Arsip Kategori: Tahun 2010

Esai Tentang Esai

Perang Antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji di Tahun 1682 Gambar Dibuat Tahun 1684

(Gambar: Perang Saudara di Banten Tahun 1682)

Disampaikan di Acara “Nyenyore Ramadhan Ala Rumah Dunia” 25 Agustus 2010 dengan Tema “Seni Menulis Esai”

Seorang esais bisa menulis sebuah esai lebih dimungkinkan dari sebuah keakraban dan keintiman dengan apa saja yang tiba-tiba menarik perhatian dan perasaannya dalam keseharian –sejauh pengalaman dan penangkapannya sendiri sebagai subjek atau pun pelaku hidup dan keseharian. Begitu pun ketika saya membaca sebuah esai, kadangkala sebuah esai yang saya baca membuat saya merasa terhibur dan membangkitkan minat saya untuk terus membaca esai yang sedang saya baca hingga tuntas –dan kadang mengajak saya untuk merenung, meragukan, dan memancing pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya saya anggap lumrah dan lazim sebelum esai yang saya baca menginformasikan sesuatu yang unik dan menyegarkan wawasan saya sendiri sebagai pembacanya.

Begitulah, ketika saya membaca sebuah esai –adakalanya saya merasa seperti tengah menyimak seseorang yang bercerita tentang pengalaman-pengalamannya yang terasa intim dan akrab, seolah-olah saya tengah berbincang dengan pacar atau kawan dekat saya sendiri ketika saya membaca sebuah esai yang ditulis seorang esais.

Karena itu menurut saya –bukanlah sesuatu yang tabu bila seorang esais mengemukakan atau pun menceritakan apa yang ditulisnya dengan pendekatan dan cara pandang yang amat pribadi dan subjektif. Bahkan ketika saya membaca sebuah esai yang ditulis oleh seorang esais, sedikit banyaknya saya akan mengenali dan menyelami karakter dan kepribadian penulisnya –jiwa dan perasaan-perasaan si esais itu sendiri melalui esai yang ditulisnya.

Seorang esais yang memiliki “sense of humor” yang segar biasanya akan menulis esai-esai yang nakal dan penuh canda untuk mengungkapkan pendapat-pendapat dan perasaan-perasaannya dalam sebuah esai –contohnya adalah ketika saya membaca esei-eseinya Mahbub Djunaidi, KH Abdurahman Wahid, dan Ahmad Sobary. Sementara itu, seorang esais yang memiliki kepribadian murung akan cenderung menulis esai-esai yang mengajak kita untuk merenung dan memancing kita untuk selalu bertanya –contohnya adalah esai-esai yang ditulis Soedjatmoko dan sebagian besar para pemikir dan filsuf.

Seorang esais akan sah mengungkapkan rasa suka atau tidak suka dalam sebuah esainya tentang apa yang dilihat, dipikirkan, dan dirasakannya. Seperti ketika saya membaca esai-esainya Michel de Montaigne yang tanpa rasa canggung sedikit pun mengungkapkan sejumlah kekesalan dan ketidaksetujuannya terhadap pandangan dan pemikiran yang menurutnya konvensional dan tak lagi memiliki relevansi dan manfaat untuk hidup keseharian. Montaigne pun tak canggung-canggung mengkritik kebekuan pemikiran atau pun tulisan-tulisan para filsuf yang dibacanya.

Dari tulisan-tulisan Montaigne-lah pengertian esai diambil dan diterima sebagai sebuah bentuk dan gaya tulisan –yang berbeda dengan artikel ilmiah yang mesti rigid, rigorous, dan steril dari perasaan-perasaan pribadi seorang penulis. Esai-esai Montaigne yang saya baca itu tak jarang pula menggunakan sindiran dan canda untuk mengkritik atau pun menolak pemahaman atau pun pemikiran dari tulisan-tulisan para penulis yang dibacanya sebelum dia sendiri menuliskan pendapat-pendapat dan komentar-komentarnya dalam esai-esai yang ia tulis.

