Arsip Tag: Sulaiman Djaya

Seni Avant-Garde Penyair Sulaiman Djaya

Sketsanya dibuat secara manual oleh tangan dan jari-jemari….lalu diwarnai dengan perangkat paint yang ada di komputer….hasilnya adalah Seni Avant Garde….

 

Iklan

Bengkel Seni Budaya #2 Dewan Kesenian Banten

bsb-dkb-2

Setelah sukses dengan Program Bengkel Seni Budaya Edisi Perdana 15 Oktober 2016 lalu, Program Bengkel Seni Budaya Edisi Kedua Dewan Kesenian Banten diadakan pada 26 November 2016, juga di Taman Budaya Banten. Jika pada edisi perdana membutuhkan dua sessi saja, pada edisi kedua ini BSB DKB membutuhkan tiga sessi dari pukul 15.30-22.00 WIB. Sessi Pertama diisi dengan Diskusi Teater Bersama Peri Sandi (Banten) dan Perwakilan Teater Bilik Er (Jakarta). Sessi Kedua diisi dengan pementasan ‘Siklus’ oleh Teater Bilik Er. Dan sessi ketiga diisi dengan diskusi kritik, apresiasi dan saran yang dipandu oleh Sulaiman Djaya (Penanggungjawab Program Bengkel Seni Budaya DKB) dengan menghadirkan pemateri: Peri Sandi (Banten), Teater Bilik Er (Jakarta), R.M. Khalid (Ketua Komite Teater DKB), dan Gito Waluyo (Ketua Komite Seni Rupa DKB).

bsb-dkb-2h

Siklus yang dimainkan oleh Teater Bilik Er dari Jakarta pada Program Bengkel Seni Budaya #2 Dewan Kesenian Banten (26 November 2016) di Taman Budaya Banten ini adalah montase antara seni magis tradisional dan teater gerak (teater tubuh) yang mendadarkan siklus profan dan sakral kehidupan manusia, perbenturan dikotomis kebaikan dan kejahatan serta narasi sublim kehidupan manusia dan sejarahnya: dari kelahiran hingga kematian.

bsb-dkb-2b bsb-dkb-2c bsb-dkb-2d bsb-dkb-2e bsb-dkb-2f bsb-dkb-2g bsb-dkb-2h bsb-dkb-2i bsb-dkb-2j bsb-dkb-2k

Rimba Warna dalam Mazmur Musim Sunyi

Rimba Warna dalam Mazmur Musim Sunyi

Oleh Mugya Syahreza Santosa* (Sumber: Tabloid Banten Muda Edisi 17, Juni 2013)

“Aku selalu punya hitam yang paling lembut, // sebuah rumah dalam kerang // bermahkota kabut. Aku selalu punya dinding // yang senantiasa menggambar waktu.“

Penggalan puisi di atas merupakan pernyataan Sulaiman Djaya (selanjutnya dipanggil SD) sebagai penyair yang berhadapan dengan puisi-puisinya. Puisi dalam diri SD merupakan buah pengembaraannya ke dunia teks untuk menghasilkan kembali sebuah teks lain, meski tak dituntut menjadi hal baru, namun minimal memproduksi sesuatu yang mewujud “rupa baru”. Ini merupakan terusan dari apa yang diutarakan Arip Senjaya dalam epilog buku itu. Meskipun Arip menjelaskan bahwa jejak pembacaan SD dalam hal ini, tidak akan menjamin memperlihatkan tempat pemberangkatannya, melainkan mempertajam puisi-puisi SD itu sendiri.

Padahal, dengan tingkat kepercayaan diri SD yang ragu, pada kata pengantarnya, sang penyair sudah menyatakan bahwa puisi-puisinya mungkin saja lanjutan dari setiap hal yang telah hadir sebelumnya. Baik sebagai ide gagasan, estetika, maupun spiritnya. Saya kira tidak ada yang aneh dengan kesadaran SD akan hal tersebut. Bahkan satu sisi mungkin kesadaran tersebut menjebak sebagai kutukan yang bertahap menghampiri diri seorang penyair.

Akan tetapi tulisan ini, demi menghindari pembacaan yang sama, saya lebih memilih mengincar obsesi SD pada hal-hal yang riil dan seringkali menghiasi puisi-puisinya. Baca saja frasa “Hitam yang paling lembut” di larik pertama puisi SD yang berjudul “Mula Puisi”, yang menyuratkan obsesi SD sebagai penyair terhadap warna. Obsesi sebagai pikiran yang berulang dan menetap, impuls-impuls atau dorongan yang menyebabkan kecemasan. Obsesi itu acapkali muncul di berbagai puisi-puisinya untuk menegaskan di mana di SD sebagai penyair sedang berdiri: yang mengakibatkan adanya panorama yang sedang direnunginya sebagai peristiwa, alur waktu seperti ditegaskannya pada frase berikutnya: “menggambar waktu”, dan kegelisahan lainnya lagi yang kerap hadir menghantuinya.

