Arsip Kategori: Diary

Diariku

Sulaiman Djaya

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2010-2011)

Berdasarkan riwayat keluarga, aku lahir menjelang fajar. Suatu ketika, saat aku sendirian menjelang siang, aku merangkak sampai di tengah jalan di depan rumah. Padahal di tepi jalan itu ada saluran irigasi yang cukup lebar dan dalam, yang barangkali aku dapat saja tercebur jika tak diketahui oleh orang kampung yang lewat dan segera mengangkatku dan menggendongku –demikian menurut cerita beberapa orang di kampung kepadaku ketika aku telah dewasa.

Aku terlahir dari keluarga miskin dan rumahku berada sendirian di tepi jalan dan sungai, tidak seperti orang-orang kampung lainnya. Mayoritas keluarga dari pihak ibuku tidak merestui pernikahan orang tua kami, dan karenanya aku selalu dikucilkan oleh mereka dalam hal-hal urusan keluarga kakekku dari pihak ibuku.

Meskipun demikian, orang-orang di kampungku, terutama kaum perempuan dan ibu-ibu, sangat menghormati ibuku dan aku. Kakek dari pihak ibuku mirip orang Arab dan berhidung mancung, dan tipikal fisik kakek dari pihak ibuku itu menurun (diwariskan) kepada anak-anak pamanku (adik ibuku) yang semuanya berhidung mancung –hingga sepupu-sepupuku (anak-anak paman, adik ibuku) mirip orang-orang Iran dan Arab.

Dan memang, semua orang di kampungku mengatakan bahwa pamanku (adik ibuku) adalah lelaki paling ganteng di kampungku, hingga banyak perempuan yang suka kepadanya. Hanya saja, Tuhan menjodohkannya dengan perempuan Betawi.

Nama kakekku dari pihak ibuku adalah Haji Ali, orang yang pendiam dan sangat tekun bekerja sebagai petani dan perajin perabot rumah-tangga dari bambu dan pohon-pohon pandan. Seringkali, bila ibuku menyuruhku untuk meminjam beras kepadanya, ia sedang menganyam bakul dan tampah dari bilah-bilah pohon-pohon bambu, dan hanya berhenti bekerja bila waktu sholat saja. Sesekali aku harus menunggunya pulang dari sawah, dan pada saat itu aku diajak ngobrol oleh nenek tiriku (yang kurang kusukai). Maklum, nenekku sudah meninggal ketika aku lahir.

Berkat kekayaan kakekku dari pihak ibuku itulah, pamanku (adik ibuku) bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta di Jakarta hingga menjadi sarjana strata satu, hingga ia menjadi satu-satunya orang di kampungku yang kuliah, dan kakekku tentu saja satu-satunya orang di kampungku yang bisa meng-kuliahkan anaknya di perguruan tinggi.

Namun demikian, meski kakekku orang kaya, keluargaku hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan karena keluargaku tidak mau mengandalkan kekayaan kakekku. Menurutku hal itu terjadi karena keluarga kami “disisihkan” oleh keluarga besar kami karena mereka tidak menyetujui pernikahan orang tua kami. Dan karena itu ibuku harus bekerja keras menjadi petani dan menanam apa saja yang dapat dijual dan menghasilkan uang, seperti menanam sayur-sayuran, kacang dan rosella.

Ibuku adalah perempuan yang dicintai oleh orang-orang di kampungku –terutama oleh kaum perempuan. Dan setelah ia wafat, penghormatan orang-orang kampung itu beralih kepadaku. Barangkali karena orang-orang di kampung tahu bahwa yang seringkali bersamanya saat ibuku bekerja di sawah-sawah mereka adalah aku.

Ia adalah tipe perempuan yang tidak suka mengobrol dan bergosip, dan hanya akan keluar rumah jika ada keperluan penting saja atau jika hendak membeli kebutuhan bagi dapur dan untuk mendapatkan bahan pelengkap makanan untuk makan kami. Ia sempat mengajar ngaji beberapa tahun sebelum akhirnya berhenti karena alasan harus mengoptimalkan keluarga dan harus istirahat karena telah banyak bekerja.