Demikian juga –seorang esais bisa menulis sebuah persoalan yang mulanya dianggap remeh dengan sangat menarik dan menyadarkan saya tentang keberadaan sesuatu itu sendiri setelah sebelumnya saya menganggap persoalan yang dibicarakan dalam esainya seorang esais bukan sesuatu yang layak ditulis. Kemampuan tersebut dimungkinkan karena kesanggupan seorang esais itu sendiri dalam menyampaikannya dalam kata-kata dan tulisan dengan menarik dan merayu pembaca untuk membaca esai yang ditulisnya.

Misalnya, seorang esais bisa menulis tentang kehidupan dan keseharian seorang tukang becak dari sudut pandang yang bisa membuat kita bersimpati dan dapat merasakan kehidupan dan keseharian si tukang becak yang ditulis oleh seorang esais. Atau ketika saya membaca memoar seorang esais yang saya baca –sebuah otobiografi yang sanggup mengajak saya untuk merenungi diri saya sendiri ketika membacanya.

Dengan demikian dapatlah dikatakan –tentu saja ini pun masih dalam pengalaman dan pembelajaran saya sebagai seorang pembaca dan penulis, sebuah esei adalah sebuah tulisan dan bahasa yang memiliki jiwa dan kepribadian. Sebuah esai acapkali bersahaja –tetapi dengan kesahajaan dan keluguan itu saya sebagai pembacanya merasakan kejujuran apa saja yang dikatakan atau pun yang diceritakan oleh esai yang ditulis seorang esais yang saya baca.

Juga di lain waktu dan kesempatan yang berbeda –saya membaca sebuah esai yang acapkali nakal, segar, dan penuh canda, yang dengan kenakalan dan kesegarannya tersebut saya sebagai pembacanya merasa terhibur ketika membacanya sembari mendapatkan informasi dan pengetahuan dari sudut pandang yang unik, bahkan kadangkala menggelitik pemikiran dan perasaan saya yang membacanya.

Seperti itulah menurut pengalaman pembacaan saya –sebuah esai menjadi menarik dibaca dan merayu saya untuk terus membacanya karena suara-suara yang menggema dari kata-kata dan bahasa yang berbicara di dalamnya mampu menyentuh tidak hanya pemikiran atau pun kognisi saya, tetapi juga perasaan dan kepekaan bathin saya.

Bila tulisan ilmiah mesti steril dan objektif hingga terasa kering dan membosankan ketika saya membacanya, maka sebuah esai acapkali ditulis justru demi mengafirmasi dan merayakan subjektivitas seorang esais itu sendiri sejauh pengalaman, pendapat, pandangan, dan perasaan-perasaan yang ingin dikomunikasikan atau yang ingin diceritakan melalui medium tulisan demi membagi pengalaman-pengalaman, pandangan-pandangan, dan perasaan-perasaan yang ditulis seorang esais kepada saya sebagai sebentuk interaksi yang terasa hidup dan akrab ketika saya membaca esai-esai yang ditulis seorang esais.

Atas pengalaman dan pembacaan demikianlah –lagi-lagi saya ingin menegaskan pemahaman saya sendiri bahwa seorang esais akan menulis karena keakraban dan keintimannya dengan subjek-subjek yang dipikirkan, dijumpai, dan dialaminya, yang seringkali tulisan-tulisan yang ditulisnya lahir karena spontanitas alias bukan dari rencana yang ketat. Seorang esais akan menulis apa saja yang menarik minat dan perhatiannya tanpa mesti merasa terbebani dengan batas-batas disiplin dan kajian –yang dengan keakraban dan keintimannya itu, pikiran dan perasaan seorang esais menjadi sedemikian terlibat dengan subjek-subjek yang dialami dan dihidupinya. “Sebuah esei tidak dituntut menjadi netral atau pun bebas nilai dari imajinasi dan sisi-sisi pribadi seorang penulisnya”.

