Arsip Kategori: Khazanah

Sastra dan Teater

oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair.

Bermula dari narasi dan kata-kata, lalu ke panggung pertunjukkan, sastra dan teater konsen pada isu-isu dan refleksi tentang manusia dan kemanusiaan, kehidupan dan sejarahnya….merenungi sembari mementaskannya, menyibak yang sublim sembari mendadarkan yang banalnya…..terkadang memikirkannya dengan jalan menertawakannya. Manusia yang konon ciptaan terbaik Tuhan, penuh dengan dusta dan teka-tekinya, kepolosan dan kebiadabannya…..

“Kami adalah airmata
Yang tak kunjung terteteskan….
Kami adalah lagu-lagu
Engkau seharusnya telah menyenandungkan kami
Di kedalaman hatimu…..
Kami adalah pekerjaan-pekerjaan
Engkau telah meninggalkan tak terselesaikan
Tercekik sudah oleh kebingungan…”

(Henrik Ibsen dalam Eleven Plays of Henrik Ibsen, New York, The Modern Library, Random House, Inc. Act V).

Esai singkat ini, sebagaimana beberapa tulisan saya yang lainnya, yang pada mulanya berupa catatan pengalaman membaca, ditulis ulang demi kebutuhan saat ini, agar selaras dengan praktik berbahasa dan penulisan sekarang. Juga, berbicara tentang pengalaman membaca buku-buku sastra dan filsafat, sebagaimana juga tulisan-tulisan diaris saya yang lain, yang menceritakan ihwal pembacaan atas teks dan dunia buku, semacam ziarah intelektual. Dan kali ini catatan diaris saya berkenaan dengan sastra dalam hubungannya dengan sisi lain dari dunia teater dan seni pertunjukkan, masih tentang seni dan sastra. Baiklah saya mulai saja.

Seni pada mulanya adalah ‘mimikri’, meniru dan menyalin alam dan kehidupan. Termasuk diantara cabang seni itu adalah Seni Lakon, yang kini lazim disebut ‘Seni Pertunjukkan’, dan seni pertunjukkan ini banyak ragamnya pula, mulai dari drama hingga deklamasi puisi. Lalu apa hubungannya Sastra dengan Lakon?

Begini. Kehidupan manusia adalah sebuah kisah dan riwayat, lalu para penyair dan penulis (yang acapkali pada jaman dulu kala adalah para dramawan juga seperti Aeschylus, Sophocles, Aristophanes dan lain-lain) menyalinnya menjadi puisi dan drama, lalu dipertontonkan ke hadapan khalayak secara langsung dalam sebuah pentas atau panggung.

Naskah-naskah drama karya mereka itu disebut juga sebagai karya-karya sastra, seperti karya-karya berjudul Oedipus, Antigone, Lysistrata, dan masih banyak lagi yang lainnya, dan juga bahwa baik puisi, cerpen, novel, dan naskah drama ditulis oleh para penulisnya dalam ruang bernama dunia dan kehidupan dengan latar kultural dan sejarahnya. Artinya, sebuah karya tidak lahir dari langit dan ahistoris.

Dalam kadar yang demikian, sebuah karya seni atau pun karya sastra sudah bersifat sosial, bahkan politis, karena ia lahir dari ruang yang tak imun atau tak lepas dari peristiwa historis, kultural, dan politis, dan karenanya pula, sebuah karya acapkali merupakan cerminan dokumentasi sosial, selain tentu saja, juga dokumentasi kebudayaan.

Sewaktu saya masih di Ciputat dulu, menjalani kehidupan di kampus bernama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (waktu itu masih IAIN), dan aktif di sebuah lembaga kajian di luar kampus, Forum Mahasiswa Ciputat, diantara buku-buku yang saya baca adalah buku-buku naskah drama karya dramawan klasik (kuno) Yunani, drama-drama modern Eropa dan Amerika, semisal Eugene Ionesco dan Henrik Ibsen, selain membaca buku-buku Studi Islam dan Filsafat.