Rasionalisasi benda-benda pada puisi-puisi Sulaiman Djaya selalu memungkinkannya untuk memaknai obsesi tersebut, seperti tercermin dalam pengakuannya: “benda-benda menggambar cuaca jadi warna”, dan begitu mendambakannya SD pada “kertas merah tua dari senja” hingga puisi akan terus dituliskan di atas hamparannya. Pada puisi berikutnya, yaitu “Di Ruang Baca”, SD semakin mendesak pembaca untuk larut mengiyakan bahwa “hari-hari yang kadang putih” merupakan pemandangan dari mata penyair untuk diterima oleh kita juga. Mengapa bisa demikian? “Karena waktu yang tak pernah bosan // menggambar warna pada bayang-bayang”, yang menurut SD terus ada dalam pikirannya.

Sementara itu, dunia dalam puisinya yang berjudul “Monolog” yang menjadi bagian percakapan penyair dengan bathinnya itu memperlihatkan kembali adanya keraguan untuk menyatakan warna apa yang dirasa pas demi mewakili sebuah nasib yang ditanggungnya? Karena bagi SD “bukan berwarna biru, ungu atau hijau abu-abu”. Ini membuat saya sebagai pembaca harus menerawang dan membayangkan apa yang diwakili warna dalam puisi-puisi SD bisa menjadi sebuah tolok-ukur untuk benda-benda yang sifatnya metafisik.

Akan banyak sekali yang ditemukan dari puisi-puisi yang terhimpun dalam Mazmur Musim Sunyi SD ini, yang secara tanpa sadar menggunakan citraan warna-warna untuk menandakan benda-benda. Sebut saja “putih beludru” dalam puisi “Memoar”, “November yang agak ungu” untuk latar waktu pada puisi “Surat Cinta”, “mendengar putih bintang-bintang”, “tahun-tahun adalah kibasan perak warna kelabu yang jadi biru”, “hijau musim di wajahmu yang matang”, “senja tampak marun”, “langit kuning bulan Mei”, “akhirnya datanglah Desember putih”, dan masih banyak lagi yang lainnya yang kemudian dapat disandingkan dengan penanda waktu.

Mungkinkah SD sedang berusaha meneguhkan dirinya lewat warna-warna yang ada di dunia ini? Agar tidak serta-merta warna-warna tersebut hanya menjadi identitas sebuah produk yang dapat dijual sebagai dagangan semata. Semisal menjadi wilayah fashion, trend, atau hasil industri dan pasaran lainnya lagi. Mungkin puisi yang langsung diberi judul “Elegi Kirmizi” akan memberi sedikit peluang dalam menemukan di mana SD sebagai penyair mengandaikan hidup dirinya “sepekat malam”, hingga pikirannya terobsesi warna-warna di luaran dunia sana.

Lalu perhatian saya berikutnya sebagai pembaca, meyakini latar waktu dalam puisi-puisi SD memiliki peranan ganda yang tidak hanya menjadi durasi, melainkan menjadi ruang beralusi. Jelasnya: “selalu punya dinding yang senantiasa menggambar waktu” untuk dipandangi, dibandingkan kembali bahkan diputar ulang sebagai peristiwa baru lagi untuk dinikmati.

Nama-nama bulan dalam perkalenderan pun banyak diseret oleh SD sebagai sejumlah metafor yang bisa dicampur-baurkan dengan warna-warna, menjadi semacam impressi. Nyanyian Desember adalah puisi yang paling mengesankan semua itu, baik dilihat pada obsesinya pada warna yang terus dihadirkan oleh sang penyairnya, juga latar waktu sebagai alusi. Secara sengaja atau tak sengaja, puisi-puisi SD merupakan bagian dari representasi dari keadaan jiwanya dalam menangkap fenomena di sekitarnya, yang dalam hal ini dituangkan lewat penanda pada jenis warna-warna yang begitu sangat dominan di sebagian besar puisi-puisinya dalam buku Mazmur Musim Sunyi. Kemungkinan SD mengirim lambang-lambang tersebut untuk memperkokoh kelangsungan pilihan katanya.

Cermati saja, betapa sering SD mewakilkan dirinya sebagai penyair dan sebagai seseorang yang senantiasa menghasilkan sebuah karya, yang berusaha bahkan bersaing dengan dirinya sekalipun, dan kadang penuh “kebirahian”. Hingga nampak, misalnya, pada disandingkannya dengan kata “senja”, terus dengan “kata-kata pertama hawa”, dan sebagainya. Barangkali hal itu disadari oleh SD sebagai penyair, namun bisa jadi alam bawah sadar-nya lah yang membimbing dan menuntunnya.

