Arsip Kategori: Human History

Rustam dan Bahman

Prince_of_Persia_FanMade_by_3fkan

Dulu, di Persia ada seorang pahlawan besar. Namanya Rustam. Ia adalah anak pungut dari seekor burung ajaib, bernama Simurg. Ketika Rustam akan kembali ke masyarakat, burung itu memberinya sebuah bulu.

“Jika kau butuh pertolongan,” kata Simurg. “Bakarlah bulu ini. Aku akan datang menolongmu.”

Rustam punya seorang musuh. Namanya Bahman. Setiap kali bertemu dengan Rustam, ia selalu menantangnya untuk berkelahi. Suatu hari, ketika sedang berburu singa di gunung, Rustam bertemu dengan Bahman. Di sana, mereka berkelahi sepanjang hari. Barulah setelah malam, mereka berhenti, karena lemas kecapaian. Mereka jatuh bersebelahan di tanah. Masing-masing dari mereka tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.

Rustam bangun dan pergi meneruskan berburunya. Ia mendapatkan banyak singa. Kulit singa itu ia jadikan sebagai baju dan topi. Rustam mempunyai topi kulit singa yang ajaib. Jika topi itu ia pakai, maka ia dapat menghilang.

Sementara itu, Bahman kembali ke istana. Dalam perjalanan ke sana, ia dicemooh orang-orang. “Hai, Bahman, katanya kau dapat menangkap Rustam dengan tanganmu sendiri dan membawanya kepada Sang Raja. Dasar pembohong besar!”

Bahman sangat malu dikatakan sebagai pembohong besar. Wajahnya merah. “Aku akan membuktikan pada rakyat bahwa aku bisa mengalahkan Rustam dan memperoleh julukan pahlawan paling besar di negeri itu,” katanya dalam hati. Lalu, Bahman membuat sebuah benteng besar di bukit yang dindingnya terbuat dari baja. Ia tempatkan para penjaga di atas dinding itu dan ia kelilingi benteng itu dengan parit yang lebar.

Setelah benteng itu jadi, Bahman mengundang Rustam untuk mengadakan pertandingan. Rustam datang dengan kudanya, Rasksh. “Selamat datang, Rustam. Masuklah ke bentengku. Kita akan bertarung di sini, untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pahlawan paling besar di seluruh Persia ini,” teriak Bahman, ketika Rustam sampai di pintu gerbang benteng itu.

Pintu gerbang itu dijaga oleh jin Kaypush dan Yarapush. Jadi untuk dapat masuk ke dalam benteng itu. Rustam harus dapat mengalahkan kedua jin itu dulu. Rustam dengan pentungan kayunya yang besar dapat mengalahkan Jin Yarapush, sementara kuda Rustam, Rasksh, dengan tendangannya yang dahsyat berhasil melukai kepala Jin Kaypush.

Setelah mengalahkan kedua jin itu, Rustam mengenakan topi kulit singanya, agar ia bisa menghilang. Lalu, ia masuk lapangan Benteng Baja tersebut bersama Rasksh di sebelahnya. Bahman bingung, karena ia tidak melihat Rustam, yang ada hanya kudanya.

“Cepat cari Rustam di semua sudut benteng. Akan kuberi hadiah siapa saja yang pertama melihatnya,” teriak Bahman.

Mendengar perintah Bahman, para penjaga benteng dan jin berlarian ke sana kemari, mencari Rustam di setiap kamar, tetapi tidak ditemukan. Padahal, ketika itu Rustam sedang mengadakan penyelidikan di benteng itu. Ia melihat ada empat kamar berpintu baja di benteng itu. Kamar pertama berisi emas dan permata. Kamar kedua berisi tong-tong bubuk mesiu. Kamar ketiga berisi lembing dan tombak. Kamar keempat tertutup. Dari lubang kunci pintunya dapat dilihat bahwa di dalam kamar itu terdapat seorang gadis yang rambutnya diikat ke sebuah gantungan di langit-langit, lalu Rustam meletakkan tongkatnya dan merusak pintu itu. Sebelum melepaskan tawanan itu. Rustam membuka topinya, agar dapat terlihat kembali .

“Maaf, Nona. Apakah kau seorang puteri raja?” tanya Rustam pada gadis yang mengenakan baju kebangsawanan dan perhiasan dari emas permata.

“Ya,” kata gadis itu. ” Namaku Mah-Naz. Aku tidak tahu mengapa aku bisa diikat dengan rambutku sendiri di benteng yang menyeramkan ini. Terima kasih atas bantuanmu.”

“Ikutlah denganku, aku akan membawamu pergi” ajak Rustam. “Tapi. sebelum itu aku harus mengalahkan musuhku dulu, karena ia mengundangku ke tempat ini untuk bertarung.”

“Tuan, Aku mohon padamu untuk membawaku ke istana ayahku di Turkestan, tapi jangan sampai ketahuan oleh Bahman,” pinta gadis itu.

“Pakailah topi kulit singa ini dikepalamu,” suruh Rustam pada gadis itu.” Berjalanlah di belakangku, karena aku akan bertarung dengan Bahman dulu. Jika sesuatu terjadi padaku, bakarlah bulu ini, maka pelindungku, Simurg, akan datang. Mintalah kepadanya agar kau diantarkan ke istana ayahmu. Kau akan tiba disana dengan segera setelah kau minta padanya”

“Tidak, tidak, aku tidak mau meninggalkanmu, aku akan tetap bersamamu di sini,” kata Mah Naz, lalu ia memakai topi dan memegang bulu itu. Ia berjalan di belakang Rustam menuju ke tengah lapangan benteng itu.

Belum sempat Rustam bertarung dengan Bahman, ia sudah diserang oleh para penjaga benteng itu. Jin Efrit, Kaypush dan Yarapush menyergapnya dan membawanya ke tengah lapangan. Di sana, Bahman sedang duduk di singgasana keramik hitamnya didampingi dengan dua belas jin lainnya.

“Hai, Rustam, Pahlawan Besar Persia,” teriak Bahman. “Akhirnya kau terima juga tantangan dariku. Lepaskan dia, Jin Efrit! Berikan dia pentungan yang besar. Kita akan lihat sekuat apa lawan kita ini.”

Akhirnya, Bahman dan Rustam bertarung di tengah-tengah para penjaga benteng dan jin yang memberi dukungan kepada Bahman. Sementara, pendukung Rustam tidak ada, kecuali Mah-Naz yang tidak kelihatan. Dalam pertarungan itu, Rustam mengalami kekalahan. Ia jatuh di tanah dan tak dapat berdiri lagi. Mah-Naz menangis ketakutan. Ia pikir Rustam telah mati. Maka, dibakarlah bulu yang diberikan kepadanya. Dalam waktu sekejab, terdengarlah suara kepakan sayap yang keras dari seekor burung raksasa. Kepakan itu membuat suasana di benteng itu menjadi gelap gulita, dan para penjaga benteng berjatuhan.

“Siapa yang berani menyerang Rustam, yang berada di bawah lindunganku,” kata Simurg dengan suara yang dahsyat sambil mengusapkan sayapnya ke badan Rustam dan Rustam pun kembali sehat seperti semula.

Sementara itu, Bahman berusaha untuk melarikan diri, tapi terlambat, karena Simurg telah membacakan manteranya.

“Jadilah kau batu, Hai, Manusia jahat!” Dan, semua yang ada di benteng itu pun berubah menjadi batu.

Belum sempat Rustam mengucapkan terima kasih pada Simurg, karena telah menyelamatkannya, burung itu sudah tidak ada. Namun, ia meninggalkan bulu lainnya di atas tanah. Bulu itu disimpan oleh Rustam.

Lalu, Rustam dan Mah-Naz keluar dari benteng itu menuju ke Turkestan. Ketika tiba di Turkestan, rakyat menerima mereka dengan gembira, karena sang puteri yang diculik oleh Bahman telah kembali. Sang Raja menjamu Rustam selama berminggu-minggu dan memberinya hadiah emas.

Sebenarnya, Mah-Naz ingin sekali Rustam menjadi suaminya. Tapi, ketika ia menyuruh pengasuhnya untuk mengatakan hal itu kepadanya. Rustam memakai topi kulit singanya dan menghilang dari pandangan, karena ia selalu mencurahkan hidupnya untuk bertarung dan memburu binatang buas.

(Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah “Anak Gadis Di Sarang Jin”. Penulis: Males Sutiasumarga. Penerbit: Zikrul Hakim – Jakarta)

Injil Barnabas dalam Kontroversi Sejarah

Ilustrasi Isa al Masih

Injil Barnabas dianggap sebagai Injil yang ganjil dan mengada-ada oleh sejumlah kalangan, meski bukan berarti kita tak mungkin memeriksa kembali klaim sejumlah kalangan tersebut: adakah klaim tersebut benar dan memiliki dasar, ataukah malah justru sebaliknya?

Dan sebagai sebuah isu dan wacana yang dianggap kontroversial, pembicaraan tentang Injil Barnabas memang merupakan masalah yang selalu aktual dan hangat untuk dibicarakan dan didiskusikan, utamanya oleh para teolog dan intelektual yang memiliki pikiran terbuka untuk membincang persoalan apa saja yang memungkinkan terbukanya atau tersingkapnya “kebenaran” yang selama ini tak diketahui atau barangkali sengaja ditutupi karena sejumlah alasan.

Sebagaimana kita tahu, di satu sisi, umat Islam pada umumnya menaruh simpati pada Injil ini, yang salah-satu alasannya adalah karena Injil Barnabas ini banyak menubuatkan mengenai kedatangan Nabi Muhammad saw, bahkan nama Muhammad berulang kali disebutkan dalam Injil ini.

Namun di lain pihak atau di lain sisi yang berbeda, sebagian besar kalangan atau sejumlah ummat Kristiani menolak keabsahan Injil Barnabas ini, dan menganggapnya sebagai Injil Palsu yang sesat dan menyesatkan. Sejumlah orang dan kalangan Ummat Kristiani, misalnya, mengklaim bahwa Injil Barnabas tidak dikenal dalam sejarah Kekristenan mula-mula (Periode Awal Gereja), dan masih menurut klaim mereka, Injil Barnabas dibuat oleh seorang Muslim yang bernama Fra Marino / Mustafa Arande, dan Injil ini baru mulai muncul (dikenal) pada sekitar abad ke-16 M. adakah benar demikian?

Terkait keberatan sejumlah kalangan dan beberapa pihat tersebut, berikut, akan kami sajikan beberapa fakta historis seputar Injil Barnabas yang sering dilupakan dan diabaikan oleh teman-teman di kalangan ummat Nasrani.

Injil Barnabas pernah diterima sebagai Injil Resmi (Kanonik) dalam kalangan Gereja-Gereja di wilayah Iskandariah sampai pada tahun 325 M. Berdasarkan keterangan Irenaeus (130-200 M), terbukti bahwa Injil Barnabas beredar luas pada abad pertama dan kedua Masehi. Dalam sejarah kita mengenal Irenaeus sebagai salah satu tokoh yang mendukung teori Keesaan Ilahi dan menentang ajaran Paulus serta menuduhnya bertanggung-jawab dalam melakukan asimilasi Agama Pagan Romawi dan Filsafat Plato terhadap ajaran Yesus (Isa al Masih putra Maryam) yang asli. Irenaeus banyak sekali mengutip pernyataan-pernyataan dalam Injil Barnabas untuk menguatkan argumentasinya.

Namun pada tahun 325 M diselenggarakanlah Konsili Nicea, dimana Doktrin Trinitas waktu itu disahkan sebagai keyakinan resmi. Konsekwensi dari keputusan tersebut adalah pemilihan dan penetapan empat Injil dari sekitar 300 lebih jenis Injil yang beredar saat itu sebagai Injil Resmi Gereja. Sedang nasib 300 Injil yang lain termasuk Injil Barnabas sangat memilukan di mata sejarah. Injil-Injil tersebut diperintahkan untuk dimusnahkan semuanya. Sebuah surat perintah pun diumumkan, yang menyatakan bahwa barang siapa dijumpai menyimpan / memiliki Injil-Injil yang tidak resmi itu akan dijatuhi hukuman mati.

Inilah tindakan pertama yang terorganisir sedemikian rupa untuk memusnahkan seluruh ajaran Yesus (Isa al Masih putra Maryam) yang asli, baik yang tertulis maupun yang terekam dalam ingatan orang dilenyapkan, karena dipandang bertentangan dengan ajaran Trinitas (hasil Konsili Nicea).

Namun lain halnya dengan Injil Barnabas, perintah pemusnahan Injil ini tidak selamanya berhasil, terbukti berulangkali nama Injil Barnabas tercantum dalam Daftar Kitab Terlarang untuk dibaca, diedarkan dan diperjual belikan.

Salah-satunya adalah yang dilakukan oleh PAUS DAMASUS yang tercatat dalam sejarah pernah menerbitkan sebuah Dekrit yang menyatakan bahwa Injil Barnabas terlarang untuk dibaca. Dekrit tersebut didukung penuh oleh Uskup Gelasus (wafat 395 M) yang menjabat uskup di Caesaria. Injil Barnabas termasuk dalam daftar Kitab Apokripa yang diumumkan Paus Damasus. Namun masih saja ada pihak-pihak yang memilikinya, karena terbukti Tokoh-Tokoh Gereja dimasa itu sering mengutip pernyataan-pernyataan dari Injil Barnabas tersebut, dalam tulisan mereka masing-masing.

Injil Barnabas juga dilarang beredar oleh Dekrit Gereja-Gereja Barat pada tahun 382 M. Ada juga Dekrit yang diumumkan PAUS HILARIUS pada tahun 465 M terkait pencekalan Injil Barnabas. Dekrit tersebut dikuatkan lagi oleh Dekrit PAUS GELASIUS I pada tahun 496 M yang kembali mencekal Injil Barnabas. Dekrit Paus Gelasius I kembali dikukuhkan oleh Dekrit PAUS HORMISDAS yang lagi-lagi mencekal Injil Barnabas.

Seluruh dekrit tersebut tercantum dalam Katalog Manuskrip Grik di dalam Perpustakaan Chancellor Seguir (1558-1672 M), yang dipersiapkan oleh B. De Montfaucon (1655-1741). Dan pada abad kelima Masehi, pada masa pemerintahan Kaisar Zeno (479-491 M), telah ditemukan MAKAM BARNABAS, naskah lengkap Injil Barnabas tulisan tangan beliau sendiri, ditemukan berada dalam kepitan tangan di dadanya. Hal ini tercatat dalam ACTA SANCTORUM karya Boland Junii pada Bab II halaman 422-450, diterbitkan di Antwerpen pada tahun 1698.

Dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan, bahwa klaim yang menyebutkan Injil Barnabas adalah Injil Palsu karangan seorang Muslim ternyata sangat tidak berdasar dan terkesan mengada-ada. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai Dekrit pencekalan Injil Barnabas, yang mana Injil ini berarti sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam, bahkan ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tahun 571 M.

Dengan melihat begitu menggebunya Gereja melarang peredaran Injil Barnabas, sampai-sampai 5 Dekrit telah diterbitkan untuk itu, maka wajar saja kalau kita bertanya-tanya: mengapa Injil Barnabas begitu terlarang di mata Gereja? Mungkinkah ada sesuatu yang hendak disembunyikan oleh Gereja dari umatnya? Atau mungkin karena nama MUHAMMAD dan nubuat kedatangannya terlalu jelas dan vulgar dibahas dalam Injil Barnabas sehingga membuat Gereja gerah dan resah?

