Jazz

Perempuan Membaca 3

“Fly me to the moon….let me play among the stars….” Sepotong bait jazz yang dinyanyikan Nat King Cole itu, yang kini telah usai ketika aku mulai menulis, mengingatkanku pada sebuah film drama romantis yang kutonton di Taman Ismail Marzuki Jakarta dulu, yang sebenarnya terbilang cengeng, dan tentu saja terlampau melankolik.

Namun kesenduan lagu itu, semakin melengkapi lembab cuaca malam ini. Meski sesungguhnya aku merasa ragu juga, apakah aku tergolong sebagai seorang lelaki romantis, seperti tokoh-tokoh pengelana dan ksatria-ksatria dari masa silam yang dinyanyikan sejumlah balada.

Segalanya terasa lepas, juga malam yang untuk sementara tak menghadirkan bintang-bintang, jalan yang seakan hanya saling berbisik dengan hembusan angin yang kadang hilang. Kupandangi selampu neon di setiang jalan di depan rumah, yang karena tampak dungu dan patuh dalam cuaca yang lembab, menggodaku untuk membayangkannya sebagai kiasan waktu.

Pada saat-saat seperti itu, ingin rasanya kutulis sebuah sajak untuk seorang perempuan yang bisa membuatku jatuh cinta layaknya seorang bocah remaja yang masih duduk di sekolah menengah pertama. Namun pikiran itu segera kutepis, sebab pada kenyataannya, aku sedang tak punya nada untuk menuliskannya.

Sementara itu, jarum-jarum jam terus berputar, dan hembusan angin sesekali mempermainkan kertas-kertas yang memang terhampar, sisa-sisa sejumlah sketsa sajak yang gagal. Kuputar lagi sebuah lagu dari handphone-ku, kali ini Le vie en rose yang dinyanyikan Louis Armstrong. Romantis, tapi tak terlalu melankolik.

Juga, haruslah kuakui, bahwa aku sudah terbiasa berjuang melawan rasa bosan, sebuah keadaan yang konon bila telah mencapai titik akut, dapat menyebabkan depresi dan kegilaan, yang awalnya tak disadari oleh seseorang yang merasakan atau mengalaminya, seperti Friedrich Nietzsche, si filsuf Jerman itu.

Tentulah aku tak ingin mengalami nasib serupa itu, dan karenanya untuk sesekali aku juga menyempatkan untuk bersikap riang dengan jalan menonton film-film komedi dan film-film drama romantis, yang dengan apa yang kulakukan itu, setidak-tidaknya aku juga bisa melawan dingin dan lembab yang mencipta sendu, seperti selampu neon yang tampak patuh dan agak dungu itu.

Namun meskipun begitu, selampu neon di depan jalan rumah itu tak ubahnya sepotong gambar atau sebuah figur kesabaran, atau lebih mirip situasi yang telah menjebak situasi seseorang, hingga tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.

Hak cipta © pada Sulaiman Djaya (2005)

Sundakala

Inspiring Photography

Syahdan, sebagaimana telah diceritakan banyak orang di Tatar Banten dan Kerajaan Sunda yang mulanya beribukota di Banten Girang dan kemudian pindah ke Pakuan, sejak Sanghyang sampai ribuan tahun ke belakang, waktu itu ada seorang Sanghyang yang bernama Sanghyang Sakti yang mempunyai seorang anak laki-laki. Namun rupa anak ini sangat jelek alias buruk sekali, badannya hitam dan perutnya buncit. Oleh ayahnya anak ini diturukan ke bumi, disuruh bertapa dan mengelilingi dunia. Demikianlah si anak buncit itu turun ke bumi.

Kala itu ia sampai pusat kota Cipaitan, yaitu desa Cihandam yang telah lama ditinggalkan, dan ia terus bertapa di Gunung Kujang. Saat ia sedang bertapa, ia pun ditemukan oleh Daleum Sangkan sedang telentang bertapa di atas sebuah batu yang besar. Persis ketika itulah, oleh Daleum Sangkan ia dibawa pulang dan diambil sebagai anak, serta diurus dengan baik sekali dan disayangi sampai besar kira-kira teguh samping (berumur delapan atau sepuluh tahun, menurut perhitungan sekarang).

