Arsip Kategori: Tahun 2014

Gagrak Gadis Pingitan

Gadis PingitanDi Perpusda Banten 17 Maret 2014

Oleh Sulaiman Djaya*

Berupaya menarasikan lingkungan dan geografi sekaligus menghadirkan lingkungan dan pengalaman penulisnya menjadi sejumlah cerita pendek, itulah simpulan pertama yang muncul ketika saya membaca buku “Gadis Pingitan”. Lingkungan dan geografi tersebut tentu saja pada akhirnya menyangkut budaya dan kepercayaan serta tingkah-polah manusia-manusianya, entah sebagai individu atau sebagai masyarakat yang memiliki dan mempercayai lanskap kepercayaan dan mitologi mereka. Nuansa etnisitas, atau katakanlah lokalitas, begitu dominan dalam cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” karya Aksan Taqwin Embe yang kita bicarakan ini. Bahkan dapat dikatakan, seluruh cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” berkutat pada soal-soal tradisi, ritus, dan mitologi yang sifatnya etnik dan lokal tersebut.

Selanjutnya, yang katakanlah ini sebagai simpulan kedua ketika saya membacanya, etnisitas dan lokalitas yang dinarasikan cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” karya Aksan Taqwin Embe didominasi oleh kultur dan mitologi masyarakat pesisir dan nelayan, meski selebihnya terkait dengan mitologi dan kultur masyarakat pedalaman dan pertanian, dari Banten hingga Jawa Timur, dari Tuban hingga Pulau Tunda. Dari soal jimat, kawalat, jampi-jampi, hingga mantra. Seakan-akan cerpen-cerpen dalam buku “Gadis Pingitan” hendak menghadirkan kepada khalayak pembacanya sejumlah kultur hibrid yang hidup dan dipraktekkan dalam ragam etnik dan masyarakat dengan kearifan “lanskap magis” dan “pesona mistis”, yang anehnya kadangkala diceritakan dan dinarasikan secara ironis, sesekali menyelipkan satir.

Cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” adalah contoh sejumlah cerpen yang bercerita dan menceritakan etnisitas dan lokalitas dari sudut kultur dan kepercayaan yang sifatnya hibrid, ketika unsur-unsur Islam, sebagai salah-satu contoh, beradaptasi dan bercampur dalam corak kepercayaan dan keagamaan masyarakat Jawa, yang bahkan tetap “Jawa” ketika menerima dan menganut agama Islam. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya praktik-praktik kepercayaan dan keagamaan, entah yang sifatnya budaya atau yang religius, tidak sepenuhnya “Islam” sekaligus tidak sepenuhnya “lokal”, yang ada adalah hibriditas itu sendiri.

Meski dengan kadar yang berbeda, tentu saja, tema-tema yang diangkat dan dinarasikan cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” mengingatkan saya pada sejumlah cerpen-nya Putu Wijaya yang menjadikan khazanah sosial-politik dan budaya masyarakat dan bangsa kita sendiri sebagai materi-materi cerpen-cerpennya. Bercerita tentang kekonyolan, ironi, kejenakaan, ambiguitas dan lain sebagainya yang kerap terjadi dan melanda masyarakat kita, yang anehnya itu semua juga berkaitan dengan lanskap mitologi, budaya, kepercayaan, serta khazanah dan wawasan budaya dan keagamaan masyarakat kita.