Sulaiman Djaya

Iklan

Fungsi Sosial-Politik Literasi

Bandar Banten pada 26 November Tahun 1598

(Gambar: Banten di Tahun 1598)

Disampaikan pada acara Diskusi Bedah Buku Karya Professor Ilzamudin Ma’mur di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 17 April 2010

Bagi saya pribadi –buku yang ditulis oleh Professor Ilzamuddin yang akan kita bahas dalam diskusi di bedah buku kali ini merupakan sejumlah esei dan artikel prasaran-wawasan yang sangat baik dan layak mendapatkan sambutan, terutama bila melihat konsen isu dan isinya yang mencoba memberikan guide alias petunjuk bagi kerja-kerja intelektualisme dan kepenulisan –yang wajarlah diakui dalam konteks Banten sendiri mesti terus digalakkan dengan lebih gigih bahkan lebih massif, bila mempertimbangkan kenyataan tradisi dan institusi kebudayaan dan lembaga-lembaga intelektual lainnya yang belum terlalu banyak atau pun belum sepenuhnya memadai di Banten ini.

Buku yang berjudul “Membangun Budaya Literasi, Meretas Komunikasi Global” yang saya maksudkan itu cukup baik membincang pentingnya dunia intelektualisme dan kepenulisan –sembari meneropong dan melihatnya dalam keterkaitannya dengan aspek tradisi dan institusi, yang mengingatkan saya pada kerja yang telah dilakukan Rabindranath Tagore yang gigih hingga akhir hayatnya memperjuangkan tradisi keaksaraan, sampai-sampai ia mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Santiniketan meski ketika itu ia dalam kesulitan financial –dan juga mengingatkan saya pada Amartya Sen, yang seperti halnya Rabindranath Tagore, juga memandang dunia pendidikan dan keaksaraan sebagai fondasi utama kekuatan dan kemajuan sebuah masyarakat atau pun bangsa, sebagaimana yang ia sampaikan dalam ceramahnya di Southeast Asian Studies di Singapura di pada tahun 1999 [Sen, Demokrasi Bisa Memberantas Kemiskinan, Mizan 2000].

Dua figur yang saya sebutkan itu sama-sama melihat kerja intelektualisme dan kepenulisan atau keaksaraan –yang tentu saja termasuk di dalamnya adalah kerja-kerja penerjemahan- akan sangat terkait dengan upaya pembangunan tradisi dan institusi itu sendiri sebagai penjaga dan penyelenggaranya seperti yang juga pernah dilakukan oleh Sutan Takdir Alisyahbana sebagaimana yang dibahas secara khusus oleh Professor Ilzamudin –di mana dalam konteks Professor Ilzamudin dan Sutan Takdir Alisyahbana sendiri, institusi yang dimaksud tersebut salah satunya adalah universitas atau pun institusi pendidikan yang sederajat dan yang di bawahnya.

Bila saya tambahkan, salah-satu wujud penciptaan tradisi dan institusi tersebut adalah juga keberlangsungan komunitas yang konsen dalam bidang kepenulisan dan ihktiar intelektualisme –dalam pengertian institusi yang terakhir inilah saya menempatkan diri sebagai salah seorang penyumbang pada pembahasannya dalam diskusi ini.

Kita semua sudah sangat maphum –seperti yang dipaparkan dengan sangat baik oleh Professor Ilzamuddin, tradisi membaca dan kerja kepenulisan –juga penerjemahan tentu saja, akan menyumbang pada peningkatan kapasitas kemampuan masyarakat dalam memajukan diri mereka, terutama dalam kontestasi global saat ini, yang mengandaikan kecakapan dan kekayaan pengetahuan untuk menyikapi dan menghadapinya.

Kita pun sama-sama tahu bahwa buku dan kata –seperti yang dikiaskan dengan jernih oleh Vaclav Havel melalui eseinya yang berjudul Ein Wort uber das Wort, bahkan bisa merubah dan membalikkan sejarah ummat manusia, semisal kata demokrasi yang telah meruntuhkan kekuasaan politik otoriter yang dirasa lebih banyak memberikan ketakbebasan dan kurang menyumbang produktivitas hidup manusia yang meniscayakan kebebasan dan terbukanya ruang-ruang publik yang tidak lagi berada dalam tekanan dan kontrol kekuasaan politik yang berlebihan dan menindas masyarakat [Havel, Menata Negeri dari Kehancuran, YOI 1995].

Karena itulah kita sebenarnya sadar juga bahwa persoalan membangun literasi bisa dibilang kompleks, ia memang mengandaikan hadirnya institusi-institusi pendukung yang akan menjaga kelangsungan kerja-kerja kepenulisan dan keaksaraan, termasuk menciptakan pasar dan menyelaraskan kepentingan antara intelektualisme dan sumbangannya bagi pencerahan dan peningkatan kualitas hidup yang merupakan keinginan dan aspirasi banyak orang.