Apakah yang menjadi menjadi kesukaan anak buncit ini? Tak lain memasang bubu setiap hari. Dan lama-kelamaan istri Daleum Sangkan membenci anak buncit ini karena parasnya yang jelek hitam, perutnya makin lama makin buncit dan matanya besar membelalak. Hanya saja Nyi Sangkan tidak berani mengusirnya karena takut terhadap Daleum Sangkan.

Pada suatu hari, waktu itu, Daleum Sangkan mengajak si anak buncit untuk memasang bubu di sungai, tetapi tidak diperkenankan memasangnya di tempat yang baik dan dalam, ia harus memasangnya di tempat yang jelek dan diangkat saja, agar tidak mendapat ikannya. Ketika itu Nyi Sangkan berkata: “Kalau tempat yang baik adalah untukku memasang bubu, jangan oleh kamu”. Lalu mereka masing-masing menempatkan bubunya.

Diceritakan, si anak buncit itu memasang bubunya di tempat-tempat yang telah ditunjukkan oleh Nyi Sangkan, yaitu di tempat-tempat yang jelek dengan arus airnya yang deras. Sedangkan Nyi Sangkan menempatkannya di tempat-tempat yang baik dengan airnya yang tenang.

Waktu keesokan harinya, saat mereka sama-sama melihat, bubunya Nyi Sangkan tidak berisi ikan sama sekali, meski dipasang di tempat yang baik. Sementara ketika bubunya si buncit diangkat, ternyata banyak ikan di dalamnya, bahkan ada seekor ikan yang besar yang disebut ikan lubang, lalu ikannya dibawalah pulang.

Dengan kejadian itu, Nyi Sangkan bertambah benci terhadap anak buncit itu. Ikan yang besar tadi, tidaklah diberikan kepada Nyi Sangkan oleh anak itu, bahkan ia pelihara dan disimpan dalam tong yang terbuat dari batang pohon kawung. Nyi Sangkan menjadi sangat marah, lalu memaki-maki, tetapi si anak buncit ini tidaklah menghiraukannya.

Tak lama kemudian, Nyi Sangkan mengajak menanam talas di humanya. Tetapi seperti biasa saja, yaitu Nyi Sangkan menanam talasnya di tempat yang tanahnya bagus, sedangkan si buncit disuruh menanamnya ditempat yang jelek yang tanahnya merah bercampur pasir. Lalu mereka menanam talas. Nyi Sangkan berkata kepada anak buncit: “Wah, kamu menanam talas juga tak akan ada umbinya, sebab tanahnya jelek, berwarna merah dan bercampur pasir pula, walau pun nantinya ada juga berumbi, paling besar juga hanya sebesar kelentitku. Kalau tanamanku sudah pasti bagusnya dan banyak umbinya, sebab tanahnya bagus.” Anak buncit tidak menjawab apa-apa, hanya dalam hatinya ia berkata, barangkali saja nanti umbinya banyak.

Setelah lama, di saat talas mereka sudah masanya berumbi, mereka pun menengok dan mencabut talas mereka masing-masing. Saat itulah, ternyata, tanaman talas Nyi Sangkan tidak ada umbinya. Sementara ketika si anak buncit mencabut talasnya, umbinya besar sekali, meski hanya sebuah, di mana besar umbinya itu sebesar tempayan tempat beras.

Si anak buncit itu pun berbicara kepada Nyi Sangkan sambil memperlihatkan talasnya dengan diayun-ayunkan: “Ini lihatlah, Uwa, tanaman talasku ada umbinya sampai sebesar burut Uwa.” Setelah itu, dengan mendadak terbukti terkena oleh sapaan, alat kelamin Nyi Sangkan menjadi burut sebesar talas si anak buncit, sama dengan tempayan beras. Nyi Sangkan menjadi kalang kabut, hatinya makin marah kepada si anak buncit itu, yang karena ia terkena sapaannya si anak buncit itu menjadi burut alat kelaminnya, hingga ia susah berjalan, hampir-hampir tak dapat pulang ke rumah.

Sejak saat itu, Nyi Sangkan terus menangis, dan tentu saja, makin lama makin membenci anak buncit itu. Karena Nyi Sangkan merasa malu, maka ia pun bermaksud untuk membunuh si buncit, hanya saja, lagi-lagi, ia merasa takut oleh suaminya, Daleum Sangkan.