Persoalannya kemudian adalah sejauh mana penulisnya dapat menunjukkan “kelihaian” dan “kecerdikan” untuk mengolah bahan-bahan dan materi-materi yang sifatnya etnis dan lokal tersebut? Katakanlah kemahirannya dalam mengkomparasi khazanah-khazanah etnisitas dan lokalitas tersebut dengan situasi mutakhir kondisi sosial-politik masyarakat dan bangsa kita. Semisal sejauh mana cerpen-cerpen yang menarasikan khazanah etnisitas dan lokalitas tersebut sanggup menggambarkan “pertarungan” dan “ketegangan” antara “warisan mitologis” dan “kepercayaan yang sifatnya etnis” dengan serbuan massif lanskap budaya pasar ala kapitalisme mutakhir. Sebab, sebagaimana kita maphumi bersama, daya desak lanskap dan budaya kapitalisme mutakhir tersebut bahkan sanggup menjangkau “sudut-sudut sunyi” pedesaan dan pedalaman, yang sebagaimana kita tahu juga, “tidak lagi murni dan sunyi”. Barangkali khalayak pembaca akan bisa “membaca” sendiri ketika membaca “Gadis Pingitan”: adakah ia masih “pingitan” dan “perawan” ataukah sudah “ternoda”?

Selanjutnya, yang menurut saya juga patut direnungkan, seberapa cerdik dan lihai-kah penulisnya ketika mengusung dan menarasikan “yang mitis” dan “yang magis” dalam kultur, praktik, dan tingkah-polah individu dan masyarakat yang sifatnya etnis dan lokal sebagaimana yang dinarasikan “Gadis Pingitan” tersebut tidak semata-mata “hanya memberitakan” sejumlah laporan antropologis atau etnologis perihal kehidupan, tingkah-polah (baik yang sifatnya individual atau sosial) dan budaya mitis serta magis yang dijadikan sebagai tema dan bahan-bahan material penceritaan cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku antologi “Gadis Pingitan”? Yang dengannya sesuatu yang semula hanya sebagai hal yang sifatnya antropologis dan etnologis, atau bahkan yang semula hanya bersifat sosiologis, telah dialihkan ke dalam sebuah prosa, ke media naratif fiksi, yang dalam hal ini cerita pendek. Dan sekali lagi, saya serahkan kepada khalayak pembaca untuk “membaca”-nya.

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan retoris saya yang sifatnya axiomatik tersebut, cerpen-cerpen Aksan Taqwin Embe dalam “Gadis Pingitan” menarasikan sejumlah “tokoh perempuan” yang terjebak, mengalami dilema, dan tertimpa nasib dan pilihan ironis justru karena pakem dan lanskap yang sifatnya etnis dan lokal tersebut. Barangkali, penulisnya hendak melontarkan “kritik halus” dan “gugatan samar” atas sejumlah tradisi dan kepercayaan yang sifatnya etnis dan lokal yang telah saya katakan. Contohnya adalah bahwa lanskap dan kepercayaan sejumlah geografi dan masyarakat yang diceritakan sejumlah cerpen yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” mencerminkan dominasi laki-laki atas perempuan justru karena lanskap dan kepercayaan yang sifatnya etnis dan lokal itu juga begitu patriarkhis secara politis dan kultural.

Seterusnya, bila saya menyebutkan sejumlah “kelebihan” prosa yang mengusung dan mengangkat tema-tema dan materi yang sifatnya etnis dan lokal ini dengan prosa-prosa yang mengusung lokalitas, wabilkhusus dalam konteks Banten yang beberapa tahun belakangan terbit dalam sejumlah antologi cerpen bersama, adalah bahwa cerpen-cerpen Aksan Taqwin Embe yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” tak sekedar menyebut nama-nama tempat, semisal nama-nama jalan dan gedung di kota-kota dan tempat-tempat tertentu di Banten, misalnya, sebagai “penciri” lokalitas yang hanya akan menjadikan prosa yang mengusung dan menarasikan etnisitas dan lokalitas tak lebih sebuah “salinan peta” atau “penunjuk peta”, melainkan mengangkat, menarasikan, singkatnya memfiksikan lanskap, mitologi, ritus, khazanah kepercayaan dan aspek-aspek keagamaan yang menunjukkan keunikan dan kekhasan masyarakat tertentu atas “masyarakat” lainnya. Atau minimal mengangkat pergulatan seorang tokoh atau si individu berkait dengan wawasan, budaya, kepercayaan, dan khazanah keagamaan dalam suatu masyarakat tertentu.