Menuju Kota Agung

pablo neruda

Pidato Pablo Neruda Ketika Meraih Nobel (13 Desember 1971)

Pidato yang hendak saya sampaikan berupa sebuah pengembaraan panjang, sebuah perjalanan yang saya tempuh menyusuri tempat-tempat terpencil dan jauh dari keramaian. Tetapi bukan karena itu jika ada sedikit kemiripan dengan lanskap dan kesunyian Skandinavia. Saya menunjuk pada cara garis batas negeri saya ditarik hingga ujung paling selatan. Begitu jauhnya kami bangsa Chili sehingga perbatasan kami nyaris menyentuh Kutub Selatan. Ini mengingatkan pada keadaan geografis Swedia, yang kepalanya menjamah kawasan utara bersalju planet ini.

Menyusuri bentangan luas negeri tumpah darah saya, menyusuri peristiwa-peristiwa yang sudah terlupakan, orang mesti melintasi, dan begitulah saya terpaksa melintas, Pegunungan Andes demi menemukan perbatasan negeri saya dengan Argentina. Rimba raya membuat kawasan tak terjamah itu menyerupai sebuah terowongan di mana kami menempuh perjalanan rahasia dan terlarang dan hanya menyediakan sedikit sekali tanda bagi gerak maju kami. Tak ada jejak tak ada setapak. Saya dan keempat pengiring saya, di atas punggung kuda, terus maju menempuh jalan penuh siksaan itu, menyusup-nyusup di celah pepohonan raksasa, menghindari sungai yang tak mungkin diseberangi, tebing karang raksasa, dan hamparan salju nan muram; meraba-raba mencari wilayah di mana kebebasan saya berada. Mereka yang menyertai saya paham betul bagaimana menerobos maju membelah rimbunnya dedaunan belantara, namun demi amannya mereka menandai rute dengan goresan parang di pohon-pohon, meninggalkan jejak di sana sini yang nantinya bisa mereka ikuti sesudah meninggalkan saya sendirian dengan nasib saya.

Masing-masing kami beringsut maju menembus kesunyian yang tak bertepi, pepohonan hijau dan putih dan bisu, akar bahar raksasa dan lapisan tanah mengendap selama berabad-abad. Batang-batang setengah roboh bisa tiba-tiba muncul sebagai hambatan baru bagi gerak maju kami. Kami tercampak di sebuah dunia yang rahasia dan mempesona, yang sekaligus juga merupakan hamparan dingin, salju, dan rintangan yang kian mengancam. Semua melebur jadi satu: kesunyian, marabahaya, kebisuan, dan kegentingan misi saya.

Kadang-kadang kami menyusuri setapak yang begitu samar-samar, mungkin dulu dibuat oleh para penyelundup atau penjahat kelas teri yang mencoba kabur, dan kami tak tahu berapa banyak dari mereka yang menemui ajal direnggut oleh tangan beku musim dingin, oleh ganasnya badai salju yang sekonyong-konyong mengamuk di Pegunungan Andes, yang menelan dan mengubur para musafir di bawah putih salju setinggi tujuh lapis.

Pada kedua sisi setapak saya bisa melihat, di tengah kemurungan alam bebas, sesuatu yang menelikung aktivitas manusia. Di situ menumpuk dahan-dahan yang telah teronggok selama sekian musim dingin, sesaji yang diberikan oleh beratus-ratus orang yang mengarungi tempat itu, gundukan kubur asal-asalan sebagai kenangan terhadap mereka yang jatuh sehingga siapa pun yang lewat di situ pasti teringat pada orang-orang yang tak mampu bertahan dan terbujur diselimuti salju selama-lamanya. Para pengiring saya juga membabat dengan parang mereka dahan-dahan yang menyapu kepala kami dan menjulur dari pohon-pohon oak raksasa yang daun-daun terakhirnya berserakan disapu badai musim dingin. Dan saya juga meninggalkan penghormatan pada tiap-tiap gundukan, sebuah tanda kunjungan dari kayu, sepotong dahan dari hutan untuk menandai tiap-tiap peristirahatan para pengelana tak dikenal itu.

Kami harus menyeberangi sebuah sungai. Di atas ketinggian Pegunungan Andes sana ada aliran sungai kecil yang menjatuhkan diri dengan semburan dan tenaga menggila, menciptakan air terjun yang mengaduk-aduk tanah dan bebatuan yang mereka muntahkan dengan dahsyat. Namun kali ini kami menghadapi air tenang, hamparan luas bagai cermin yang dapat diseberangi. Kuda-kuda kami mencebur, kehilangan pijakan, dan mulai berenang mencapai seberang. Kuda saya hampir terbenam, saya timbul tenggelam tanpa dukungan, kaki saya meronta-ronta sejadi-jadinya sementara kuda saya berjuang agar kepalanya tetap menyembul di permukaan air. Akhirnya kami sampai di seberang, kawan-kawan saya, orang-orang dusun yang setia mengiringi perjalanan saya, bertanya dengan senyum dikulum: “Anda takut?” “Sangat. Kupikir ajalku sudah tiba,” kata saya. “Kami di belakang Anda menyiapkan laso kami,” mereka menukas. “Tepat di situ,” salah seorang menambahkan, “ayah saya jatuh dan terbawa arus. Itu takkan terjadi pada Anda.”

Kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di terowongan alamiah yang tercipta barangkali karena dibor oleh sungai besar yang kini sudah mati atau karena semacam gempa bumi saat dataran tinggi ini terbentuk. Kami masuk ke dalamnya, batu-batu granitnya seolah dipahat. Baru beberapa langkah kuda-kuda kami sudah tersaruk-saruk mencari pijakan di permukaan bebatuan yang tak rata dan kaki mereka terpeleset, bunga api memercik dari sepatu besi mereka—beberapa kali saya nyaris terlempar dan terkapar di bebatuan cadas. Moncong dan kaki kuda saya berdarah, tapi kami pantang menyerah dan terus menyusuri jalan panjang dan sukar namun menakjubkan itu.

Ada sesuatu yang menunggu kami di tengah hutan perawan liar ini. Mendadak, seakan-akan dalam mimpi yang aneh, kami disambut padang rumput kecil cantik yang tumbuh subur di antara batu-batu cadas: udara segar bersih, rumput hijau, bunga-bunga liar, sungai kecil berkelok dan langit biru di atas. Cahaya melimpah tanpa dihalangi dedaunan.

Di tempat itu kami seakan-akan berhenti di sebuah lingkaran magis, layaknya tamu di suatu tempat keramat, dan dalam upacara di mana sekarang ini saya terlibat masih menebar aroma sesuatu yang keramat. Para penggembala sapi yang mengiringi saya turun dari kuda mereka. Di tengah-tengah tempat itu terdapat tengkorak kepala lembu jantan yang dipajang layaknya dalam sebuah ritus. Tanpa berkata-kata, satu demi satu para lelaki itu menaruh uang logam dan makanan di rongga mata tengkorak. Saya mengikuti mereka memberikan persembahan yang ditujukan buat para pengelana yang tersesat, buat setiap pengungsi yang akan menemukan roti dan bantuan di rongga mata lembu mati itu.

Namun upacara yang tak pernah saya lupakan itu tidak berhenti di situ. Teman-teman saya melepas topi mereka dan mulai menarikan tarian ganjil, melompat-lompat di atas satu kaki di sekeliling tengkorak tersebut, bergerak berputar mengikuti jejak kaki yang ditinggalkan orang-orang yang lewat sebelum kami. Sedikit demi sedikit saya mengerti. Di sana, di samping perilaku ganjil para pengiring saya itu, terdapat semacam ikatan di antara orang-orang yang tidak saling kenal, sebuah perhatian, sebuah seruan, dan sebuah jawaban di tempat sunyi yang paling jauh dan paling terpencil di dunia ini.

Terus berjalan, sebelum mencapai perbatasan yang akan memisahkan saya dari negeri saya untuk beberapa tahun, di malam hari kami menemukan celah terakhir pegunungan. Tiba-tiba kami melihat nyala api sebagai pertanda pasti akan kehadiran manusia, dan ketika kami makin mendekat kami mendapati bangunan setengah hancur, pondok-pondok yang sudah ditinggalkan. Kami memasuki salah satu pondok dan melihat nyala api dari balok-balok yang terbakar di tengah ruang, belahan kayu dari pohon-pohon besar, yang menyala siang malam dan menciptakan asap yang membumbung lewat celah pada atap dan melayang seperti selendang biru tua di kegelapan malam. Kami mendapati gunungan keju, yang dibuat oleh para penghuni dataran tinggi ini. Di dekat perapian duduk orang-orang yang menggerombol seperti karung. Dalam keheningan kami bisa mendengar nada petikan gitar dan syair lagu yang lahir dari bara api dan kegelapan, dan suara manusia pertama yang kami temui dalam perjalanan kami. Lagu itu mendengangkan cinta dan kota-kota yang jauh, sebuah ratapan dan kerinduan pada musim semi entah di mana, rasa rindu pada hidup yang membentang tanpa batas. Orang-orang itu tidak tahu siapa kami, tidak tahu-menahu tentang pelarian kami; atau mungkin sesungguhnya mereka tahu siapa kami? Yang jelas di perapian itu kami bernyanyi dan makan, lalu di tengah kegelapan kami memasuki semacam bilik-bilik primitif. Bilik-bilik yang dialiri arus hangat air vulkanik untuk kami mandi, satu kehangatan yang bersumber pada rangkaian pegunungan yang menyambut kami dalam keramahannya.

Sukacita kami mencebur, dan kami pun habis-habisan membersihkan diri, melepas penat setelah perjalanan panjang di punggung kuda. Menginjak fajar, kami memulai lagi perjalanan dengan tubuh segar, rasanya terlahir kembali dan dibaptis, menyusuri beberapa mil ke depan yang akan menjauhkan saya dari tanah air saya. Kami menunggang kuda sambil bernyanyi, diliputi suasana baru, dipenuhi kekuatan yang menggiring kami pada jalan raya terlapang di dunia yang sudah menunggu saya. Satu hal saya ingat betul, ialah ketika kami hendak memberikan pada para penghuni gunung itu beberapa keping uang logam sebagai tanda terima kasih untuk nyanyian mereka, untuk makanan, air hangat, penginapan, dan tempat tidur yang telah diberikan—untuk surga tak terduga yang kami jumpai di tengah perjalanan—dan pemberian kami ditolak mentah-mentah. Mereka melayani kami, itu saja. Tak ada apa pun yang berlebihan bagi mereka. Dan dalam sikap “tak ada apa pun” yang membisu itu, tersembunyi sesuatu yang kami mafhum, mungkin sebuah pengakuan, mungkin semacam mimpi-mimpi bersama.

Hadirin sekalian yang terhormat,

Tak pernah saya mempelajari satu pun resep menulis puisi dan karena itu saya akan berusaha keras tidak memberi saran apa-apa tentang bentuk atau gaya yang dianggap bisa memberikan setetes wawasan yang dinanti-nanti para penyair baru. Bila dalam pidato ini, dan di tempat ini—yang berbeda jauh dari tempat saya waktu itu—saya mengisahkan sesuatu tentang peristiwa di masa lalu, mengenang kembali sebuah kejadian yang tak terlupakan, itu karena dalam perjalanan hidup saya entah di mana saya senantiasa mendapatkan dukungan yang diperlukan: sebuah formula yang menanti saya. Bukan untuk dibekukan dalam kata-kata, tapi justru untuk menjelaskan kepada saya tentang diri saya sendiri.

Selama perjalanan panjang tersebut, saya menemukan komponen-komponen penting untuk menyusun puisi. Di situ saya menerima sumbangan dari tanah dan jiwa. Dan saya yakin bahwa puisi adalah sebuah tindakan, sekelebat atau khidmat, di mana kesunyian dan solidaritas, aksi dan emosi, kedekatan pada diri sendiri, pada umat manusia, dan pada manifestasi tersembunyi alam masuk ke dalamnya sebagai rekan yang sederajat. Di samping itu saya juga berpikir bahwa semua ini—manusia dan bayangannya, manusia dan tindak-tanduknya, manusia dan puisinya—bisa diterima oleh semangat berkomunitas yang kian mengembang, oleh suatu usaha yang akan selamanya menyatukan realitas dan mimpi dalam diri kita karena memang dengan cara itulah puisi menyatukan dan merajut semuanya. Jadi, saya katakan bahwa saya tidak tahu, setelah bertahun-tahun, apakah pelajaran yang saya petik ketika menyeberangi sungai yang menyurutkan nyali, ketika menari mengitari tengkorak sapi, ketika merendam tubuh dalam air pembersih di ketinggian puncak—saya tidak tahu apakah pelajaran-pelajaran itu mengalir melalui saya untuk ditanamkan ke orang-orang lain atau apakah semua itu adalah sebuah pesan yang dikirim oleh orang lain untuk saya sebagai sebuah permintaan atau tuntutan. Untuk semua syair yang saya alami hari ini, seluruh pengalaman yang nantinya saya tuang dalam bait-bait sajak, saya sungguh tidak mengerti apakah saya mengalami sesuatu atau menciptakan sesuatu, saya tidak tahu apakah ia sebuah kebenaran atau sebuah puisi, apakah ia sesuatu yang melintas atau tetap tinggal.

Dari semua ini, kawan-kawan, muncullah sebuah pemahaman bahwa penyair harus belajar lewat orang lain. Tidak ada kesunyian yang tak teratasi. Semua setapak mengarah pada tujuan yang sama: menyampaikan pada orang lain siapa kita sejatinya. Dan kita mesti melewati kesunyian dan kesulitan, kesendirian dan keheningan untuk mencapai tempat menyenangkan di mana kita bisa menarikan tarian aneh dan mendendangkan nyanyian pedih kita—namun dalam tarian atau nyanyian ini terlunaskan ritus paling tua dari suara hati kita, dalam kesadaran kita sebagai manusia dan dalam kesadaran kita untuk meyakini suatu suratan bersama.

Yang jelas, kalaupun ada beberapa atau banyak orang menganggap saya sektarian, enggan duduk bersama di meja persahabatan dan tanggung jawab, saya tak hendak membela diri, sebab saya yakin bahwa dakwaan maupun pembelaan tidak termasuk tugas seorang penyair. Kala semua sudah dikatakan, tidak ada penyair mana pun yang mampu mengatur puisi. Bila seorang penyair mau bersusah payah mendakwa rekan-rekannya atau jika sejumlah penyair lainnya menyia-nyiakan hidup dengan membela diri dari tuduhan yang masuk akal ataupun yang tidak, saya yakin bahwa hanya kecongkakan semata yang bisa begitu menyesatkan kita. Bagi saya musuh-musuh puisi bukanlah siapa yang menjalani puisi atau yang menjaganya, musuh puisi adalah tidak utuhnya pemahaman dalam diri penyair. Karena alasan ini maka sesungguhnya tak ada musuh besar bagi seorang penyair selain ketidakmampuannya sendiri untuk membuat agar dirinya dipahami oleh orang-orang sezamannya yang paling terlupakan dan paling terhisap, dan dalil ini berlaku di semua zaman dan semua negeri.

Seorang penyair bukanlah “dewa kecil”. Bukan, ia sama sekali bukan “dewa kecil”. Sama sekali ia tidak dipilih oleh takdir yang mistis sebagai lebih utama ketimbang mereka yang menekuni keahlian dan profesi lain. Di kepala saya selalu saya pupuk pikiran bahwa penyair adalah orang yang sehari-hari menyiapkan roti bagi kita: tukang roti terdekat yang tidak membayangkan diri sebagai dewa. Ia melakoni pekerjaan mulia dan tanpa pamrih—mengaduk adonan, memasukkannya dalam oven memanggangnya dalam warna-warni keemasan, dan menyajikan roti setiap hari bagi kita sebagai tugas terhadap sesama manusia. Dan, jika penyair mampu mencapai pemahaman sepele ini, maka kesadaran ini pun akan ditransformasikan menjadi elemen dalam dalam suatu aktivitas yang luar biasa, dalam struktur entah sederhana entah rumit yang menjadi kerangka bangunan komunitas. Ia akan menjadi elemen bagi perubahan kondisi yang melingkupi umat manusia, bagi penyajian hasil karya manusia: roti, kebenaran, anggur, dan impian. Jika seorang penyair hendak melibatkan diri dalam perjuangan yang terus-menerus demi menggapai tangan semua orang dan berniat membentangkan kerja, usaha, dan rasa kasihnya untuk merangkul kerja sehari-hari mereka, maka dia harus ambil bagian. Seorang penyair harus ambil bagian dalam keringat, dalam roti, dalam anggur, dan dalam seluruh impian manusia. Cuma dalam jalan mutlak menjadi manusia biasa inilah kita memberi puisi keluasan tak berperi, yang sedikit demi sedikit mengelupas di setiap zaman, tak ubahnya kita yang kian memudar.