Sementara itu, warna biru, yang menggeliat di sejumlah nafas puisi-puisinya, memberi kesan menenangkan hingga tercapailah “takdir yang bukan biru”. Sehingga SD sebagai penyair meneguhkan dirinya akan nasibnya yang tidak pernah tenang, tidak pernah banyak harapan seperti tergambar dalam perlambang warna ungu, namun juga tak ada keinginan untuk hampa sebagaimana tercermin dalam perlambang “hijau yang abu-abu”.

Ada baiknya saya akan memberikan beberapa pemahaman saya sebagai pembaca akan warna-warna dalam puisi-puisi SD tersebut sebagai sesuatu yang memiliki ruang jiwa yang dapat kita duga. Misalnya pada warna hijau yang selalu mengesankan suatu keinginan, meski di dalamnya ada ketabahan dan kekerasan hati. Sementara untuk warna coklat seringkali memperlihatkan kondisi perebutan, yang kurang toleran, keadaan pesimis pada masa depan adalah wataknya. Dan terakhir, yaitu warna ungu, menjadikan semacam bagian dari bauran warna merah dan biru sebagai ke-erotis-an, dan selalu mempercayai banyak harapan.

Dari pendekatan inilah, saya sebagai pembaca, bisa menarik-ulur apa yang sering diandaikan penyair, yang dalam hal ini SD, untuk melekatkan citraan warna sebebas-suka pada benda-benda yang ada di ruang sekitarnya. Tidak hal yang ganjil, sebenarnya, warna-warna tersebut menjadi semacam jurus, karena beberapa penyair sebelumnya juga menggunakannya. Meski dalam hal ini, rimba warna dalam puisi-puisi SD begitu kentara dan terkonsentrasi begitu kuatnya. Demikianlah pembacaan saya atas buku puisi Sulaiman Djaya, Mazmur Musim Sunyi, sesuai dengan fokus dan tafsir saya yang melihat dan mencermatinya pada “kekhususan” SD sebagai penyair ketika menggunakan perlambang warna-warna dan bulan-bulan dalam perkalenderan. Dalam hal yang demikian itu, SD menuliskan kilauan-kilauan puisi-puisinya lewat dendang dan nyanyian yang sunyi, namun sekaligus bergairah.

*Penyair

Puisi, Penyair, dan Bahan Baca

Bedah Buku Mazmur Musim Sunyi Di Teras Budaya, Cilegon 4 Januari 2014 Fotografer Indra Kusumah

“Paper Bedah Buku Mazmur Musim Sunyi di Teras Budaya, Cilegon, Banten 4 Januari 2014”

Oleh M. Rois Rinaldi (Penyair dan Pimred Tabloid Ruang Rekonstruksi)

Satu hal yang dapat ditandai dari puisi-puisi Sulaiman Djaya dalam antologi puisi tunggal bertajuk “Mazmur Musim Sunyi”, adalah kesunyian itu sendiri. Kesunyian yang dalam dan dingin! Tentu saja dilantari oleh perjalanan hidupnya yang penuh dengan sinyal-sinyal makna serta kesan-kesan puitik yang ia jumputi sebagai bahan renung di ruang kontemplasinya sebagai seorang penyair. Membaca serta menelaah 69 puisi dalam Mazmur Sunyi, saya menemukan beberapa hal yang diulang-ulang oleh Sulaiman Djaya, baik kata, frasa, majas, pola pengandaian mau pun cara melihat dan memaknai sesuatu yang ia saksikan dan rasakan.

Menyoal pengulangan sebenarnya lumrah saja, mengingat hampir semua antologi puisi tunggal mengalami nasib yang sama. Penyebabnya tidak lain tidak bukan, karena keterbatasan mata dalam memandang alam semesta, keterbatasan pikiran manusia dalam memahami, mendalami, dan memaknai kehidupan, serta keterbatasan kata di jagat Indonesia ini, termasuk majas-majas yang berlaku. Maka, dari tidak banyaknya hal yang benar-benar dapat menarik jiwa penyair untuk menulis puisi, terjadilah beberapa pengulangan tema dan pemakaian pengandaian yang tidak jauh-jauh dari situ ke situ juga. Tidak terkecuali dalam Mazmur Sunyi. Selain itu, beberapa simbol juga mendominasi, di antaranya “warna” dan “waktu”. Kedua simbol tersebut sepertinya dengan sungguh-sungguh diposisikan oleh Sulaiman Djaya (kemudian disingkat SD) sebagai media pengandaian sekaligus simbol tertutup dan terbuka untuk menemukan kebermaknaan dalam puisi-puisinya:

“Aku adalah sebuah kalimat sajak // dengan kertas merah tua // dari senja yang menghitung daun-daun albasia (Mula Puisi, Hal 11). “Aku baik-baik saja // seperti hari-hari yang kadang putih // atau agak sedikit berlumut (Di Ruang Baca, Hal 12). “Buku-buku, kertas-kertas, almanac // pintu dan jendela, saling berbisik tentang nasib // yang bukan biru, bukan ungu // bukan juga hijau abu-abu (Monolog, hal 17). “Aku pun tahu kadang engkau bersembunyi // di balik tirai yang terbentang yang kau sebut hijau (Nyanyian Desember, hal 86).