Bersamaan dengan saya membaca buku-buku drama karya para dramawan Yunani kuno itu, kemudian saya pun mulai tertarik untuk menonton teater, biasanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Saat itu teater-teater pimpinan Rendra dan Putu Wijaya masih boleh dibilang cukup sering dipentaskan, yang kalau tak salah, tema-temanya tak jauh-jauh amat dari satir dan kritik sosial, dengan metode dan cara mereka masing-masing.

Nah, ketika saya membaca buku-buku drama dan menonton teater itulah, saya tak ubahnya sedang membaca serta menyaksikan kisah dan riwayat manusia. Bahwa pusat interest-nya adalah manusia, sejarah dan kehidupannya, yang mengajarkan saya untuk peka, bersimpati, dan atau berempati pada penderitaan, kemalangan, atau kisah dan riwayat orang lain yang adalah juga manusia seperti halnya saya.

Maka disebutlah hal demikian sebagai katalisator, di mana salah-satu fungsi seni, jika meminjam filsafatnya Aristoteles, adalah fungsi katartif, semacam cermin pinjaman bahwa kita dapat merenungkan dan merefleksikan kehidupan kita sendiri dengan berkaca dan menyaksikan pentas-pentas teater tersebut, selain dengan membaca buku-buku drama seperti yang telah saya sebutkan, yang sekaligus mengajak kita untuk merenungkan dan merefleksikan diri kita sebagai manusia dalam kosmos atau dunia.

Bahwa tema, materi gagasan, dan isu yang diangkat dan lalu dipentaskan oleh pertunjukkan teater adalah juga hal-hal yang sama diangkat dan dituliskan dalam sastra, yaitu tadi: manusia dan kehidupannya, sejarahnya serta kesehariannya. Karenanya dikatakan bahwa karya drama atau pun karya sastra adalah sesuatu yang lahir dari pergulatan manusianya dalam mengarungi bahtera eksistensi-nya, baik sebagai individu atau sebagai masyarakat dan bangsa.

Maka tak salah, jika kemudian dikatakan, bahwa sebuah karya seni atau pun karya sastra, adalah sebuah refleksi tentang kehidupan manusia itu sendiri sebagai pencipta dan penghasil karya seni atau karya sastra. Karena kita hidup di dalam dunia, bila meminjam filsafatnya Kierkegaard dan Heidegger, bukan di luar dunia. Dan dunia (kehidupan) kita tak lepas dari perkembangan serta gejolak kultural dan sosial.

Dalam sejarah seni (dan kebudayaan) dunia (juga Indonesia), para dramawan hebat sudah dengan sendirinya adalah para penulis hebat, tak jarang mereka adalah para penyair, sastrawan, penulis, dan bahkan filsuf, semisal Shakespeare, George Bernard Shaw, Albert Camus, Eugene Ionesco, Henrik Ibsen, Rendra, Putu Wijaya, dan masih banyak yang lainnya sebagaimana para dramawan Yunani kuno itu adalah juga para penyair dan bahkan filsuf, sehingga drama-drama mereka begitu kaya renungan dan merefleksikan takdir dan sejarah manusia yang kemudian mereka hadirkan di panggung pertunjukkan.

Dalam kadar yang demikian, ketika mengulas kecerdasan dan kejeniusan para dramawan Yunani yang adalah juga para filsuf kehidupan, dalam buku pertamanya yang ia beri judul The Birth of Tragedy itu, seperti tentang Sophocles, Friedrich Nietzsche menyatakan: “Sophocles melihat karakter paling menderita di atas panggung Yunani, Oedipus si nestapa yang tak bahagia, sebagai manusia mulia yang ditakdirkan untuk menanggung kesalahan dan kesengsaraan tanpa memedulikan kebijaksanaannya….”

Dengan pernyataannya itu, Nietzsche sang filsuf dan penyair Jerman itu, sesungguhnya hendak mengemukakan bahwa para dramawan (yang acapkali para penyair dan filsuf itu) adalah para penyingkap sisi ironis dari takdir dan sejarah manusia, berbicara tentang bagaimana kehidupan manusia bertaburan dengan sebaran perspektif yang tidak hitam-putih. Segaris dengan wawasan ini, drama Yunani itu merupakan upaya reflektif yang dilakukan para penyair dan dramawan untuk menghadirkan sisi-sisi ironis manusia dan kehidupannya di atas panggung pertunjukkan. Sejumlah karya dan pementasan yang kemudian sarat renungan dan mewedarkan hikmah bagi para penyimaknya.

