Dilema Politik Kritik Sastra

Puisi Sungai Sulaiman Djaya

Oleh Sulaiman Djaya (Komite Sastra Dewan Kesenian Banten)

ABSTRAK
Beberapa tahun belakangan ini banyak yang menilai ‘kritik sastra’ tidak menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang diharapkan. Sementara itu, pada saat yang sama, banyak orang pula menilai telah terjadi ‘politisasi kritik sastra’ yang motifnya beragam pula, mulai dari kepentingan ideologi, komunitas, atau pemilihan sepihak para ‘kritikus’ (atau katakanlah pengulas sastra dan redaktur) dengan sejumlah penulis (penyair atau sastrawan) tertentu yang memiliki ‘hubungan personal’. Berdasarkan kondisi dan alasan tersebut, tulisan ini mencoba memaparkan opini atau pendapat sejauh menyangkut persoalan-persolan tersebut, dengan mengambil contoh kasus Denny JA dan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang diterbitkan Gramedia tahun 2014 itu.

POLITIK SASTRA
Sebagaimana telah dirasakan dan diketahui bersama, utamanya oleh para penulis, sastrawan, penulis, pengamat, dan mereka yang bergelut dan memiliki konsen terhadap sastra, dunia kepenulisan, dan kebudayaan pada umumnya, salah-satu hal yang cukup memprihatinkan dunia kesusastraan dan intelektual di Indonesia adalah seputar tingkah-polah “kritikus” atau para penulis-pengulas karya yang lebih memerankan diri sebagai promotor atau “makelar pemasaran” atau pun “promotor”, hingga mereka hanya mampu mengutarakan pujian-pujian gombal sebagai upaya pembelaan kelompok atau dalam rangka memunculkan seseorang, dan sebaliknya, tanpa diiringi dengan semangat untuk mengetahui lebih intim dan membaca lebih peka karya yang ditulis itu sendiri. Barangkali kita akan menyebut perilaku dan fenomena tersebut sebagai “politisasi kritik sastra”, yang tentu saja hanya akan menyuburkan perilaku tidak adil untuk melihat karya sastra itu sendiri. Dalam hal ini, banyak pihak menyoroti komunitas tertentu yang menurut sejumlah pihak itu telah melakukan ‘monopolisasi’ kritik sastra, dinilai dan diduga tidak objektif dan lebih cenderung ‘mempromosikan’ para penulis dari komunitas mereka saja, dan akhirnya lebih sering melakukan ‘politik’ atau ‘politisasi sastra’.

Dalam hal inilah, sekedar untuk bercermin dan melihat secara jernih hubungan antara sastra dan ideologi (dan kekuasaan), konflik dan pertarungan antar komunitas yang berpegang pada ideologi masing-masing yang berbeda dan berseberangan, yang bahkan seputar ‘politik sastra’ atau ‘politisasi sastra’ itu, telah cukup bagus juga diulas oleh Wijaya Herlambang melalui bukunya yang berjudul Kekerasan Budaya Pasca 1965[1] yang secara jujur memaparkan bagaimana ‘politik sastra’ dalam konteks situasi politik nasional Indonesia yang menjadi medan pertarungan antara ideologi komunisme (sosialisme) dan liberalisme kala itu, yang pada akhirnya turut menentukan pula arena kompetisi dan dinamisme dalam dunia kebudayaan secara umum dan kesusastraan secara khusus, utamanya antara kelompok Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang sosialis dengan Pramoedya Ananta Toer sebagai ikon-nya dan kelompok Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang liberal dengan Goenawan Mohamad sebagai juru bicaranya. Sehingga dapat dikatakan bahwa politik sastra di Indonesia memang sudah lama terjadi dan berlangsung, yang memang terus berlangsung hingga saat ini.