Berbagai kekeliruan yang menghadapkan saya pada kebenaran relatif, dan kebenaran-kebenaran yang berulang kali menyeret saya kembali pada kesalahan, tidak memungkinkan saya menemukan jalan yang menuntun dan cara untuk mempelajari apa yang dinamakan proses kreatif, untuk mencapai ketinggian sastra yang sedemikian sukar digapai. Dan saya tidak pernah berkeberatan mengenai hal ini. Tapi satu hal saya pahami betul—bahwa kita sendirilah yang memunculkan semangat melalui penciptaan mitos pribadi kita. Dari bahan-bahan yang kita pergunakan, atau yang ingin kita pergunakan, muncullah rintangan selanjutnya bagi perkembangan diri kita dan perkembangan masa depan. Tak bisa tidak kita selalu dihadapkan pada realitas dan realisme, akhirnya secara tidak langsung mesti menyadari segala hal di sekitar kita dan juga jalannya perubahan. Lalu kita mengetahui, ketika tampaknya sudah terlambat, bahwa kita sendirilah yang telah menegakkan penghalang sedemikian besar hingga kita justru membunuh apa-apa yang hidup dan bukan membantu kehidupan untuk tumbuh dan berkembang. Kita memaksakan diri memikul realisme yang nantinya terbukti lebih merupakan beban ketimbang batu bata penyusun bangunan, tanpa pernah mendirikan bangunan yang kita anggap sebagai bagian tak terpisahkan dari tugas kita. Dan, sebaliknya, jika kita berhasil menciptakan permberhalaan atas sesuatu yang eksklusif dan rahasia, jika kita mengesampingkan realitas berikut kemerosotan realistisnya, maka sekonyong-konyong akan kita dapati diri kita terkepung oleh sebuah negeri kemustahilan, rawa-rawa penuh dedaunan, lumpur, dan mendung, di mana kaki kita terbenam dan kita dihimpit oleh kemusykilan berkomunikasi.

Sejauh menyangkut kami, para penulis di kawasan mahaluas Amerika, tiada henti kami menyimak seruan untuk mengisi kekosongan luar biasa ini dengan menjadi darah dan daging. Kami menyadari kewajiban sebagai orang-orang yang harus mengisi—dan pada saat bersamaan kami dihadang tugas tak terelakkan untuk menggarap komunikasi kritis dalam sebuah dunia yang melompong dan penuh ketidakadilan, hukuman, dan penderitaan—dan kami juga merasakan tanggung jawab untuk membangkitkan mimpi-mimpi lama yang lelap di patung-patung batu pada reruntuhan monumen kuno, di kebisuan yang membentang di dataran bumi, dalam kelebatan hutan perawan, di sungai yang gemuruh bagai halilintar. Kami mesti mengisi tempat-tempat paling terpencil di benua bisu ini dengan kata-kata dan kami mabuk oleh tugas untuk mencipta fabel dan memberi nama ini. Barangkali inilah yang paling menentukan dalam kasus sederhana saya, dan jika dengan demikian maka gaya melebih-lebihkan, membersar-besarkan, dan retorika saya semata-mata hanyalah peristiwa paling sepele dalam kerja sehari-hari seorang Amerika. Masing-masing sajak saya memilih kedudukannya sebagai sebuah objek yang gamblang, tiap syair harus menyatakan diri sebagai suatu instrumen kerja yang bermanfaat, dan setiap lagu berupaya menjalankan fungsi sebagai satu pertanda di angkasa bagi sebuah pertemuan antara jalan-jalan yang bersilangan, atau sebagai sebongkah batu atau sepotong kayu di mana seseorang, siapa saja, yang mengikutinya akan dapat mengukir tanda-tanda baru.

Dengan menyentuh konsekuensi-konsekuensi ekstrem tugas kepenyairan tersebut, entah benar entah keliru, saya menetapkan bahwa sosok saya dalam masyarakat dan di hadapan kehidupan adalah sosok yang dengan cara sederhana memilih berpihak. Saya putuskan demikian ketika saya menyaksikan begitu banyak kemalangan yang bermartabat, kejayaan yang sunyi, dan kekalahan yang agung. Di tengah perjuangan Amerika saya mendapati bahwa tugas kemanusiaan saya tak lain adalah bergabung dengan kekuatan besar massa rakyat yang terorganisir, bergabung dengan kehidupan dan jiwa yang akrab dengan derita dan harapan. Sebab hanya dari arus besar rakyat inilah perubahan yang diperlukan muncul, demi sekalian pengarang dan demi bangsa. Dan seandainya sikap saya ini melahirkan penolakan yang sengit atau keberatan yang bersahabat, yang jelas saya tidak bisa menemukan cara lain bagi seorang pengarang di negeri-negeri kami yang teramat luas dan kejam. Itulah cara paling sederhana jika kita menghendaki kegelapan menjadi taman bunga, jika kita ingin membagi perhatian kepada berjuta-juta rakyat yang tidak pernah belajar membaca apa yang kita tulis atau bahkan tidak belajar membaca apa pun sama sekali, yang tidak bisa menulis apalagi menulis kepada kita. Keberpihakan membuat saya merasa di rumah sendiri di kawasan terhormat ini dan tanpa itu mustahil bagi kita untuk menjadi manusia utuh.

Kami mewarisi kehidupan rakyat yang merana ini, yang menyeret-nyeret beban kutukan selama berabad-abad, rakyat yang paling mempesona, paling murni, yang dengan bebatuan dan logam mereka ciptakan menara menakjubkan dan berlian yang memukau kilaunya—rakyat yang mendadak-sontak dirampok dan dibungkam di zaman gelap kolonialisme yang masih membekas hingga kini.

Bintang penuntun sejati bagi kami adalah perjuangan dan harapan. Tapi tidak pernah ada yang namanya perjuangan tunggal, tak ada pula harapan tunggal. Dalam setiap diri manusia terkandung masa lalu yang jauh, kepasifan, kesalahan, penderitaan, kepentingan hari ini yang mendesak, dan langkah sejarah. Apa jadinya saya jika, misalnya, dengan satu dan lain cara saya ikut menyumbang bagi pelestarian masa lalu feodal Benua Amerika? Lalu bagaimana saya bisa mengangkat muka di bawah guyuran kehormatan yang dianugerahkan Swedia kepada saya, jika saya tidak bisa merasakan semacam kebanggaan sebagai orang yang terlibat, meski tidak banyak, dalam perubahan yang kini melanda negara saya? Rasanya memang harus membuka peta Amerika, menempatkan diri di hadapan keanekaragamannya yang menakjubkan, di hadapan kemurahan kosmis tempat-tempat luas yang mengitari kami, guna memahami mengapa banyak penulis enggan berbagi malu dan masa lalu yang penuh penjarahan, sebuah masa ketika semua milik bangsa Amerika dirampas oleh dewa-dewa kegelapan.

Saya memilih jalan sukar untuk membagi tanggung jawab dan—daripada mengulang-ulang pemujaan individual sebagai matahari dan pusat sistem—saya lebih suka menawarkan jasa dengan segala kerendahan hati pada pasukan tentara yang terhormat, yang barangkali sering melakukan kesalahan tetapi terus maju dan bertarung setiap hari melawan anakronisme kepala batu dan ketidaksabaran mereka yang beroposisi. Sebab saya meyakini tugas saya selaku penyair melibatkan persahabatan tidak hanya dengan mawar dan simetri, yang mengagungkan cinta dan kerinduan abadi, tetapi juga dengan kesibukan manusia yang tiada henti, yang saya sertakan dalam puisi saya.

Tepat seratus tahun hari ini, seorang penyair murung dan cemerlang yang paling putus asa dari segala jiwa hilang asa, menulis nubuat ini: “A l’aurore, armés d’une ardente patience, nous enterons aux splendides Villes.” Saat fajar, bersenjatakan kesabaran yang berkobar, kita akan memasuki kota agung.”

Saya percaya pada ramalan Rimbaud, sang ahli nujum. Saya datang dari daerah gelap, dari tanah yang terpisah dari negeri lain oleh kontur tajam geografisnya. Sayalah orang paling tak dikenal dan puisi-puisi saya bercorak kedaerahan, pedih dan kuyub tersiram hujan. Tapi saya selalu percaya pada manusia. Tak pernah saya kehilangan harapan. Mungkin karena itulah saya berhasil melangkah sejauh ini dengan puisi saya dan juga panji-panji saya.

Akhirnya, saya ingin menyampaikan pada mereka yang beritikad baik, pada para pekerja, para penyair, bahwa seluruh masa depan sudah diungkap dalam bait Rimbaud berikut: hanya dengan kesabaran membara kita akan menaklukkan kota agung, yang akan memberi cahaya, keadilan, dan martabat bagi segenap umat manusia.

Dengan demikian puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan.

[Dipetik dari Il Postino, akubaca, Jakarta 2003].

Surat Protest Kaum Akademik Iran Kepada Columbia University

Hugo Chavez and Mahmoud Ahmadinejad

Sebelum Mahmoud Ahmadinejad memulai kuliah umumnya di Columbia University, tuan rumah yang juga rektor universitas itu, Lee Bollinger, menyampaikan kata-kata kasar dan provokatif terhadap Ahmadinejad. Ketika menyampaikan pidato sambutannya, Bollinger antara lain mengatakan bahwa Ahmadinejad memiliki bakat menjadi seorang tiran yang picik.

Dengan berlindung di balik prinsip kebebasan akademik, Lee Bollinger mengatakan bahwa institusi yang dipimpinnya akan bersikap kritis terhadap penguasa mana saja, apakah itu pemerintah Amerika atau pemerintahan negara lain termasuk Iran. Dia pun mengatakan dirinya ragu Ahmadinejad punya keberanian akademik untuk menjawab semua pertanyaan itu.

Adapun Ahmadinejad yang berbicara setelah hujan hujatan Bollinger itu, sama sekali tidak memperlihatkan sikap emosional atau kecewa. Kupingnya sama sekali tak merah. Sebaliknya, dia dengan enteng menjawab semua pertanyaan Bollinger secara mendasar.

Apa yang dikatakan Ahmadinejad kala itu, kira-kira antara lain, ilmu pengetahuan dan ilmuwan seringkali menjadi alat kepentingan penguasa yang ingin menjajah bangsa lain. Sejarah umat manusia telah membuktikan hal itu. Ahmadinejad juga mengatakan, seperti negara lain, Iran juga akan bersikap tegas bila ada pihak yang dengan berbagai cara berusaha melemahkan negara itu, dari dalam maupun dari luar.

Pada bagian akhir penampilannya, di sesi Tanya-jawab, Ahmadinejad malah mempersilakan semua mahasiswa Columbia University untuk datang ke Iran, dan berbicara dengan sesama mahasiswa dan ilmuwan Iran.

Sementara itu, dari Iran dikabarkan pernyataan Bollinger memicu kecaman kaum cendekia di negeri itu. Tujuh penasehat dan presiden universitas-universitas dan pusat-pusat riset Iran, dalam sebuah surat yang ditujukan kepada kolega mereka di Columbia University, mengecam hujatan Lee Bollinger terhadap bangsa dan presiden Iran serta mengundangnya untuk menyampaikan jawaban atas 10 pertanyaan dari akademisi dan intelektual Iran.

Berikut ini adalah teks lengkap dari surat tersebut:

“Tuan Lee Bollinger, Presiden Columbia University.

Kami, para profesor dan kepala universitas-universitas serta pusat-pusat riset di Tehran di sini menyatakan ketidaksenangan dan protes kami atas pernyataan Anda yang kasar sebelum pidato Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, baru-baru ini di Columbia University.

Kami ingin menginformasikan kepada Anda bahwa Presiden Ahmadinejad dipilih secara langsung oleh rakyat Iran melalui sebuah pemungutan suara dua babak yang antusias, yang di dalamnya nyaris seluruh partai dan kelompok politik berpartisipasi. Untuk mengakses kualitas dan sifat pemilu-pemilu tersebut, silakan Anda rujuk kepada laporan media-media AS tentang pemilu pada Juni 2005.

Hujatan Anda, dalam sebuah atmosfer ilmiah, kepada presiden dari sebuah negara, dengan populasi 72 juta jiwa dan dengan sejarah peradaban serta kebudayaan yang berusia 7000 tahun, sungguh memalukan.

Komentar-komentar Anda, yang disesaki kebencian dan antipati, sangat mungkin dipengaruhi oleh tekanan luar biasa dari media, tetapi sungguh disayangkan bahwa para pembuat kebijakan media bisa mempengaruhi pendirian seorang presiden universitas dalam pidatonya.

Pernyataan-pernyataan Anda mengenai negeri kami itu juga meliputi tudingan-tudingan yang tidak terbukti dan yang merupakan produk spekulasi dan propaganda media. Sebagian dari klaim Anda dihasilkan dari kesalahpahaman yang dapat diklarifikasikan melalui dialog dan riset lebih lanjut.

Dalam pidatonya, Presiden Ahmadinejad telah menjawab sejumlah pertanyaan Anda dan mahasiswa. Kami siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dalam sebuah debat yang ilmiah, terbuka, dan langsung.

Anda bertanya kepada Presiden Ahmadinejad kira-kira 10 pertanyaan. Maka izinkan kami bertanya kepada anda 10 pertanyaan, dengan harapan tanggapan Anda akan membantu menjelaskan atmosfer kesalahpahaman dan ketidakpercayaan di antara kedua negara dan mengungkapkan kebenaran.

[1] Mengapa media AS menekan Anda begitu keras demi menghalangi kehadiran Presiden Ahmadinejad untuk menyampaikan pidatonya di Columbia University? Dan mengapa jaringan televisi AS menyiarkan berjam-jam berita yang menghina presiden kami sementara menolak memberinya kesempatan untuk menanggapi? Apakah ini tidak bertentangan dengan prinsip kebebasan berbicara?

[2] Kenapa, pada 1953, pemerintah AS menggulingkan pemerintahan nasional Iran di bawah Dr. Mohammad Mosaddegh dan terus mendukung kediktatoran Shah (Reza Pahlevi)?

[3] Mengapa AS mendukung diktator haus darah, Saddam Hussein, selama Perang Irak yang dipaksakan atas Iran pada 1980-1988, mengingat ia dengan cerobohnya menggunakan senjata kimia terhadap pasukan Iran yang mempertahankan negeri mereka dan bahkan terhadap rakyat Irak sendiri?

[4] Mengapa AS menekan pemerintahan yang dipilih mayoritas rakyat Palestina di Gaza, alih-alih mengakuinya secara resmi? Dan mengapa pemerintah AS menentang proposal Iran untuk menyelesaikan isu Palestina yang telah berusia 60 tahun melalui sebuah referendum umum?

[5] Mengapa militer AS gagal menemukan pemimpin al-Qaida, Osama bin Laden, bahkan meski telah diperlengkapi peralatan canggih? Bagaimana Anda membenarkan persahabatan lama antara keluarga Bush dan Bin Laden dan kerja sama mereka dalam urusan minyak? Bagaimana Anda bisa membenarkan upaya pemerintah Bush untuk mengacaukan investigasi peristiwa serangan 11 September?