Sementara, terlepas dari isu lokalitas dan etnisitas itu, cerpen-cerpen Aksan Taqwin Embe yang terkumpul dalam buku “Gadis Pingitan” telah menunjukkan kepada kita proses kreatif penulisnya sendiri, katakanlah dalam hal ini sebagai contohnya menyangkut periodisasi dan geografi pengalamannya, antara “periode” ketika ia masih di di Jawa, khususnya Jawa Timur, yang dalam hal ini penulisnya menulis sejumlah cerpen yang mengangkat etnisitas dan lokalitas Jawa Timur, semisal Tuban, dan periodisasi ketika ia di Banten di mana penulisnya menghasilkan beberapa cerpen yang berlatar-belakang dan mengusung lokalitas Banten, semisal Pulau Tunda dan Pandeglang.

Demikianlah pembacaan saya yang saya tuliskan dalam esai singkat ini. Dan tentu saja, sebagai pembaca saya hanya salah-satu atau salah-seorang pembaca, yang kebetulan saja diberi kesempatan untuk menyatakan dan memaparkan pembacaannya. Dalam hal ini, saya maphum bahwa saya tak mungkin memonopoli “pembacaan” atau memonopoli “tafsir” atas “Gadis Pingitan”, terlepas apakah ia masih perawan atau telah ternoda. Sebagai penutup, saya ingin berbagi sebuah ilustrasi. “Suatu ketika, di tamannya yang asri, Agustinus muda mendengar sebuah suara yang berkata: Ambil dan bacalah!” Dengan saran yang sama kepada pembaca sebagaimana sebuah suara yang berkata kepada Agustinus muda yang tengah merenung di taman-nya yang asri itu, saya akhiri tulisan singkat ini. Sumber: Harian Banten Raya 22 Maret 2014

*Penggemar sambal dan kopi hitam. Selain dipresentasikan pada diskusi bedah buku Gadis Pingitan di Perpusda Banten pada 17 Maret 2014, tulisan ini juga dipublikasi harian Banten Raya, 22 Maret 2014.

Puisi, Penyair, dan Bahan Baca

Bedah Buku Mazmur Musim Sunyi Di Teras Budaya, Cilegon 4 Januari 2014 Fotografer Indra Kusumah

“Paper Bedah Buku Mazmur Musim Sunyi di Teras Budaya, Cilegon, Banten 4 Januari 2014”

Oleh M. Rois Rinaldi (Penyair dan Pimred Tabloid Ruang Rekonstruksi)

Satu hal yang dapat ditandai dari puisi-puisi Sulaiman Djaya dalam antologi puisi tunggal bertajuk “Mazmur Musim Sunyi”, adalah kesunyian itu sendiri. Kesunyian yang dalam dan dingin! Tentu saja dilantari oleh perjalanan hidupnya yang penuh dengan sinyal-sinyal makna serta kesan-kesan puitik yang ia jumputi sebagai bahan renung di ruang kontemplasinya sebagai seorang penyair. Membaca serta menelaah 69 puisi dalam Mazmur Sunyi, saya menemukan beberapa hal yang diulang-ulang oleh Sulaiman Djaya, baik kata, frasa, majas, pola pengandaian mau pun cara melihat dan memaknai sesuatu yang ia saksikan dan rasakan.

Menyoal pengulangan sebenarnya lumrah saja, mengingat hampir semua antologi puisi tunggal mengalami nasib yang sama. Penyebabnya tidak lain tidak bukan, karena keterbatasan mata dalam memandang alam semesta, keterbatasan pikiran manusia dalam memahami, mendalami, dan memaknai kehidupan, serta keterbatasan kata di jagat Indonesia ini, termasuk majas-majas yang berlaku. Maka, dari tidak banyaknya hal yang benar-benar dapat menarik jiwa penyair untuk menulis puisi, terjadilah beberapa pengulangan tema dan pemakaian pengandaian yang tidak jauh-jauh dari situ ke situ juga. Tidak terkecuali dalam Mazmur Sunyi. Selain itu, beberapa simbol juga mendominasi, di antaranya “warna” dan “waktu”. Kedua simbol tersebut sepertinya dengan sungguh-sungguh diposisikan oleh Sulaiman Djaya (kemudian disingkat SD) sebagai media pengandaian sekaligus simbol tertutup dan terbuka untuk menemukan kebermaknaan dalam puisi-puisinya:

“Aku adalah sebuah kalimat sajak // dengan kertas merah tua // dari senja yang menghitung daun-daun albasia (Mula Puisi, Hal 11). “Aku baik-baik saja // seperti hari-hari yang kadang putih // atau agak sedikit berlumut (Di Ruang Baca, Hal 12). “Buku-buku, kertas-kertas, almanac // pintu dan jendela, saling berbisik tentang nasib // yang bukan biru, bukan ungu // bukan juga hijau abu-abu (Monolog, hal 17). “Aku pun tahu kadang engkau bersembunyi // di balik tirai yang terbentang yang kau sebut hijau (Nyanyian Desember, hal 86).

Warna dalam puisi (barangkali) gambaran suatu keadaan sedih, senang, muram, sumringah dan sejenisnya. Misalnya putih, lazim dikonotasikan pada kebersihan, kesucian, katarsis, dan sejenisnya dan sejenisnya. Hijau berkaitan dengan kesejukan, keteduhan, dan sejenisnya. Merah dimaknai sebagai keberanian atau kemarahan. Dapat juga dimaknai lain semisal merah adalah gambaran ketakutan, kemurkaan, atau kemalangan. Pemaknaan-pemaknaan yang dimaksud sangat tergantung pada teks dan konteksnya. Pernah Moh. Wan Anwar mengulas beberapa karya pelajar yang dimuat di Horison sekitar tahun 2002/2003, bahwa warna yang dimasukkan dalam puisi dapat membantu penyair untuk mengejawantahkan suasana atau nuansa serta memperkuat puisi.

Terlepas dari sepaham atau tidaknya, yang perlu ditekankan adalah bagaimana warna yang ditulis dalam puisi tidak selesai sebagai warna melainkan benar-benar mewakili makna tertentu. Karena apa saja di tangan penyair mesti memiliki perwujudan berbeda selain wujud aslinya. Semisal bunga di tangan penyair tidak akan jadi bunga belaka. Lantas bagaimana dengan warna-warna yang ditulis Sulaiman, sudahkah mampu membawa makna atau sekadar nama-nama warna yang ditulis tanpa membawa apa-apa? Jawabannya dalam puisi Epigraf halaman 15: “Dan aku sibuk memindahkan warna-warna, kalimat, dan kata-kata di pojok waktu tempatmu membaca buku kesukaanmu yang bersampul merah muda dan biru.”

Kesibukan yang dimaksud dapat dimaknai pencarian—Sulaiman Djaya terus berusaha mencari posisi yang tepat bagi warna agar dapat selaras dengan kata dan kalimat. Sehingga saling bersinergi membangun makna yang kuat—karena tidak mudah mencarikan posisi yang tepat bagi warna-warna di dalam puisi. Disebabkan pemanfaatan warna baik, hijau, merah, kuning, biru, putih, hitam, dan sejenisnya, sudah banyak digunakan orang dalam puisi, berpuluh tahun atau bahkan berabad-abad lalu. Kedepan baiknya SD mencari pembaharuan dalam pemakaian simbol. Setidaknya bukan yang kebanyakan orang pakai. Meski demikian, bukan berarti apa yang dilakukan SD adalah salah. Terlebih, konon, kebaruan hanya bagian dari masa lalu.