POLITIK KRITIK SASTRA
Dan memang, masalah atau pun isu politik sastra itu pada akhirnya terkait juga dengan, atau lebih tepatnya, pada akhirnya menciptakan, suatu praktek ‘politik kritik sastra’, sebagaimana hal ini tersirat dalam buku yang ditulis oleh Wijaya Herlambang yang telah disebutkan itu. Sementara itu, kritik sastra sendiri, sebagaimana diidealkan T.S. Eliot (sekedar meminjam opini dan pandangan salah seorang penyair dan kritikus yang cukup ternama dan bernas), kerja kritik sastra ‘semestinya’ bukanlah ‘kerja amatiran’, dimana para kritikus harus mendisiplinkan prasangkanya. Baiklah, kita simak saja opini T.S. Eliot tentang kritik sastra: “Yang saya maksud kritik di sini adalah komentar dan jabaran karya seni dalam bentuk kata-kata tertulis, karena penggunaan secara umum kata kritik selalu mengacu pada tulisan. Kritik, di sisi lainnya, harus selalu menyatakan suatu akhir dalam pandangan, yang dengan kata lain bisa dikatakan, bahwa kritik kelihatan seperti uraian, penjelasan suatu karya seni dan pembetulan suatu selera. Maka, tugas kritikus kelihatan lebih jelas, dan relatif mudah memutuskan apakah ia menghasilkan kritik yang baik atau tidak. Kalau dipelajari lebih dalam lagi, kritik adalah kegiatan bermanfaat yang tidak sederhana dan teratur, tidak seperti amatiran yang bisa dengan mudah didepak, yang tidak lebih baik daripada ahli pidato di taman tiap hari Minggu, yang belum sampai pada tahap seseorang yang punya perbedaan. Kritik, bisa dikatakan, suatu tempat sepi yang di dalamnya terdapat usaha kooperatif. Kritikus, kalau orang itu ingin menampilkan keberadaannya, seharusnya selalu berusaha mendisiplinkan prasangka dan keanehannya (sifat yang biasanya dilekatkan pada kritikus) dan mengubah perbedaannya sebanyaknya sesama koleganya, dalam mencapai penilaian benar yang sama. Kebanyakan kritikus terjebak dalam suasana yang tidak mendukung: baik itu dalam usaha saling akur, saling hasut, menjatuhkan, menekan, menyombongkan, saling menenangkan, berpura-pura bahwa mereka orang yang santun dan yang lainnya sangat diragukan reputasinya.”[2]

Pengandaian dan pandangan lainnya tentang kritik sastra diutarakan kritikus sastra Katrin Bandel ketika ia menyatakan bahwa: “Kritik sastra diharapkan membongkar asumsi-asumsi yang melatarbelakangi sebuah karya, serta memperlihatkan apa yang tersembunyi atau hanya disampaikan secara tersirat. Dengan demikian, kritik sastra dapat menjadi alat bantu yang sangat penting bagi pembaca kritis yang tidak ingin terbuai oleh tipuan ideologi penguasa.”[3] Pandangan Katrin Bandel tersebut, yang terdengar bernada Marxist, secara jelas mengandaikan bahwa seorang kritikus mestinya juga ‘membedah’ unsur-unsur ideologi dan juga hal-hal lain, semisal asumsi-asumsi budaya, sosial, ekonomi, bahkan unsur-unsur politis yang ‘ikut masuk’ atau yang terkandung dalam karya sastra atau yang melatar-belakangi ‘sebuah karya sastra’ hadir dan ditulis bagi kita para pembaca, di mana pendekatan ini digunakan juga oleh Wijaya Herlambang dalam bukunya yang berjudul Kekerasan Budaya Pasca 1965 itu.

KASUS DENNY JA
Sealur dengan ideal kritik sastra yang diandaikan T.S. Eliot dan yang dipahami oleh Katrin Bandel itu, beberapa waktu yang lalu, dan hingga saat ini, ada suatu keprihatinan yang sangat mendalam dan memang sangat beralasan menyangkut ‘politik kritik sastra’ yang dilakukan secara sengaja dan sadar yang ditundukkan pada motif dan niat politis untuk menokohkan seseorang sebagai ‘tokoh sastrawan’, jika bukan Denny JA itu sendiri yang ‘menokohkan dirinya sendiri’ dengan menggunakan tangan sejumlah ‘sastrawan’, meski banyak pihak yang menentang dan menolak dengan alasan ketidakpantasan klaim penokohan itu sendiri dalam dunia kesusastraan berdasarkan pertimbangan karya dan kiprah, apalagi pemosisian tersebut harus menggusur sejumlah tokoh dan figur sastrawan dan penulis yang lebih pantas. Inilah, misalnya, yang disesalkan Katrin Bandel, yaitu ketika kritik sastra, dengan meminjam langsung tuturannya Katrin Bandel, “tidak terbebas dari risiko yang sama yang berlaku untuk sastra sendiri. Kritik sastra pun dapat menghamba pada kekuasaan, ketimbang speaking truth to power seperti yang diharapkan.”[4]

Kritik pedas Katrin Bandel itu seakan ingin menyindir dengan tajam dan blak-blakan sejumlah sastrawan dan penulis yang takluk di hadapan Denny JA hanya karena ia dapat memberikan honor yang lumayan besar bagi siapa saja yang mau mendukung ‘selera’-nya dengan tulisan, ulasan, bahkan dengan kritik sastra, yang memang banyak para sastrawan yang menulis demi mengangkat Denny JA yang sebenarnya bukan sastrawan dan mereka mendapuknya sebagai ‘sastrawan’, meski Denny JA lebih pas disebut politisi. Lalu ramai-lah aneka ulasan dan kritik sastra yang ditulis demi ‘mempromosikan’ selera Denny JA, yang dalam hal ini dapatlah dikatakan sebagai praktik ‘politik kritik sastra’.