[6] Mengapa pemerintah AS mendukung Mujahedin Khalq Organization (MKO), meskipun fakta menyatakan bahwa kelompok ini secara resmi dan terbuka mengaku bertanggung-jawab atas serangkaian pemboman mematikan dan pembantaian di Iran dan Irak? Mengapa AS menolak untuk mengizinkan pemerintahan Iran mengambil tindakan terhadap basis utama MKO di Irak?

[7] Apakah invasi AS atas Irak didasarkan atas konsensus internasional dan apakah ada institusi internasional yang mendukungnya? Apa maksud utama dari invasi itu yang telah mengambil nyawa jutaan warga Irak? Di manakah senjata pemusnah massal itu yang AS klaim disimpan di Irak?

[8] Mengapa sekutu-sekutu dekat AS di Timur Tengah datang dari pemerintahan-pemerintahan yang sangat tidak demokratis dengan rezim-rezim monarki yang absolut?

[9] Mengapa AS menentang rencana untuk Timur Tengah yang bebas dari persenjataan non-konvensional, dalam sesi-sesi terakhir Dewan Gubernur IAEA walaupun faktanya rencana ini mendapat dukungan semua anggota, terkecuali Israel?

[10] Mengapa AS tidak senang dengan kesepakatan antara Iran-IAEA, dan mengapa ia secara terbuka menentang setiap kemajuan dalam pembicaraan antara Iran dan IAEA untuk menyelesaikan isu nuklir atas dasar hukum internasional?

Pada akhirnya, kami dengan senang ingin menyampaikan kesiapan kami untuk mengundang Anda dan delegasi-delegasi ilmiah lainnya ke negeri kami. Perjalanan ke Iran akan memberi Anda dan kolega Anda kesempatan untuk berbicara secara langsung kepada rakyat Iran dari segala profesi, termasuk intelektual dan ilmuwan. Anda bisa mengakses realitas masyarakat Iran tanpa sensor media sebelum membuat penilaian mengenai bangsa dan pemerintah Iran.

Anda dapat memastikan bahwa orang-orang Iran sangat sopan dan ramah kepada tamu-tamu mereka” (Diterjemahkan oleh Irman Abdurrahman)

Debat Panas Mahmoud Ahmadinejad di Columbia University (Bagian Terakhir)

Armenian President Serzh Sargsyan welcomes Iranian President Mahmoud Ahmadinejad to Yerevan in December 2011

Moderator: John Coatsworth (Dekan Fakultas International and Public Affairs, Columbia University). Pengantar: Lee Bollinger (Presiden Columbia University, New York City, New York). Waktu: 24 September 2007.

MR. COATSWORTH: Mr. Presiden, pernyataan-pernyataan Anda di sini hari ini dan di masa lalu telah memicu munculnya banyak pertanyaan yang saya akan sampaikan kepada Anda atas nama para mahasiswa dan fakultas yang sudah menyerahkan semua itu kepada saya.

Izinkan saya mulai dengan pertanyaan…..PRESIDEN AHMADINEJAD: (Dalam bahasa Inggris.) satu persatu, satu persatu.

COATSWORTH: Satu persatu, ya. (Tepuk tangan.)

Pertanyaan pertama adalah: Apakah Anda atau pemerintah Anda tengah mengupayakan penghancuran negara Israel sebagai sebuah negara Yahudi?

PRESIDEN AHMADINEJAD: Kami mencintai semua bangsa. Kami bersahabat dengan orang-orang Yahudi. Terdapat banyak Yahudi di Iran yang hidup damai dengan keamanan. Anda harus memahami bahwa dalam konstitusi kami, dalam hukum kami, dalam pemilihan-pemilihan parlemen, bagi setiap 150,000 orang, kami mendapatkan satu wakil di parlemen. Bagi masyarakat Yahudi, seperlima dari jumlah itu saja, mereka sudah mendapatkan satu wakil mandiri di parlemen. Maka proposal kami kepada penderitaan bangsa Palestina adalah sebuah proposal yang demokratis dan berperikemanusiaan.

Apa yang kami katakan adalah bahwa untuk memecahkan persoalan 60 tahun ini, kita harus membiarkan orang-orang Palestina untuk memutuskan masa depan mereka sendiri. Ini sesuai dengan semangat Piagam PBB dan prinsip-prinsip pokok yang diabadikan di dalamnya. Kita harus membiarkan orang Yahudi-Palestina, Muslim-Palestina, dan Kristen-Palestina untuk menentukan nasib mereka sendiri melalui sebuah referendum yang bebas. Apa pun yang mereka pilih sebagai sebuah bangsa, maka semua orang harus menerima dan menghormatinya. Tidak boleh ada orang yang ikut campur dalam urusan-urusan bangsa Palestina. Jangan sampai ada orang yang menabur benih perselisihan. Tidak boleh ada siapa pun yang membelanjakan milyaran dollar untuk memperlengkapi dan mempersenjatai satu kelompok di sana.

Kami katakan biarkan bangsa Palestina untuk memutuskan masa depan mereka sendiri, untuk memiliki hak menentukan nasib sendiri. Ini adalah apa yang kami katakan sebagai bangsa Iran. (Tepuk tangan.)

MR. COATSWORTH: Mr. Presiden, menurut saya, banyak pendengar kita yang ingin mendengar sebuah jawaban yang lebih jelas kepada pertanyaan itu (disela oleh sorak-sorak, tepuk tangan).

Pertanyaannya ialah: apakah Anda atau pemerintah Anda mengupayakan penghancuran negara Israel sebagai sebuah negara Yahudi? Dan saya pikir Anda bisa menjawab pertanyaan itu dengan satu kata sederhana, ya atau tidak. (Bersorak, tepuk tangan.)

PRESIDEN AHMADINEJAD: Maka Anda menghendaki jawaban dengan cara yang Anda ingin dengar. Well, ini bukan kebebasan arus informasi yang sesungguhnya. Saya hanya mengatakan kepada Anda di mana posisi saya dan apa pendapat saya. (Tepuk tangan.)

Saya bertanya kepada Anda, apakah isu Palestina merupakan isu internasional yang penting ataukah tidak? Tolong katakan, ya atau tidak. (tertawa, tepuk tangan.)

Ada penderitaan sebuah bangsa.

MR. COATSWORTH: Jawaban atas pertanyaan Anda adalah ya. (tertawa.)

PRESIDEN AHMADINEJAD: Baik, terima kasih atas kerja sama Anda. Kita mengakui ada masalah di sana yang terus berlangsung selama 60 tahun. Setiap orang menyampaikan solusi masing-masing, dan solusi kami adalah referendum yang bebas. Biarkan referendum ini terjadi, dan lalu anda akan melihat apa hasilnya. Biarkan orang-orang Palestina dengan bebas memilih apa yang mereka inginkan untuk masa depan mereka. Dan, lalu apa yang anda kehendaki di dalam pikiran anda untuk terjadi, itu akan terjadi dan akan terealisasi. (Tepuk tangan.)

MR. COATSWORTH: yang diajukan Presiden Bollinger sebelumnya dan yang datang dari sejumlah mahasiswa, adalah mengapa pemerintah Anda menyediakan bantuan bagi teroris-teroris? Apakah Anda akan berhenti melakukan hal itu dan mengizinkan pemantauan internasional untuk menjamin bahwa Anda sudah menghentikannya?

PRESIDEN AHMADINEJAD: Baik, saya akan ajukan satu pertanyaan di sini kepada Anda. Jika seseorang datang dan meletuskan bom di sekitar Anda, mengancam presiden Anda, para anggota pemerintahan Anda, membunuh para anggota senat atau kongres, bagaimana Anda akan memperlakukan mereka? Akankah Anda akan memberi mereka penghargaan atau Anda akan menyebut mereka kelompok teroris? Baiklah, itu jelas. Anda akan menyebut mereka teroris.

Sahabat saya yang terhormat, bangsa Iran adalah korban terorisme. 26 tahun yang lalu, di tempat saya bekerja, dekat dengan tempat saya bekerja, dalam sebuah operasi teroris, presiden dan perdana menteri yang dipilih bangsa Iran kehilangan hidup mereka dalam suatu ledakan bom.

Satu bulan kemudian, dalam operasi teroris yang lain, 72 anggota parlemen kami dan pejabat-pejabat tinggi kami, termasuk empat menteri dan delapan wakil menteri, tubuh-tubuh mereka hancurkan berkeping-keping sebagai hasil serangan teroris. Dalam enam bulan, lebih daripada 4,000 orang Iran tewas, dibunuh kelompok teroris, yang semua ini dilakukan oleh tangan satu kelompok teroris tunggal. Sangat disesalkan, kelompok teroris yang sama itu sekarang, hari ini, di dalam negeri Anda, sedang melakukan operasi-operasi dengan dukungan pemerintah AS, bekerja dengan bebasnya, mendistribusikan deklarasi-deklarasi dengan bebasnya. Dan kamp-kamp mereka di Irak didukung oleh pemerintah AS. Mereka dijamin aman oleh pemerintah AS.

Bangsa kami sudah dirugikan oleh aktivitas teroris. Kami adalah bangsa yang pertama menolak terorisme dan yang pertama menegakkan kebutuhan untuk melawan terorisme. (Tepuk tangan.) Kita perlu menangani penyebab utama terorisme dan membasmi penyebab-penyebab utama itu.

Kami hidup di Timur Tengah. Bagi kami, adalah sungguh jelas kekuatan-kekuatan mana saja yang melahirkan teroris-teroris, mendukung mereka, dan mendanai mereka. Kami mengetahui hal itu. Bangsa kami, bangsa Iran, sepanjang sejarah, selalu membuka diri untuk persahabatan dengan negara-negara lain. Kami adalah bangsa yang berbudaya. Kita tidak perlu memohon pertolongan terorisme.

Kami sendiri adalah korban-korban terorisme, dan patut disesalkan bahwa orang-orang yang berkoar sedang melawan terorisme, alih-alih mendukung rakyat dan bangsa Iran, alih-alih memerangi teroris-teroris yang sedang menyerang mereka, mereka malah mendukung teroris-teroris dan kemudian menudingkan telunjuk kepada kami. Ini adalah hal paling disesalkan.

MR. COATSWORTH: Serangkaian pertanyaan lebih lanjut akan menantang pandangan Anda mengenai Holocaust. Karena bukti bahwa peristiwa ini terjadi di Eropa pada 1940-an sebagai hasil dari tindakan-tindakan pemerintah Nazi Jerman, karena bahwa—fakta-fakta itu dengan baik didokumentasikan, mengapa Anda meminta riset tambahan? Sepertinya tidak ada tujuan dalam melakukan hal itu, selain dari mempertanyakan apakah Holocaust benar-benar terjadi sebagai satu fakta historis. Dapatkah Anda menjelaskan mengapa Anda percaya lebih banyak riset diperlukan dalam kaitan dengan fakta-fakta yang tak dapat dipertentangkan?

PRESIDEN AHMADINEJAD: Terima kasih banyak untuk pertanyaan Anda. Saya adalah seorang akademisi, dan Anda juga. Dapatkah Anda berpendapat bahwa meneliti suatu fenomena selesai untuk selamanya? Dapatkah kita menutup buku mengenai suatu peristiwa historis? Terdapat perspektif-perspektif yang berbeda yang muncul setelah setiap riset selesai. Mengapa kita menghentikan riset sama sekali? Mengapa kita harus menghentikan kemajuan ilmu dan pengetahuan? Anda seharusnya tidak bertanya kepada saya mengapa saya bertanya. Anda harusnya bertanya kepada diri Anda sendiri mengapa Anda berpikir bahwa peristiwa itu tidak perlu dipertanyakan lagi.

Mengapa Anda ingin menghentikan kemajuan ilmu dan riset? Apakah Anda pernah menemukan apa yang disebut absolut di dalam fisika? Kita mempunyai prinsip-prinsip di dalam matematika yang dinyatakan bersifat absolut selama lebih daripada 800 tahun, tetapi ilmu pengetahuan yang baru telah membebaskan absolutisme itu ke arah logika-logika yang berbeda dalam melihat matematika, dan hal semacam itu telah mengubah cara kita memandangnya sebagai sebuah ilmu pengetahuan secara keseluruhan setelah 800 tahun. Jadi, kita harus membiarkan peneliti-peneliti, para ilmuwan, untuk menyelidiki segalanya, setiap fenomena—Tuhan, alam semesta, manusia, sejarah, dan peradaban. Mengapa kita harus menghentikan itu?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa peristiwa itu tidak terjadi sama sekali. Ini bukan penilaian yang saya sampaikan di sini. Saya katakan pada pertanyaan saya yang kedua, jika memang ini terjadi, lalu apa hubungannya dengan bangsa Palestina? Ini pertanyaan yang serius. Terdapat dua dimensi. Dalam pertanyaan pertama, saya…

COATSWORTH: Izinkan saya memperdalam ini sedikit lebih jauh. Sulit untuk memulai suatu diskusi ilmiah jika tidak ada setidaknya beberapa dasar—beberapa dasar empiris, beberapa kesepakatan mengenai apa yang menjadi fakta-fakta. Jadi, menuntut riset terhadap fakta-fakta yang berkedudukan sangat kuat; menunjukkan tantangan terhadap fakta-fakta itu sendiri dan suatu pengingkaran bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi pada tahun-tahun tersebut di Eropa. (Tepuk tangan.)

Izinkan saya melanjutkan ke…

PRESIDEN AHMADINEJAD: Izinkan saya. Bagaimanapun, Anda bebas menafsirkan apa yang Anda inginkan dari apa yang saya katakan. Tetapi apa yang saya katakan telah saya katakan dengan kejelasan.

Pada pertanyaan pertama, saya berupaya untuk membela hak-hak para ilmuwan Eropa. Dalam wilayah sains dan riset, tidak ada sesuatu yang diketahui sebagai absolut. Tidak ada sesuatu yang secara memadai dilakukan, bahkan dalam fisika sekalipun. Ada lebih banyak riset dalam fisika ketimbang yang dilakukan terhadap Holocaust, tetapi kita masih terus melakukan riset terhadap fisika. Tidak ada yang salah dalam melakukan hal itu. Inilah yang manusia kehendaki. Mereka ingin mendekati suatu topik dari sudut-sudut pandang yang berbeda. Para ilmuwan ingin melakukan itu. Khususnya, sebuah isu yang telah menjadi dasar dari begitu banyak perkembangan politik yang terjadi di Timur Tengah selama 60 tahun.

Mengapa kita harus menghentikannya sama sekali? Anda harus memiliki alasan yang dapat dibenarkan untuk melakukan hal itu. Fakta yang telah diteliti pada masa lalu tidak cukup menjadi justifikasi di dalam pikiran saya.

MR. COATSWORTH: Mr. Presiden, mahasiswa lain bertanya, wanita-wanita Iran kini tercerabut dari hak-hak dasar manusia, dan pemerintah Anda memaksakan hukuman-hukuman yang kejam, termasuk eksekusi terhadap warga Iran yang homoseks. Mengapa Anda melakukan berbagai hal itu?

PRESIDEN AHMADINEJAD: Yang ada di Iran adalah kebebasan yang genuine. Rakyat Iran bebas. Wanita di Iran menikmati level paling tinggi dari kebebasan. Kami mempunyai dua deputi—dua wakil presiden yang adalah wanita pada level paling tinggi; demikian pula di parlemen, pemerintahan, dan universitas kami. Mereka hadir di bidang-bidang bio-teknologi dan teknologi. Ada ratusan ilmuwan wanita yang juga aktif di dunia politik.