Tidak jauh berbeda dengan simbol “waktu”, dapat dimaknai sebagai bentuk kesadaran penyair akan keberadaannya di dunia fana. Kaitannya dekat dengan hakikat keabadian Sang Khalik, sebagaimana disajikan dalam “bersama angin Januari yang menggodaku” (Di Ruang Baca, hal 12), “Di ruang ini, ada detik-detik lengang” (Di Ini Kubaca Lagi Waktu, hal 35) “meniup terompet ulangtahun / di sekartu bergambarku / yang kini telah jadi langit sabtu” (Musim Untuk Ibuku, hal 43), “pada derai angin Februari” (Nyanyian Desember, hal 86), dan “bunga-bunga waktu” (Sajak Bangun Tidur, hal 41). Simbol-simbol waktu yang ditanam Sulaiman Djaya dalam puisi-puisinya mengingatkan pada sumpah Tuhan atas nama makhluknya, yakni “Demi Waktu”. Keberadaan waktu dalam kehidupan memang misterius. Ia seperti sangat jauh padahal begitu dekat. Seperti sangat renggang padahal begitu rapat dengan tubuh dan ruh manusia. Inilah isyarat proses kratif seorang SD. Ada kegelisahan sekaligus kesadaran, betapa waktu begitu penting bahkan jadi genting jika tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Penyair, Bahan Baca, dan Puisi

Dalam dunia kepenyairan, proses kreativitas seorang penyair sangat dipengaruhi oleh apa yang dicercap dari kehidupan (realitas)—mencercap sinyal-sinyal alam semesta—semisal hakikat gugurnya daun dari dahan, hujan, rumput, kambing, kecoa, neon, piring, kelewawar dan sebagainya dan sebagainya. Selain itu adalah bahan baca yang turut memengaruhi proses kreativitas seorang penyair. Intensitas membaca yang turut mempengaruhi kepenulisan itu pula yang menjadi landasan hukum boleh terhadap karya-karya yang terpengaruh oleh apa yang dibaca. Tidak terkecuali SD. Terlebih, SD adalah satu dari sedikitnya orang yang gemar membaca dan memiliki pengetahuan yang sangat luas. Berbicara dengannya seperti mencuri banyak pengetahuan bahkan saat bercanda sekali pun, ada saja ilmu yang dapat dirampok dari ucap dan lakunya. Dikarenakan kegemarannya membaca itulah, sangat mungkin (untuk tidak bilang pasti) ada keterpengaruhan dari bahan bacanya. Meski tidaklah mutlak, bahkan bisa jadi hanya “kebetulan?” Dari puisi-puisinya ditemukan kedekatan dengan puisi-puisi karya penyair terdahulu semisal Chairil Anwar, Abdul Hadi WM, dan WS Rendra. Perhatikan beberapa amsal berikut ini:

“Aku tak punya banyak nama sepi, tapi yang paling indah kusebut dapur yang tak punya api (Memoar, Hal 18). “Apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti aku tungku tanpa api.” (diambil dari buku : EMPAT KUMPULAN SAJAK, karya RENDRA, penerbit Pustaka Jaya, cetakan kedelapan, tahun 2003). Unsur-unsur yang tampak lekat dari puisi WS Rendra dalam puisi SD yang dikutip di atas yakni: 1). “Sepi” tetap menjadi “sepi:”; 2). “Tungku” diperluas oleh SD menjadi “dapur”, yang merupakan tempat tungku berada; 3). “Tak punya” dipadankan dengan “tanpa”; 4). “Api” tetap menjadi “api”; dan 5). “Tapi yang paling indah” memiliki kesan yang sama dengan “itulah berarti” yakni sama-sama sebagai media penunjuk sebelum sampai pada objek yang dimaksud: SD memaksudkan keindahan itu pada “dapur yang tak punya api” dan WS. Rendra memaksudkan pada “tungku tanpa api”. “Dan aku ingin sekali menjadi nyala di depan kakimu” (Memoar, Hal 18). “Kini aku nyala pada lampu padammu” (Abdul Hadi W.M., 1977, Tuhan, Kita Begitu Dekat).