Di masa-masa sulit, ibu-ibu atau perempuan-perempuan di kampung akan bertanya kepada ibuku apakah kami punya beras untuk kebutuhan keluarga, dan karena itulah aku seringkali membawakan gabah-gabah mereka ke tempat penggilingan –yang berkat kerjaku membawa gabah mereka dengan menggunakan sepeda itu, kami mendapatkan beberapa liter beras sebagai upah.

Di masa-masa panen, ibu-ibu dan kaum perempuan di kampungku juga akan mengajak kami untuk turut memanen padi di sawah-sawah mereka, dan aku pula yang selalu ikut dengan ibuku. Dari pekerjaan itulah kami mendapatkan beberapa karung gabah (mendapatkan 1/4 bagian) –sesuai dengan kemampuan kami memanen padi di sawah-sawah mereka, sebagai bagi hasil dari kerja kami membantu memanen padi mereka.

Demikianlah cara-cara orang-orang di kampung menolong kami. Itu adalah masa-masa ketika adik-adikku belum lahir, dan bapakku seringkali tidak ada di rumah, yang karenanya sampai saat ini, aku adalah orang yang kurang menghormati bapakku. Sehingga, dalam banyak hal, ketidaksetujuan keluarga besar kami dari pihak ibuku, akhirnya dapat kumaphumi.

Sementara itu, di masa-masa senggang dari musim panen padi hingga waktunya menanam padi kembali, ibuku akan menanam kacang, kacang panjang, kangkung, dan juga rosella, yang kemudian akan ia jual kepada orang-orang kampung, dan tak jarang-orang di kampungku dan orang-orang di kampung tetangga datang langsung kepada kami untuk membeli bahan-bahan pangan yang dihasilkan ibuku itu.

Dari penjualan kacang, kacang panjang, kangkung, dan rosella (yang diolah menjadi kopi oleh ibuku dan kami itu)-lah, kami mendapatkan uang untuk membiayai sekolahku dan sekolah kakak perempuanku.

Jika aku lebih dekat dan lebih menghormati ibuku, tentu karena bagiku ibuku lah yang dapat kukatakan sebagai orang yang setia dan punya komitmen, ketimbang bapakku yang ber-poligami dan sering tidak ada di rumah di masa kanak-kanak dan remajaku.

Selain menanam sejumlah sayuran dan yang lainnya, ibuku juga berusaha beternak, seperti memelihara ayam dan unggas, yang ketika besar dapat dijual kepada orang-orang yang lewat yang hendak ke pasar atau sepulang mereka dari pasar. Ternak-ternak kami itu terutama sekali akan banyak yang membelinya di hari-hari besar keagamaan, atau bila orang-orang di kampung hendak melaksanakan pesta pernikahan anak mereka atau mengkhitankan anak mereka.

Dan aku pula yang seringkali membantu ibuku untuk menangkap ayam-ayam itu bila mereka kebetulan sedang dikeluarkan dari kandang saat ada orang yang hendak membelinya tanpa diduga. Begitulah masa kanak dan masa remajaku yang lebih banyak dihabiskan dengan ibuku –selain ibuku juga lah orang pertama yang mengajariku membaca dan mengaji al Qur’an serta mengajariku tatacara sholat.

Di era 80-an itu, selain ibuku, yang bekerja keras mencari uang untuk memenuhi dan mencukupi kebutuhan keluarga kami adalah kakak pertamaku (aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara), seperti mengangkut batu-bata ke mobil truck, mencetak batu-bata, dan yang lainnya. Dapat dikatakan, di masa-masa itu, aku dan kakak pertamaku (lelaki) berbagi kerja dan tugas sesuai dengan kemampuan kami, di mana aku sering bertugas membantu ibuku bekerja di sawah atau menyirami tanaman yang ia tanam di samping rumah kami, di saat kakak pertamaku mencari uang dengan pekerjaan-pekerjaan lain.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya di era 90-an, ketika industri mulai banyak yang hadir di sekitar tempat kami (meski agak jauh), yaitu ketika kakak pertamaku yang hanya bersekolah sampai di sekolah menengah pertama, diterima menjadi karyawan (buruh) di sebuah perusahaan kontraktor yang tengah membangun sebuah pabrik kertas.