Tidaklah benar jika beberapa pemerintahan, ketika mereka tidak setuju dengan pemerintah yang lain, mencoba menyebarkan kebohongan yang menyimpangkan kebenaran seutuhnya. Bangsa kami bebas. Ia memiliki level tertinggi dari keikutsertaan di dalam pemilihan-pemilihan . Di Iran, 80 hingga 90 persen rakyat memberikan suara mereka selama pemilihan, separuhnya—lebih dari separuhnya adalah wanita. Maka, bagaimana mungkin kita katakan bahwa wanita tidak bebas? Adakah ini kebenaran yang seutuhnya?

Dan, perihal eksekusi-eksekusi itu, saya ingin mengajukan dua pertanyaan. Jika seseorang datang dan membangun sebuah jaringan untuk perdagangan gelap obat-obatan yang menimbulkan dampak di Iran, Turki, Eropa, Amerika Serikat dengan memperkenalkan narkoba ini, akankah Anda memberi mereka penghargaan? Orang-orang yang menjalani hidup dengan menyebabkan kerusakan terhadap hidup ratusan juta anak muda di seluruh dunia, termasuk di Iran, dapatkah kita bersimpati kepada mereka? Tidakkah kalian juga mempunyai hukuman mati di Amerika Serikat? (Tepuk tangan.)

Di Iran, juga, ada hukuman mati bagi para pedagang gelap obat-obatan terlarang, bagi orang-orang yang melanggar hak-hak orang-orang yang lain.

Jika seseorang mengambil senapan, memasuki sebuah rumah, dan membunuh sekelompok orang di sana, lalu mencoba untuk meminta tebusan, bagaimana Anda menghadapi mereka di Amerika Serikat? Akankah Anda memberi mereka penghargaan? Dapatkah seorang dokter membiarkan mikroba-mikroba menyebar di seluruh negeri? Kita mempunyai hukum. Orang-orang yang melanggar hak-hak publik dengan menggunakan senjata, membunuh, menciptakan kegelisahan, menjual narkoba, mendistribusikan narkoba pada level yang tinggi dihukum eksekusi di Iran, dan sebagian eksekusi ini—sangat sedikit—dilakukan di hadapan publik. Ini hukum yang berdasarkan atas prinsip-prinsip demokratis. Kalian menggunakan suntikan dan mikroba untuk mengeksekusi orang-orang seperti ini, dan mereka dieksekusi atau digantung, tetapi hasil akhirnya tetap membunuh.

MR. COATSWORTH: Mr. Presiden, pertanyaannya bukan tentang kriminal dan penyelundup narkoba tetapi tentang pilihan seksual dan wanita. (Tepuk tangan.)

PRESIDEN AHMADINEJAD: Di Iran, kami tidak mempunyai homoseks seperti di negeri Anda. (tertawa.) Kami tidak memiliki itu di negeri kami. (cemooh.) Di Iran, kami tidak mempunyai fenomena itu. Saya tidak tahu siapa yang mengatakan hal itu kepada Anda bahwa kami mempunyainya. (tertawa)

Dan perihal wanita, mungkin Anda berpikir bahwa menjadi seorang wanita itu adalah suatu kejahatan. Bukanlah suatu kejahatan untuk menjadi wanita. Wanita adalah makhluk terbaik yang diciptakan Tuhan. Mereka merepresentasikan kebaikan dan kecantikan yang Tuhan tanamkan pada mereka. Wanita-wanita dihormati di Iran. Di Iran, setiap keluarga yang mempunyai seorang anak perempuan akan 10 kali lebih bahagia dibandingkan mempunyai seorang anak laki-laki. Wanita dihormati lebih daripada pria. Mereka dikecualikan dari banyak tanggung-jawab. Banyak tanggung-jawab hukum yang diletakkan di pundak pria di dalam masyarakat kami karena rasa hormat yang secara kultural diberikan kepada wanita, kepada para ibu masa depan. Di dalam kultur Iran, pria, anak laki-laki, dan anak harus terus mencium tangan ibu mereka sebagai simbol rasa hormat, suatu rasa hormat bagi wanita, dan kami bangga dengan kultur ini.

MR. COATSWORTH: Pertama, apa yang Anda harapkan dengan berbicara di Columbia hari ini? Kedua, apa yang akan Anda katakan jika anda diizinkan untuk mengunjungi lokasi tragedi 11 September?

PRESIDEN AHMADINEJAD: Inilah saya tamu kalian. Saya diundang oleh Columbia, sebuah undangan resmi yang diberikan kepada saya untuk datang ke sini, tetapi saya memang ingin mengatakan sesuatu di sini.

Di Iran, ketika Anda mengundang seorang tamu, maka Anda menghormati mereka. Ini adalah tradisi kami yang dituntut oleh kultur kami, dan saya tahu bahwa orang-orang Amerika juga mempunyai kultur itu.

Tahun lalu, saya ingin mengunjungi lokasi tragedi 11 September untuk menunjukkan rasa hormat saya kepada korban-korban dari tragedi ini, menunjukkan simpati saya kepada keluarga-keluarga mereka, tetapi rencana-rencana kami molor dari jadwal. Kami terlibat dalam negosiasi-negosiasi dan pertemuan-pertemuan hingga tengah malam, dan mereka berkata akan sangat sulit mengunjungi lokasi itu pada jam-jam tengah malam. Maka saya mengatakan kepada teman-teman saya bahwa kami harus merencanakan hal ini pada tahun berikutnya, sehingga saya dapat pergi dan mengunjungi lokasi itu untuk menunjukkan penghormatan saya. Sayangnya, beberapa kelompok orang mempunyai reaksi-reaksi yang sangat kuat, reaksi-reaksi yang sangat buruk. Sungguh buruk bagi seseorang untuk mencegah seseorang yang ingin menunjukkan simpati kepada keluarga dari korban-korban 11 September—peristiwa yang tragis.

Ini adalah rasa hormat dari sisi saya. Beberapa orang mengatakan ini adalah penghinaan. Apa yang Anda katakan? Inilah cara saya untuk menunjukkan rasa hormat. Mengapa Anda berpikir demikian? Dengan berpikir seperti itu, bagaimana mungkin Anda bisa mengatur urusan-urusan dunia? Tidakkah Anda berpikir bahwa banyak permasalahan di dunia ini datang dari cara Anda memandang isu-isu, dari cara berpikir macam ini, dari pendekatan pesimistis semacam ini terhadap banyak orang, dan dari level tertentu egoisme. Semua itu harus dikesampingkan sehingga kita dapat menunjukkan rasa hormat kepada setiap orang, membiarkan sebuah lingkungan persahabatan untuk tumbuh, membiarkan semua bangsa untuk berbicara satu sama lain, dan bergerak ke arah perdamaian?

Saya ingin berbicara dengan pers. Ada 11 September—peristiwa tragis 11 September adalah peristiwa yang sangat besar. Ia menjadi sebab dari banyak kejadian lainnya setelah itu. Setelah 9/11, Afghanistan diduduki lalu Irak diduduki, dan selama enam tahun di wilayah kami, terjadi kegelisahan, teror, dan ketakutan. Jika penyebab utama 9/11 diuji dengan baik—mengapa itu terjadi, apa yang menyebabkannya, apa kondisi-kondisi yang mengarah kepadanya, siapa yang sungguh-sungguh terlibat—dan menyatukan itu semua secara bersama-sama untuk memahami bagaimana caranya mencegah krisis di Irak, memperbaiki masalah di Afghanistan dan Irak secara bersama-sama.

MR. COATSWORTH: Sejumlah pertanyaan sudah ditanyakan mengenai program nuklir Anda. Mengapa pemerintah Anda ingin memperoleh uranium yang diperkaya, yang juga bisa digunakan untuk senjata nuklir? Apakah Anda akan berhenti melakukan hal ini?

PRESIDEN AHMADINEJAD: Program nuklir kami, terutama sekali, beroperasi dalam kerangka hukum, dan kedua, di bawah pemeriksaan- pemeriksaan IAEA, dan yang ketiga, sepenuhnya bersifat damai. Teknologi yang kita miliki adalah untuk pengayaan di bawah level 5 persen, dan setiap level di bawah 5 persen semata-mata adalah untuk menyediakan bahan bakar kepada pembangkit tenaga listrik. Laporan-laporan IAEA berulangkali secara tegas mengatakan bahwa tidak ada indikasi Iran sudah menyimpang dari program nuklir damai. Kami semua sadar bahwa isu nuklir Iran adalah isu politis; ini bukan isu hukum.

IAEA sudah membuktikan bahwa aktivitas kami adalah untuk tujuan-tujuan damai. Tetapi ada dua atau tiga kekuatan yang berpikir bahwa mereka mempunyai hak untuk memonopoli semua sains dan pengetahuan. Dan mereka menginginkan bangsa Iranian untuk meminta kepada pihak lain dalam mendapatkan bahan bakar, mendapatkan sains, dan mendapatkan pengetahuan. Lalu mereka tentu saja akan menahan diri dari memberikan semua itu kepada kami.

Jadi kami sungguh jelas mengenai apa yang kami butuhkan. Jika Anda sudah berhasil menciptakan generasi kelima bom atom dan malahan sedang mengujinya, maka mengapakah Anda mempersoalkan tujuan-tujuan damai dari orang-orang yang menghendaki energi nuklir? (Tepuk tangan.) Kami tidak percaya akan senjata nuklir. Ia menentang seluruh prinsip umat manusia. Izinkan saya mengatakan kepada Anda sebuah lelucon di sini. Saya berpikir bahwa politikus-politikus yang memburu bom atom atau sedang mengujinya, secara politis mereka terkebelakang, kuno. (Tepuk tangan.)

MR. COATSWORTH: Saya tahu waktu Anda singkat dan Anda perlu untuk melanjutkan. Apakah Iran siap membuka diskusi-diskusi yang luas dengan pemerintah Amerika Serikat? Apa yang Iran harapkan dari diskusi-diskusi seperti itu? Bagaimana Anda melihat, di masa datang, resolusi pokok dari konflik antara pemerintah Amerika Serikat dengan pemerintah Iran?

PRESIDEN AHMADINEJAD: Dari awal, kami menyatakan siap untuk bernegosiasi dengan semua negara. Sejak 28 tahun lalu, ketika revolusi kami berhasil dan kami mapan—kami mengambil kebebasan dan demokrasi yang dibatasi oleh suatu pemerintahan diktator yang pro-Barat, kami mengumumkan kesiapan kami. Selain dua negara, kami siap mempunyai hubungan bersahabat dengan semua negara di dunia. Salah satu dari dua negara itu adalah rezim apartheid Afrika Selatan, yang sudah lenyap, dan yang kedua adalah rezim Zionis. Untuk semua orang selain itu di seluruh dunia ini, kami menyatakan bahwa kami ingin mempunyai ikatan persahabatan.

Bangsa Iran adalah bangsa yang berbudaya. Ia merupakan karakter yang beradab. Ia menginginkan pembicaraan dan negosiasi baru. Kami percaya bahwa dalam negosiasi dan pembicaraan, segalanya dapat dipecahkan dengan sangat mudah. Kami tidak membutuhkan ancaman; kita tidak perlu mengarahkan bom atau meriam; kita tidak perlu memasuki konflik jika kita bicara. Kita mempunyai logika yang jelas tentang itu.

Kami mempertanyakan cara dunia ditata pada hari ini. Kami percaya bahwa penataan seperti sekarang tidak akan mengarah kepada perdamaian dan keamanan yang sehat bagi dunia, itulah cara yang dijalankan pada hari ini. Kami mempunyai solusi-solusi berdasarkan atas nilai-nilai kemanusiaan dan hubungan-hubungan antar negara. Dengan pemerintah AS, juga, kami akan bernegosiasi. Kami tidak mempunyai masalah tentang itu, tentu saja di bawah keadaan yang adil dan dengan rasa salaing menghormati.

Anda lihat bahwa dalam rangka membantu keamanan Irak, kami telah melakukan tiga putaran pembicaraan dengan Amerika Serikat. Dan tahun lalu, sebelum datang ke New York, saya menyatakan siap, di Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk terlibat dalam sebuah debat dengan Mr. Bush, presiden Amerika Serikat, mengenai isu-isu internasional yang penting. Itu semua menunjukkan kita ingin berbicara, melakukan debat di hadapan publik dunia, di hadapan semua pendengar, sehingga kebenaran terungkapkan, sehingga kesalahpahaman dan mispersepsi dihilangkan, sehingga kita dapat menemukan alur yang jelas bagi hubungan-hubungan yang bersahabat. Saya berpikir jika pemerintah AS mengenyampingkan sebagian perilaku lamanya, maka ia dapat menjadi seorang teman yang baik bagi Iran, bagi bangsa Iran.

Selama 28 tahun, mereka secara konsisten mengancam kami, menghina kami, mencegah kemajuan ilmiah kami, setiap harinya di bawah satu dalih atau lainnya. Anda semua tahu Saddam, sang diktator itu, didukung pemerintah Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa ketika menyerang Iran. Dan ia melancarkan perang delapan tahun, suatu peperangan yang jahat. Lebih daripada 200,000 orang Iran tewas dan lebih daripada 600,000 lainnya luka-luka karena perang itu. Ia (Saddam) menggunakan senjata-senjata kimia; ribuan rakyat Iran adalah korban-korban senjata-senjata kimia yang ia gunakan terhadap kami. Hari ini, Mr. Nobal Vinh (ph), yang adalah seorang wartawan, wartawan resmi, wartawan internasional, yang dulu meliput laporan PBB selama bertahun-tahun, adalah salah satu korban senjata-senjata kimia yang digunakan Irak terhadap kami.

Dan sejak itu, kami telah terus berada dalam propaganda yang berbeda-beda, seperti embargo-embargo, sanksi-sanksi ekonomi, dan sanksi-sanksi politik. Mengapa? Karena kami menyingkirkan seorang diktator? Karena kami menginginkan kebebasan dan demokrasi yang kami dapatkan untuk diri kami sendiri? Tetapi kami tidak bisa selalu berbicara. Kami berpikir bahwa jika pemerintah AS mengakui hak-hak rakyat Iran, menghormati semua negara, dan mengulurkan tangan persahabatan dengan semua orang Iran, mereka juga akan melihat bahwa Iran akan menjadi salah satu sahabat yang baik.

Apakah Anda izinkan saya untuk berterima kasih kepada para pendengar sebentar?

Baiklah, ada banyak hal yang saya ingin sampaikan, tetapi saya tidak ingin menyita waktu kalian lebih lama lagi. Saya ditanya, akankah saya mengizinkan fakultas dan mahasiswa Columbia di sini datang ke Iran? Dari panggung ini, saya mengundang para anggota fakultas dan mahasiswa Columbia di sini untuk berkunjung ke Iran, untuk berbicara dengan para mahasiswa kami. Kalian secara resmi telah diundang. (Tepuk tangan).

Kalian dinantikan untuk berkunjung ke universitas mana pun yang kalian inginkan di Iran. Kami akan menyediakan bagi kalian daftar universitas. Ada lebih daripada 400 universitas di negeri kami, dan Anda dapat memilih mana saja yang Anda ingin kunjungi. Kami akan memberi kalian podium yang sesungguhnya. Kami akan menghormati kalian 100 persen. Kami akan meminta para mahasiswa kami untuk duduk dan mendengarkan kalian, berbicara dengan kalian, mendengar apa yang kalian harus katakan.

Sekarang ini, di universitas- universitas kami, sehari-harinya, ada ratusan pertemuan seperti ini. Mereka mendengar, mereka berbicara, mereka bertanya, dan mereka menyambutnya.

Pada akhirnya, saya ingin berterima kasih kepada Columbia University. Saya mendengar bahwa banyak politikus di Amerika Serikat yang dididik di Columbia University, dan banyak orang di sini yang percaya akan kebebasan berbicara, dalam percakapan-percakapan yang jelas dan terus terang; saya juga berterima kasih kepada para manajer di sini, di Amerika Serikat—di Columbia University, orang-orang yang mengatur pertemuan ini dengan sangat baik hari ini. Saya ingin menyampaikan terima kasih yang dalam kepada para anggota fakultas dan para mahasiswa di sini. Saya memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa untuk menolong kita semua untuk bergandengan tangan dalam membangun perdamaian dan masa depan yang diisi dengan persahabatan, keadilan, dan persaudaraan. Semoga keberuntungan bagi segenap diri Anda sekalian. (Tepuk tangan.)