Unsur-unsur yang dapat diperhatikan adalah: 1). “Kini aku nyala” dalam puisi Abdul Hadi WM yang tegas dibuat gamang dalam puisi SD menjadi “aku ingin sekali menjadi nyala”; dan 2). Pada “lampu padammu” dalam puisi Abdul Hadi WM dieksekusi SD dalam puisinya menjadi “di depan kakimu”. Kedekatannya semakin terasa saat melihat kata depan “pada” (kata depan pada menandai hubungan tempat dan waktu) dalam puisi Abdul Hadi WM dan “di” (kata depan di menandai hubungan tempat beradanya sesuatu) dalam puisi SD. “Aku tak ingin hidup lagi // walau kau beri aku surge // aku sudah kecewa” (Pertanyaan Untuk Eskatologi-Mu, hal 93). “Hingga hilang pedih peri // Dan aku akan lebih tidak peduli // Aku mau hidup seribu tahun lagi” (Chairil Anwar, 1943, Aku).

Berbeda dengan contoh-contoh sebelumnya, kedekatan puisi “Pertanyaan Untuk Eskatologi-Mu” karya SD dengan puisi “Aku” karya Chairil Anwar terlihat sebagai pertentangan/antetisis terutama pada bagian “Aku mau hidup seribu tahun lagi” (Chairil) dan “Aku tak ingin hidup lagi” (SD). Selain itu, juga dapat ditemukan pada bagian berikut ini: 1). “Aku” sama-sama sebagai kata pembuka larik; 2). “Mau” (Chairil) menjadi “tak ingin” atau kalau dipertegas menjadi “tidak mau” (Sulaiman); 3). “Hidup” yang ditulis Chairil juga ditulis “hidup” oleh SD; 4). “Lagi” sebagai penutup dalam puisi Chairil juga ditulis “lagi” sebagai penutup dalam puisi SD.

Bagaimana pun setiap manusia memang selalu dipengaruhi oleh segala hal yang berinteraksi dengan dirinya. Baik interaksi sosial (manusia kepada manusia), interaksi alam (manusia dengan alam) dan interaksi ketuhanan (manusia dengan Tuhan). Karena itu fitrah, bahkan Gunawan Mohamad lebih ekstrim, ia mengatakan bahwa orisinalitas mengacu ke masa lalu sementara hari ini dan untuk masa depan hanya ada kreativitas. Meski saya tidak sependapat dengan pendapat tersebut, karena manusia yang selalu mencari akhirnya akan menemu juga—menemu sesuatu yang baru meski berangkat dari kreativitas.

Di Teras Budaya, Cilegon, Banten 4 Januari 2014

Kita Hidup di Era Disinformasi

Kobani Women 4

(Foto: Perempuan Kobani-Kurdi Berjuang Melawan ISIS Ciptaan Amerika)

Disampaikan pada Diskusi Publik “Pembangunan Etika dan Budaya Politik” yang diselenggarakan oleh LSM MP Banten dan Kemendagri di Anyer, Serang, Banten 23 Agustus 2014

Dalam artikel menariknya yang berjudul Globalisasi Terpilih dan Globalisasi-globalisasi Hegemonik (Lihat Oliver Leaman [ed], Pemerintahan Akhir Zaman, Al-Huda 2005, hal. 64), Sayid Reza Ameli Menulis: “Globalisasi merupakan hasil dari munculnya industri komunikasi global yang dianggap sebagai hal vital bagi munculnya berbagai bentuk globalisasi lahiriah, dalam tampilan budaya, dan secara samar, dalam orientasi kognitif”. Apa yang dikatakan Sayid Reza Ameli itu cukup menarik bagi kita saat ini, mengingat jaman kita ini, sebagaimana sama-sama kita sadari, bukan hanya jaman meruahnya informasi secara massif dan cepat, namun juga derasnya arus dis-informasi (baca: penyesatan atau penghasutan) baik berupa berita atau pun opini yang digerakkan oleh motif dan ambisi politik, seperti “upaya” menarik simpati dan dukungan bagi ISIS yang didesign oleh Barat (Amerika, Israel, Ingris dkk) yang mendapat kecaman dunia karena kekejaman yang mereka lakukan, semisal tak segan-segan menyembelih manusia itu, apa pun agama, mazhab, atau ras orang-orang yang mereka sembelih. Tentu saja alatnya adalah “citra” dan “pencitraan”. Sebagai contoh ISIS yang diciptakan oleh Barat itu dicitrakan sebagai kelompok yang “memperjuangkan Islam” demi mendapatkan dukungan dan legitimasi kaum muslimin dunia. Dalam hal ini, Barat menggunakan “Islam” justru ketika ingin mengekspansi Islam demi kepentingan dan keuntungan Barat (baca: Amerika, Israel, Ingris dkk).