Keberuntungan pun terus berlanjut, kala masa kerja kakakku di perusahaan kontraktor tersebut berakhir karena pembangunan pabrik itu telah rampung, ia pun lalu diterima sebagai karyawan pabrik kertas (yang dibangun perusahaan kontraktor itu), siap beroperasi dan melakukan produksi.

Tak ragu lagi, keadaan itu telah memperbaiki keadaan ekonomi keluarga kami dan aku pun bisa meneruskan pendidikanku ke sekolah menengah pertama setelah lulus sekolah dasar, tepatnya di SMPN 1 Kragilan. Aku termasuk orang yang beruntung dapat melanjutkan di sekolah menengah pertama negeri, karena dengan demikian, aku dapat melanjutkan pendidikanku dengan cukup murah, di saat sejumlah kawanku banyak yang harus di sekolah swasta, semisal di SMP PGRI Kragilan (yang biayanya lebih tinggi).

Sekedar informasi tambahan, pendidikan sekolah dasarku hanya kutempuh selama lima tahun, karena aku tak perlu menempuh kelas dua sekolah dasar berdasarkan pertimbangan kepala sekolah dan para guru. Selama lima tahun menempuh pendidikan sekolah dasar itulah aku selalu mendapatkan ranking (peringkat pertama) dan lulus di sekolah dasar (SDN Jeruk Tipis 1 Kragilan) itu dengan peringkat pertama dan mendapatkan nilai tertinggi dibandingkan murid-murid yang lain.

Di saat aku duduk di kelas lima sekolah dasar di SDN Jeruk Tipis 1 itu pula, aku sempat menjadi juara pertama lomba cerdas cermat untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di tingkat Kecamatan dan juara satu tingkat Kabupaten untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Sementara itu, selama dua tahun menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, aku harus berjalan kaki sejauh lima kilometer lebih menuju sekolahku. Bila ada mobil truck yang lewat atau melintas di saat aku berangkat atau pulang sekolah, aku pun akan menumpang mobil tersebut. Sebenarnya saat itu aku ingin sekali memiliki sepeda ketika melihat banyak teman-temanku di sekolah memiliki sepeda, namun aku tak berani memintanya kepada ibuku. Bagiku aku sudah sangat beruntung dapat meneruskan pendidikanku, yang seringkali aku pun telat membayar iuran sekolah, seperti membayar SPP atau biaya ujian.

Masalahnya adalah ketika aku harus bersekolah dengan jalan kaki itu harus kujalani di masa-masa musim hujan. Di masa-masa hujan itulah biasanya ketidakhadiranku di kelas lebih banyak. Sebagai gantinya aku harus belajar di rumah lebih keras untuk mengejar materi-materi mata pelajaran mata pelajaran yang tertinggal ketika aku tidak dapat hadir di kelas. Tentu saja, prestasiku di sekolah menengah pertamaku tidak sama ketika aku di sekolah dasar. Ketika menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, paling-paling peringkatku di antara 7 atau 9, kalah dengan anak-anak kota yang buku-buku mata pelajarannya lebih lengkap.

Tak jarang aku harus meminjam buku-buku teman-temanku untuk sehari atau dua hari agar dapat kusalin di buku-buku catatanku, yang dengan demikian aku tak mesti membeli buku-buku paket yang seringkali diwajibkan sekolah untuk membelinya dari sekolah. Pihak sekolah pun menjadi maklum ketika kujelaskan keadaan yang sebenarnya ketika aku sering tidak membeli sejumlah buku paket –kecuali untuk buku matematika dan fisika yang mau tak mau aku harus membelinya dari uang jajan yang kutabung diam-diam alias tak kugunakan untuk jajan.

Octavio Paz, Gerimis, dan Anna Akhmatova

Lukisan Pedesaan

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2010)

Pintu-pintu tahun terbuka, seperti pintu-pintu bahasa
menuju yang tak dikenal. Semalam kau bilang padaku: esok
kita akan kembali menemukan isyarat-isyarat,
kembali menggambar pemandangan di halaman ganda,
hari dan kertas. Esok, kita akan kembali
menemukan, sekali lagi, kenyataan dunia ini

(Octavio Paz)

Ketika hari masih dirundung mendung dan kabut selepas hujan, hening seakan waktu yang membeku, rumput-rumput dan jalan-jalan basah seperti dunia-dunia yang tengah terbaring dalam sapuan gelombang-gelombang angin yang mengirimkan dingin.