Sementara itu –di luar persoalan membangun institusi dan tradisi, persoalan kepenulisan seringkali lahir dari individu-individu yang tekun dan memang dengan sungguh-sungguh mencintai kepenulisan dan kerja-kerja intelektual, sehingga seberapa pun banyak buku-buku panduan dan wawasan menulis, buku-buku hanya menjadi teori yang tidak produktif bila setiap pembacanya tidak langsung memulai dan melakukannya dengan langsung mempraktekkan kerja-kerja kepenulisan dan keaksaraan yang dimaksud. Juga sebaliknya, buku-buku teori dan panduan menjadi berguna bagi mereka-mereka yang membutuhkan bimbingan dan wawasan tentang apa dan bagaimana menulis yang baik dan layak mendapatkan sambutan publik alias pasar.

Demikianlah –dalam pemahaman saya sebagai seorang yang bisa dibilang cukup lama hidup dan melakukan aktivitasnya dalam lingkungan dan kebiasaan komunitas, peran yang dapat dilakukan institusi adalah pada tingkatan menyediakan sarana, membimbing, memotivasi, dan menjaga keberlangsungan kreativitas individual itu sendiri, yang pada tingkatan kerja kepenulisan kesastraan sebagai contohnya, praktek kepenulisan pada akhirnya dilakukan oleh individu-individu masing-masing, yang dalam kerja-kerja akademis dapat dilakukan secara group atau kelompok riset yang terdiri dari beberapa orang untuk mengerjakan sebuah karya ilmiah, dan lain sebagainya.

Tapi rupanya –buku yang ditulis Professor Ilzamudin, selain ingin memberikan panduan dan wawasan kepenulisan dan keaksaraan (yang di dalamnya termasuk kerja dan metode penerjemahan), juga ingin menyarankan agar kerja-kerja tersebut dilakukan sembari terus mengupayakan dan membangun tradisi dan institusi yang establish alias prasarana dan sarana yang mapan dan memadai demi menyokong dan memungkinkan kerja-kerja tersebut dapat berhasil dengan lebih baik dan lebih besar manfaatnya bagi banyak orang.

Di sini, saya ingat Restorasi Meiji 1868-1911 yang memprioritaskan anggaran dan prioritas pendidikan dan keaksaraan hingga mencapai angka 43% [Sen, Demokrasi Bisa Memberantas Kemiskinan, Mizan 2000]. Itu karena para penentu kebijakan dan para founding fathers di Jepang ketika itu sepenuhnya sadar bahwa sebelum menggalakan industrialisasi dan pembangunan ekonomi lainnya, yang pertama-tama harus dilakukan adalah mempersiapkan kemampuan, skill, dan pengetahuan manusianya supaya siap bekerja dalam bidang-bidang kerja modern hingga dapat memberdayakan bangsa sendiri secara maksimal.

Dengan menggalakkan masyarakat membaca, Jepang sepenuhnya sadar bahwa etos yang dapat disumbangkan kerja keaksaraan salah-satunya adalah menanamkan spirit kerja keras dan mencintai ilmu pengetahuan dalam –dan pada masyarakat yang akan memperkaya kecakapan dan kapasitas kemampuan mereka, yang pada akhirnya dapat membantu peningkatan kehidupan mereka, terlebih dalam konteks persaingan global saat ini, sebuah era yang lazim disebut sebagai era kapitalisme lanjut alias Late Capitalism yang mengandaikan kemampuan adaptasi setiap orang akan sangat tergantung atau ditentukan oleh kecakapan diri dan kekayaan pengetahuan dan informasi yang dimiliki masing-masing setiap orang –yang dalam konteks ini, saya teringat filsafat sosialnya Hegel yang mengatakan bahwa pilihan-pilihan dan kebebasan masyarakat sesungguhnya terbentuk dalam negosiasi-negosiasi yang simultan dengan kekuatan eksternal.