Warna dalam puisi (barangkali) gambaran suatu keadaan sedih, senang, muram, sumringah dan sejenisnya. Misalnya putih, lazim dikonotasikan pada kebersihan, kesucian, katarsis, dan sejenisnya dan sejenisnya. Hijau berkaitan dengan kesejukan, keteduhan, dan sejenisnya. Merah dimaknai sebagai keberanian atau kemarahan. Dapat juga dimaknai lain semisal merah adalah gambaran ketakutan, kemurkaan, atau kemalangan. Pemaknaan-pemaknaan yang dimaksud sangat tergantung pada teks dan konteksnya. Pernah Moh. Wan Anwar mengulas beberapa karya pelajar yang dimuat di Horison sekitar tahun 2002/2003, bahwa warna yang dimasukkan dalam puisi dapat membantu penyair untuk mengejawantahkan suasana atau nuansa serta memperkuat puisi.

Terlepas dari sepaham atau tidaknya, yang perlu ditekankan adalah bagaimana warna yang ditulis dalam puisi tidak selesai sebagai warna melainkan benar-benar mewakili makna tertentu. Karena apa saja di tangan penyair mesti memiliki perwujudan berbeda selain wujud aslinya. Semisal bunga di tangan penyair tidak akan jadi bunga belaka. Lantas bagaimana dengan warna-warna yang ditulis Sulaiman, sudahkah mampu membawa makna atau sekadar nama-nama warna yang ditulis tanpa membawa apa-apa? Jawabannya dalam puisi Epigraf halaman 15: “Dan aku sibuk memindahkan warna-warna, kalimat, dan kata-kata di pojok waktu tempatmu membaca buku kesukaanmu yang bersampul merah muda dan biru.”

Kesibukan yang dimaksud dapat dimaknai pencarian—Sulaiman Djaya terus berusaha mencari posisi yang tepat bagi warna agar dapat selaras dengan kata dan kalimat. Sehingga saling bersinergi membangun makna yang kuat—karena tidak mudah mencarikan posisi yang tepat bagi warna-warna di dalam puisi. Disebabkan pemanfaatan warna baik, hijau, merah, kuning, biru, putih, hitam, dan sejenisnya, sudah banyak digunakan orang dalam puisi, berpuluh tahun atau bahkan berabad-abad lalu. Kedepan baiknya SD mencari pembaharuan dalam pemakaian simbol. Setidaknya bukan yang kebanyakan orang pakai. Meski demikian, bukan berarti apa yang dilakukan SD adalah salah. Terlebih, konon, kebaruan hanya bagian dari masa lalu.

Tidak jauh berbeda dengan simbol “waktu”, dapat dimaknai sebagai bentuk kesadaran penyair akan keberadaannya di dunia fana. Kaitannya dekat dengan hakikat keabadian Sang Khalik, sebagaimana disajikan dalam “bersama angin Januari yang menggodaku” (Di Ruang Baca, hal 12), “Di ruang ini, ada detik-detik lengang” (Di Ini Kubaca Lagi Waktu, hal 35) “meniup terompet ulangtahun / di sekartu bergambarku / yang kini telah jadi langit sabtu” (Musim Untuk Ibuku, hal 43), “pada derai angin Februari” (Nyanyian Desember, hal 86), dan “bunga-bunga waktu” (Sajak Bangun Tidur, hal 41). Simbol-simbol waktu yang ditanam Sulaiman Djaya dalam puisi-puisinya mengingatkan pada sumpah Tuhan atas nama makhluknya, yakni “Demi Waktu”. Keberadaan waktu dalam kehidupan memang misterius. Ia seperti sangat jauh padahal begitu dekat. Seperti sangat renggang padahal begitu rapat dengan tubuh dan ruh manusia. Inilah isyarat proses kratif seorang SD. Ada kegelisahan sekaligus kesadaran, betapa waktu begitu penting bahkan jadi genting jika tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Penyair, Bahan Baca, dan Puisi