Sepasukan burung-burung kuntul tampak melintasi keheningan langit, burung-burung kuntul yang selalu saja mengingatkan saya pada masa kanak-kanak saya. Sekelompok burung kuntul yang tengah menempuh perjalanan migrasi mereka itu barangkali dapat diandaikan sebagai perubahan hidup dan pengulangan itu sendiri.

Itulah kiasan kesementaraan dan usia yang menghitungi dirinya sendiri –di saat waktu sebenarnya hanya bisa diam dan tak beranjak ke mana pun, persis ketika gerak dan kebisuan saling berpadu dan melengkapi satu sama lain seperti sepasang kekasih yang tengah dirundung kelesuan dan rasa cemburu yang membuat mereka kehilangan gairah dan spontanitas pertama mereka.

Dalam keadaan yang demikian itu, keindahan menjelmakan dirinya sebagai kebisuan dan hening cuaca yang membasahi pepohonan dan tiang-tiang lampu sepanjang jalan. Waktu pun lelap bersama mimpi-mimpinya di antara buih-buih dan kabut. Rasanya, tak ada salahnya, bila mengingat kembali penggalan puisi-nya Anna Akhmatova, di saat sendu seperti itu:

Telah terjadi perang di atas langit
Apoc.
Drama Shakespeare yang ke-24
Ditulis waktu dengan tangannya yang tak bergairah
Kita sendiri, adalah peserta pesta wabah
Yang lebih baik jikta kita membaca Hamlet, Caesar, Lira
Di atas sungai para pemimpin:

Lebih baik hari ini bagi si burung merpati Juliet
Menghantarkan ke peti mati dengan tonggak dan obor,
Lebih baik melongok dari jendela ke Macbeth,
Menggigil bersama-sama dengan si pembunuh bayaran, –
Hanya saja bukan yang ini, bukan yang ini, bukan yang ini,
Kita sudah tak berdaya untuk membaca yang ini!

Betapa lihai Anna Akhmatova “mengiaskan” drama-drama yang ditulis oleh William Shakespeare seperti perang yang terjadi di langit, dan juga sebaliknya, meski saya tak bermaksud menafsirkan hujan dan gerimis sebagai “perang kosmis” antar unsur atau antar anasir alam yang telah melahirkan atau menciptakan hujan dan gerimis.

Tentu saja, jika kita baca secara cermat, puisi yang ditulis Anna Akhmatova yang berjudul ‘Untuk Orang-orang London’ itu, bicara tentang waktu –meski waktu yang ia pahami dalam konteks puisi yang ditulisnya itu agak ‘rendah’, yaitu sebagai sejarah, di mana kita merupakan bagian dari sejarah itu sendiri, dan karena itu, menurut saya dalam konteks diari singkat ini, waktu yang dipahami oleh Octavio Paz dan Anna Akhmatova memang berbeda, di mana bagi Paz, waktu adalah ‘rahim enigmatik’ bagi puisi.

Tafsir Puitik Hujan

Tafsir Puitik Hujan

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2011)

Sebagaimana jamak kita maphumi, setiap kenyataan dan peristiwa akan senantiasa bersifat subjektif bagi setiap orang atau pengamat yang berbeda alias berlainan. Begitu pula suatu “sunnah alam” yang sama, semisal hujan yang dibicarakan dalam diari singkat ini, tak selamanya memberikan dan menghadirkan keintiman dan suasana yang seragam ketika ia hadir dan datang kepada kita untuk yang pertama-kalinya atau untuk yang kesekian-kalinya.

Bagi saya sendiri, dan tentu saja saya tidak tahu bagi Anda, hujan saya pahami sebagai waktu dan semesta yang tumpah, sebagai aksara yang lahir untuk menjadi kata, menjadi kalimat, singkatnya menjadi sajak. Ini adalah momen ketika saya berada di ruang baca dan meja menulis saya.

Pada saat itu, lewat jendela kaca, saya menyempatkan diri untuk merenungi dan memandangi mereka. Menyimak riuh dan gemericik suara mereka, persis ketika kelahiran dan kematian hadir bersamaan dalam waktu –persis ketika waktu sedang berhenti.