Suatu pilihan yang diambil oleh seseorang, contohnya, terkait dengan akses dan resource sejauh yang didapat dan diketahuinya –dan konsekuensinya, kemerdekaan justru diukur oleh derajat kemampuan seseorang itu sendiri dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan eskternal [Borradori, Filsafat di Jaman Teror, Penerbit Kompas 2005].

Dengan demikian –bila dikontekskan dengan Banten, buku yang ditulis Professor Ilzam yang kita bahas hari ini salah-satunya merupakan bisikan untuk membangun tradisi literasi dan kerja penerjemahan dengan jalan menguatkan institusi yang akan mewadahi dan menyokongnya, sebab jika kita setia dengan pendekatan institusional, kerja-kerja intelektual dan kebudayaan secara umum mengandaikan ketersediaan sarana dan prasarana alias mengandaikan ketersediaan infrastruktur yang akan mampu membiayainya dan yang akan juga menciptakan pasar-nya.

Juga –karena kita telah sama-sama tahu, perguruan-perguruan tinggi di Banten belum memiliki alias belum menyelenggarakan jurusan-jurusan penerjemahan dan masih sedikit yang memiliki jurusan-jurusan Bahasa Ingris. Jika prasaran Professor Ilzam tentang metode dan wawasan yang dituangkan dalam bukunya tersebut ingin terwujud, maka tentulah perguruan tinggi-perguruan tinggi di Banten sudah sewajarnya memiliki jurusan-jurusan penerjemahan dan jurusan-jurusan Bahasa Ingris yang dapat mencetak para sarjana Bahasa Ingris dan para penerjemah yang mumpuni hingga setidak-tidaknya hasil terjemahan mereka dapat diterbitkan atau dipublikasikan oleh penerbit atau pun oleh media-media cetak lainnya, sebagai contohnya.

Bahkan pada tingkatan yang lebih jauh, sudah saatnya perguruan tinggi di Banten, sebutlah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, segera memiliki Fakultas Ilmu Budaya, yang dengan itu akan mampu menyediakan sarjana-sarjana yang bisa diandalkan dalam dunia keaksaraan dan kebudayaan pada umumnya.

Kemudian, sedikit mencoba berbicara dunia penerjemahan, terutama soal penerjemahan buku-buku kesusasteraan, saya masih merasakan kesenjangan kultural dan kapital, ketika kita selama ini menerjemahkan banyak karya-karya dari negara-negara lain, sementara karya-karya kita masih sangat sedikit yang diterjemahkan oleh mereka. Memang benar bahwa dengan menerjemahkan banyak literature dan buku-buku dari bahasa asing, setidak-tidaknya kita mendapatkan banyak khasanah dan wawasan kultural yang akan berguna bagi kita, tetapi bukan berarti kita juga tidak mesti berusaha sungguh-sungguh untuk memperkenalkan khasanah kultural kita sendiri kepada mereka.

Rasanya kita pun sama-sama tahu, selama sejarah kepenulisan kebudayaan dan kesusasteraan kita, tak satu pun penulis kita yang pernah dianugerahi penghargaan Nobel, padahal menurut saya satu dua tiga penulis kita sebenarnya sudah sangat layak untuk menerima anugerah tersebut. Konon salah-satu faktornya adalah karena masih minim-nya penerjemahan buku-buku kita atau khasanah kultural-kesusasteraan bangsa kita ke bahasa asing, atau katakanlah ke bahasa Ingris, sehingga banyak buku-buku yang dihasilkan penulis-penulis kita tidak diketahui alias tidak dibaca oleh publik dunia.

Atas dasar pandangan tersebutlah, saya tak hanya memahami kerja-kerja penerjemahan sebagai kerja-kerja penerjemahan khasanah kultural dan buku-buku asing ke bahasa kita, tetapi juga sebaliknya, adalah juga kerja-kerja penerjemahan khasanah kultural dan buku-buku yang dihasilkan para penulis kita ke bahasa asing. Artinya, sudah merupakan kewajaran ketika kita nantinya memiliki para penerjemah yang handal, mereka tak hanya menerjemahkan karya-karya para penulis asing ke dalam bahasa kita, tetapi mereka juga mestilah menerjemahkan karya-karya dari negeri sendiri ke bahasa asing, agar kita dapat mengkomunikasikan karya-karya kepenulisan kita kepada dunia sembari kita saling belajar dari khasanah asing dengan menerjemahkan karya-karya mereka.