Terkait dengan masalah tersebut, ada seorang teman berkata, “Tidakkah dengan demikian Denny JA telah berhasil merendahkan para sastrawan?’ Karena secara tidak langsung, otoritas Denny JA justru telah ‘merendahkan’ otoritas sastrawan. Karena praktik kritik sastra yang lebih bersifat politis ketimbang intelektual itulah, lahirlah para sastrawan yang pandai mengambil kesempatan alias pragmatis, meski kemudian ada hal-hal prinsip yang ‘dikorbankan’ menyangkut tanggungjawab intelektual dan sejarah yang harus mereka pertanggungjawabkan di hadapan generasi selanjutnya, dan utamanya dalam ranah pendidikan dan sejarah sastra Indonesia itu sendiri.

Kasus Denny JA dalam hiruk-pikuk politik sastra dan politik kritik sastra, tak ragu lagi, adalah contoh yang paling vulgar, paling kasat mata, dan paling gamblang sejauh menyangkut bagaimana sang pemilik pemodal sanggup ‘mengarahkan’ dan melakukan imperatif (entah langsung atau tak langsung, entah blak-blakkan atau terselubung) untuk ‘menetapkan’ selera pribadi sang pemilik modal. Barangkali dapat juga dikatakan bahwa ‘sang pemilik modal’ telah berhasil dan sukses untuk menunjukkan ‘arogansi’ terselubungnya untuk menempatkan otoritas dirinya sendiri yang ‘tunggal’ di atas otoritas para sastrawan dan para penulis sastra. Dan celakanya, jika hal itu benar dan terbukti, maka ia secara langsung atau tak langsung, sesungguhnya telah ‘merendahkan’ para sastrawan.

Namun soalnya ternyata tak hanya itu saja, sebab jika benar secara objektif bahwa Denny JA sangat tidak pantas didapuk sebagai ‘tokoh sastrawan’, maka para sastrawan yang telah meluluskan hasrat narsis dan ambisi egoistik Denny JA yang haus popularitas itu, telah ikut melakukan upaya penokohan secara politis tentang Denny JA, juga telah melakukan pengkhianatan sejarah sastra sekaligus melakukan pencederaan dan pelecehan estetik dan intelektual.

Tentu saja, sekedar untuk ‘mengingatkan’ kita kembali, kasus Denny JA yang kita bicarakan ini adalah terkait ‘didapuknya’ Denny JA sebagai 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014) itu, di mana sematan ‘berpengaruh’ itu menjadi persoalan terkait dengan Denny JA dalam dunia dan kiprah sastra. Sehingga sejumlah kalangan mempertanyakan apakah pengaruh dalam arti influence, “efek/akibat” (effect) atau “dampak” (impact), yang mana secara istilah dan kebahasaan, ketiga istilah ini memiliki makna dan konotasi yang berbeda. Dalam hal ini, jika yang kita maksud atau katakanlah yang kita sepakata adalah “pengaruh” (influence), maka hal itu tetap terdapat sejumlah persoalan konseptual sebagaimana diajukan dan atau diprotest oleh Katrin Bandel, yang dalam hal ini tidak dijabarkan oleh Tim 8 (yang menyusun buku dan menetapkan 33 tokoh tersebut) sebagai berikut (dengan meminjam langsung bahasan dan tuturannya Katrin Bandel): Pertama, “pengaruh” adalah hal yang sangat abstrak dan tidak mudah diukur. Kedua, secara sekilas “pengaruh” mungkin berhubungkan dengan “mutu”. Namun pada dasarnya, kedua hal itu terpisah satu sama lain. Ketiga, pantas dipertanyakan mengapa persoalan “pengaruh” dibicarakan dengan fokus pada “tokoh”. Bukankah di dunia sastra yang memiliki pengaruh itu terutama sekali adalah tulisan? Keempat, kata “berpengaruh” tanpa ada lanjutannya, dalam arti tanpa ada keterangan tentang apa atau siapa yang dipengaruhi, terkesan sangat umum dan tanpa fokus yang jelas.[5]

Tak diragukan lagi, kasus Denny JA (dan tentu saja buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh) itu adalah contoh yang paling vulgar tentang bagaimana ‘sang pemilik modal’ dengan ‘kekuasaan’ dan kekuatan kapital atau modalnya sanggup membeli legitimasi dan predikat dalam disiplin sains dan kebudayaan, tak ubahnya ‘tokoh preman’ yang membeli ijazah (palsu) dari institusi atau lembaga pendidikan, sehingga mirip dengan sindirannya Frederic Jameson (dengan mengutip langsung pernyataannya dalam pengantar untuk buku The Postmodern Condition-nya Jean-Francois Lyotard): bahwa saat ini sains, pengetahuan, penelitian tekhnologi tidak lain adalah produksi industri dan pengkapsulan nilai surplus[6] di mana dalam era pasar dan kapitalisme mutakhir jaman kita saat ini, kekuatan modal dan kapital acapkali menjadi tirani baru. Tirani yang telah dikritik Katrin Bandel dalam sejumlah tulisannya yang menolak buku 33 Tokoh Sastra Indonesia paling berpengaruh itu.

