. Satu kebijakan besar dibuat universitas, yaitu memulai proyek arsip Derrida pada 1990.

Jacques Derrida berbicara dengan saya di kantornya yang sederhana di Irvine. Mengingat karya-karyanya yang ambisius dan tak kenal takut, mengejutkan bahwa ternyata dia orang yang gampang ditemui, dan gagasan-gagasannya lebih tak menciutkan nyali ketika dibicarakan ketimbang dituliskan. Dia orang yang sangat hangat, dan kharismanya muncul jelas di sepanjang bagian Derrida, sebuah film dokumenter arahan Kirby Dick dan Amy Ziering Kofman.

APA PERTANYAAN POKOK FILSAFAT YANG MESTI DIJAWAB?

Pertama-tama, bagaimana menangani hidup manusia dan bagaimana hidup bersama secara baik—ini juga soal politik. Soal inilah yang dibahas dalam filsafat Yunani, dan sejak awal filsafat dan politik sangat berkaitan satu sama lain. Kita adalah mahluk hidup yang punya kemampuan untuk mengubah hidup, dan kita menempatkan diri kita di atas binatang-binatang lainnya. Saya bersikap kritis terhadap pertanyaan tentang binatang dan bagaimana ia dibicarakan dalam filsafat, tapi itu soal lain. Hingga kini kita berpikir bahwa kita bukan hewan dan kita punya kemampuan untuk mengatur kehidupan kita. Filsafat mengajukan pertanyaan: Apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh kehidupan terbaik yang paling mungkin? Saya khawatir bahwa kita tak membuat banyak kemajuan dalam menjawab pertanyaan tersebut.

APA PERBEDAAN ANTARA PENGETAHUAN DAN KEBIJAKSANAAN?

Pengetahuan dan kebijaksanaan tidak sejajar. Anda bisa tahu banyak hal dan tak punya kebijaksanaan sama sekali. Diantara pengetahuan dan tindakan terdapat sebuah jurang, tetapi jurang itu tak seharusnya menghalangi kita untuk berusaha tahu sebanyak mungkin yang kita bisa sebelum kita mengambil keputusan. Filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan. Philia itu cinta, dan Sophia itu kebijaksanaan. Jadi tugas menuju kebijaksaan, itulah filsafat. Meski begitu, keputusan tidak hanya tergantung pada pengetahuan. Saya berusaha tahu sebanyak mungkin yang saya bisa sebelum mengambil sebuah keputusan, tetapi saya tahu pada momen mengambil keputusan itu saya melakukan sebuah lompatan melampaui pengetahuan.

APAKAH MENCAPAI SEBUAH PEMAHAMAN, SEPERTI YANG ANDA JELASKAN PADA BUKU ANDA YANG TERBIT PADA TAHUN 1976, MEMBAWA ANDA KEPADA KEBAHAGIAAN YANG LEBIH BESAR?

Saya tak akan bilang itu membuat saya lebih bahagia, tetapi ia memberi saya kekuatan untuk berjalan terus. Saya menjalani suatu hidup yang sangat aktif dan melelahkan, dan jika seseorang mengatakan kepada saya, ketika saya berumur 20 tahun, bahwa saya akan mengerjakan apa yang saya kerjakan sekarang pada usia 72 tahun, saya tak akan mempercayainya. Secara fisik saya pasti lebih rentan, dan saya akan ambruk oleh banyaknya pekerjaan saya sekarang. Manakala karya-karya saya dibaca, itulah yang memberi saya kekuatan seperti sekarang ini. Orang-orang begitu baik dengan saya dan karya-karya saya, dan saya yakin, tanpa kebaikan itu, saya akan ambruk.

KENAPA TAK ADA FILSUF PEREMPUAN?

Karena wacana filsafat diatur dengan cara meminggirkan, menekan, dan membungkam perempuan, anak-anak, binatang, dan budak. Begitulah strukturnya—bodoh sekali jika kita mengabaikannya—dan konsekuensi dari hal itu adalah tidak ada filsuf besar perempuan. Ada pemikir besar perempuan, tetapi filsafat adalah salah satu langgam khusus pemikiran diantara langgam pemikiran lainnya. Tetapi kita tengah berada pada tahap sejarah di mana hal-hal semacam ini berubah.

APAKAH ANDA AKAN MENYEBUT DIRI ANDA SEORANG FEMINIS?

Ini satu masalah besar, tapi, ya. Banyak karya saya berkaitan dengan dekonstruksi falosentrisme, dan jika saya mesti mengatakan tentang diri saya, saya adalah salah satu orang yang pertama membawa pertanyaan ini ke pokok wacana filsafat. Tentu saja saya ingin penindasan atas perempuan berakhir, khususnya yang diabadikan dalam dasar-dasar filsafat falosentrisme, jadi dari sisi itu saya adalah sekutu kebudayaan feminin. Tetapi hal itu tidak mencegah saya untuk meragukan sebagian manifestasi feminisme. Sekedar menantang hirarki, atau bagi perempuan berarti sekedar mencocokkan diri dengan aspek-aspek paling negatif dari apa yang secara konvensional dipandang sebagai perilaku maskulin, tidak akan bermanfaat bagi siapapun.

KESALAHPAHAMAN APA YANG PALING SERING TERJADI MENYANGKUT ANDA DAN KARYA-KARYA ANDA?