Sulaiman Djaya

Estetika Fiksi Menurut Milan Kundera

Krakatoa Banten 1883

(Gambar: Letusan Krakatau Banten 1883)

Disampaikan di Acara Workshop Menulis di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 10 September 2010

“Raison d’etre sebuah novel” –demikian tulis Milan Kundera, “adalah untuk menemukan apa yang hanya dapat ditemukan oleh novel itu sendiri”. Bila kata novel di atas kita ganti saja dengan kata “fiksi” dalam artian prosa yang juga mencakup cerita pendek, maka semangat dan spiritualitas sebuah fiksi adalah untuk menemukan apa yang hanya dapat ditemukan oleh fiksi itu sendiri. Bersama Don Quixote –nya Miguel De Cervantes, lanjut Kundera, kita diajak menyelami dunia imaji petualangan –sebagai contohnya. Di samping untuk membangun dunia keunikannya sendiri, ikhtiar estetik sebuah fiksi adalah pencarian dan pergulatan yang membedakan dirinya dari keumuman –bukan sebuah jebakan moralisme sebagaimana yang menjamur dalam karya-karya yang menyebut dirinya Fiksi Islami, yang acapkali terjebak pada sloganisme dan verbalisme yang dangkal dan tidak menggugah.

Seringkali sebuah fiksi –bila kita meminjam kembali jalan pikirnya Milan Kundera, merupakan sebuah dunia imajinasi yang mampu meledak seperti mimpi yang tak terduga, atau dapat menghancurkan dan mementahkan kebenaran imperatif yang umum dan mutlak, yang selama ini seakan tak terbantahkan. Ikhtiar estetik sebuah fiksi dalam pandangan Milan Kundera adalah sebuah upaya terus-menerus untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan.

Dan bila fiksi tersebut ingin setia pada standard-standard realisme psikologis, maka seorang penulis mestilah mampu memberikan informasi yang maksimum tentang sebuah karakter, tentang penampilan fisiknya, caranya bertingkahlaku dan berbicara. Kedua, seorang penulis mestilah membiarkan pembaca mengetahui sebuah karakter di masa lalu, dan ketiga, seorang penulis mestilah tidak menghadirkan dirinya dalam sebuah karya yang ditulisnya agar tidak mengganggu pembaca yang ingin mendapatkan seluruh imajinasi dan menghadirkan karya yang ditulisnya ke dunia nyata. Tetapi menurut Milan Kundera karakter bukanlah stimulasi dari keberadaan kehidupan, ia lebih merupakan eksistensi keberadaan yang imajinatif, sebuah eksperimental diri.

Setiap penulis yang berhasil, bila saya lagi-lagi sepakat dengan pendapatnya Milan Kundera, adalah para penulis yang mampu membangun dunia dan keunikan karya mereka tanpa harus terjebak pada sikap moral yang verbal dan menggurui pembacanya, tetapi lebih mengajak pembacanya untuk menyelidiki dan memasuki dunia-dunia dan karakter-karakter sebuah karya fiksi. Sebagai contoh-contohnya, tutur Kundera, bersama Miguel De Cervantes, estetika novel menyelidiki dunia petualangan. Bersama Richardson kita diajak untuk menyingkap rahasia kehidupan perasaan. Menemukan keberakaran manusia dalam sejarah bersama Gustave Flaubert. Membuka kedok-kedok kekacauan irasional dan keputusan-keputusan yang dipilih manusia bersama Anna Karenina-nya Leo Tolstoy. Menyelidiki waktu dan masa lalu yang sukar dipahami bersama Marcel Proust, kekinian yang membingungkan bersama James Joyce. Dan bersama Thomas Mann kita mempelajari mitos dari masa lalu mempengaruhi perilaku kita saat ini.

Meski Milan Kundera berbicara dalam kadar dan konteks kesejarahan Eropa, kita perlu menyimak, setidak-tidaknya menurut saya, pembacaannya yang cermat dan cerdas atas karya-karya yang ditulis sebelum dia. Pada konteks ini ia mengemukakan beberapa daya tarik yang dapat diberikan oleh karya-karya yang berhasil.