Meski belakangan ummat Islam sadar dengan “manipulasi atasnama Islam” oleh ISIS dan Barat itu, namun sesungguhnya ada literatur yang menurut beberapa kalangan dianggap dan dipercaya sebagai ramalan akan munculnya kelompok-kelompok seperti ISIS tersebut, yaitu perkataan Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah yang terdapat dalam kitab Kanzul Ummal yang dihimpun oleh Ulama Besar Ahlus Sunnah yang bernama Al Muttaqi Al Hindi pada riwayat nomor 31.530: “Jika kalian melihat bendera-bendera hitam, tetaplah kalian di tempat kalian berada, jangan beranjak dan jangan menggerakkan tangan dan kaki kalian (artinya tetap tenang, jangan menyambut seruan mereka, jangan larut dalam euforia mendukung pasukan itu), kemudian akan muncul kaum lemah (lemah akal sehat dan imannya), tiada yang peduli pada mereka, hati mereka seperti besi (hati keras membatu jauh dari cahaya hidayah), mereka akan mengaku sebagai Ashabul Daulah (pemilik Negara, saat ini ISIS telah mengumumkan berdirinya Daulah Islam di Iraq dan Syam), mereka tidak pernah menepati janji, mereka berdakwah pada Al Haq (kebenaran) tapi mereka bukan Ahlul Haq (pemegang kebenaran), namanya dari sebuah julukan, marganya dari nama daerah, rambut mereka tak pernah dicukur, panjang seperti rambut perempuan, jangan bertindak apapun sampai nanti terjadi perselisihan di antara mereka sendiri, kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Namanya adalah julukan (Nama yang diawali dengan kata “Abu”). Marganya dari nama daerah (Al-Baghdadi) merujuk kepada ibu kota Iraq saat ini, yakni Baghdad. Dengan demikian, Abu Bakar Al-Baghdadi, yaitu pemimpin ISIS yang telah mengumumkan dirinya sebagai khalifah itu bukan nama yang sebenarnya, dan bila kita mengikuti perkembangan berita dan ulasannya, ternyata adalah agen MOSSAD Israel yang bernama Shimon Elliot.

Lalu apa hubungannya ISIS (yang di sini sekedar contoh saja) dengan jaman citra dan tekno sains, era kita saat ini? Tak lain bahwa berkat “rekayasa media” yang dimiliki kelompok ISIS dan para pendukung mereka, mereka dapat menyebarkan dan menciptakan “opini” dan “citra” mereka sebagai “mujahidin”, padahal motif dan perang mereka ternyata berbagi, bahkan bekerjasama, dengan kepentingan Barat (yang dalam hal ini Amerika, Israel, Ingris, Rezim Saud, dkk). Mereka, sebagai contoh, mengklaim diri sebagai “mujahidin” agar dapat menarik simpati dan dukungan kaum muslim, meski perang mereka sesungguhnya berdasarkan kepentingan dan skenario Amerika dan para sekutunya. Inilah contoh yang akan disebut oleh Sayid Reza Ameli itu sebagai “Globalisasi Hegemonik” alias “Globalisasi yang Sepihak dan Menindas”, yang dalam bahasa Jacques Derrida (Lihat Giovanna Borradori, Philosophy in the Time of Terror, terj. Alfons Taryadi, Penerbit Kompas 2005, hal. 232-236) disebut sebagai “mondialisasi”, yaitu pendesakkan atau pemaksaan ideologi dan kekuatan politik dan ekonomi dari dunia yang satu (yang dalam hal ini Dunia Barat) terhadap dunia lainnya, yang seringkali motifnya adalah kepentingan material dan ekonomis (semisal perebutan minyak).