Bahwa saya disebut sebagai seorang nihilis yang tak percaya pada apapun, yang berpikir bahwa tak ada apapun yang bermakna. Itu tolol dan sepenuhnya keliru, dan hanya orang-orang yang tak pernah membaca karya saya yang berkata begitu. Ini adalah pembacaan keliru atas karya saya yang bermula 35 tahun lalu, dan sulit untuk menghancurkannya. Saya tak pernah mengatakan bahwa segala sesuatu merupakan persoalan bahasa dan kita hanya hidup dalam bahasa. Sesungguhnya, saya berkata sebaliknya, dan dekonstruksi logosentrisme disusun tepat untuk membongkar filsafat yang mengatakan bahwa segala sesuatu adalah bahasa. Siapapun yang membaca karya saya dengan hati-hati, memahami bahwa saya menuntut afirmasi dan keyakinan, dan bahwa saya selalu menghormati teks-teks yang saya baca.

DENGAN PEMAHAMAN YANG MEMADAI TENTANG YANG LAIN (THE OTHER), BISAKAH DORONGAN MEMBUNUH DIHAPUSKAN?

Dorongan untuk membunuh tak akan pernah bisa dihapus, karena ia merupakan bagian dari insting manusia. Manusia punya kemampuan untuk menjadi buas, dan membuat penderitaan bagi Yang Lain (the Other) bisa merupakan satu sumber kesenangan. Bahwa ia tak bisa dihilangkan, itu tidak berarti bahwa kita punya hak untuk membunuh—dan ini merupakan salah satu fungsi penting filsafat dan berpikir, yaitu menangani dorongan besar ini. Kebuasan dan agresi selalu ada, tetapi ia bisa diubah menjadi sesuatu yang indah dan sublim. Ketika saya menulis, di sana terdapat unsur agresi, tetapi saya berusaha mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna. Agresi bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih menarik ketimbang membunuh—dan tentu saja, Anda bisa membunuh tanpa membunuh. Saya bisa membunuh Yang Lain (the Other) tanpa mengakhiri hidupnya, dan saya bisa menjadi agresif dengan cara tak tercela.

KONSEP WILAYAH (TERRITORY) DAN KEPEMILIKAN (OWNERSHIP) TAMPAKNYA MERUPAKAN AKAR DARI BANYAK KONFLIK MANUSIA, DARIMANA GAGASAN INI BERASAL, DAN MENGAPA KITA TERIKAT KEPADANYA?

Selama berabad-abad kota merupakan pusat perdagangan yang penting, tetapi ketika teknologi baru sudah bukan lagi masalah dan kota telah dikuasai politik, maka ini jadi berbeda. Tetapi tempat itu tetap penting. Teman saya baru-baru ini bilang bahwa ada dua hal sekarang ini yang tak akan bisa di-deteritorialisasi-kan atau divirtualkan, yaitu Yerusalem—tak ada yang mau Yerusalem virtual, mereka ingin tanah sungguhan—dan minyak. Negara kapitalistis hidup dengan minyak, dan meskipun ini bisa berubah, seluruh masyarakat akan hancur jika itu terjadi. Ini lebih merupakan masalah di Amerika ketimbang Eropa, tetapi kita berbagi keprihatinan yang sama. Segala sesuatu selalu lebih di Amerika, dengan alasan-alasan yang nyata.

APAKAH MASA LALU MERUPAKAN SUMBER PENDERITAAN DAN KESENANGAN BAGI MANUSIA?

Ini berbeda dari satu orang ke yang lain, tetapi saya beruntung bahwa saya punya hubungan yang menyenangkan dengan masa lalu—saya bahkan menyimpan kenangan indah akan bagian sulit dari hidup saya, yang saya tahu sangatlah buruk. Saya ingin mengulang hidup saya, dan akan menerima semuanya berulang tanpa akhir, persis sama seperti ketika itu dulu terjadi. Sebuah pengulangan abadi.

APA YANG PENTING UNTUK ANDA SEKARANG?

Bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan macam itu? Banyak hal pribadi, publik dan politis penting buat saya, tetapi saya memikirkan semua hal itu dengan sebuah kesadaran terus-menerus bahwa saya bertambah tua, saya akan mati, dan hidup itu pendek. Saya terus-menerus memperhatikan waktu yang tersisa untuk saya, dan walau saya telah berpikir begini sejak muda, ini menjadi hal yang lebih serius ketika Anda berumur 72 tahun. Sejauh ini saya belum berdamai dengan kematian yang terelakkan, dan saya ragu apakah saya akan berdamai, dan kesadaran ini menyebar kepada segala hal yang saya pikirkan. Apa yang terjadi di dunia sekarang ini sungguh-sunguh buruk, dan semua ini ada dalam pikiran saya, tetapi mereka eksis berdampingan dengan teror akan kematian saya sendiri.

KAPAN ANDA MENJADI SEORANG DEWASA?

Ini pertanyaan menjebak. Saya selalu percaya bahwa setiap orang punya lebih dari satu usia, dan saya menyandang tiga usia di dalam diri saya. Ketika saya berumur 20 tahun saya merasa tua dan bijaksana, tapi sekarang saya merasa seperti anak-anak. Ada sebuah unsur kesedihan tentang hal ini, karena meski dalam hati saya merasa muda, saya tahu secara objektif bahwa saya tidak muda. Usia kedua yang saya sandang adalah usia saya yang nyata, 72 tahun, dan setiap hari saya dihadapkan pada tanda-tanda yang mengingatkan saya akan hal itu.