Dalam era pasar atau jaman kapitalisme mutakhir kita saat ini, yang bila mengutip bahasanya Jean-Francois Lyotard adalah sebuah jaman atau suatu kondisi di mana hubungan antara penyedia dan pengguna pengetahuan dengan pengetahuan yang disuplai dan digunakan cenderung mirip hubungan komoditas[6] yang membuat analisis Marxist masih tetap relevan untuk membongkar hubungan antara kebudayaan (dan atau kesenian) dengan kekuasaan dan atau dengan kepentingan para korporat, sebagaimana analisis Marxist dalam ranah kebudayaan ini juga digunakan oleh Wijaya Herlambang dan Katrin Bandel, sebagaimana telah disinggung.

ASAS KRITIK SASTRA
Landasan utama kritik sastra adalah kejujuran dan sikap mengesampingkan terlebih dahulu siapa seorang penulis ketika membaca sebuah karya –bukan sebaliknya, di mana simpulan-simpulan dan argumentasi-argumentasi tulisan kritik sastra akan disemangati oleh kehendak dan upaya untuk membaca karya itu sendiri, bukan untuk memunculkan atau pun menyerang “figur” atau pun “nama diri” seorang penulis atau pun pengarang. Yang juga penting adalah untuk menjaga agar sebuah esei atau ulasan kritik-sastra tidak berubah menjadi gosip yang sifatnya ad hominem, dalam artian lebih banyak membicarakan penulisnya ketimbang karyanya.

Semangat politis yang berlebihan seperti yang dirasakan dan dialami banyak penulis atau seniman, pada akhirnya hanya akan mengalahkan dan meniadakan kejujuran estetik itu sendiri –membuat mata tak lagi bisa melihat, dan telinga jadi tersumbat dari semangat estetika untuk mengafirmasi dan membela kepekaan hidup dan dari upaya sungguh-sungguh untuk menyelami karya yang ditulis oleh siapa saja.

Kritik sastra yang baik adalah kritik sastra yang imbang –dalam arti membicarakan atau pun mengulas kelebihan, sumbangan, keunikan sebuah karya yang dibahas dan dibicarakan, sekaligus tidak menutup-nutupi aspek-aspek kelemahan, kekurangan, warisan, dan jejak-jejak karya-karya lain yang ditulis sebelumnya dalam sebuah karya yang tengah dibicarakan dan dibahas oleh sebuah tulisan atau ulasan kritik sastra.

Jikalau pun ada upaya untuk memenangkan atau mengalahkan satu atas lainnya, tetap saja dalam posisi dan kadar pembicaraan karyanya, bukan penulisnya atau penyairnya –hingga nama diri pengarang dan penulis disebut pun bukan dalam rangka mengatasnamakan mereka, tetapi lebih merupakan rujukan sementara saja dalam tulisan atau pun ulasan sebuah esai atau pun ulasan kritik sastra.

Dengan ini barangkali kita perlu juga berandai-andai, misalnya, ada sebuah karya prosa atau puisi yang membuat sebuah kerangka analitik dan teoritik tafsir atau pun metode pembedahan tiba-tiba kehilangan relevansinya untuk selaras dan cocok sebagai alat untuk menafsir dan membaca karya tersebut –sebab adakalanya sebuah analisa dan tafsir justru lahir setelah karya, bukannya sebelum karya, di mana ada suatu waktu Heidegger membaca sajak-sajaknya Friedrich Holderlin yang malah membantunya untuk menuliskan tesis dan argumentasinya untuk buku Being and Time-nya –dan di suatu waktu Mikhail Bakhtin terpesona dengan novel-novelnya Dostoievsky, lalu menulis tentang apa itu prosa, seperti juga istilah surplus meaning-nya Paul Ricoeur dan ma’na bathin-nya Al-Ghazali adalah istilah-istilah yang ditetapkan dengan mantap ketika dan setelah membaca bentuk-bentuk dan metode-metode penuturan dan metafora kitab suci.

Adakalanya ketidaktepatan penggunaan wawasan atau metode analisa dan tafsir malah hanya akan membuat sebuah karya lepas dari pembacaan yang intim. Begitulah ketika seorang yang hendak mengulas sebuah karya sastra membaca sebuah puisi atau pun novel, tentu ia akan melupakan dan menunda untuk sementara wawasan teoritiknya tentang seni atau pun sastra yang telah ia pahami dan telah menyusun presuposisi alias praduga-praduga epistemik dalam benaknya, sebab ia mestilah mengetahui terlebih dahulu apa yang tengah dituturkan dan digambarkan sebuah teks sastra yang sedang ia baca –mungkin ada sesuatu yang lain, yang unik, dan yang sama sekali datang sebagai sesuatu yang masih asing dan belum dikenali atau pun belum diulas oleh wawasan dan kerangka teoritik tafsir dan analisa yang ada dan ditulis saat ini.