MR. BOLLINGER: Saya mohon maaf jika jadwal Presiden Ahmadinejad membuatnya harus meninggalkan acara ini sebelum ia sempat menjawab banyak pertanyaan yang kita tanyakan atau serahkan. (tertawa, tepuk tangan.) Tetapi menurut saya, kita semua bisa senang karena penampilannya di sini menunjukkan komitmen Columbia terhadap kebebasan ekspressi dan debat. Saya ingin berterima kasih kepada semua karena telah ikut ambil bagian. (Tepuk tangan.)

Terimakasih. (Diterjemahkan oleh Irman Abdurrahman)

Debat Panas Mahmoud Ahmadinejad di Columbia University (Bagian Kedua)

Mohamed-Morsi-Mahmoud-Ahmadinejad-in-Cairo

Poin lain dari rasa duka ini adalah beberapa kekuatan besar menciptakan monopoli atas sains dan mencegah negara-negara lain dalam mencapai pengembangan ilmiah yang sama (Mahmoud Ahmadinejad)

Moderator: John Coatsworth (Dekan Fakultas International and Public Affairs, Columbia University). Pengantar: Lee Bollinger (Presiden Columbia University, New York City, New York). Waktu: 24 September 2007.

MAHMOUD AHMADINEJAD: Sahabat-sahabat terhormat, ilmu dan kebijaksanaan dapat juga disalahgunakan, suatu penyalahgunaan yang disebabkan oleh egoisme, korupsi, hasrat material, dan kepentingan material, seperti juga minat individu dan kelompok. Hasrat material menempatkan manusia berhadapan dengan kenyataan-kenyataan dunia ini. Manusia yang terkorupsi menolak menerima kenyataan, dan bahkan jika mereka sungguh menerimanya, mereka tidak akan mematuhinya.

Terdapat banyak ilmuwan yang menyadari realitas tetapi tidak menerimanya. Egoisme mereka tidak membiarkan mereka untuk menerima realitas itu. Apakah mereka yang dulu, dalam perjalanan sejarah manusia, menggelar peperangan tidak memahami realitas bahwa hidup, hak milik, kehormatan, wilayah-wilayah, dan hak-hak manusia harus dihormati? Atau, apakah mereka memahaminya tetapi tidak mempunyai iman untuk menaatinya?

Sahabat-sahabat yang terhormat, sepanjang jiwa manusia tidak bebas dari kebencian, iri hati, dan egoisme, maka ia tidak menaati kebenaran oleh kekuatan penerangan ilmu dan ilmu itu sendiri. Ilmu adalah cahaya dan para ilmuwan harus tulus dan saleh. Jika umat manusia mencapai tingkat pengetahuan rohani dan fisik yang paling tinggi, tetapi para ilmuwannya bukanlah pribadi-pribadi yang tulus, maka pengetahuan ini tidak bisa melayani kepentingan umat manusia, dan beberapa dampak pun dapat terjadi.

Pertama, para pelanggar hanya mengungkapkan sebagian realitas yang tentu saja hanya bermanfaat bagi mereka sendiri dan merahasiakan sisanya, seperti yang pernah kita saksikan berkenaan dengan ilmuwan-ilmuwan agama pada masa lalu. Sayangnya, hari ini kita melihat para peneliti dan ilmuwan tertentu itu masih menyembunyikan kebenaran dari orang-orang.

Kedua, para ilmuwan dan saintis disalahgunakan bagi kepentingan pribadi, kelompok, atau pihak tertentu. Jadi, di dunia hari ini, kekuatan-kekuatan yang berkuasa sedang menyalahgunakan banyak ilmuwan di dalam bidang-bidang yang berbeda, dengan tujuan melucuti banyak bangsa dari kekayaan mereka. Dan mereka menggunakan setiap peluang hanya untuk kemanfaatan mereka sendiri.

Sebagai contoh, mereka menipu orang-orang dengan menggunakan metode dan perangkat ilmiah. Mereka, sesungguhnya, ingin menjustifikasi pelanggaran- pelanggaran mereka sendiri, meskipun dengan menciptakan musuh-musuh yang tak eksis, misalnya, dan menciptakan atmosfer yang tidak aman. Mereka berupaya untuk menguasai setiap hal atas nama memerangi ketidakamanan dan terorisme. Mereka bahkan melanggar kebebasan-kebebasan individu dan sosial di dalam negeri mereka sendiri dengan dalih tersebut. Mereka tidak menghormati privasi rakyat mereka sendiri. Mereka menyadap percakapan telepon dan berupaya untuk mengendalikan rakyat mereka. Mereka menciptakan atmosfer psikologis yang menggelisahkan untuk menjustifikasi tindak-tindak provokasi perang mereka di bagian-bagian benua yang berbeda.

Sebagai contoh lain, dengan menggunakan metode dan perencanaan yang “akurat”, mereka memulai serangan gencar mereka terhadap kultur-kultur domestik dari banyak bangsa, kultur-kultur yang merupakan hasil dari ribuan tahun interaksi, kreativitas, dan aktivitas artistik bangsa-bangsa bersangkutan. Mereka mencoba untuk menghapuskan kultur-kultur tersebut demi memisahkan orang-orang dari identitas mereka dan mengamputasi ikatan mereka dengan sejarah dan nilai-nilai mereka sendiri. Mereka mempersiapkan landasan untuk menelanjangi orang-orang dari kekayaan rohani dan material mereka dengan menanamkan kepada mereka perasaan terintimidasi, hasrat untuk imitasi, dan semata-mata konsumsi, serta tunduk kepada kekuatan-kekuatan yang menindas.

Membuat bom nuklir, senjata kimia dan biologi serta senjata-senjata pemusnah massal adalah hasil lain dari penyalahgunaan ilmu dan riset oleh kekuatan-kekuatan besar. Tanpa kooperasi dari para ilmuwan dan saintis tertentu, maka kita tidak akan menyaksikan produksi senjata nuklir, kimia, dan biologi yang berbeda-beda. Apakah senjata-senjata ini untuk melindungi keamanan global? Apa yang bisa dicapai senjata nuklir bagi umat manusia? Jika perang nuklir terjadi di antara dua kekuatan nuklir, apa bencana kemanusiaan yang akan berlangsung? Dewasa ini, kita dapat menyaksikan efek-efek nuklir, bahkan pada generasi-generasi baru penduduk Nagasaki dan Hiroshima yang mungkin merupakan saksi bagi generasi-generasi yang akan datang. Segera, efek penggunaan uranium dalam senjata-senjata sejak permulaan perang di Irak dapat diuji dan diselidiki secara seksama. Bencana-bencana ini terjadi hanya ketika para ilmuwan disalahgunakan oleh kekuatan-kekuatan penindas.

“Poin lain dari rasa duka ini adalah beberapa kekuatan besar menciptakan monopoli atas sains dan mencegah negara-negara lain dalam mencapai pengembangan ilmiah yang sama.”

Hal ini, juga, adalah salah satu kejutan pada masa kita. Beberapa kekuatan besar tidak ingin melihat kemajuan dan perkembangan masyarakat-masyarak at dan negara-negara lain. Mereka berdalih dengan ribuan alasan, melemparkan tuduhan tanpa bukti, memberlakukan sanksi-sanksi ekonomi untuk mencegah bangsa-bangsa lain dari perkembangan dan percepatan. Semua itu merupakan hasil keberjarakan mereka dari nilai-nilai kemanusiaan, nilai moral, dan ajaran nabi ilahi. Dengan sangat menyesal, mereka belum terlatih untuk melayani umat manusia.

Yang terhormat, akademisi, para ilmuwan, dan para mahasiswa, saya percaya bahwa anugerah terbesar Tuhan bagi manusia adalah ilmu dan pengetahuan. Pencarian manusia akan pengetahuan dan kebenaran melalui ilmu adalah apa yang dijamin sebagai upaya mendekat kepada Tuhan, tetapi ilmu haruslah dikombinasikan dengan kemurnian roh manusia sehingga para ilmuwan dapat menyingkap selubung kebenaran lalu menggunakan kebenaran itu untuk memajukan kepentingan- kepentingan kemanusiaan.

Para ilmuwan tersebut bukan hanya menjadi orang-orang yang akan memandu umat manusia, tetapi juga memandu umat manusia ke arah masa depan, masa depan yang lebih baik. Dan kekuatan-kekuatan besar tidak membiarkan umat manusia untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas monopolistik serta mencegah negara-negara lain untuk meraih kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah anugerah ilahi dari Tuhan kepada setiap manusia, dan oleh karena itu, ia harus tetap murni.

Tuhan menyadari semua realitas. Semua peneliti dan ilmuwan dicintai oleh Tuhan. Maka saya berharap akan ada satu hari nanti ketika para ilmuwan dan saintis tersebut memerintah dunia dan Tuhan itu sendiri akan datang bersama Musa, Kristus, dan Nabi Muhammad untuk memerintah dunia ini dan untuk membawa kita ke arah keadilan.

Saya berterima kasih kepada Anda sekarang, tetapi mengacu kepada dua poin yang dikatakan di pengantar tadi mengenai saya, maka saya terbuka bagi setiap pertanyaan.

Tahun lalu, saya akan katakan dua tahun lalu, saya mengangkat dua pertanyaan. Anda tahu bahwa tugas utama saya adalah Dosen Universitas. Sekarang sebagai Presiden Iran, saya masih mengajar di level pascasarjana dan doktoral setiap minggunya. Mahasiswa saya banyak bekerja dengan saya dalam bidang-bidang ilmiah. Saya percaya bahwa saya adalah seorang akademisi. Maka, Saya berbicara dengan Anda dari sudut pandang akademis.

Dan saya angkat dua pertanyaan. Tetapi alih-alih mendapatkan tanggapan, saya malah menerima gelombang hujatan dan tuduhan, dan sayangnya, mereka kebanyakan datang dari kelompok-kelompok yang mengklaim percaya akan kebebasan berbicara dan kebebasan untuk informasi. Anda pasti tahu bahwa Palestina adalah luka yang berusia tua, sama tuanya dengan 60 tahun.

Selama 60 tahun, orang-orang ini diusir; selama 60 tahun, orang-orang ini terus dibunuhi; selama 60 tahun, sehari-harinya, selalu ada konflik dan teror; selama 60 tahun, wanita-wanita dan anak-anak yang tidak bersalah dibinasakan; dihancurkan, dan dibunuh oleh helikopter-helikopter dan pesawat-pesawat tempur yang menghancurkan rumah-rumah dari atas kepala mereka; selama 60 tahun, anak-anak usia sekolah dipenjarakan dan disiksa; selama 60 tahun, keamanan di Timur Tengah berada dalam bahaya; selama 60 tahun, slogan ekspansionisme “Dari Nil hingga Eofrat” terus digemakan kelompok-kelompok tertentu di bagian dunia tersebut.

Dan sebagai seorang yang akademis, saya ajukan dua pertanyaan, dua pertanyaan yang sama yang saya akan ajukan lagi di sini. Dan Anda dapat menilai apakah tanggapan kepada pertanyaan-pertanyaan itu haruslah berupa hujatan dan tudingan, atau semua kata dan propaganda yang negatif, atau haruskah kita benar-benar mencoba menghadapi dua pertanyaan ini dan bereaksi terhadap mereka? Seperti Anda, seperti umumnya para akademisi, saya akan berupaya diam sampai saya mendapat jawaban. Maka, saya sedang menunggu jawaban logis alih-alih hujatan-hujatan.

Pertanyaan pertama saya adalah jika memang Holocaust itu kenyataan yang terjadi pada masa kita, suatu sejarah yang terjadi, mengapakah tidak ada riset yang cukup yang dapat mendekati topik ini dari perspektif-perspektif yang berbeda? Sahabat-sahabat kita merujuk kepada 1930 sebagai titik awal bagi perkembangan ini; bagaimanapun, saya mempercayai Holocaust, dari apa yang kita baca, telah terjadi selama Perang Dunia II setelah 1930 pada 1940-an. Maka, Anda tahu, kita harus benar-benar mampu melacak peristiwa itu.

Pertanyaan saya sederhana. Ada peneliti-peneliti yang ingin mendorong topik ini dari suatu perspektif yang berbeda. Lalu, mengapa mereka dimasukkan ke dalam penjara? Sekarang ini, ada sejumlah akademisi Eropa yang dikirim ke penjara karena mereka mencoba untuk menulis tentang Holocaust. Peneliti-peneliti dari suatu perspektif yang berbeda mencoba mempertanyakan aspek-aspek tertentu tentangnya. Pertanyaan saya adalah mengapa hal ini tidak terbuka bagi semua bentuk riset? Saya diberi tahu bahwa sudah terdapat cukup riset mengenai topik ini. Dan saya bertanya, ketika berkaitan dengan topik-topik seperti kebebasan, topik-topik seperti demokrasi, konsep-konsep dan norma-norma seperti Tuhan, agama, fisika, bahkan kimia, terdapat banyak riset, tetapi kita masih melanjutkan lebih banyak riset dalam topik-topik itu. Bahkan, kita mendorongnya. Namun, kenapakah kita tidak mendorong lebih banyak riset mengenai suatu peristiwa historis yang sudah menjadi akar dan penyebab banyak bencana besar di kawasan pada masa dan zaman ini? Tidakkah seharusnya ada lebih banyak riset mengenai penyebab utamanya? Itulah pertanyaan pertama saya.

Dan pertanyaan kedua saya, mengingat peristiwa historis ini, jika memang suatu kenyataan, maka kita masih perlu mempertanyakan apakah rakyat Palestina harus menanggungnya ataukah tidak. Bagaimanapun, peristiwa itu terjadi di Eropa. Bangsa Palestina tidak punya peran di dalamnya. Jadi kenapakah orang-orang Palestina harus terus menanggung akibat suatu peristiwa yang tidak ada kaitannya dengan mereka?

Rakyat Palestina tidak melakukan kejahatan apa pun. Mereka tidak punya peran dalam Perang Dunia II. Mereka hidup bersama masyarakat Yahudi dan Kristen secara damai pada masa tersebut. Mereka tidak mempunyai permasalahan. Dan hari ini, juga, Yahudi, orang-orang Kristen, dan Muslim hidup bersaudara di seluruh dunia ini, dan di banyak benua. Mereka tidak mempunyai permasalahan yang serius.

Tetapi apa sebabnya rakyat Palestina harus membayar semua ini, orang-orang Palestina yang tidak bersalah? Lima juta orang terus diusir dan menjadi pengungsi-pengungsi dari perang selama 60 tahun—tidakkah ini suatu kejahatan? Adakah bertanya mengenai kejahatan-kejahatan ini merupakan suatu kejahatan dengan sendirinya? Mengapa seorang akademisi, diri saya, menghadapi hujatan ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini? Inikah yang kalian sebut sebagai kebebasan dan menegakkan kebebasan berpikir?

Dan perihal topik kedua, yakni isu nuklir Iran—saya tahu ada batas waktu tetapi saya membutuhkan waktu lebih. Maksud saya, banyak waktu yang telah diambil dari saya (Ahmadinejad tampaknya diperingatkan soal waktu).

Kami adalah sebuah negara. Kami adalah anggota International Atomic Energy Agency (IAEA). Selama lebih daripada 33 tahun, kami adalah negara anggota agensi itu. Hukum agensi itu dengan tegas menyatakan bahwa semua negara anggota mempunyai hak untuk teknologi bahan bakar nuklir yang damai. Ini adalah pernyataan tegas dan eksplisit yang dibuat di dalam hukum itu. Dan hukum itu mengatakan bahwa tidak ada alasan atau dalih, bahkan pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan IAEA sendiri, yang dapat mencegah hak negara anggota untuk memiliki hak itu.