Usia ketiga yang saya sandang—dan ini adalah sesuatu yang hanya saya rasakan di Prancis—adalah usia ketika saya mulai menerbitkan tulisan saya, yaitu 35 tahun. Seolah saya berhenti pada usia 35 tahun di dunia kultural di mana saya bekerja. Tentu saja itu tidak benar, karena di banyak tempat saya dianggap tua, profesor terkenal yang menerbitkan banyak tulisan. Meski begitu, saya merasa seolah saya seorang penulis muda yang baru mulai menerbitkan tulisan, dan orang-orang bilang, “Dia menjanjikan”.

Iklan

Nietzsche

Sils Nietzsche Haus Engadin

Hak cipta @Sulaiman Djaya (2010)

“Sebagai seorang penulis dan pemikir yang mencintai dan memahami musik dengan intens dan intim, Nietzsche telah begitu akrab dengan gaya dan teknik transposisi, di mana teknik reiterasi atau pengulangan mampu menghasilkan dan melahirkan kesan atau perasaan yang sama sekaligus baru, ketika melodi yang sama akan terdengar berbeda. Ketika sebait musik yang ditransposisikan dapat berubah atau tetap pada nada semula, ketika kunci yang berbeda bisa memberikan efek dalam menciptakan suasana yang tinggi atau pun rendah, seperti ketika musik dimainkan dalam kunci minor akan terasa menyedihkan dan akan menyeramkan ketika dimainkan dalam kunci mayor”

Di Sils-Maria, di mana lembah-lembah pegunungan, seperti yang selalu dipujinya, senantiasa memberikan kesegaran pagi hari dan keindahan sore hari, seorang lelaki menyewa sebuah rumah kecil, tepatnya sebuah villa mungil, demi meluangkan waktu-waktu jedanya untuk merenung dan menulis dalam kesehariannya. Seorang lelaki itu bagi saya memanglah seorang yang sengaja uzlah dari keramaian, seorang professor muda yang meninggalkan universitas tempat ia mengajar filologi. Seorang lelaki itu bagi saya lebih sebagai seorang “nabi” tanpa agama, atau katakanlah seorang biarawan tanpa gereja.

Lelaki yang merujukkan dirinya pada figur Zarathustra itu di kemudian dikenal sebagai maestro pembalikan, pendiri mazhab kecurigaan, seperti yang diakuinya sendiri. Seorang proto-dekonstruksionis dan seorang stylish yang hebat. Seseorang, yang dalam bahasanya Hollingdale, telah menyatukan berpikir dan merasakan, gairah dan intelegensia, seorang lelaki yang dapat demam karena sebuah gagasan yang dicintainya dengan sungguh-sungguh.

Saya membayangkan seorang lelaki itu merenung sendirian di dalam kamar villanya, sembari sesekali pena yang terjepit di sela-sela jari jemarinya terus bergerak pada kertas, sesekali bangkit dari duduknya untuk sejenak, atau cukup lama, memandangi bintang-bintang malam dari jendela. Lalu ia menulis sebuah stanza:

Kini nyatalah semua mata air-mata air yang tercurah berbicara lebih keras. Dan begitulah jiwaku adalah sebuah mata air yang tercurah. Kini semua nyanyian para pecinta pun terjaga. Begitulah jiwaku adalah nyanyian seorang pecinta. Sesuatu yang tak terpuaskan, tak bisa terpuaskan, berada dalam diriku, ingin berbicara. Sebentuk rasa lapar akan cinta berada dalam diriku, ia sendiri bertutur bahasa cinta. Akulah cahaya itu, dan akulah malam! Tapi inilah kesendirianku, berselimutkan cahaya. Dan seandainya aku adalah buram kegelapan, niscaya kusesap susu-susu cahaya dan kan kuberkati kalian bintang-bintang kecil berkedip dan ulat-ulat pendar di atas –dan berbahagia dengan anugrah-anugrah cahayamu. Tetapi aku hidup di dalam cahayaku sendiri, dan kuteguk kembali dalam diriku nyala-nyala yang berpencar dari diriku.

Ia memilih Zarathustra lebih karena alasan yang sifatnya hiperbolik, sebagai contoh pandangan dan wawasan yang ingin dilawannya sekaligus yang hendak dijadikan sebagai titik pemberangkatannya. Obsesinya pada persoalan moralitas mungkin sangat berkaitan-erat, jika tidak saling mengandaikan dan menguatkan, dengan sinisme dan perhatiannya yang intens pada Kristianitas yang menurutnya hanya mengajarkan manusia-manusia lemah dan mentalitas budak.

Tetapi lepas dari soal di atas, Nietzsche bagi saya adalah seorang asketik dan pertapa yang sebenarnya, seorang pertapa yang patah hati dan amat kesepian, seorang pertapa yang mengisi pagi dan sorenya dengan mendaki dan berjalan di antara lereng-lereng dan lembah-lembah yang ia gambarkan sendiri dengan tokoh Zarathustra-nya, sementara di waktu-waktu malamnya asik menulis aforisma, esei-esei pendek, dan puisi. Seorang pertapa yang darinya saya menemukan relung-relung terdalam bahasa yang menawarkan sebuah khasanah yang sebelumnya tak saya dapatkan.

Di tangannya, bahasa dan kata-kata menjadi sangat tajam, padat, menghunjam, sinis, dingin dan menggigil, sarkastis, sekaligus panas dan membara seperti api. Ia pun, bagi saya, lebih mirip seorang pertapa yang hidup dalam kepasrahan total dalam kesehariannya, kepasrahan yang anehnya menurut saya lebih mirip pelarian yang bimbang.

Ecce Homo adalah salah-satu karyanya yang paling memikat saya sebagai seorang pembaca yang ketika itu terpikat dengan caranya menuturkan gagasan dan ejekan yang diungkapkannya untuk membantah, mengkritik, dan menolak gagasan-gagasan para pemikir dan filsuf sebelumnya.