REFLEKSI PENUTUP
Berdasarkan sejumlah fenomena dan praktik ‘politik kritik sastra’ dan atau ‘politik sastra’ yang dilakukan sejumlah pihak dan kalangan beberapa tahun belakangan ini, nampak sekali bahwa yang paling disayangkan sering terjadi adalah upaya dan praktik-praktik ‘penokohan’ penulis atau pun pengarang itu sendiri serta ‘dominasi sepihak’ sejumlah komunitas atas sejumlah media dan forum sastra, sehingga kecendrungannya adalah acapkali ‘seseorang’ atau pun seorang penulis dan atau sejumlah penulis yang ‘ditokohkan’ atau ‘berusaha dipromosikan’ adalah mereka yang mewakili ‘komunitas tertentu’, meski secara karya (sebagaimana yang dikeluhkan Katrin Bandel) itu, bukan hanya karya-karya mereka yang ‘ditokohkan’ atau ‘dipromosikan’ oleh komunitas yang ‘menguasai sejumlah media sastra’ atau pun ‘forum sastra’ tersebut yang memiliki kualitas yang baik dan bahkan bagus bila dilihat dari sisi dan segi karya.

Seperti yang dikeluhkan sejumlah pihak itu, ada komunitas dan atau geng tertentu yang memang menguasai media-media besar dan forum-forum sastra, entah yang berskala nasional atau pun internasional, yang seringkali, sebagaimana dikritik dan dilawan sejumlah pihak itu, lebih gandrung melakukan upaya ‘penokohan’ dan atau ‘mempromosikan’ para penulis yang merupakan bagian dari komunitas mereka. Hal ini juga termasuk dalam praktik-praktik pemberian atau penganugerahan ‘literary award’ atau ‘anugerah sastra’, yang kalau meminjam bahasanya Arif Bagus Prasetyo dalam tulisannya di Harian Kompas edisi Minggu, 9 Januari 2011, acapkali juri-juri yang menyeleksi sejumlah karya sastra dan sejumlah penulis atau sastrawan yang berhak atau layak mendapat sejumlah literary award atau anugerah sastra itu, bukanlah para ‘kritikus sastra’ yang dirasa akan objektif dalam melakukan penilaian dan seleksi dalam artiannya yang jujur dan ideal, hingga ajang-ajang literary award atau anugerah sastra itu sendiri seringkali dianggap sebagai skandal dan kontroversi bagi sejumlah pihak.

Selain itu, lagi-lagi sebagaimana dikeluhkan dan disinyalir sejumlah pihak, seperti Katrin Bandel misalnya, mereka yang didapuk sebagai ‘kritikus sastra’ pun merupakan bagian dari strategi dan politik ‘komunitas tertentu’ dalam rangka menjadi perpanjangan ‘kepentingan politik sastra’ komunitas yang mendapuk sejumlah orang sebagai ‘kritikus sastra’ itu. Tentu saja, pada akhirnya, hanya argumentasi intelektual yang dapat menilai apakah tuduhan sejumlah pihak itu benar atau tidak. Hanya saja, dalam ranah dan domain konflik dan perdebat intelektual itu sendiri acapkali dilandasi oleh pilihan ideologi dan paradigma intelektual yang berbeda dan saling bertolak-belakang antara yang mengkritik dan yang dikritik, yang dalam contoh masa lalu dinamika kesusastraan Indonesia, seperti telah disinggung, misalnya, antara kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang sosialis-komunis dan kubu Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang liberal.

Dalam hal ini, barangkali kita perlu juga bertanya, ‘apakah masih relevan bagi kita untuk mempertahankan dikotomi antara Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sosialis-komunis dan Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang liberal sebagai ideologi dan khazanah estetik serta intelektual dalam konteks saat ini? Tidak adakah pilihan lain selain mempertahankan pertentangan antara Lekra dan Manikebu tersebut bagi kita yang ‘menjadi’ para penulis atau sastrawan setelah mereka yang masing-masing menempatkan diri mereka dalam barisan Lekra dan Manikebu tersebut? Tidakkah hal itu hanya akan mengukuhkan atau hanya akan ‘mengkanonisasi’ secara historis sepanjang sejarah sastra Indonesia bahwa dalam sejarah sastra Indonesia hanya pernah ada kubu Lekra dan Manikebu ketika kita terus-menerus menghidupkan debat mereka di masa silam dalam konteks saat ini?’