Pada suatu waktu, di sebuah hari yang mungkin biasa, ketika si buncit sedang bepergian, ketika itulah ikan lubang kesayangan si buncit dicuri oleh Nyi Sangkan dari tong kawung, dibawa ke rumah Nyi Sangkan dan dimasak layaknya ikan, sementara kepala ikan tersebut tidak dimasaknya, melainkan dimasukkan ke dalam mangkuk dan disimpan di rak piring dengan ditutup oleh periuk. Tidak lama kemudian si buncit datang sambil membawa makanan ikan, terus ia mencari ikannya untuk diberi makan. Ketika dilihat ternyata ikannya sudah tidak ada lagi, si buncit terus menanyakan, dan berkata: “Ua, di mana gerangan ikan kesayanganku? Jika ia tidak ada di tempatnya, sudah tentu dicuri olehmu.”

Namun, ketika si buncit tengah berbicara itu, ayam jantan tiba-tiba berkokok: “Kiplip-kiplip (suara tiruan tepukan sayap, sebelum ayam berkokok) Kongkorongok (suara kokok ayam) // Kepala lubang disembunyikan, // ditutup oleh periuk, // ditempatkan di dalam mangkuk, // disimpan di rak piring, // cepat-cepat, // segera harus dicari, // jangan percaya kepada Nyi Sangkan, // sebab dia buruk hati, // dan ia bermaksud membunuhmu.”

Setelah mendengar kokok ayam yang demikian bunyinya tersebut, maka si buncit segera mencarinya ke rak piring. Dan ketika ditengoknya, ternyata kepala lubang itu memang ada seperti dikatakan si ayam jalu yang cerdas itu, persis ditutup oleh periuk. Sejak itu si buncit tidak bicara lagi, dan ia terus melarikan diri karena marahnya dan benci yang teramat sangat kepada Nyi Sangkan. Ia pun langsung pergi ke Negara Pakuan Barat dan bertempat tinggal di sana sebagai pertapa di pegunungannya, di sekitar Gunung Halimun dan Gunung Salak.

Kanekes (Baduy), Banten by Andre Arment

Dari Temu Sastra MPU 8 di Banten

MPU 8 Banten oleh Kidung Purnama

Pada 15-18 November 2013 lalu Temu Sastra Mitra Praja Utama Ke-8 digelar di Kota Serang dan di kawasan masyarakat Kanekes (Baduy) Banten. Sebagai provinsi muda, Banten kembali dipercaya sebagai tuan rumah perhelatan sastra dan kebudayaan Mitra Praja Utama (MPU), setelah MPU sebelumnya diadakan di Jogjakarta. Ini merupakan kali keduanya Banten kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan perhelatan Kesusastraan Mitra Praja Utama setelah sebelumnya menjadi tuan rumah di penyelenggaraan MPU perdana. Pada penyelenggaran MPU kali ini, tema umum yang dipilih adalah “Mistisisme dalam Kesusastraan”.

Tentu saja, dipilihnya tema tersebut berdasarkan beberapa pertimbangan, yang meski tak terhindar dari subjektivitas, namun tidak terlepas dari upaya untuk mengangkat wacana dan khasanah yang paling dekat dengan “kultur” Banten sebagai tuan rumah. Martin van Bruinessen, misalnya, menyebut Banten secara kultural dan mistis dengan julukan “surga-nya khazanah dan praktek magis di Nusantara”. Yang dimaksud Bruinessen dengan pernyataannya tersebut adalah budaya-budaya masyarakat Banten semisal Silat dan Debus atau praktik-praktik kesaktian, kedigdayaan, dan “ngehikmah” ala orang Banten yang memang sudah populer di Nusantara.

Apa yang dikemukakan Bruinessen tersebut hanya sekeping contoh kecil tentang khazanah mistis dan magis di Banten, meski tentu saja Bruinessen belum menyebut keseluruhan secara utuh kultur mistis dan magis masyarakat Banten yang mewujud dalam ragam khazanah dan living culture, semisal kesastraan magis yang hidup di Banten Selatan, seperti tradisi pantun dan mantra magis Sunda-Baduy yang telah banyak dikaji itu, namun masih menyimpan potensi untuk terus dikaji ulang. Dan juga Seni Dodod Banten Selatan di Pandeglang yang merupakan seni ritual pantun Sunda Banten yang telah berakulturasi dengan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam prakteknya.