Rasa ingin tahu saya lebih jauh pada pemikiran-pemikiran dan karya-karya Nietzsche mungkin berkat para filsuf yang merujukkan dan mengakui sumbangan Nietzsche dalam proyek pemikiran mereka semisal Heidegger, Foucault, dan Derrida, untuk menyebut tiga filsuf yang sepanjang pengetahuan saya paling setia menapak karir pemikirannya dalam warisan Nietzsche. Heidegger mengembangkan kritiknya atas metafisika, Derrida mengambil dekonstruksinya, dan Foucault menerapkan telisik arkeologis dan genealogisnya untuk membedah struktur dan kesejarahan terbentuknya pengetahuan dan bagaimana kebenaran dilegitimasi. Para filsuf yang menurut saya juga setia sebagai para “master pencuriga” dari tradisi “school of suspicion”, sebuah istilah yang dikemukakan oleh Nietzsche sendiri dalam esei pendahuluan bukunya yang berjudul Human, All Too-Human.

Pernah juga saya membayangkan Nietzsche adalah reinkarnasi Isa al Masih dan Sokrates di jamannya, meski dua tokoh tersebut adalah orang-orang yang dikritiknya dengan tajam dan pedas. Subjektivitas saya itu karena melihat sisi perlawanannya terhadap mainstream wawasan jaman di mana ia hidup, sebuah perlawanan yang juga pernah dilakukan Isa al Masih dan Sokrates. Begitu pun sebaliknya, saya merasakan adanya kekaguman tersembunyi dalam diri Nietzsche kepada Isa al Masih dan Sokrates, di mana dalam Ecce Homo, Human All-Too Human, Thus Spoke Zarathustra, Beyond Good and Evil, Gay Science, dua tokoh tersebut terus menjadi tema tulisan-tulisan dan kritikannya.

Di dalam The Birth of Tragedy, misalnya, Nietzsche menyebut Sokrates sebagai sang ironis sejati yang penuh teka-teki, selain membahas Homerus, Silenus, dan Arsilokus, yang sama penuh teka-tekinya dengan Isa al Masih sebagai The Crucified alias yang tersalib.

Secara pribadi sebagai seorang yang lebih berminat pada aspek-aspek sugestif dan afektif penulisan dan strategi penuturan, saya mengakrabi Nietzsche lebih pada keindahan puitis sajak-sajak dan esei-eseinya, seakan saya sedang membaca surat cinta seseorang kepada kekasihnya, dan seakan saya tengah mendengarkan curhat, keluh-kesah, dan ungkapan-ungkapan perasaan lainnya.

Di tangan Nietzsche, tulisan dan pemikiran menjadi demikian bernyawa, hidup, dan bergairah, kadang sejuk dan adakalanya garang dan menghentak-hentak seperti gerakan yang cepat dan bersemangat, kadang terasa senyap dan sedih, kadang begitu gembira dan menyala-nyala. Dalam hal ini saya menyukai bait-bait yang ada dalam Zarathustra berikut:

“Ketika udara terasa jernih, ketika kesejukan embun bercucuran ke bumi, tak terlihat dan tak terdengar, kesejukan embun pun mengenakan sepatu-sepatu lembut, seperti segala yang lembut menyejuk: Apakah kemudian kau pun ingat, betapa dulu pun kau haus, mendamba cucuran airmata surgawi dan butiran-butiran embun, hangus dan letih, sementara di atas jalan-jalan kuning penuh rumput, berpencaran buih-buih cahaya matahari petang yang nakal, menembusi pohon-pohon gelap (Nyanyian Kesenduan, Bagian 3)”,

“Jika kucintai laut, dan segala yang seperti laut, dan paling mencintainya ketika ia dengan amarah membantahku: jika dalam diriku ada kegembiraan dalam mencari segala yang menghempas layar-layar ke arah yang tak diketemukan, jika kegembiraan seorang pelaut tak kudapati dalam kerianganku, jika nanti kegembiraanku telah berseru: pantai telah menghilang dan belenggu penghabisan terlepas dariku (Nyanyian Tujuh Meterai, Bagian 5)”.

Di tangan Nietzsche, semua aspek dan sisi terdalam bahasa ditawarkan, sesekali subversif dan destruktif, dan di lain kali terasa dingin dan penuh teka-teki, berdusta, menertawakan dan bercanda, seringkali nakal dan tangkas.

Begitulah, sebagai seorang stylish yang handal dan hebat, tulisan-tulisan dan gaya penuturan dan pengungkapannya yang jernih dan menghunjam mampu dengan cepat melahirkan kepekaan dan kuriositas baru pada perasaan saya sebagai seorang pembaca, gagasan-gagasan yang dimunculkan dan ditawarkannya memiliki daya tembus dan daya gugahan yang kuat, argumentasinya padat dan tidak bertele-tele. Bagi saya, bahasa Nietzsche memang setara dengan kekuatan bahasa kitab suci yang enigmatik sekaligus ironik dan argumentatif.

Konon ia pun seringkali membawa kertas-kertas, semacam buku catatan harian, ketika ia berjalan-jalan sendirian menyisiri pedesaan di Swiss, yang dengan kertas-kertas tersebut ia dapat segera menuliskan gagasan-gagasan, pengalaman-pengalaman yang ia dapatkan dan ia rasakan seketika itu, dan menuliskan ide-ide yang muncul di saat berjalan-jalan itu dalam bentuk tulisan aforistis –yang dengan catatan-catatan aforistis yang ditulisnya itu tanpa ia sadari telah menjadikan dirinya sebagai seorang revolusioner bahasa yang tak tertandingi di abad ke-19.