Singkatnya, barangkali kita sendiri harus ‘keluar’ dari dikotomi Lekra dan Manikebu tersebut dan menciptakan arah dan gelombang baru yang diharapkan akan bisa melepaskan diri kita dari penjara dikotomis antara ideologi Lekra dan ideologi Manikebu itu, yang salah-satunya adalah lewat institusi akademik yang diharapkan dapat menjadi ‘lembaga’ atau ‘institusi’ kritik sastra yang kompeten, netral, dan berwibawa. Sebab, sebagaimana sama-sama kita tahu, acapkali mereka yang menyerang dan mengkritik praktik dan atau perilaku ‘komunitas’ tertentu beberapa tahun belakangan ini yang kebetulan dinahkodai oleh penulis dan sastrawan eksponen Manifes Kebudayaan, memposisikan diri di barisan ideologis Lekra, sehingga mereka baik secara sadar atau pun tanpa sadar memposisikan diri di posisi barisan Lekra dan hanya menjadi pemain peganti untuk melawan apa yang mereka pandang sebagai ‘praktik politik sastra’ yang kebetulan kubu dan komunitas yang mereka lawan itu dinahkodai oleh eksponen Manifes Kebudayaan.

Dan akhirnya, sebelum menutup dan mengakhiri tulisan ini, penulis perlu menegaskan bahwa tulisan ini memang sengaja memilih posisi atau sengaja memposisikan dirinya hanya sebagai penanya dan sekedar menawarkan diskusi atau refleksi-refleksi subjektif penulisnya sendiri terkait dengan keluhan sejumlah pihak dan kalangan perihal krisis atau tidak adanya kemajuan dalam ‘kritik sastra’ bersamaan dengan meruaknya dan lahirnya banyak karya sastra dan para penulis di jagat sastra Indonesia kita beberapa tahun belakangan ini. Namun tentu saja, bukan berarti kita tidak memiliki peluang dan kesempatan untuk memajukan kritik sastra itu sendiri dan membangun ‘lembaga’ atau ‘institusi’ kritik sastra yang kompeten, netral, dan berwibawa. Wassalam dan terimakasih!

CATATAN:
[1] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, MarjinKiri, November 2013
[2] Silahkan rujuk http://archiple.blogspot.com/search?q=fungsi+kritik+sastra diunduh pada 21 Juli 2015.
[3] Silahkan rujuk https://boemipoetra.wordpress.com/2014/03/19/kritik-sastra-yang-menghamba-pada-kekuasaan/ diunduh pada 21 Juli 2015.
[4] Ibid.
[5] Silahkan rujuk https://boemipoetra.wordpress.com/2014/01/06/beberapa-catatan-atas-judul-33-tokoh-sastra-indonesia-paling-berpengaruh/ diunduh pada 22 Juli 2015.
[6] Jean-Francois Lyotard, Krisis dan Masa Depan Pengetahuan (diterjemahkan dari buku The Postmodern Condition: Report On Knowledge, Manchester University Press, 1984), Penerj. Kamaludin, Teraju, 2004, hal. 10.
[7] Ibid, hal. 27.

Iklan

Diariku

Sulaiman Djaya

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2010-2011)

Berdasarkan riwayat keluarga, aku lahir menjelang fajar. Suatu ketika, saat aku sendirian menjelang siang, aku merangkak sampai di tengah jalan di depan rumah. Padahal di tepi jalan itu ada saluran irigasi yang cukup lebar dan dalam, yang barangkali aku dapat saja tercebur jika tak diketahui oleh orang kampung yang lewat dan segera mengangkatku dan menggendongku –demikian menurut cerita beberapa orang di kampung kepadaku ketika aku telah dewasa.

Aku terlahir dari keluarga miskin dan rumahku berada sendirian di tepi jalan dan sungai, tidak seperti orang-orang kampung lainnya. Mayoritas keluarga dari pihak ibuku tidak merestui pernikahan orang tua kami, dan karenanya aku selalu dikucilkan oleh mereka dalam hal-hal urusan keluarga kakekku dari pihak ibuku.

Meskipun demikian, orang-orang di kampungku, terutama kaum perempuan dan ibu-ibu, sangat menghormati ibuku dan aku. Kakek dari pihak ibuku mirip orang Arab dan berhidung mancung, dan tipikal fisik kakek dari pihak ibuku itu menurun (diwariskan) kepada anak-anak pamanku (adik ibuku) yang semuanya berhidung mancung –hingga sepupu-sepupuku (anak-anak paman, adik ibuku) mirip orang-orang Iran dan Arab.

Dan memang, semua orang di kampungku mengatakan bahwa pamanku (adik ibuku) adalah lelaki paling ganteng di kampungku, hingga banyak perempuan yang suka kepadanya. Hanya saja, Tuhan menjodohkannya dengan perempuan Betawi.