Dan tentu saja, adakalanya mereka menawan saya dalam momen-momen yang lain, seperti ketika saya duduk atau menunggu di halte busway, di kota Jakarta yang tak bahagia itu, dalam keadaan kedinginan –dan saya yakin Anda pernah mengalami momen ini. Ketika mereka mengguyur jalanan aspal dan gedung-gedung bertingkat yang angkuh dan bisu.

Dalam keadaan seperti itu, Anda kadang merasa kesal, jenuh, atau bosan, tak lain karena pada momen itu, mereka menghadirkan dan menghunjamkan kesepian ke dalam perasaan dan hati Anda, kedalam jantung eksistensi Anda yang rentan. Kecuali jika Anda menerima dan mengintiminya sebagai momen puitik.

Kehadiran mereka, ternyata “menciptakan” ragam momen eksistensial dan suasana bathin bagi ragam orang di ragam tempat dan “waktu”. Momen eksistensial bagi seorang kekasih yang memiliki janji atau jadwal untuk bertemu kekasihnya, contohnya. Bagi mereka yang hendak ke tempat kerja atau bagi mereka yang hendak pulang dari tempat kerja, dan lain sebagainya.

Tetapi lain di kota lain pula di desa (di sebuah kosmik ruang-waktu di mana saya menulis diari singkat ini), hujan adalah momen puitik dan peristiwa bahasa, sejumlah perumpamaan kosmis dan spiritual, di mana kematian dan kelahiran, hadir dan datang secara serentak, persis ketika waktu berhenti, dan bahasa kembali ke rahimnya sebagai puisi. Bahasa itu adalah perpaduan kematian dan kelahiran –yang kita sebut waktu.

Diari Tentang Puisi

Girl Autumn

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2007)

Untuk mendefinisikan apa itu puisi, saya mengalami kesulitan dan tak bisa mendefinisikannya, dan itu berbeda dengan kritikus dan analis sastra dan pakar bahasa. Meskipun demikian, saya memiliki pemahaman sendiri tentang apa itu puisi, walau tentu saja akan bersifat subjektif dan sepihak. Dan, sekedar mengutip, saya ingin mengawali esai singkat ini dengan apa yang ditulis Hiedegger tentang Puisi, Pemikiran, dan Dunia:

“To think is to confine yourself to a single thought // that one day stands still like a star in the world’s sky” (Martin Heidegger: Poetry, Language and Thought).

Saya percaya puisi lahir dari keintiman seseorang dengan dunia dan keseharian. Dan sampai saat ini, jika pendapat saya tidak berubah, saya mempercayai puisi yang berhasil adalah puisi yang sanggup menciptakan realitas dalam puisi, yang dengan itu pula pencitraan dan kiasan menjalankan fungsinya, bahkan pada tingkat lebih jauh, pencitraan dan kiasan tersebut sanggup menciptakan fantasi dan transendensi demi menggambarkan sebuah dunia-realitas yang unik dan memang hanya milik puisi itu sendiri.

Karena itulah saya menuliskan saja apa yang tiba-tiba muncul dalam hati saya ketika saya berjumpa atau pun mengalami moment keintiman dengan apa yang saya dekati dengan pancaindra dan bathin saya. Lagi-lagi, saya jadi teringat dengan apa yang dikatakan Heidegger ketika ia berpendapat bahwa puisi bisa dipahami sebagai puncak pemikiran, akan tetapi pemikiran yang dimaksudkan Heidegger itu tak semata hanya kemampuan dan kapasitas salah-satu fakultas tubuh kita yang kita sebut rasio.

Pemikiran yang dimaksudkannya adalah keterlibatan dan keintiman seluruh pancaindera kita termasuk hati.

Heidegger memang berbicara tentang ketersituasian manusia dalam dunia, apa yang ia sendiri menyebutnya sebagai Being in the World alias “berada dalam dunia”, yang juga mengingatkan saya pada eksistensialisme-nya Soren Kierkegaard, mirip seperti ketika jatuh cinta yang dalam bahasa Inggris ditulis dan diucapkan menjadi “Fall In Love” alias Jatuh dalam Cinta atawa “berada dalam cinta”, yang bila kita kembali dalam pengertian Heidegger, puisi bisa juga dimengerti sebagai cara berada manusia dalam dunia.