Tetapi ada satu hal yang membuat saya berpikir lain, yaitu gagasannya tentang Will to Power, yang menurut Heidegger merupakan gagasan inti dan sentral pemikirannya, bagi saya lebih merupakan sebuah konsolasi dari kepasrahan, kesulitan, dan keterbatasan kesehariannya ketika ia begitu sangat produktif menulis. Cetusan-cetusan untuk bersikap afirmatif dan berkata “ya” pada realitas dan eksistensi terdengar dalam pencerapan saya lebih sebagai sebuah afirmasi pada kesepian dan kesunyian yang dijalaninya selama ia menghabiskan waktu-waktu kesehariannya untuk menulis Human All To-Human dan Thus Spoke Zarathustra yang saya sukai itu.

Meski demikian, ketika saya tak sepenuhnya sepakat dengan sistematisasi yang dilakukan Heidegger yang mengkutubkan pada aspek Will to Power-nya, toh Hollingdale telah mengobati saya dengan pemilahan tematik yang dilakukannya, di saat saya masih menganggap tulisan-tulisan Nietzsche lebih sebagai kawah bahasa yang menggelora dan membara, seperti yang ia gambarkan sendiri dalam stanza-nya: “tapi aku sendiri adalah cahaya-cahaya yang tercurah”.

Menurut Hollingdale, ada tiga tema dan konsentrasi yang intens dan konsisten dalam tulisan-tulisan Nietzsche. Pertama, penghancuran semua konsep yang selama sebelumnya selalu dirujuk dan dijadikan acuan untuk mengukur segala hal. Kedua, kritik atas moralitas dengan menunjukkan basis-basis dan sisi-sisi nir-moral dalam hidup dan eksistensi, sekaligus juga kritik atas rasionalisme dengan menunjukkan dan mengemukakan aspek-aspek dan segi-segi irrasional makhluk hidup dan hidup itu sendiri, dan yang Ketiga, adalah upayanya untuk melawan oposisi-oposisi konseptual antara dunia yang lebih mulia dan yang rendah, yang material dan yang spiritual. Paparan Hollingdale tersebut mengingatkan saya pada apa yang juga ingin dilakukan Jacques Derrida dengan dekonstruksinya.

Dalam pengakraban saya, mungkin seperti halnya orang-orang lain yang membaca Nietzsche, sumbangan terbesar Nietzsche selain kekuatan inspiratifnya untuk pemikiran, adalah pada pembentukan bahasa dan gaya penulisan, secara oratorik atau pun retorik. Seperti yang juga ditegaskan Derrida, bahasa Nietzsche menurut saya adalah bahasa yang lahir dari keintiman dengan kerentanan sekaligus kejernihan. Bahasa yang kadang heran dan kadang sedih, seperti ketika ia berbicara tentang dirinya dan nasib yang dijalaninya, yang ia tuangkan dalam pendahuluan bukunya, Human All Too Human:

“How he loves to sit sadly still, to spin out patience, to lie in the sun! Who understand as he does the happiness that comes in winter, the spots of sunlight on the wall!”.

Bahasa yang melawan sekaligus pasrah:

“….Enough, I am still living; and life is, after all, not a product of morality: it wants deception, it lives on deception….but there you are, I am already off again, am I not, and doing what I have always done, old immoralist and bird-catcher that I am –speaking unmorally, extramorally, beyond good and evil?-” Bahasa yang berkelana dan menjelajah: “Almost all the problem of philosophy once again pose the same form of question as they did two thousand years ago: how can something originate in its opposite, for example rationality in irrationality, the sentient in the dead, logic in unlogic, disinterested contemplation in covetous desire, living for others in egoism, truth in error?”

Bahasa yang arkeologis dan genealogis:

“Mankind like to put question of origins and beginnings out of mind….man has for long ages believed in the concepts and names of things as in aeternae veritates ha has appropriated to himself….he really thought that in language he possessed knowledge of the world”. ”Bahasa yang alegoris sekaligus hiperbolik: “Supposing that truth is woman (Bayangkanlah seandainya kebenaran itu seorang perempuan)”. Atau: “Kebenaran adalah sepasukan metafor yang terus bergerak”.

Bagi saya, karya-karya Nietzsche adalah perayaan suara-suara yang saling menegaskan sekaligus menegasikan, saling mencederai sekaligus mengobati, pembalikan dan kesaling-silangan yang bertumpuk sekaligus berceceran, sejumlah sketsa dan figura-figura impresionistik dan eskpresionistik pada saat bersamaan dan bergantian. Caranya mengemukakan kelemahan dan kesalahan sebuah gagasan yang ingin ditolak dan dikritiknya lebih dekat pada Montaigne, salah seorang penulis yang dikaguminya selain Abbe Galiani, Goethe, dan Stendhal alias Henry Beyle. Kegigihannya untuk mematangkan gagasan-gagasan yang ditulisnya memang seperti kegigihan seniman yang dikaguminya, Raphael.