Dalam dua contoh seni tradisi tersebut, yang tentu saja menarik dan tak bisa diabaikan, adalah adanya unsur kesastraan puitik yang dalam hal ini pantun dan mantra yang dibacakan dalam ritual dan upacara adat dan tradisional tersebut.

Hal lain yang menarik adalah, meski secara linguistis dan geografis Banten terbagi menjadi Banten Utara yang didominasi penggunaan bahasa Jawa Banten dalam keseharian dan Banten Selatan yang didominasi penggunaan Bahasa Sunda, namun memiliki kekhasan umum yang sama dalam kecendrungan kulturalnya, baik dari sisi budaya, adat, dan sastra. Khusus di Banten Utara, misalnya, kita bisa mengkaji khazanah penulisan dan kesusastraan yang menggunakan Bahasa Jawa Banten, semisal kitab-kitab kuning yang diajarkan di pesantren-pesantren dan sastra lokal pantun dolanan dan sindiran yang menggunakan Bahasa Jawa Banten yang juga akrab dengan khazanah mistis dan magis dalam konteks lanskap umum kultur Banten.

Kekayaan itu akan semakin bertambah bila kita mengkajinya secara historis. Di sini kita dapat mencontohkan warisan-warisan penulisan dan kesastraan Banten masa silam di era Kesultanan Banten dan di era Banten pra-Islam.

Begitulah “Mistisisme dalam Kesusastraan” dipilih sebagai tema penyelenggaraan MPU VIII di Banten, yang selain ingin menggali bahan-bahan dan pengkajian baru khazanah sastra yang belum maksimal dieksplorasi, juga dimaksudkan sebagai upaya untuk menimba dan menggali kearifan lokal atau local wisdom yang diharapkan akan memberi wawasan, pintu, dan khazanah baru bagi kreativitas dalam dunia sastra dan penulisan, dan kebudayaan pada umumnya. Dan seperti kita tahu, kearifan lokal ini menyebar di seluruh negeri, etnik, dan provinsi di seluruh Indonesia. Hingga, dapat dikatakan, pemilihan tema ini sebenarnya lebih merupakan “covering” semata dalam rangka menjadi semacam “cermin” dan “contoh” yang ditawarkan dan disajikan Banten sebagai tuan rumah.

Berkat kerja semua pihak, termasuk para peserta anggota MPU itu sendiri, perhelatan ini berhasil dilaksanakan dengan sukses dan baik. Semoga menjadi cermin bagi komitmen dan kepedulian kita dalam rangka melakukan pembangunan intelektual dan kekuatan kultural bangsa kita.

Sulaiman Djaya (Salah seorang Kurator)

Gagrak Gadis Pingitan

Gadis PingitanDi Perpusda Banten 17 Maret 2014

Oleh Sulaiman Djaya*

Berupaya menarasikan lingkungan dan geografi sekaligus menghadirkan lingkungan dan pengalaman penulisnya menjadi sejumlah cerita pendek, itulah simpulan pertama yang muncul ketika saya membaca buku “Gadis Pingitan”. Lingkungan dan geografi tersebut tentu saja pada akhirnya menyangkut budaya dan kepercayaan serta tingkah-polah manusia-manusianya, entah sebagai individu atau sebagai masyarakat yang memiliki dan mempercayai lanskap kepercayaan dan mitologi mereka. Nuansa etnisitas, atau katakanlah lokalitas, begitu dominan dalam cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” karya Aksan Taqwin Embe yang kita bicarakan ini. Bahkan dapat dikatakan, seluruh cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” berkutat pada soal-soal tradisi, ritus, dan mitologi yang sifatnya etnik dan lokal tersebut.