Dengan keintiman itulah, seni dan puisi sanggup memungkinkan “Sang Ada” berbicara dengan terang dan jernih. Ambillah kasus lukisan sepatu petani-nya Van Gogh, yang dengan lukisan itu kita tak hanya memahami dan memandang sepatu sebagai semata-mata benda mati, tetapi lebih dari itu, kita mengalami arti sepatu yang unik dan kontekstual, papar Heidegger, di mana seni melibatkan perhatian bagi benda-benda dalam konteks dan arti historis mereka.

Sepatu dalam lukisan Van Gogh yang dimaksudkan adalah sejumlah cerita seorang petani, sepatu yang telah mengalami banyak kehidupan atau sejumlah peristiwa keseharian, pengalaman keprihatinan atau pun kemiskinan si pemiliknya, kehidupan dan keseharian si petani yang hendak diceritakan dan digambarkan Van Gogh dengan lukisannya itu.

Juga di sini, kita bisa menyebutkan lukisan Van Gogh lainnya, yaitu the Potato Eaters yang suram dan amat bersahaja itu.

Demikianlah, puisi yang saya pahami mestilah mengandung sekaligus hendak menceritakan realitas keintiman tersebut. Jika pun kita memandang penting retorika dan stilistika sebagai upaya pencapaian bahasa, tentulah dimengerti dalam kerangka modus ujaran dan penyampaiannya.

Pelukis lain yang saya pandang berhasil menampilkan keintiman yang saya maksudkan itu adalah juga Giovanni Segantini, ketika saya mempelajari sebuah lukisan miliknya yang menggambarkan seorang ibu yang tengah mendekap anaknya di sebuah pohon yang tak lagi memiliki daun. Seakan-akan Segantini hendak bercerita tentang kepedihan dan keprihatinan yang sama seperti yang ditampilkan oleh lukisan-lukisannya Van Gogh.

Saya kira, dalam konteks ini, penyair dapat pula belajar dari pelukis ketika hendak menyampaikan dunia yang ingin diceritakan atau pun digambarkan puisinya, seperti juga ia dapat belajar dari komponis untuk tekhnik bahasa dan nada-nada demi memungkinkan puisi yang ditulisnya terasa merayu dan indah.

Untuk saya sendiri, pelajaran pertama tentang keintiman memanglah alam, lalu kemudian membaca karya-karya puisi para penyair sufi yang menurut saya adalah para maestro simbolis, yang telah mengajarkan kepada saya tentang bahasa sederhana yang padat sekaligus kental secara musikal, memiuh dan kaya makna.

Selanjutnya, saya mengasah kepekaan bathin saya dengan berusaha mempelajari dan memahami lukisan-lukisannya para pelukis naturalis dan impresionis yang bagi saya pandai menggambarkan suasana dan perasaan sejauh menyangkut dunia dan keseharian yang mereka jelmakan sebagai sejumlah tubuh, subjek, dan tentu saja keseharian. Singkatnya, selain tentu saja kitab suci, ada tiga khasanah yang berjasa dalam pembelajaran saya untuk menulis: sufisme, musik, dan lukisan.

Dan, suatu ketika, saya jatuh cinta, hanya saja hal itu tak lebih suatu pengalaman puitis, suatu pengalaman yang kemudian mengajarkan saya belajar menulis puisi:

Aku tahu bagaimana rasanya
jatuh cinta. Dan bagaimana ia mengkhianatiku
dengan selembut keindahan

yang membingungkan.
Aku tahu seseorang harus belajar merasa kecewa
sebelum ia menulis lagu

dan sajak cinta.
Di saat-saat kubosan dan ingin tidur
aku cuma berharap masih bisa

mengenang bagaimana derai rambutmu
seakan malam yang dilanda gundah
pada kertas-kertas yang berserakan.

Angin yang terus mendesir pelan
membuatku kembali teringat burung-burung liar
yang berlesatan bersama setiap kata

yang kau ucapkan. Sejak saat itulah
aku memahami keindahan yang kukenal
seumpama sepasukan penjahat

yang riang bermain-main dengan kesedihan
seorang lelaki. Sejak saat itu,
aku ingin terus terbaring saja

dan bermimpi di lelap sajak.