Dalam dunia kepenyairan, proses kreativitas seorang penyair sangat dipengaruhi oleh apa yang dicercap dari kehidupan (realitas)—mencercap sinyal-sinyal alam semesta—semisal hakikat gugurnya daun dari dahan, hujan, rumput, kambing, kecoa, neon, piring, kelewawar dan sebagainya dan sebagainya. Selain itu adalah bahan baca yang turut memengaruhi proses kreativitas seorang penyair. Intensitas membaca yang turut mempengaruhi kepenulisan itu pula yang menjadi landasan hukum boleh terhadap karya-karya yang terpengaruh oleh apa yang dibaca. Tidak terkecuali SD. Terlebih, SD adalah satu dari sedikitnya orang yang gemar membaca dan memiliki pengetahuan yang sangat luas. Berbicara dengannya seperti mencuri banyak pengetahuan bahkan saat bercanda sekali pun, ada saja ilmu yang dapat dirampok dari ucap dan lakunya. Dikarenakan kegemarannya membaca itulah, sangat mungkin (untuk tidak bilang pasti) ada keterpengaruhan dari bahan bacanya. Meski tidaklah mutlak, bahkan bisa jadi hanya “kebetulan?” Dari puisi-puisinya ditemukan kedekatan dengan puisi-puisi karya penyair terdahulu semisal Chairil Anwar, Abdul Hadi WM, dan WS Rendra. Perhatikan beberapa amsal berikut ini:

“Aku tak punya banyak nama sepi, tapi yang paling indah kusebut dapur yang tak punya api (Memoar, Hal 18). “Apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti aku tungku tanpa api.” (diambil dari buku : EMPAT KUMPULAN SAJAK, karya RENDRA, penerbit Pustaka Jaya, cetakan kedelapan, tahun 2003). Unsur-unsur yang tampak lekat dari puisi WS Rendra dalam puisi SD yang dikutip di atas yakni: 1). “Sepi” tetap menjadi “sepi:”; 2). “Tungku” diperluas oleh SD menjadi “dapur”, yang merupakan tempat tungku berada; 3). “Tak punya” dipadankan dengan “tanpa”; 4). “Api” tetap menjadi “api”; dan 5). “Tapi yang paling indah” memiliki kesan yang sama dengan “itulah berarti” yakni sama-sama sebagai media penunjuk sebelum sampai pada objek yang dimaksud: SD memaksudkan keindahan itu pada “dapur yang tak punya api” dan WS. Rendra memaksudkan pada “tungku tanpa api”. “Dan aku ingin sekali menjadi nyala di depan kakimu” (Memoar, Hal 18). “Kini aku nyala pada lampu padammu” (Abdul Hadi W.M., 1977, Tuhan, Kita Begitu Dekat).

Unsur-unsur yang dapat diperhatikan adalah: 1). “Kini aku nyala” dalam puisi Abdul Hadi WM yang tegas dibuat gamang dalam puisi SD menjadi “aku ingin sekali menjadi nyala”; dan 2). Pada “lampu padammu” dalam puisi Abdul Hadi WM dieksekusi SD dalam puisinya menjadi “di depan kakimu”. Kedekatannya semakin terasa saat melihat kata depan “pada” (kata depan pada menandai hubungan tempat dan waktu) dalam puisi Abdul Hadi WM dan “di” (kata depan di menandai hubungan tempat beradanya sesuatu) dalam puisi SD. “Aku tak ingin hidup lagi // walau kau beri aku surge // aku sudah kecewa” (Pertanyaan Untuk Eskatologi-Mu, hal 93). “Hingga hilang pedih peri // Dan aku akan lebih tidak peduli // Aku mau hidup seribu tahun lagi” (Chairil Anwar, 1943, Aku).

Berbeda dengan contoh-contoh sebelumnya, kedekatan puisi “Pertanyaan Untuk Eskatologi-Mu” karya SD dengan puisi “Aku” karya Chairil Anwar terlihat sebagai pertentangan/antetisis terutama pada bagian “Aku mau hidup seribu tahun lagi” (Chairil) dan “Aku tak ingin hidup lagi” (SD). Selain itu, juga dapat ditemukan pada bagian berikut ini: 1). “Aku” sama-sama sebagai kata pembuka larik; 2). “Mau” (Chairil) menjadi “tak ingin” atau kalau dipertegas menjadi “tidak mau” (Sulaiman); 3). “Hidup” yang ditulis Chairil juga ditulis “hidup” oleh SD; 4). “Lagi” sebagai penutup dalam puisi Chairil juga ditulis “lagi” sebagai penutup dalam puisi SD.

Bagaimana pun setiap manusia memang selalu dipengaruhi oleh segala hal yang berinteraksi dengan dirinya. Baik interaksi sosial (manusia kepada manusia), interaksi alam (manusia dengan alam) dan interaksi ketuhanan (manusia dengan Tuhan). Karena itu fitrah, bahkan Gunawan Mohamad lebih ekstrim, ia mengatakan bahwa orisinalitas mengacu ke masa lalu sementara hari ini dan untuk masa depan hanya ada kreativitas. Meski saya tidak sependapat dengan pendapat tersebut, karena manusia yang selalu mencari akhirnya akan menemu juga—menemu sesuatu yang baru meski berangkat dari kreativitas.