Pertama, daya tarik permainan, yang ia contohkan dengan Tristram Shandy-nya Laurence Sterne dan Jacques Le Fataliste-nya Denis Diderot, yang menurutnya merupakan karya-karya yang berhasil memberikan puncak kelucuan, ringan, dan mengusik pembaca. Kedua, daya tarik mimpi yang puncak keberhasilannya ada dalam karya-karya Franz Kafka, di mana sebuah novel adalah sebuah dunia imajinasi yang bisa meledak seperti mimpi-mimpi tak terduga dan menghancurkan kebenaran imperatif yang sebelumnya seakan tak tergugat dan diterima begitu saja. Selanjutnya adalah daya tarik pikiran, yang oleh Kundera dicontohkan dengan karya-karya Musil dan Broch, di mana sebuah novel mampu menjelaskan eksistensi manusia dalam artiannya yang rasional dan irasional, naratif sekaligus kontemplatif.

Dalam wawancaranya dengan Christian Salmon seputar apa yang dapat ditawarkan sebuah karya fiksi novel dan prosa pada umumnya, Kundera menuturkan bahwa sebuah novel tidak untuk mempelajari realitas, melainkan eksistensi, tetapi eksistensi itu sendiri menurutnya bukanlah tentang apa yang terjadi, ia lebih merupakan dunia kemungkinan-kemungkinan manusia. Dalam karya Franz Kafka, misalnya, dunia-dunia tersebut tidak menyerupai realitas yang dikenal. Dunia dalam karya-karya Franz Kafka lebih merupakan dunia-dunia kemungkinan yang ekstrem. Begitu pun karakter-karakter dan tokoh-tokohnya adalah individu-individu yang tersedot oleh situasi-situasi yang menjeratnya, orang-orang yang terjebak dalam impersonalitas yang tak mereka pahami, tokoh-tokoh yang terperangkap dan terjebak dalam dunia, yang meskipun mereka tidak menginginkannya, tapi pada saat yang sama mereka juga tak mampu melepaskan diri darinya.

Apa yang bisa ditimba dari pengalaman pembacaan dan proses kreatif Milan Kundera tak lain bahwa menulis sebagai kerja estetik dan intelektual adalah ikthiar pencarian untuk menemukan dan mengeksplorasi benua-benua baru yang hanya dimungkinkan oleh semangat satiris, ironis, parodis, dan komedis kesusasteraan, yang seringkali mengejek klaim-klaim kebenaran mutlak.

Di tangan Milan Kundera sendiri kesusasteraan prosa dilahirkan dari spirit humor dan tugas seorang penulis menurutnya tak lain untuk mengganggu para pembacanya agar melihat dunia lebih sebagai medan kemungkinan dan pertanyaan, bukannya dogmatika yang diterima tanpa penyelidikan dan pemeriksaan. Semangat kesusasteraan dalam pandangan Milan Kundera dimaksudkan untuk melawan kaum agelaste alias orang-orang yang tak bisa tertawa, mereka yang tak mampu menerima kemungkinan, menolak pencarian, dan mengharamkan pertanyaan. Yang kedua, untuk melawan mereka yang menerima ide-ide dan gagasan tanpa berpikir. Dan yang ketiga adalah untuk melawan kitsch, yaitu mereka yang menyalin kebodohan setelah menerima ide dan gagasan tanpa berpikir ke dalam bahasa keindahan dan perasaan.

Cervantes dan Flaubert, contohnya, adalah dua penulis yang telah menemukan kekonyolan dan kebodohan sebagai dimensi tak terlupakan dari eksistensi manusia. Kebodohan, yang dalam bahasa Milan Kundera, juga mengiringi perkembangan kemajuan. Dalam Madame Bovary-nya Gustave Flaubert, kebodohan itu mengiringi Emma yang malang melintasi hari-hari di atas ranjang cinta dan kematiannya, di atas dua agelaste yang mematikan, Homais dan Bournissien, yang tak henti-henti menjula kebodohan mereka seperti penjual obat. Bersama Rabelais, demikian ungkap Kundera ketika menerima anugerah Jerusalem, estetika penulisan lahir dari semangat humor dan satirisasi diri sang manusia.

Sulaiman Djaya