Tulisan-tulisannya lahir dari seorang lelaki yang terlampau gelisah dan bergolak secara bathin, dari seorang lelaki yang sangat kesepian. Tyler T. Roberts mengatakan, misalnya, dalam tulisan-tulisannya Nietzsche mengimajinasikan dan memperlakukan filsafat dan pemikiran sebagai sejumlah praktek asketisme dan pembentukan hidup. Pendapat Tyler T. Roberts tersebut salah-satunya ia contohkan dengan The Gay Science-nya, di mana Nietzsche menurutnya bersuka-cita dalam “saturnalia”, sebentuk jiwa yang sabar dalam menghadapi penderitaan, kesepian, dan tekanan yang berkepanjangan –yang dalam bahasanya Tyler T. Roberts, tulisan dan pemikiran Nietzsche dapat dibayangkan sebagai “sebuah perahu kehidupan yang berlayar di antara gelombang badai kekecewaan dan keputusasaan tiada akhir yang secara paradoks dipenuhi dengan cinta, kegembiraan, dan keriangan yang memabukkan”.

Di dalam wawasan pemahaman seperti itulah, ujar Tyler T. Roberts, filsafat dan pemikiran di tangan Nietzsche merupakan seni olah spiritual (the art of transfiguration) melalui ikhtiar terus-menerus demi memperbaiki dan memperindah tubuh sekaligus menajamkan pikiran dalam proses spiritualisasi dirinya sendiri. Atau seperti yang dikatakan sendiri oleh Nietzsche: “tarian adalah cita-cita, seni seorang filsuf dan kesalehannya yang paling nyata”. Tarian yang dapat juga dimengerti sebagai sikap afirmatif kepada bumi dan hidup. Berkata “ya” dengan riang pada eksistensi dan kehidupan.

Meski demikian dan bagaimana pun, saya sendiri merasa was-was ketika membaca imperatif ritual yang dikumandangkannya dalam The Gay Science, “apakah yang paling suci dan paling tinggi dari semua yang dimiliki dunia, yang telah berlumur darah, bahkan telah mati tertikam pisau kita: Siapakah yang akan membersihkan darahnya dari kita? Air apakah yang tersedia untuk membersihkan diri kita sendiri? Perayaan penebusan dosa jenis apa, permainan keramat apa yang harus kita temukan?”

Selanjutnya dari segi sumbangan pemikirannya, bila kita merujuk kepada pendapat-pendapat para pemikir dan filsuf yang meneruskan warisan khasanah dan wawasannya, tulisan-tulisan Nietzsche menolak dikotomi konseptual dan menghancurkan fondasi-fondasi yang selama sebelumnya diyakini benar, yang di tangan Heidegger diistilahkan dengan destruksi dan di tangan Derrida bernama metode dan praktik dekonstruksi, sementara Nietzsche sendiri menyebutnya “berfilsafat dengan palu”, persis seperti ketika seseorang menghancurkan sebuah ikon berhala (pemikiran) yang ternyata di dalamnya gerowong setelah dihantam palu. Ia sendiri memang dinamit dan palu, seperti dikumandangkannya sendiri, yang telah menyadarkan banyak penulis dan pemikir dari “kelelapan dogmatis” (dogmatic slumber).

Di Sils-Maria itu, yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Saint-Moritz tempat Giovanni Segantini bekerja dan mengisi waktu-waktu kesehariannya untuk melukis, Nietzsche menulis Thus Spoke Zarathustra, The Gay Science, Beyond Good and Evil, On The Genealogy of Morals, dan Twilight of the Idols.

Sils-Maria dan pegunungan Alpen, yang sebagai sebuah kehidupan dan keseharian, yang kalau menurut Alain de Botton, juga cukup mempengaruhi tulisan-tulisannya, selain Lou-Andreas Salome, kesan-kesan ala esai-nya Montaigne seperti yang ia tuliskan di dalam Ecce Homo, On Genealogy of Morals, Human All Too Human, dan Untimely Meditations. Hingga dapatlah dikatakan Nietzsche adalah penyair dan pemikir yang sangat intim dengan alam dan keseharian, semisal yang diungkapkannya di dalam Ecce Homo:

“Yang tahu bagaimana menarik nafasnya dari karya-karyaku akan mengetahui bahwa ia adalah udara ketinggian….filsafat yang saya pahami dan saya hidupi sampai saat ini, adalah kehidupan penuh sukarela dalam salju dan pegunungan”.

Atau seperti yang ia tuliskan dalam Human All Too Human:

“Di pegunungan kebenaran, engkau tak akan pernah mendaki sia-sia, entah karena engkau mendaki lebih tinggi hari ini, atau karena engkau melatih kekuatanmu hingga sanggup mendaki lebih tinggi di esok hari”.

Sils-Maria, alam dan kesehariannya bagi Nietzsche, sebagaimana Saint Moritz bagi Giovanni Segantini, menurut saya adalah lanskap dan inspirasi penting untuk tulisan-tulisan Nietzsche ketika ia seringkali menekankan pentingnya sikap afirmatif pada hidup dan eksistensi meski dijalani dalam penderitaan dan kesahajaan. Begitu pun menurut Tyler T. Roberts, kritik dan penolakannya pada Kristianitas ketika itu lebih karena Nietzsche memandang dan merasakannya sebagai sejumlah imperatif pengingkaran pada takdir hidup dan bumi, kristianitas menurut Nietzsche lebih cenderung menjadikan dirinya (kristianitas) sebagai sumber paling potensial penyakit penyangkalan hidup yang menginfeksi dan melemahkan kehidupan manusia.

Untuk menafikan kenyataan Kristianitas yang ditolaknya itu, Nietzsche mengumandangkan kebalikannya seperti yang diungkapkannya melalui figur Zarathustra yang dipinjamnya: “Hal terdalam yang kucintai hanyalah kehidupan –justru ketika aku membencinya”. Di mana pada saat yang sama ketika ia membenci Kristianitas kita bisa menangkap paradoksnya, lanjut Tyler T. Roberts, ketika Nietzsche memuji Isa al Masih sebagai “spirit bebas yang sebenarnya berdiri dan berada di luar agama (beyond religion)”.