Di Teras Budaya, Cilegon, Banten 4 Januari 2014

Pantun, Lirik, dan Mantra “Api Bawah Tanah”

Raudal Tanjung Banua di Serang, BantenDisampaikan pada Diskusi Bedah Buku “Api Bawah Tanah” Karya Raudal Tanjung Banua di Aula PKM Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 22 November 2013 yang Diselenggarakan Oleh Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

“Lewat tangan daratan
yang terulur ke laut
Kami memandang tanah seberang
bangsa-bangsa, aneka suku
membayang. Juga benua jauh
dan nasib yang disisihkan.”

Seorang penyair yang telah bertahun-tahun bergelut dengan penulisan puisi dan “pengembaraan batin” serta “ziarah intelektual” tentulah memiliki fondasi dan prinsip yang didasarkan dan dilandasi oleh pilihan sadar ketika menjadikan “bentuk dan material estetika” tertentu bagi dan dalam kerja kreatif kepenulisannya. Seorang penyair memang bekerja dan berkarya berdasarkan pilihan “rasa” dan “imajinasi”, namun bukan berarti tidak ada logika dan “keteraturan” dalam karya-karya puisi yang ditulisnya. Bila kita meminjam telaah Nietzsche tentang seni dan teater Yunani kuno, contohnya, estetika dan sastra adalah perwujudan dimensi spirit apollonian dan spirit dionisian.

Yang pertama adalah keteraturan, logika, dan ciri yang tenang, sedangkan yang kedua merupakan unsur-unsur keliaran, gairah, spontanitas, dan ketakteraturan. Puisi dan seni biasanya merupakan hasil kompromi (perpaduan), bahkan konfrontasi antara keduanya. Ada saat-saat tertentu seorang penyair menulis puisinya dengan spontan seakan ia sedang mendapatkan ilham yang deras dan membuncah. Namun, tak jarang seorang penyair menulis puisi tak ubahnya seorang pengukir yang berusaha memahat kata-kata, kalimat, dan bahasa. Kedua hal itu lazim dialami dan dilakukan seorang penyair, sehingga puisi-puisi seorang penyair biasanya lahir dan ditulis dalam dua “moment” tersebut, karena inspirasi yang kuat dan karena ketekunan (craftsmanship), atau bahkan gabungan keduanya: inspirasi dan ketekunan.

Meskipun demikian, puisi tidaklah lahir dari “kekosongan” di luar dunia. Ia lahir dan ditulis dari “sebuah dunia” yang diamati, dilihat, dan dirasakan seorang penyair, entah menyangkut pengalaman dan kenangan penyairnya atau menyangkut ikhtiar intelektualnya yang kemudian di-rekonstruksi dan di-imajinisasi dengan daya pikir dan daya rasa, yang lalu ditulis dan disuarakan dengan rima dan bahasa. Saat mengimajinasi itulah seorang penyair berusaha “memahat” dan “mengukir” kata, kalimat, frase menjelma kiasan dan narasi.

Ia bisa saja menggunakan pilihan bentuk yang sudah ada dengan berusaha memperbaharuinya secara segar berdasarkan perkembangan bahasa dan ujaran mutakhir yang tidak lagi klise dan aus. Pengalaman pembacaan dengan karya-karya sebelumnya atau yang sezamannya, intertekstualitas, atau jam terbang “ziarah”-nya atas karya-karya orang lain dan dirinya sendiri biasanya akan memperkaya dan mematangkannya. Hal-hal tersebut, saya kira, telah ada dan dimiliki oleh Raudal Tanjung Banua, ketika puisi-puisinya berusaha melakukan penyegaran dan “penulisan ulang” pantun, lirik, dan mantra, utamanya dalam buku puisi keduanya setelah Gugusan Mata Ibu, yaitu Api Bawah Tanah, seperti ketika penyairnya berusaha melakukan parodi santun atas pesimisme lirik dan pantun Herbsttag-nya Rainer Maria Rilke:

mereka yang tak berumah
tak akan membangun lagi
tapi di bantul,
mereka yang tak membangun
tentu tak akan berumah lagi.

maka dengarlah suara
bambu, bata, dan paku-paku
gergaji dan palu
pada berlagu
tentang rumah kecil papa
menjengkal segala lupa.

Puisi yang berjudul Mereka yang Tak Berumah (tak) Akan Membangun Lagi itu adalah suatu narasi tentang masyarakat Bantul paska gempa Jogja tahun 2006. Puisi tersebut memberitahu kepada kita, para pembaca, bahwa saat kejadian gempa di Jogja itu, penyairnya teringat paragraf terakhir puisi Herbsttag-nya Rainer Maria Rilke,

“Mereka yang tak berumah,
tak akan membangun lagi.
Mereka yang sendiri, akan lama menyendiri,
akan jaga, membaca, menulis surat panjang
dan akan melangkah hilir mudik di jalanan
gelisah, bila dedaunan beterbangan”

(Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Krista Saloh-Forster).