Komentar Nietzsche yang ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul The Birth of Tragedy itu, lahir setelah ia membaca Oedipus di Kolonus, yang berkisah tentang laki-laki lanjut usia yang menderita oleh banyaknya nestara dan kesengsaraan, mengarungi bahtera kemalangan hidup. Nietzsche sepertinya ingin menyatakan bahwa karya drama yang bagus biasanya dihasilkan oleh seorang dramawan yang sanggup memahami relung-relung eksistensi manusia dan kehidupan, karena seni mestilah memiliki kapasitas reflektif.

Lalu ada juga buku-buku drama yang saya baca yang kocak dan menggelitik, seperti karya-karyanya Moliere, seperti yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berjudul Akal Bulus Scapin itu. Bercerita tentang bagaimana manusia juga punya watak dan kebiasaan hipokrit dan menipu. Moliere tentu saja melancarkan kritik pada realitas sosial di jamannya, seperti tentang hipokritas kaum bangsawan dan para petinggi agama, termasuk juga lembaga-lembaga keagamaan, sehingga beberapa drama Moliere sempat ‘dicekal’ atau dilarang untuk dipentaskan oleh otoritas setempat.

Lagi-lagi, seperti halnya juga karya-karya para dramawan Yunani antik, drama-drama Moliere yang saya baca itu pun masih manusia sebagai center of view dan lokus utama interest-nya, dan konon karya yang baik adalah yang menggugah dan mencerahkan para pembaca dan penyimaknya, meski tentu juga tidaklah sama antara membaca buku drama dengan menonton pentas teater secara langsung. Bisa jadi naskah drama yang sebenarnya biasa saja menjadi bagus ketika dipentaskan oleh para seniman yang ahli dan mahir, dan sebaliknya, sebuah karya drama yang bagus malah tidak jadi bagus ketika dipentaskan oleh para seniman yang tidak ahli dan tidak cerdas mewujudkan di atas panggung.

Namun, baik membaca buku drama dan menonton pentas secara langsung, adalah sama-sama mengapresiasi, ‘membaca’, dan menghayati sebuah karya, yang akan melahirkan tafsir dan persepsi yang tak sama pula bagi masing-masing penonton, tergantung kadar pencerapan dan kemampuan intelek mereka. Pengalaman membaca buku-buku drama itu, bagi saya, tak jauh berbeda ketika saya membaca buku-buku novel. Bedanya, novel lebih dominan redaksi naratifnya, sedangkan drama didominasi oleh narasi dialog antar tokoh, yang meski di lembar-lembar kertas, masih tetap tak ubahnya menyaksikan pentas ketika membaca buku-buku drama.

Beberapa karya drama bahkan ditulis dengan bentuk puitik, atau minimal menyisipkan puisi di dalamnya, seperti Faust-nya Johann Wolfgang von Goethe, Peer Gynt-nya Henrik Ibsen, dan hal serupa tentu saja, sebelumnya telah berlaku pada drama-drama karya para dramawan Yunani antik, seperti yang telah disebutkan. Dalam Peer Gynt-nya Henrik Ibsen contohnya:

Kami adalah pikiran
Engkau seharusnya telah memikirkan kami,
Kaki-kaki kecil, untuk kehidupan.
Engkau seharusnya telah membawa kami
Kami seharusnya telah bangkit
Bersama suara agung
Namun di sini bagai bola-bola benang
Kami terikat bumi

Yang berbicara tentang kehampaan manusia modern yang disibukkan oleh rutinitas untuk mencari uang dan rutinitas kerja harian, memenuhi egoisme sekular dalam masyarakat industri dan perkotaan. Sebuah ironi ketika kerja, misalnya, malah menciptakan keterasingan, sebab kemudian manusia pun tak ubahnya mesin semata pula di jaman dan kondisi masyarakat birokratis dan industri.