Dengan demikian, asketisme (kepertapaan) ala Nietzsche merupakan kebalikan dari asketisme Schopenhauer, yang menurut Nietzsche malah meneguhkan penyangkalan pada hidup dan eksistensi. Dalam hal inilah “ateisme” Zarathustra-nya Nietzsche bagi saya lebih terasa sebagai upaya pencarian spritualitas baru bagi dunia modern. Sampai-sampai Schleiermacher memandang ateisme Nietzsche merupakan klimaks dari suara-suara jamannya, mengingat menurut Schleiermacher, yang mengkritik agama atau pun kristianitas bukan hanya Nietzsche, meski daya ledaknya menemukan momentumnya dalam karya-karya Nietzsche. Ketika memang pada kenyataannya agama atau pun Kristianitas di abad 19 berada pada praktek-praktek dan sikap-sikap “membunuh dirinya sendiri” dan berada dalam “kebimbangan dan disorientasi”.

Setidak-tidaknya, sebagaimana kita tahu, pada tataran instropeksi dan otokritik dalam Kristianitas tersebut juga dilakukan Soren Kierkegaard.

Begitu juga menurut saya, bisa jadi bahasa-bahasa Nietzsche yang berkobar dan bergolak dalam setiap pernyataannya adalah bentuk lain pencarian aspek penghiburan justru ketika ia sendiri ingin menggantikan dan menolak aspek-aspek konsolatif agama yang menurutnya lebih mengajarkan pelarian dan penolakan dari dan pada dunia dan eksistensi, seperti yang ia kumandangkan dengan Zarathustra-nya:

“Akulah Zarathustra, penyokong hidup, pembela yang menderita, penyokong siklus”.

Ketertarikan Nietzsche pada setiap ikhtiar manusia dalam memahami dan menerjemahkan eksistensi dan penderitaan itu sendiri sebenarnya sudah ia lakukan ketika Nietzsche membedah dan menafsirkan arti tragedi bagi orang-orang Yunani dengan The Birth of Tragedy-nya, yang menurutnya kegandrungan orang Yunani pada tragedi mencapai puncaknya pada abad ke 5 M dapat dibaca dan dipahami sebagai upaya mereka untuk mencari pengobatan dan penghiburan akibat perang Median (Persia) yang membuat orang-orang Yunani berada dalam dua pilihan dan ancaman yang sama-sama dilematis, militerisme dan penaklukan. Begitu pun gejala-gejalanya, menurut Nietzsche, yang tak lain demam nasionalis alias pengkultusan negara dan tanah air, dan kecanduan revolusioner alias penolakan terhadap negara dan tanah air, telah menjebak mereka pada dua bahaya yang sama-sama kuatnya: Apollonisme yang berlebihan dan Dionysianisme yang berlebihan.

Situasi dan keadaan itu menurut Nietzsche sendiri mirip situasi dan keadaan Jerman ketika mengalami ancaman kekuatan Prancis.

Lebih lanjut, sebagaimana yang ia paparkan dalam The Birth of Tragedy-nya itu, tragedi menurut Nietzsche mentransformasikan kondisi manusia, di mana lagu, paduan suara, dan tarian-nya mengungkapkan kekejaman Ada (eksistensi). Sementara paduan suara merupakan penerjemah dari “Ada” yang bermain dengan penampilannya, musik itu sendiri adalah bahasa dari “Ada”, dari keinginan tersembunyi dalam individu.

Sedikit-banyaknya, hasil pembacaan dan penerjemahan Nietzsche atas tragedi Yunani itulah yang memungkinkan ia mengatakan bahwa bangsa Yunani-lah yang paling memahami dan menyadari kengerian dari eksistensi, pesimisme mereka justru mencerminkan kedalaman, kedalaman yang dalam pandangan Nietzsche bertolak belakang dengan rasionalitas dan optimisme Sokrates dan Euripides. Wajar saja bila Nietzsche lebih memuji Sophocles dan Aeschylus, sementara Euripides menurutnya orang yang telah memudarkan dan melemahkan tragedi Yunani itu sendiri karena telah menghilangkan musik dan menggantikannya dengan dialog, juga menghilangkan dan mengganti paduan suara dengan tokoh utama.

Penghilangan musik itu dalam pandangannya justru telah menghilangkan tafsir atas kebenaran yang tidak rasional dari kondisi manusiawi itu sendiri.

Sebagai seorang penulis dan pemikir yang mencintai dan memahami musik dengan intens dan intim, Nietzsche telah begitu akrab dengan gaya dan teknik transposisi, di mana teknik reiterasi atau pengulangan mampu menghasilkan dan melahirkan kesan atau perasaan yang sama sekaligus baru, ketika melodi yang sama akan terdengar berbeda. Ketika sebait musik yang ditransposisikan dapat berubah atau tetap pada nada semula, ketika kunci yang berbeda bisa memberikan efek dalam menciptakan suasana yang tinggi atau pun rendah, seperti ketika musik dimainkan dalam kunci minor akan terasa menyedihkan dan akan menyeramkan ketika dimainkan dalam kunci mayor.

Setidak-tidaknya, tulisan-tulisan Nietzsche dengan gaya dan kesannya yang kadang panas dan dingin itu bisa dibaca dalam strategi, teknik, mode, dan gaya musikal. Filsafatnya merupakan sebuah rekonseptualisasi antara raga dan spirit, spirit yang bila meminjam perkataannya Walter Kaufmann tak ubahnya sebuah instrument kehidupan dalam usahanya untuk meningkatkan diri sendiri.