Nama kakekku dari pihak ibuku adalah Haji Ali, orang yang pendiam dan sangat tekun bekerja sebagai petani dan perajin perabot rumah-tangga dari bambu dan pohon-pohon pandan. Seringkali, bila ibuku menyuruhku untuk meminjam beras kepadanya, ia sedang menganyam bakul dan tampah dari bilah-bilah pohon-pohon bambu, dan hanya berhenti bekerja bila waktu sholat saja. Sesekali aku harus menunggunya pulang dari sawah, dan pada saat itu aku diajak ngobrol oleh nenek tiriku (yang kurang kusukai). Maklum, nenekku sudah meninggal ketika aku lahir.

Berkat kekayaan kakekku dari pihak ibuku itulah, pamanku (adik ibuku) bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta di Jakarta hingga menjadi sarjana strata satu, hingga ia menjadi satu-satunya orang di kampungku yang kuliah, dan kakekku tentu saja satu-satunya orang di kampungku yang bisa meng-kuliahkan anaknya di perguruan tinggi.

Namun demikian, meski kakekku orang kaya, keluargaku hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan karena keluargaku tidak mau mengandalkan kekayaan kakekku. Menurutku hal itu terjadi karena keluarga kami “disisihkan” oleh keluarga besar kami karena mereka tidak menyetujui pernikahan orang tua kami. Dan karena itu ibuku harus bekerja keras menjadi petani dan menanam apa saja yang dapat dijual dan menghasilkan uang, seperti menanam sayur-sayuran, kacang dan rosella.

Ibuku adalah perempuan yang dicintai oleh orang-orang di kampungku –terutama oleh kaum perempuan. Dan setelah ia wafat, penghormatan orang-orang kampung itu beralih kepadaku. Barangkali karena orang-orang di kampung tahu bahwa yang seringkali bersamanya saat ibuku bekerja di sawah-sawah mereka adalah aku.

Ia adalah tipe perempuan yang tidak suka mengobrol dan bergosip, dan hanya akan keluar rumah jika ada keperluan penting saja atau jika hendak membeli kebutuhan bagi dapur dan untuk mendapatkan bahan pelengkap makanan untuk makan kami. Ia sempat mengajar ngaji beberapa tahun sebelum akhirnya berhenti karena alasan harus mengoptimalkan keluarga dan harus istirahat karena telah banyak bekerja.

Di masa-masa sulit, ibu-ibu atau perempuan-perempuan di kampung akan bertanya kepada ibuku apakah kami punya beras untuk kebutuhan keluarga, dan karena itulah aku seringkali membawakan gabah-gabah mereka ke tempat penggilingan –yang berkat kerjaku membawa gabah mereka dengan menggunakan sepeda itu, kami mendapatkan beberapa liter beras sebagai upah.

Di masa-masa panen, ibu-ibu dan kaum perempuan di kampungku juga akan mengajak kami untuk turut memanen padi di sawah-sawah mereka, dan aku pula yang selalu ikut dengan ibuku. Dari pekerjaan itulah kami mendapatkan beberapa karung gabah (mendapatkan 1/4 bagian) –sesuai dengan kemampuan kami memanen padi di sawah-sawah mereka, sebagai bagi hasil dari kerja kami membantu memanen padi mereka.

Demikianlah cara-cara orang-orang di kampung menolong kami. Itu adalah masa-masa ketika adik-adikku belum lahir, dan bapakku seringkali tidak ada di rumah, yang karenanya sampai saat ini, aku adalah orang yang kurang menghormati bapakku. Sehingga, dalam banyak hal, ketidaksetujuan keluarga besar kami dari pihak ibuku, akhirnya dapat kumaphumi.

Sementara itu, di masa-masa senggang dari musim panen padi hingga waktunya menanam padi kembali, ibuku akan menanam kacang, kacang panjang, kangkung, dan juga rosella, yang kemudian akan ia jual kepada orang-orang kampung, dan tak jarang-orang di kampungku dan orang-orang di kampung tetangga datang langsung kepada kami untuk membeli bahan-bahan pangan yang dihasilkan ibuku itu.

Dari penjualan kacang, kacang panjang, kangkung, dan rosella (yang diolah menjadi kopi oleh ibuku dan kami itu)-lah, kami mendapatkan uang untuk membiayai sekolahku dan sekolah kakak perempuanku.

Jika aku lebih dekat dan lebih menghormati ibuku, tentu karena bagiku ibuku lah yang dapat kukatakan sebagai orang yang setia dan punya komitmen, ketimbang bapakku yang ber-poligami dan sering tidak ada di rumah di masa kanak-kanak dan remajaku.

Selain menanam sejumlah sayuran dan yang lainnya, ibuku juga berusaha beternak, seperti memelihara ayam dan unggas, yang ketika besar dapat dijual kepada orang-orang yang lewat yang hendak ke pasar atau sepulang mereka dari pasar. Ternak-ternak kami itu terutama sekali akan banyak yang membelinya di hari-hari besar keagamaan, atau bila orang-orang di kampung hendak melaksanakan pesta pernikahan anak mereka atau mengkhitankan anak mereka.