Tentu saja, IAEA bertanggung jawab untuk melaksanakan pemeriksaan-pemeriksaan. Kami adalah salah satu negara yang telah melaksanakan jumlah terbanyak dari level kerja sama dengan IAEA. Mereka setiap jam, minggu, dan hari melakukan pemeriksaan-pemeriksaan di dalam negeri kami. Dan berulang-ulang kali, laporan-laporan agensi itu menunjukkan bahwa aktivitas nuklir Iran bersifat damai, bahwa mereka tidak mendeteksi suatu penyimpangan, dan bahwa mereka telah menerima kerja sama positif dari Iran.

Tetapi sayangnya, dua atau tiga kekuatan monopolistik, kekuatan-kekuatan yang egois, ingin memaksa kata-kata mereka terhadap bangsa Iran dan mengingkari hak mereka. Mereka terus mengatakan—satu menit. (Tertawa, tepuk tangan.)

Mereka mengatakan kepada kami jangan Anda biarkan hal itu terjadi—mereka tidak akan membiarkan mereka memeriksa. Mengapa tidak? Tentu saja kami bisa. Bagaimana mungkin Anda mempunyai hak itu sementara kami tidak? Kami ingin mempunyai hak untuk energi nuklir damai. Mereka mengatakan kepada kami, “Jangan membuatnya sendiri. Kami akan memberikannya kepada Anda.”

Pada masa lalu, saya katakan kepada Anda, kami memiliki kontrak dengan pemerintah AS, dengan pemerintah Inggris, pemerintah Prancis, pemerintah Jerman, dan pemerintah Kanada dalam pengembangan nuklir untuk tujuan-tujuan damai. Tetapi secara sepihak, masing-masing mereka membatalkan kontrak-kontrak mereka dengan kami, sebagai hasilnya bangsa Iran harus membayar biaya yang banyak dalam milyaran dolar.

Kenapa kami memerlukan bahan bakar dari kalian? Kalian bahkan tidak memberikan kepada kami suku-cadang pesawat terbang yang kami perlukan untuk maskapai penerbangan sipil selama 28 tahun, di bawah nama embargo dan sanksi-sanksi, karena kami melawan, sebagai contoh, “hak asasi manusia atau kebebasan”? Di bawah dalih itu, Anda menyangkal hak kami bagi teknologi itu?

Kami ingin mempunyai hak untuk menentukan nasib kami sendiri di masa depan. Kami ingin independen. Jangan mengintervensi kami. Jika kalian tidak memberikan kepada kami suku-cadang pesawat terbang sipil, mengapa kami harus berharap bahwa kalian akan memberikan kepada kami bahan bakar untuk pengembangan nuklir demi tujuan-tujuan damai?

Selama 30 tahun kami menghadapi problem-problem tersebut; lebih daripada 5 milyar dollar kepada Jerman dan lalu kepada Rusia, tetapi kita tidak pernah mendapatkan apa pun, dan yang terburuk belum diselesaikan. Ini adalah hak kami, kami menghendaki hak kami, dan kami tidak menghendaki apa pun di luar hukum, tidak kurang dari apa yang hukum internasional katakan. Kami adalah bangsa yang cinta damai. Kami mencintai semua bangsa. (Tepuk tangan, sorak-sorak, dan cemooh.) (Bersambung ke Bagian Terakhir)

Debat Panas Mahmoud Ahmadinejad di Columbia University (Bagian Pertama)

Mahmoud Ahmadinejad

Dalam kultur kami, kata ilmu sudah digambarkan sebagai “iluminasi”. Sebenarnya, “ilmu” bermakna “terang” dan ilmu sejati adalah ilmu yang menolong manusia dari ketidaktahuan untuk kemanfaatan diri (Mahmoud Ahmadinejad).

Moderator: John Coatsworth (Dekan Fakultas International and Public Affairs, Columbia University). Pengantar: Lee Bollinger (Presiden Columbia University, New York City, New York). Waktu: 24 September 2007.

Pengantar yang Kasar dan Bias

MR. BOLLINGER: Saya akan memulai ini dengan berterima kasih kepada Dekan John Coatsworth dan Profesor Richard Bulliet atas kerja mereka mengorganisasikan acara ini dan atas komitmen mereka kepada Fakultas International and Public Affairs dan peranannya—(diinterupsi tepuk tangan)—dan atas peranannya dalam melatih para pemimpin masa depan dalam urusan-urusan dunia. Jika hari ini membuktikan sesuatu, maka terdapat kerja besar di hadapan kita. Ini hanyalah salah satu di antara banyak acara mengenai Iran yang akan berlangsung sepanjang tahun akademi ini, semuanya agar kita dapat memahami dengan lebih baik bangsa yang penting dan kompleks ini dalam konteks geopolitik kontemporer.

Sebelum berbicara secara langsung kepada Presiden Iran, saya mempunyai beberapa poin yang penting untuk digarisbawahi. Pertama, pada 2003, World Leaders Forum telah berhasil mengembangkan tradisi panjang Columbia dalam menyediakan forum utama bagi perdebatan yang sehat, khususnya dalam isu-isu global.

Kedua, bagi mereka yang percaya bahwa acara ini seharusnya tidak pernah terjadi, sehingga tidak sepantasnya bagi universitas untuk mengadakan acara seperti ini, saya ingin mengatakan bahwa saya memahami perspektif kalian dan menghargainya sebagai sesuatu yang masuk akal. Cakupan “free speech” dalam kebebasan akademik dalam dirinya sendiri selalu terbuka bagi perdebatan yang lebih jauh. Sebagaimana salah satu kutipan terkenal mengenai “free speech” mengatakan, “it is an experiment as all life is an experiment”. Saya ingin mengatakan, sejelas yang saya mampu, bahwa acara ini adalah sesuatu yang benar untuk dilakukan, dan tentu saja ini dituntut oleh norma-norma yang ada tentang “free speech”, universitas Amerika, Columbia itu sendiri.

Ketiga, kepada mereka di antara kita yang merasa kecewa dan terluka akibat (acara) hari ini, saya atas nama semua menyatakan bahwa kami mohon maaf dan berkehendak untuk melakukan apa yang kami bisa untuk mengurangi rasa terluka itu.

Keempat, agar menjadi jelas tentang persoalan lain, bahwa acara ini tidak berhubungan sama sekali dengan hak apa pun dari si pembicara (Presiden Mahmoud Ahmadinejad) , tetapi hanya berkaitan dengan hak kita untuk mendengar dan berbicara. Kami melakukan ini demi diri kami sendiri. Kami melakukan ini dalam tradisi agung dari keterbukaan yang telah mendefinisikan bangsa ini selama berdekade-dekade hingga sekarang. Kita butuh memahami dunia tempat kita hidup, bukan malah mengabaikan kemuliaan-kemuliaan nya ataupun takut akan ancaman-ancaman dan bahaya-bahayanya. Ini tidak konsisten dengan ide bahwa seseorang perlu mengetahui musuhnya—maafkan saya—ini konsisten dengan ide bahwa seseorang perlu mengetahui musuhnya, untuk memiliki keberanian emosional dan intelektual dalam menghadapi pikiran jahat, dan untuk mempersiapkan diri kita agar bertindak dengan perangai yang benar. Saat ini, argumen-argumen “kemerdekaan berbicara” tidak akan pernah terlihat menandingi kekuatan argumen-argumen lawannya, tetapi apa yang kita harus ingat adalah bahwa ini tepatnya karena “kemerdekaan berbicara” menuntut kita untuk melatih pengekangan diri yang luar biasa melawan dorongan-dorongan yang sangat alamiah tetapi seringkali kontraproduktif, yang membawa kita untuk mundur dari keterlibatan dengan gagasan-gagasan yang tidak kita benci dan takuti. Di sinilah, terletak kejeniusan ide “kemerdekaan berbicara” Amerika.

Terakhir, di universitas, kami mempunyai komitmen yang dalam dan kuat untuk mengejar kebenaran. Kita tidak mempunyai akses kepada kekuasaan, kita tidak bisa memutuskan perang atau damai, kita hanya dapat melahirkan pikiran, dan untuk melakukan hal ini, kita harus memiliki kebebasan pencarian yang paling luas.

Izinkan saya berpaling kepada Mr. Ahmadinejad.

Pertama, mengenai pemberangusan brutal terhadap para ilmuwan, wartawan-wartawan, pembela hak asasi manusia. Lebih daripada dua minggu yang lalu, pemerintah Anda telah membebaskan Dr. Haleh Esfandiari dan Parnaz Azima, serta baru dua hari yang lalu, Kian Tajbakhsh, lulusan Columbia dengan gelar Ph.D di bidang perencanaan kota. Sementara masyarakat kami bergembira setelah tahu bahwa ia dibebaskan dengan jaminan, Dr. Tajbakhsh kini masih berada di Tehran dalam tahanan rumah, dan ia masih tidak mengetahui apakah ia akan didakwa dengan suatu tuduhan kejahatan atau akan diizinkan untuk meninggalkan Iran.

Izinkan saya mengatakan hal ini sebagai catatan, saya menyerukan kepada presiden hari ini untuk memastikan bahwa Kian akan bebas untuk bepergian ke luar Iran kapan pun ia mau. (Tepuk tangan.) Izinkan saya juga melaporkan pada hari ini bahwa kami menyampaikan tawaran kepada Kian untuk bergabung dengan fakultas kami sebagai professor tamu di bidang perencanaan kota di sini, di almamaternya, di tingkat Sarjana pada Fakultas Arsitektur, Perencanaan, dan Pemeliharaan, dan kami berharap ia mampu bergabung dengan kami pada semester berikutnya. (Tepuk tangan.)

Penangkapan dan penahanan orang-orang Iran-Amerika ini untuk alasan yang tidak jelas bukan hanya tidak pada tempatnya, tetapi juga sepenuhnya melanggar nilai-nilai dasar yang juga mengizinkan pembicara hari ini untuk bahkan muncul di kampus ini, tetapi setidaknya mereka masih hidup.

Menurut Amnesty International, 210 orang telah dieksekusi di Iran sejauh ini pada tahun ini, 21 dia antara mereka pada pagi 5 September. Jumlah keseluruhan tahunan ini meliputi dua orang anak, yang bukti lebih jauhnya dituliskan Human Rights Watch bahwa Iran tengah membawa dunia untuk mengeksekusi anak-anak.

Ada lagi. Iran telah menghukum gantung 30 orang pada Juli dan Agustus lalu dalam sebuah aksi represi terhadap usaha-usaha untuk menciptakan sebuah masyarakat yang lebih demokratis. Kebanyakan eksekusi ini dilaksanakan di muka umum, sebuah pelanggaran terhadap International Covenant of Civil and Political Rights, di mana Iran adalah salah satu pihak peratifikasi. Eksekusi-Eksekusi tersebut dan yang lainnya bersamaan waktunya dengan pemberangusan yang lebih luas terhadap para aktivis mahasiswa dan akademisi-akademisi yang dituduh berupaya memprovokasi sesuatu yang disebut “revolusi halus”. Hal ini termasuk memenjarakan dan memaksa pensiun para ilmuwan. Seperti Dr. Esfandiari katakan dalam sebuah wawancara sejak pembebasannya, dia ditahan dalam kamar isolasi selama 105 hari karena pemerintah Iran percaya bahwa Amerika Serikat sedang merencanakan sebuah “revolusi beludru” di Iran.

Dalam ruangan yang sama ini; tahun lalu kita mempelajari sesuatu mengenai “revolusi beludru” dari Vaclav Havel, dan kami mungkin mendengar hal yang sama dari pembicara World Leaders Forum kita malam ini, Presiden Michelle Bachelet dari Chili. Kedua kisah mereka yang luar biasa mengingatkan kita bahwa tidak ada cukup penjara untuk mencegah suatu masyarakat yang menginginkan kebebasannya.

Kami di universitas ini belum malu untuk memprotes tantangan—dan menantang kegagalan-kegagalan pemerintah kami sendiri untuk hidup di atas nilai-nilai kami, dan kami tidak akan malu untuk mengkritik negara Anda. Marilah kita perjelas di permulaan. Mr. Presiden, Anda memperlihatkan semua tanda dari seorang diktator yang kejam lagi picik. Dengan demikian, saya bertanya kepada Anda—(tepuk tangan)—dengan demikian daya bertanya kepada Anda, mengapa wanita, para anggota sekte Baha’i, kaum homoseks, dan begitu banyak rekan kerja akademik kami menjadi target penganiayaan di dalam negeri Anda? Mengapa, dalam sebuah surat minggu lalu kepada Sekretaris Jenderal PBB, Akbar Ganji, oposan politik Iran ternama, dan lebih daripada 300 kaum intelektual publik, para penulis, dan penerima Nobel menyatakan keprihatinan yang serius bahwa pertentangan Anda dengan Barat telah mengacaukan perhatian dunia dari kondisi-kondisi yang tak dapat ditoleransi lagi di dalam rezim Anda di Iran, khususnya penggunaan “hukum pers” yang melarang para penulis untuk mengkritik sistem yang sedang berkuasa? Mengapa Anda takut kepada warga Iran yang menyuarakan pendapat-pendapat mereka bagi perubahan?

Di dalam negeri kami, Anda diwawancarai oleh media kami dan diminta untuk berbicara di sini pada hari ini. Dan sementara para rekan kerja saya di fakultas hukum—Mikhael Dorf, salah satu rekan kerja saya, berkata kepada Radio Free Europe, para pemirsa di Iran beberapa saat lalu mengenai “kebebasan berbicara” di negeri ini—saya mengusulkan lebih jauh kepada Anda agar mengizinkan saya memimpin sebuah delegasi dari para mahasiswa dan fakultas dari Columbia untuk berbicara di universitas-universitas Anda mengenai “kemerdekaan berbicara” dengan kebebasan yang sama yang kita upayakan bagi Anda hari ini. (Tepuk tangan.)

Kedua, pengingkaran terhadap Holocaust. Suatu hari pada Desember 2005 dalam sebuah acara siaran televisi negara, Anda menggambarkan Holocaust sebagai sebuah “legenda yang dibuat-buat”. Satu tahun kemudian, Anda mengadakan suatu konferensi dua hari yang menghimpun para pemungkir Holocaust. Bagi orang awam dan bodoh, ini adalah propaganda yang berbahaya.

Ketika Anda datang ke tempat seperti ini, maka hal ini membuat Anda sungguh menggelikan. Anda provokatif dengan angkuhnya ataukah secara mengejutkan tidak berpendidikan. Anda perlu tahu—(tepuk tangan)—bahwa Columbia adalah pusat dunia dalam studi-studi Yahudi—dan sekarang tengah dalam kemitraan dengan Institute of Holocaust Studies.

Sejak 1930-an, kami menyediakan perlindungan intelektual bagi pengungsi-pengungsi Holocaust yang tak terhitung banyaknya, para orang yang selamat, dan anak-anak serta cucu-cucu mereka. Kebenarannya adalah bahwa Holocaust adalah peristiwa yang paling terdokumentasikan dalam sejarah manusia. Karena inilah, dan karena banyak alasan lainnya, komentar-komentar Anda yang absurd mengenai debat seputar Holocaust telah mengingkari kebenaran sejarah dan membuat kita semua terus merasa takut akan kapasitas umat manusia bagi tertutupnya memori akan hal ini, yang semestinya selalu berada dalam garis depan pertahanan. Apakah Anda akan menghentikan hal yang menyakitkan hati ini?