Sepanjang pengalaman pembacaan saya, tulisan-tulisan Nietzsche memang tak ubahnya sejumlah komposisi musik yang adakalanya tegang dan tinggi, adakalanya pasrah dan meminta untuk dikunjungi dan disimak dengan sabar dan hati-hati. Kadangkala cepat dan kadangkala lambat seperti ketika kita berada dalam dingin musim hujan. Untuk mencerna dan memahami tulisan-tulisannya, pembaca harus menyerah pada komposisi-komposisi dan nada-nada gubahan yang disusunnya, kita harus masuk dan menjadi pengunjung dunia-dunia imajinasi musikal tulisan-tulisannya. Di sana kita akan menjumpai Haydn, Mozart, Vivaldi, Bach, Beethoven, dan yang lainnya.

Esei-esei Nietzsche telah memberikan saya bagaimana cara menulis yang personal dan hidup, seperti ketika saya membaca Daybreak-nya:

“I shall now tell you what I was after down there –here in this late preface which could easily have become a funeral oration: for I have returned and, believe it or not, returned safe and sound. Do not think for a moment that I intend to invite you to the same hazardous enterprise.

Atau ketika saya memaca Human All Too Human-nya:

“And in fact I myself do not believe that anyone has ever before looked into the world with an equally profound degree of suspicion, and not merely as an occasional devil’s advocate, but, to speak theologically, just as much as an enemy and indicter of God; and anyone who could divine something of the consequences that lie in that profound suspiciousness, something of the fears and frosts of the isolation to which that unconditional disparity of view of condemns him who is infected with it, will also understand how often, in an effort to recover from myself, as it were to induce a temporary self-forgetting, I have sought shelter in this or that –in some piece of admiration or enmity or scientifically or frivolity or stupidity; and why, where I could not find I needed….If he has for long hardly dared ask to himself: why so apart? so alone? renouncing everything I once reverenced? renouncing reverence itself? why this hardness, this suspiciousness, this hatred for your own virtues? –now he dares to ask it aloud and hears in reply something like an answer.

Ketika membaca esei-esei Nietzsche, saya seakan tengah membaca catatan-catatan yang sangat pribadi seseorang yang hidup dalam kesendirian dan kebimbangan. Ada gelora yang melawan sekaligus ada keluh-kesah, ketika dalam esei-eseinya keriangan dan kesedihan sama-sama memiliki ruang yang berimbang, sebentuk perlawanan dalam kepasrahan.

Tulisan-tulisan Nietzsche, dalam pencerapan saya, adalah sejumlah nuansa dan suasana musikalitas seorang lelaki yang teramat sepi dan pasrah, seorang pertapa yang terjebak dalam relung-relung kesunyian yang paling dalam dan dingin. Esei-esei Nietzsche bagi saya adalah sejumlah pengakuan otobiografis, yang anehnya menjadi sedemikian terlibat dengan teramat akrab dan intim dengan filsafat, bukan hanya sebagai sekian analisis, tetapi lebih sebagai upaya tanpa henti untuk memahami eksistensi dan kehidupan.

Kehidupan dan keseharian Nietzsche seolah musik yang tak pernah berhenti yang telah terlanjur memabukkan dan meminta untuk terus dinyanyikan kapan saja dan di mana saja ia berada, relung bathin Nietzsche adalah musik itu sendiri –yang tersusun dan lahir dari sekian kegelisahan dan pencarian spiritual seorang lelaki yang telah mengambil pilihan untuk uzlah dan mengasingkan diri di Sils-Maria. Sementara itu pada tulisan-tulisannya, saya mendapatkan dan merasakan bahasa yang telah menjadi “seorang pribadi” dan “sebentuk karakter kejiwaan” dalam proses pembentukan dan pencarian diri yang intens dan tak kenal lelah –ia adalah “dunia” sekaligus “rahim”, di mana “konsep kebahasaan” tak semata hanya dipahami dan diposisikan sebagai medium, tetapi lebih sebagai suara-suara yang lebih mirip sejumlah gubahan, komposisi, suasana, dan nada-nada.

Bahasa dalam tulisan-tulisan Nietzsche adalah musik dan puisi itu sendiri.

Selain itu, metafora dan hiperbola yang dipraktikkannya untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pun memadatkan pemaknaan dan maksud yang ingin disampaikannya juga banyak meminjam dari alam dan keseharian:

“Seandainya kita hanyalah ladang subur, kita tak akan membiarkan kotoran apapun menjadi tak berguna, dan berusaha melihat dalam setiap peristiwa, sesuatu dan orang, bisa bermanfaat seperti pupuk”, dan: “Seseorang dapat mengalahkan hasrat orang lain seperti peladang. Sedikit saja yang mengetahui cara mengolah dan mengendalikan tekanan amarah, kemalangan, keseriusan, kesombongan, hingga sama-sama produktif dan bermanfaatnya dengan tanaman indah di terali rumah kita”.

Di Sils-Maria itulah Nietzsche menulis aforisma-aforisma yang banyak mengambil kiasan dan perumpamaannya dari setiap yang ada dalam jangkauan pandangan matanya dan yang membangkitkan minatnya layaknya seorang pertapa yang memang mengintimi dan mengakrabi keseharian dan kehidupan sekitarnya di mana ia melangkah dan berada. Seorang pertapa yang selalu membawa pena dan catatan harian.