Bila kita baca sekilas, paragraf terakhir puisi Herbsttag-nya Rainer Maria Rilke dan puisi Mereka yang Tak Berumah (tak) Akan Membangun Lagi-nya Raudal Tanjung Banua tersebut seakan tidak ada perbedaan yang penting secara stilistik dan dari sudut “dunia” dan “kosmologi”-nya. Tetapi, bila kita simak secara seksama, nampaklah bahwa puisinya Raudal Tanjung Banua lebih kuat bunyi pantun-nya, sedangkan puisinya Rilke menggabungkan keseimbangan bunyi lirik dan pantun.

Tentu saja, dua puisi tersebut juga berbicara tentang konteks dan peristiwa yang berbeda: Rilke bercerita tentang seseorang, yang dalam hal ini Rilke sendiri, sebagai orang asing yang merasa kesepian, yang pada saat bersamaan ia bandingkan dengan nasib orang-orang yang terasing dan terusir, sementara Raudal Tanjung Banua berusaha menghadirkan makna dan arti rumah sebagai “ruang tinggal” atau space of staying sekaligus sebagai space of going (ruang kepergian) ketika si penyair melakukan komparasi pada dirinya sendiri sebagai seorang yang “hijrah” dari tanah kelahiran pada satu sisi, dan pada sisi lainnya tentang pentingnya rumah bagi para settler, bagi orang-orang yang telah lama “tinggal” yang menjadikan dan memaknakan rumah sebagai tempat berlindung satu-satunya yang sekaligus makna “rumah” bagi si penyair sebagai sesuatu dan ruang yang intim sekaligus asing.

Dalam puisi tersebut, penyairnya juga tampak sengaja mengaburkan makna “rumah” sebagai tempat dan ruang tinggal dan sebagai “kampung halaman”. Namun, baik puisinya Rilke dan Raudal Tanjung Banua sama-sama “mengimajinasikan” dan “menggambarkan” rumah sebagai “ruang batin”:

“kemarau dengan lebuh debu
telah berlalu di langit dukuh
bersama rumah-rumah yang dulu
tak kuasa menanggung berat derita bumi
kini semua tegak kembali
merekat yang lama dan yang baru
yang manis, retak dan kelabu.

mereka yang sendiri
mungkin akan lama menyendiri
di sudut rumah rindu minta dihuni
dan mereka yang pergi
tentu tak akan membangun lagi
karena rumah, karena rumah,
hanyalah tanda kasih, kecil-papa,
jauh di bumi.”

Teranglah kepada kita, bila kita baca sekali lagi, kita akan menemukan makna “rumah” dalam arti yang lebih luas, yaitu ekologi dan lingkungan, yang dalam sajak tersebut digambarkan sebagai “derita bumi” yang tentu saja dapat kita artikan sebagai “kerusakan ekologi” yang menyebabkan rusaknya keseimbangan dan ekosistem yang berdampak pada “bencana”. Ternyata, dalam puisi, kata “rumah” yang selama ini hanya kita anggap sebagai “kata benda” bisa juga memiliki arti dan makna “kata keterangan” yang memancarkan ragam arti dan “pemaknaan” sesuai dengan konteks puisi dan struktur “teks” puisi itu sendiri. Karena itulah, seringkali dikatakan, sebuah puisi atau teks sastra secara umum, menciptakan “dunia”, “kosmologi”, dan “realitas” sendiri, yang bahkan acapkali lepas dari intensi dan “niat pemakanaan” yang dikehendaki oleh penyairnya.

Tepat, di sini lah, bila kita meminjam wawasan hermeneutika, teks sastra mengalami dan mendapatkan dirinya “otonom” atau terbebas dari penulisnya. Sebab, karya sastra dan “teks” yang telah dituliskan atau “fixed writing” telah memiliki kemungkinan pembacaannya sendiri, meski kita dapat saja menelusuri sejarah konteks penulisan dan latar belakang penulisnya sekedar untuk mengetahui konteks sosiologis atau politis sebuah teks sastra sebelum kita membaca teks sastra itu sendiri.

Secara umum, puisi-puisi Raudal Tanjung Banua yang terkumpul dalam buku Api Bawah Tanah masih setia mempertahankan bentuk dan bunyi pantun dan mantra, sebagaimana dalam buku pertamanya yang berjudul Gugusan Mata Ibu. Kita tahu pantun merupakan bentuk yang tertib dan dapat melahirkan sugesti dan “aura” magis bunyi mantra karena repetisi rimanya, sebuah unsur yang juga lazim ada pada seni musik. Repetisi inilah yang membuat sebuah bunyi dan narasi puisi menjelma musik yang menggunakan kata-kata dan bahasa sebagai instrument musikalnya. Selain unsur musik, yang terkandung dalam pantun adalah juga permainan, terutama permainan bunyi dan rima yang tentu juga mensyaratkan kecerdikan dan kemahiran seorang penyair untuk menulis sebuah puisi pantun yang tidak aus alias sekedar mengulang khazanah lama tanpa melakukan upaya “penulisan” kembali yang sejalan dengan perkembangan bahasa dan ujaran kita saat ini.