Selanjutnya, yang katakanlah ini sebagai simpulan kedua ketika saya membacanya, etnisitas dan lokalitas yang dinarasikan cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” karya Aksan Taqwin Embe didominasi oleh kultur dan mitologi masyarakat pesisir dan nelayan, meski selebihnya terkait dengan mitologi dan kultur masyarakat pedalaman dan pertanian, dari Banten hingga Jawa Timur, dari Tuban hingga Pulau Tunda. Dari soal jimat, kawalat, jampi-jampi, hingga mantra. Seakan-akan cerpen-cerpen dalam buku “Gadis Pingitan” hendak menghadirkan kepada khalayak pembacanya sejumlah kultur hibrid yang hidup dan dipraktekkan dalam ragam etnik dan masyarakat dengan kearifan “lanskap magis” dan “pesona mistis”, yang anehnya kadangkala diceritakan dan dinarasikan secara ironis, sesekali menyelipkan satir.

Cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” adalah contoh sejumlah cerpen yang bercerita dan menceritakan etnisitas dan lokalitas dari sudut kultur dan kepercayaan yang sifatnya hibrid, ketika unsur-unsur Islam, sebagai salah-satu contoh, beradaptasi dan bercampur dalam corak kepercayaan dan keagamaan masyarakat Jawa, yang bahkan tetap “Jawa” ketika menerima dan menganut agama Islam. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya praktik-praktik kepercayaan dan keagamaan, entah yang sifatnya budaya atau yang religius, tidak sepenuhnya “Islam” sekaligus tidak sepenuhnya “lokal”, yang ada adalah hibriditas itu sendiri.

Meski dengan kadar yang berbeda, tentu saja, tema-tema yang diangkat dan dinarasikan cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” mengingatkan saya pada sejumlah cerpen-nya Putu Wijaya yang menjadikan khazanah sosial-politik dan budaya masyarakat dan bangsa kita sendiri sebagai materi-materi cerpen-cerpennya. Bercerita tentang kekonyolan, ironi, kejenakaan, ambiguitas dan lain sebagainya yang kerap terjadi dan melanda masyarakat kita, yang anehnya itu semua juga berkaitan dengan lanskap mitologi, budaya, kepercayaan, serta khazanah dan wawasan budaya dan keagamaan masyarakat kita.

Persoalannya kemudian adalah sejauh mana penulisnya dapat menunjukkan “kelihaian” dan “kecerdikan” untuk mengolah bahan-bahan dan materi-materi yang sifatnya etnis dan lokal tersebut? Katakanlah kemahirannya dalam mengkomparasi khazanah-khazanah etnisitas dan lokalitas tersebut dengan situasi mutakhir kondisi sosial-politik masyarakat dan bangsa kita. Semisal sejauh mana cerpen-cerpen yang menarasikan khazanah etnisitas dan lokalitas tersebut sanggup menggambarkan “pertarungan” dan “ketegangan” antara “warisan mitologis” dan “kepercayaan yang sifatnya etnis” dengan serbuan massif lanskap budaya pasar ala kapitalisme mutakhir. Sebab, sebagaimana kita maphumi bersama, daya desak lanskap dan budaya kapitalisme mutakhir tersebut bahkan sanggup menjangkau “sudut-sudut sunyi” pedesaan dan pedalaman, yang sebagaimana kita tahu juga, “tidak lagi murni dan sunyi”. Barangkali khalayak pembaca akan bisa “membaca” sendiri ketika membaca “Gadis Pingitan”: adakah ia masih “pingitan” dan “perawan” ataukah sudah “ternoda”?

Selanjutnya, yang menurut saya juga patut direnungkan, seberapa cerdik dan lihai-kah penulisnya ketika mengusung dan menarasikan “yang mitis” dan “yang magis” dalam kultur, praktik, dan tingkah-polah individu dan masyarakat yang sifatnya etnis dan lokal sebagaimana yang dinarasikan “Gadis Pingitan” tersebut tidak semata-mata “hanya memberitakan” sejumlah laporan antropologis atau etnologis perihal kehidupan, tingkah-polah (baik yang sifatnya individual atau sosial) dan budaya mitis serta magis yang dijadikan sebagai tema dan bahan-bahan material penceritaan cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku antologi “Gadis Pingitan”? Yang dengannya sesuatu yang semula hanya sebagai hal yang sifatnya antropologis dan etnologis, atau bahkan yang semula hanya bersifat sosiologis, telah dialihkan ke dalam sebuah prosa, ke media naratif fiksi, yang dalam hal ini cerita pendek. Dan sekali lagi, saya serahkan kepada khalayak pembaca untuk “membaca”-nya.