Haruslah jujur saya akui, kebanyakan buku-buku drama yang saya baca adalah buku-buku drama karya para dramawan Barat yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, misalnya oleh Rendra, Asrul Sani, dan yang lainnya. Karena memang pada kenyataannya, buku-buku drama kebanyakan ditulis oleh para dramawan Barat, dan dapat dikatakan ‘hampir tidak ada’ buku-buku drama yang ditulis oleh para dramawan Indonesia, meski sejumlah pentas teater pimpinan beberapa dramawan Indonesia mementaskan naskah karya mereka sendiri.

Ketika itu saya paling sering membaca buku-buku drama terjemahan karya para dramawan Yunani antik, sebelum kemudian membaca pula drama-drama modern, seperti yang ditulis oleh William Shakespeare, Albert Camus, Henrik Ibsen, Samuel Becket, dan yang lainnya.

Sebagai sebuah karya sastra, drama bagi saya, tak ubahnya prosa (sesekali bercampur puisi) yang dituliskan dan dikisahkan melalui upaya memaksimalkan dialog antar-tokoh, tempatnya diterangkan secara jelas dan detil, unsur metaforisnya diwedarkan melalui ‘perayaan ujaran’ dan melalui tema yang diangkat dalam drama tersebut, semisal tragedi Yunani yang merupakan upaya reflektif untuk menyelami realitas eksistensial kehidupan manusia sebagai makhluk yang bergelut dengan budaya dan sejarahnya, dalam terpaan sejarah dan teka-teki takdir yang kadang tak selalu bisa dipahami dan diterangkan.

Sehingga dapat dikatakan, dalam drama, tentu menurut subjektivitas saya, metafornya adalah manusia itu sendiri: tokoh-tokoh yang menghidupkan kisah dan dialognya, sebuah riwayat ‘yang sudah dipentaskan’ melalui tulisan, sebelum akhirnya dipentaskan pula di panggung pertunjukkan. Ketika dipentaskan itu, drama telah direbut dari bentuk tulisan ke dalam laku gerak dan tubuh yang konkrit, yang bukan lagi dibaca, tetapi disaksikan secara langsung, sehingga penonton menjadi terlibat dengan jalannya pementasan drama itu sendiri. Maka wajar jika dikatakan bahwa drama adalah karya sastra untuk dipentaskan, yang kemudian dapat diadaptasi ulang sesuai konteks dan kebutuhan zamannya.

Hal itu pun dilakukan juga, misalnya oleh Rendra, sebagaimana juga oleh yang lainnya. Dan kini, barangkali mengikuti kebutuhan dan perkembangan jaman pula, banyak pentas teater yang hanya menggunakan skript saja, hanya mengeksplorasi gerak saja, menggali tradisi lokal, selain ada juga yang absurd, sehingga ‘naskah drama’ bukanlah acuan utama bagi pentas teater, dan lalu sudah merupakan kewajaran, konon, bila banyak para pegiat teater ‘tidak mesti’ menulis naskah drama-nya sendiri, dan sudah cukup mementaskan naskah drama yang telah ada, atau tak perlu naskah sama sekali.

Bila demikian, tak perlu diherankan, jika jagat sastra kita pun hanya mengenal dua genre saja: puisi dan prosa, tanpa drama, karena memang, kalau pun ada, yang menulis drama, bisa dihitung dengan jari, dibanding yang menulis puisi dan prosa.

Namun, setidak-tidaknya, pengalaman saya membaca buku-buku drama, telah ‘memperkenalkan’ saya kepada dunia teks ‘yang lain’ di luar bacaan studi Islam dan filsafat, ketika saya pun membaca novel dan puisi, di mana ketika membaca buku-buku drama tersebut, saya seakan diajak untuk merenungi dan menjumpai kehidupan manusia itu sendiri dalam arungan bahtera eksistensi hidup dan jalan-jalan berliku sejarahnya. Karena konon sastra adalah ‘wajah lain sains dan ilmu pengetahuan’ yang digali dan dikomunikasikan sembari menampilkan keindahan demi menyentuh jiwa manusia yang paling dalam.

Iklan