Pada konteks inilah puisi-puisi Raudal Tanjung Banua berusaha “mengaktualkan” khazanah pantun dan mantra yang merupakan khazanah warisan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Melayu, yang tentu telah diakrabinya secara sangat baik sebagai seorang penyair yang lahir dari “tradisi” tersebut, sebuah tradisi yang juga telah diakrabi dan diolah para penyair Indonesia di masa lalu semisal Amir Hamzah yang puisi-puisinya juga mencerminkan kematangan “penggabungan” khazanah lirik dan pantun.

Sebagaimana dapat kita baca dalam buku Api Bawah Tanah dan Gugusan Mata Ibu, tanah kelahiran penyairnya, kampung halamannya, yang dapat kita artikan juga sebagai “tradisi” dan “khazanah hidup”, atau tentang tempat-tempat yang minimal telah dianggapnya sebagai “kampung halaman” secara bathin serta ingatan tentang itu semua menjadi bahan material dan perenungan banyak dari puisi-puisinya, meski penyairnya telah lama tinggal dan bergelut di Jogjakarta, yang sebagai perwakilannya dapat kita contohkan dengan puisinya yang berjudul Ziarah Pohon:

“Di Wangka, sepanjang Sungaiiliat dan Belinyu
dari Tanjung Penyusuk ke Tanjung Ru
aku berziarah. Bukan ke Gua Maria
bukit Moh Thian Liang, bukan ke Bakit
makam Hotaman Rasyid, bukan ke Liang San Phak
dan makam keramat Kapitan Bong
di klenteng dan sunyi Benteng Kutopanji.

Aku berziarah ke pohon-pohon masa kecilku
yang berderet mengurung
halaman kampung –kampung halaman
jauh terpencil.

Durian nangka cempedak hutan
daun-daunnya gugur di angin santer
langsat manggis duku
pucuk-rantingnya sayup di awan.
Semak rangsam di pinggir jalan
rumpun sagu di rawa selokan
cengkeh dan mete rimbun daun
di pantai ketapang mencumbu karang
bambu-pimping-paku bergoyangan di tebing
berpakis haji. Jambu-kweni-ambacang
jatuh berdebum di halaman klenteng dan surau kampung
bangunkan lelap muazin dan penggerek lonceng.
Kantong semar memerangkap serangga
dan kupu-kupu, diam-diam,
hingga mumbang jatuh kelapa jatuh
di pantai itu!

Begitulah kuziarahi pohon-pohon hayatku
yang menyatu sebagai liat tubuh ibu
bayang-bayangnya melindap
meneduhi bunga dan akar yang kurawat.”

Seperti terasa jelas kepada kita sebagai pembaca, “ziarah” yang ditawarkan puisi berjudul Ziarah Pohon tersebut adalah ziarah batin, menziarahi segala hal yang telah akrab bagi penyairnya, bukan ziarah kepada monumen-monumen dan tugu-tugu bisu yang tidak berkaitan dengan pengalaman hidup dan pengalaman batin seorang penyair, di mana seorang peziarahnya tak lain adalah seorang penyairnya sendiri. Apa saja yang diziarahinya? Bila kita mengacu kepada puisi Ziarah Pohon tersebut, si penyairnya menziarahi detil-detil tempat dan benda-benda yang pernah dijumpai, dihidupi, dan diintiminya: “tanah kelahiran” dan “kampung halaman” bathin-nya, sebelum seorang penyairnya akhirnya hijrah dan meninggalkannya, yang karena “tanah kelahiran” dan “kampung halaman” itu telah sedemikian nyatanya, minimal secara batin, membuatnya tetap nyata dan akrab meski telah ditinggalkan, menjadi ingatan dan kenangan batin, menjadi “space of staying” batin. Ia tidak “menziarahi” tempat-tempat, tugu-tugu, dan monumen-monumen yang tidak “berkenaan” dengan pengalaman hidup dan kenangan serta ingatan batinnya sebagai seorang penyair.

Begitu pun, dalam puisi Ziarah Pohon tersebut, penyairnya hendak memberikan pemaknaan bahwa “ziarah” bukanlah semata “wisata” yang sifatnya sekedar menjumpai “eksotisme” atau “masa silam” yang tidak “menyumbangkan” kosmik subjektif bagi “historiografi personal” si penyairnya.

Sulaiman Djaya