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan retoris saya yang sifatnya axiomatik tersebut, cerpen-cerpen Aksan Taqwin Embe dalam “Gadis Pingitan” menarasikan sejumlah “tokoh perempuan” yang terjebak, mengalami dilema, dan tertimpa nasib dan pilihan ironis justru karena pakem dan lanskap yang sifatnya etnis dan lokal tersebut. Barangkali, penulisnya hendak melontarkan “kritik halus” dan “gugatan samar” atas sejumlah tradisi dan kepercayaan yang sifatnya etnis dan lokal yang telah saya katakan. Contohnya adalah bahwa lanskap dan kepercayaan sejumlah geografi dan masyarakat yang diceritakan sejumlah cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” mencerminkan dominasi laki-laki atas perempuan justru karena lanskap dan kepercayaan yang sifatnya etnis dan lokal itu juga begitu patriarkhis secara politis dan kultural.

Seterusnya, bila saya menyebutkan sejumlah “kelebihan” prosa yang mengusung dan mengangkat tema-tema dan materi yang sifatnya etnis dan lokal ini dengan prosa-prosa yang mengusung lokalitas, wabilkhusus dalam konteks Banten yang beberapa tahun belakangan terbit dalam sejumlah antologi cerpen bersama, adalah bahwa cerpen-cerpen Aksan Taqwin Embe yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” tak sekedar menyebut nama-nama tempat, semisal nama-nama jalan dan gedung di kota-kota dan tempat-tempat tertentu di Banten, misalnya, sebagai “penciri” lokalitas yang hanya akan menjadikan prosa yang mengusung dan menarasikan etnisitas dan lokalitas tak lebih sebuah “salinan peta” atau “penunjuk peta”, melainkan mengangkat, menarasikan, singkatnya memfiksikan lanskap, mitologi, ritus, khazanah kepercayaan dan aspek-aspek keagamaan yang menunjukkan keunikan dan kekhasan masyarakat tertentu atas “masyarakat” lainnya. Atau minimal mengangkat pergulatan seorang tokoh atau si individu berkait dengan wawasan, budaya, kepercayaan, dan khazanah keagamaan dalam suatu masyarakat tertentu.

Sementara, terlepas dari isu lokalitas dan etnisitas itu, cerpen-cerpen Aksan Taqwin Embe yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” telah menunjukkan kepada kita proses kreatif penulisnya sendiri, katakanlah dalam hal ini sebagai contohnya menyangkut periodisasi dan geografi pengalamannya, antara “periode” ketika ia masih di di Jawa, khususnya Jawa Timur, yang dalam hal ini penulisnya menulis sejumlah cerpen yang mengangkat etnisitas dan lokalitas Jawa Timur, semisal Tuban, dan periodisasi ketika ia di Banten di mana penulisnya menghasilkan beberapa cerpen yang berlatar-belakang dan mengusung lokalitas Banten, semisal Pulau Tunda dan Pandeglang.

Demikianlah pembacaan saya yang saya tuliskan dalam esai singkat ini. Dan tentu saja, sebagai pembaca saya hanya salah-satu atau salah-seorang pembaca, yang kebetulan saja diberi kesempatan untuk menyatakan dan memaparkan pembacaannya. Dalam hal ini, saya maphum bahwa saya tak mungkin memonopoli “pembacaan” atau memonopoli “tafsir” atas “Gadis Pingitan”, terlepas apakah ia masih perawan atau telah ternoda. Sebagai penutup, saya ingin berbagi sebuah ilustrasi. “Suatu ketika, di tamannya yang asri, Agustinus muda mendengar sebuah suara yang berkata: Ambil dan bacalah!” Dengan saran yang sama kepada pembaca sebagaimana sebuah suara yang berkata kepada Agustinus muda yang tengah merenung di taman-nya yang asri itu, saya akhiri tulisan singkat ini. Sumber: Harian Banten Raya 22 Maret 2014

*Penggemar sambal dan kopi hitam. Selain dipresentasikan pada diskusi bedah buku Gadis Pingitan di Perpusda Banten pada 17 Maret 2014, tulisan ini juga dipublikasi harian Banten Raya, 22 Maret 2014.