Selain seperti yang dikatakan oleh Sayid Reza Ameli dan Jacques Derrida itu, Anthony Giddens memiliki istilah sendiri untuk menyebut era globalisasi dan kapitalisme lanjut jaman kita ini, yaitu apa yang disebutnya “modernitas kedua”, sedangkan Jean Baudrillard menyebutnya sebagai “Era Simulacra”, yaitu suatu jaman ketika “citra” dan “gambar-gambar visual” adalah motor utama penggerak pikiran dan perilaku kita dalam hidup keseharian kita. Suatu jaman ketika “realitas” dimanipulasi dan direkayasa oleh media serta “hasrat pasar” yang cepat dan massif di era mutakhir kita ini. Tak terkecuali juga ketika hasrat-hasrat politik menggunakan tekno-sains untuk melakukan dis-informasi (pemanipulasian dan penghasutan), semisal ketika ISIS dan Barat membajak Islam dan “Jihad” demi mengelabui sekaligus demi mendapatkan dukungan dan legitimasi pihak-pihak yang justru ingin mereka “taklukkan”, yaitu Islam dan kaum muslim. Sedangkan “modernitas kedua” yang dimaksud Anthony Giddens, meminjam paparannya Sindhunata di majalah Basis Edisi Januari-Februari Tahun 2000 halaman 7 adalah “suatu periode peralihan masyarakat, di mana peralihan itu terjadi dengan menggelisahkan, ketika yang lama dirobohkan di saat yang baru belum dibangun”.

Dengan demikian, di era tekno sains dan jaman citra kita ini, kita dituntut untuk menjadi orang-orang cerdas dan cermat yang akan mampu memilah dan membedakan antara informasi (pengetahuan dan informasi yang objektif) dengan dis-informasi (penyesatan, penghasutan, dan pemanipulasian) yang acapkali digerakkan oleh hasrat-hasrat politik sepihak. Sebagai contoh, yang dalam hal ini kita akan kembali mengambil contoh ISIS yang mencitrakan diri sebagai para “mujahidin” itu, ternyata adalah “agen” dan “pion” Barat (Amerika, Ingris, Israel, Rezim Saud, dkk) dalam ranah persaingan dengan Iran, Rusia, dkk di kawasan Timur Tengah.

Mereka (Barat) menamakan rencananya itu dengan istilah Timur Tengah Baru. Istilah Timur Tengah Baru sendiri diperkenalkan ke dunia pada bulan Juni 2006 di Tel Aviv oleh Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice. Pergeseran (pemetaan) ini dalam ungkapan kebijakan luar negeri bertepatan dengan peresmian Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC) Terminal Minyak di Mediterania Timur. Proyek ini, yang telah dalam tahap perencanaan selama beberapa tahun, terdiri dalam menciptakan busur ketidakstabilan, kekacauan, dan kekerasan yang membentang dari Libanon, Palestina, dan Suriah ke Irak, Teluk Persia, Iran, dan perbatasan Afghanistan. Peta Timur Tengah baru, atau dalam realitasnya adalah Peta jalan militer Anglo-Amerika di Timur Tengah ini, adalah penciptaan sebuah entri untuk dapat masuk ke Asia Tengah (serangan terhadap Rusia) melalui Timur Tengah. Dalam hal inilah Timur Tengah, Afghanistan, dan Pakistan akan menjadi batu loncatan untuk memperluas pengaruh Amerika Serikat terhadap posisi Rusia dan Republik bekas Soviet di Asia Tengah. Selain itu, desain ulang yang terkandung dalam peta tersebut diposisikan juga untuk memecahkan masalah kontemporer Timur Tengah, yang sesuai dengan keinginan Israel, Amerika, dan Ingris.

Sulaiman Djaya

Kobani WomenKobani Women 2Kobani Women 3