Penghancuran Israel. Dua belas hari yang lalu Anda berkata bahwa negara Israel tidak bisa melanjutkan hidupnya. Hal ini menggemakan sejumlah pernyataan provokatif yang Anda sampaikan pada dua tahun yang lalu, termasuk pada Oktober 2005, ketika Anda berkata Israel itu “harus hapus dari peta”. Columbia mempunyai lebih daripada 800 alumni yang sekarang tinggal di Israel. Sebagai sebuah institusi, kami mempunyai ikatan yang dalam dengan para kolega kami di sana. Saya secara pribadi sudah berbicara—secara pribadi, saya sudah angkat bicara dalam terminologi yang paling kuat untuk melawan proposal-proposal boikot terhadap akademisi Israel, seraya mengatakan boikot-boikot seperti itu mungkin juga mencakup Columbia. (Tepuk tangan.)

Lebih daripada 400—lebih daripada 400—kolega dan presiden universitas di negeri ini sudah bergabung dalam pernyataan tersebut. Pertanyaan saya kemudian adalah, apakah Anda bermaksud menghapus kami dari peta juga? (Tepuk tangan.)

Mendanai terorisme: Menurut laporan-laporan dari Council on Foreign Relations, adalah terdokumentasikan dengan baik bahwa Iran adalah negara sponsor teror yang mendanai kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Lebanon, yang Iran bantu pendiriannya pada 1980-an, Hamas Palestina dan Jihad Islam. Pemerintah Anda kini menggerogoti pasukan Amerika di Irak dengan membiayai, mempersenjatai, dan menyediakan tempat yang aman kepada para pemimpin pemberontak seperti Muqtada al-Sadr dan tentaranya. Terdapat sejumlah laporan bahwa pemerintah Anda juga terlibat dalam usaha-usaha Suriah untuk mendestabilisasi pemerintah Lebanon melalui kekerasan dan pembunuhan politik.

Pertanyaan saya adalah: Kenapa Anda mendukung organisasi-organisasi teroris yang terus menghantam perdamaian dan demokrasi di Timur Tengah, menghancurkan hidup dan masyarakat sipil di kawasan?

Perang proksi melawan pasukan Amerika Serikat di Irak—dalam sebuah pengarahan singkat di hadapan National Press Club, Jenderal David Petraeus melaporkan bahwa senjata-senjata yang datang dari Iran, termasuk 240 millimeter roket dan proyektil-proyektil peledak, berkontribusi kepada “suatu serangan-serangan canggih yang sama sekali tidak akan mungkin tanpa dukungan Iran.” Sejumlah lulusan Columbia dan para mahasiswa ada di antara para anggota militer kami yang pemberani, yang sedang bertugas di Irak dan Afghanistan. Mereka, seperti orang Amerika lainnya dengan putra, putri, ayah, suami, dan istri yang bertugas pertempuran, benar-benar melihat pemerintah anda sebagai musuh.

Dapatkah Anda mengatakan kepada mereka dan kami mengapa Iran berperang dalam sebuah perang proksi di Irak dengan mempersenjatai milisi Syi’ah yang menargetkan dan membunuh pasukan AS?

Dan akhirnya program nuklir Iran dan sanksi-sanksi internasional: Minggu ini, Dewan Keamanan PBB sedang membahas sanksi-sanksi yang diperluas untuk ketiga kalinya, karena penolakan pemerintah Anda untuk menghentikan program pengayaan uranium. Anda terus menentang lembaga dunia ini dengan mengklaim suatu hak untuk mengembangkan pembangkit tenaga nuklir yang damai, tetapi hal ini nyaris tidak bisa menghadapi pengawasan ketika Anda terus mengeluarkan ancaman-ancaman militer kepada tetangga-tetangga. Minggu lalu, Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, menjelaskan kesabarannya yang hilang dengan taktik tarik-ulur Anda , dan bahkan Rusia dan Cina sendiri sudah menunjukkan keprihatinan.

Mengapa negara Anda terus menolak untuk tunduk kepada standar-standar internasional bagi verifikasi senjata nuklir, terus membangkang terhadap persetujuan-persetujuan yang telah Anda buat dengan lembaga nuklir PBB? Dan mengapa Anda memilih untuk membuat orang-orang di negara Anda menjadi rentan disebabkan dampak sanksi-sanksi ekonomi internasional, dan mengancam untuk menelan dunia dalam pembasmian nuklir? (Tepuk tangan.)

Izinkan saya menutup dengan sebuah komentar. Terus terang—saya tutup dengan komentar ini secara terus terang dan dalam semua kejujuran, Mr. Presiden, saya ragu bahwa Anda memiliki keberanian intelektual untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Tetapi kalaupun Anda menghindar, maka akan dengan sendirinya hal itu menjadi penuh arti bagi kami. Saya sungguh mengharapkan Anda untuk memperlihatkan pola pikir yang fanatik yang mengkarakterisasi sangat banyak dari apa yang Anda kata dan lakukan. Untungnya, saya diberitahu oleh para ahli tentang negara Anda bahwa hal ini hanya akan mengikis lebih jauh posisi Anda di Iran, dengan banyak warga negara yang berhati baik dan cerdas di sana.

Setahun yang lalu, saya diberitahu oleh sumber terpercaya, bahwa pernyataan-pernyataan Anda yang absurd dan menyerang di negeri ini, seperti ketika dalam pertemuan di Council on Foreign Relations, sangat mempermalukan warga Iran yang rasional sehingga hal ini mengarah kepada kekalahan partai Anda dalam pemilu-pemilu walikota. Semoga Anda melakukan hal itu dan lebih lagi. (Tepuk tangan.)

Saya hanya seorang professor, yang juga seorang Presiden Universitas.

Dan hari ini, saya merasakan bahwa semua beban dunia peradaban modern hendak mengekspresikan penolakan terhadap apa yang Anda yakini. Saya hanya berharap dapat melakukannya secara lebih baik. Terima kasih. (Bersorak, tepuk tangan.)

MR. COATSWORTH: Terima kasih, Lee.

Pembicara utama kita hari ini adalah Yang Mulia Presiden Republik Islam Iran, Mr. Mahmoud Ahmadinejad. Mr. Presiden. (Tepuk tangan.)

PENERJEMAH: Presiden sedang membacakan ayat- ayat al-Quran dalam bahasa Arab. (Tidak diterjemahkan.)

PRESIDEN AHMADINEJAD: Ya, Allah, segerakan kedatangan Imam Mahdi dan anugerahinya kesehatan serta kemenangan yang baik, dan jadikanlah kami para pengikutnya dan mereka yang menyatakan kesetiaan kepadanya.

Dekan yang terhormat, para professor dan para mahasiswa yang tersayang, tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Terutama sekali, saya berniat menyampaikan salam saya kepada segenap Anda. Saya mengucap syukur kepada Allah karena telah menyediakan saya peluang untuk berada di sebuah lingkungan yang akademis, yang mencari kebenaran dan memperjuangkan perkembangan sains dan pengetahuan.

Terutama sekali, saya ingin mengajukan keluhan sedikit mengenai orang yang membacakan pernyataan politik ini (Lee Bollinger, Presiden Columbia University) terhadap saya. Di Iran, tradisi menuntut bahwa ketika kami meminta seseorang datang sebagai pembicara, maka kami akan benar-benar menghormati para mahasiswa dan para professor kami dengan membiarkan mereka untuk membuat penilaian mereka sendiri, dan kami tidak berpikir bahwa penilaian itu diperlukan sebelum pidato sang pembicara diberikan—(tepuk tangan).

Menurut saya, teks yang dibacakan oleh tuan di sini (Lee Bollinger), lebih daripada sekedar berbicara kepada saya, merupakan suatu penghujatan terhadap informasi dan pengetahuan para pendengar di sini, yang hadir di sini. Dalam sebuah lingkungan universitas, kita harus membiarkan orang mengatakan pikiran mereka, mengizinkan setiap orang untuk berbicara sehingga kebenarannya pada akhirnya terungkapkan secara keseluruhan. Nyaris saja ia (Lee Bollinger) mengambil lebih banyak waktu yang sebenarnya dialokasikan untuk saya berbicara. Dan hal itu tidak menjadi persoalan bagi saya. Kami hanya akan meninggalkan hal itu sebagai tambahan bersama klaim-klaim penghormatan “kebebasan berbicara” yang diberikan kepada kami di negeri ini.

Dalam banyak bagian dari pidatonya, terdapat banyak hinaan dan klaim yang salah, sayang sekali. Tentu saja, saya berpikir bahwa ia telah dipengaruhi oleh pers, media, dan arus politik mainsteram, yang menentang butir dasar dari kebutuhan akan perdamaian dan stabilitas di dunia sekitar kita.

Meskipun begitu, saya mestinya tidak mulai dengan dipengaruhi oleh perlakuan yang tidak ramah ini.

Saya akan berkata kepada Anda apa yang harus saya katakan, dan kemudian pertanyaan-pertanyaan yang ia munculkan akan dengan senang saya sediakan jawabannya. Tetapi terhadap salah satu isu yang ia munculkan, saya hampir pasti akan butuh untuk mengelaborasi secara lebih lanjut sehingga kita untuk diri kita sendiri dapat melihat bagaimana berbagai hal itu pada dasarnya bekerja.

Adalah keputusan saya di dalam forum dan pertemuan yang berharga ini untuk berbicara dengan Anda tentang pentingnya pengetahuan, informasi, dan pendidikan. Akademisi dan ilmuwan adalah obor-obor yang bersinar, yang menumpahkan cahaya untuk menghilangkan kegelapan dan kerancuan di sekitar kita dalam memandu umat manusia ke luar dari ketidaktahuan dan kebingungan. Kunci kepada pemahaman realitas di sekitar kita ada di dalam tangan-tangan peneliti-peneliti, mereka yang berupaya mengungkap area-area tersembunyi, sains-sains yang tak dikenal. Jendela realitas yang mereka dapat buka baru tercapai hanya jika melalui usaha-usaha para ilmuwan dan orang-orang yang terpelajar di dunia ini. Dengan setiap usaha, ada sebuah jendela yang dibuka dan satu kenyataan pun ditemukan.

Kapan pun kualitas moral yang tinggi dari ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dijaga dan martabat para ilmuwan serta peneliti dihormati, maka manusia telah mengambil langkah-langkah besar ke arah perkembangan material dan rohani mereka. Sebaliknya, kapan pun orang-orang terpelajar dan pengetahuan telah diabaikan, maka manusia sudah terdampar di dalam kegelapan kebodohan dan kealpaan. Jika bukan karena naluri manusia, yang cenderung ke arah penemuan berkesinambungan dari kebenaran, maka manusia pasti akan selalu terdampar di dalam ketidaktahuan dan sama sekali tidak pasti dalam menemukan bagaimana cara memperbaiki hidup yang dianugerahkan kepadanya. Sifat alamiah manusia, pada kenyataannya, merupakan anugerah Allah kepada kita semua. Yang Mahakuasa membimbing manusia ke dalam dunia ini dan menganugerahinya kebijaksanaan dan pengetahuan, yang menjadikannya mengetahui Tuhannya.

Dalam kisah Adam, sebuah percakapan terjadi antara Tuhan dengan para malaikat-Nya. Para malaikat menyebut manusia sebagai makhluk yang tidak kenal ampun dan ambisius dan memprotes penciptaannya, tetapi Tuhan menjawab, “Aku mempunyai pengetahuan dari apa yang kalian tidak berpengetahuan tentangnya.” Lalu Tuhan mengatakan kepada Adam perihal kebenaran, dan atas perintah Tuhan, Adam mengungkapkannya kepada para malaikat.

Para malaikat tidak bisa memahami kebenaran seperti yang diungkapkan manusia.

Yang Mahakuasa berkata kepada mereka, “Tidakkah Aku berkata bahwa Aku menyadari apa yang tersembunyi di langit dan di bumi?” Dengan cara ini, para malaikat bersujud di hadapan Adam.

Dalam misi semua nabi Ilahi, khotbah pertama berasal dari kata-kata Allah, dan kata-kata itu, “kesalehan”, “iman”, dan “kebijaksanaan” telah disebarkan kepada semua umat manusia. Demi memandu nabi suci Musa as, Allah berfirman, “Dan ia diajar kebijaksanaan, buku ilahi… Ia adalah nabi yang dipilih demi anak-anak Israil, dan saya benar-benar membawa suatu tanda dari Yang Mahakuasa.”

Kata-kata pertama yang diwahyukan kepada Nabi suci Islam menyeru kepada Nabi saw untuk membaca, “Bacalah, bacalah atas nama Tuhanmu, yang menciptakan.” Yang Mahakuasa kembali berfirman, “yang mengajar manusia dengan pena. ” “Allah mengajar manusia apa yang mereka tidak berpengetahuan tentangnya.”

Anda lihat di dalam ayat-ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Islam yang kudus, kata-kata membaca, mengajar, dan pena disebutkan. Ayat-ayat ini sesungguhnya memperkenalkan Allah sebagai guru umat manusia, guru yang mengajar manusia apa yang mereka tidak ketahui. Dan bagian lain dari—(kata tidak dapat didengar)—mengenai misi Nabi kudus Islam—disebutkan bahwa Yang Mahakuasa menetapkan seseorang dari antara rakyat biasa sebagai nabi mereka agar, “Bacakan bagi mereka ayat-ayat ilahi.” “Dan memurnikan mereka dari pencemaran-pencemaran etis dan ideologis.” “Untuk mengajar mereka kitab dan kebijaksanaan ilahi.”

Sahabat-sahabat yang terhormat, semua kata dan pesan dari para nabi ilahi, sejak Ibrahim dan Ishak dan Yakub hingga Daud dan Sulaiman dan Musa hingga Yesus dan Muhammad, telah menyelamatkan manusia dari ketidaktahuan, kealpaan, takhayul-takhayul, perilaku yang tak pantas, dan cara pikir yang merusak dengan penghormatan kepada pengetahuan dan jalan menuju pengetahuan, cahaya, dan etika yang benar.

Dalam kultur kami, kata ilmu sudah digambarkan sebagai “iluminasi”. Sebenarnya, “ilmu” bermakna “terang” dan ilmu sejati adalah ilmu yang menolong manusia dari ketidaktahuan untuk kemanfaatan diri. Dalam sebuah definisi ilmu yang diterima secara luas, dinyatakan bahwa ia adalah cahaya yang disimpan ke dalam hati mereka yang telah terpilih oleh Allah; oleh karena itu, menurut definisi ini, ilmu adalah anugerah ilahi, dan hati adalah tempat di mana ia berada.

Jika kita menerima bahwa “ilmu” bermakna “iluminasi”, maka lingkupnya akan melebihi sains eksperimental, dan ia meliputi realitas yang disingkapkan dan yang tersembunyi. Salah satu kejahatan utama yang dihantamkan terhadap ilmu adalah dengan membatasinya hingga pada sains-sains eksperimental dan eksakta; kejahatan ini terjadi meskipun ia terus meluas melebihi lingkup ini.

Realitas-realitas dunia tidak dibatasi pada kenyataan-kenyataan fisik. Dan, materi itu hanyalah bayangan dari realitas-realitas yang lebih tinggi, dan ciptaan fisik hanyalah salah satu kisah tentang penciptaan dunia. Manusia hanyalah satu contoh dari ciptaan yang merupakan kombinasi dari material dan roh.

Dan poin penting lain adalah hubungan ilmu dengan kesucian jiwa, hidup, perilaku, dan etika manusia. Dalam ajaran nabi ilahi, satu realitas akan selalu terikat dengan ilmu. Realitas kemurnian jiwa dan perilaku baik, pengetahuan dan kebijaksanaan adalah realitas murni dan jelas. Ilmu adalah cahaya. Ia merupakan pengungkapan kenyataan, dan hanya ilmuwan dan peneliti yang murni, bebas dari ideologi-ideologi yang salah, takhyul-takhyul, egoisme, dan jebakan-jebakan material yang dapat mengungkapkan realitas. (Bersambung ke Bagian Kedua)