Dan aku pula yang seringkali membantu ibuku untuk menangkap ayam-ayam itu bila mereka kebetulan sedang dikeluarkan dari kandang saat ada orang yang hendak membelinya tanpa diduga. Begitulah masa kanak dan masa remajaku yang lebih banyak dihabiskan dengan ibuku –selain ibuku juga lah orang pertama yang mengajariku membaca dan mengaji al Qur’an serta mengajariku tatacara sholat.

Di era 80-an itu, selain ibuku, yang bekerja keras mencari uang untuk memenuhi dan mencukupi kebutuhan keluarga kami adalah kakak pertamaku (aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara), seperti mengangkut batu-bata ke mobil truck, mencetak batu-bata, dan yang lainnya. Dapat dikatakan, di masa-masa itu, aku dan kakak pertamaku (lelaki) berbagi kerja dan tugas sesuai dengan kemampuan kami, di mana aku sering bertugas membantu ibuku bekerja di sawah atau menyirami tanaman yang ia tanam di samping rumah kami, di saat kakak pertamaku mencari uang dengan pekerjaan-pekerjaan lain.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya di era 90-an, ketika industri mulai banyak yang hadir di sekitar tempat kami (meski agak jauh), yaitu ketika kakak pertamaku yang hanya bersekolah sampai di sekolah menengah pertama, diterima menjadi karyawan (buruh) di sebuah perusahaan kontraktor yang tengah membangun sebuah pabrik kertas.

Keberuntungan pun terus berlanjut, kala masa kerja kakakku di perusahaan kontraktor tersebut berakhir karena pembangunan pabrik itu telah rampung, ia pun lalu diterima sebagai karyawan pabrik kertas (yang dibangun perusahaan kontraktor itu), siap beroperasi dan melakukan produksi.

Tak ragu lagi, keadaan itu telah memperbaiki keadaan ekonomi keluarga kami dan aku pun bisa meneruskan pendidikanku ke sekolah menengah pertama setelah lulus sekolah dasar, tepatnya di SMPN 1 Kragilan. Aku termasuk orang yang beruntung dapat melanjutkan di sekolah menengah pertama negeri, karena dengan demikian, aku dapat melanjutkan pendidikanku dengan cukup murah, di saat sejumlah kawanku banyak yang harus di sekolah swasta, semisal di SMP PGRI Kragilan (yang biayanya lebih tinggi).

Sekedar informasi tambahan, pendidikan sekolah dasarku hanya kutempuh selama lima tahun, karena aku tak perlu menempuh kelas dua sekolah dasar berdasarkan pertimbangan kepala sekolah dan para guru. Selama lima tahun menempuh pendidikan sekolah dasar itulah aku selalu mendapatkan ranking (peringkat pertama) dan lulus di sekolah dasar (SDN Jeruk Tipis 1 Kragilan) itu dengan peringkat pertama dan mendapatkan nilai tertinggi dibandingkan murid-murid yang lain.

Di saat aku duduk di kelas lima sekolah dasar di SDN Jeruk Tipis 1 itu pula, aku sempat menjadi juara pertama lomba cerdas cermat untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di tingkat Kecamatan dan juara satu tingkat Kabupaten untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Sementara itu, selama dua tahun menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, aku harus berjalan kaki sejauh lima kilometer lebih menuju sekolahku. Bila ada mobil truck yang lewat atau melintas di saat aku berangkat atau pulang sekolah, aku pun akan menumpang mobil tersebut. Sebenarnya saat itu aku ingin sekali memiliki sepeda ketika melihat banyak teman-temanku di sekolah memiliki sepeda, namun aku tak berani memintanya kepada ibuku. Bagiku aku sudah sangat beruntung dapat meneruskan pendidikanku, yang seringkali aku pun telat membayar iuran sekolah, seperti membayar SPP atau biaya ujian.

Masalahnya adalah ketika aku harus bersekolah dengan jalan kaki itu harus kujalani di masa-masa musim hujan. Di masa-masa hujan itulah biasanya ketidakhadiranku di kelas lebih banyak. Sebagai gantinya aku harus belajar di rumah lebih keras untuk mengejar materi-materi mata pelajaran mata pelajaran yang tertinggal ketika aku tidak dapat hadir di kelas. Tentu saja, prestasiku di sekolah menengah pertamaku tidak sama ketika aku di sekolah dasar. Ketika menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, paling-paling peringkatku di antara 7 atau 9, kalah dengan anak-anak kota yang buku-buku mata pelajarannya lebih lengkap.

Tak jarang aku harus meminjam buku-buku teman-temanku untuk sehari atau dua hari agar dapat kusalin di buku-buku catatanku, yang dengan demikian aku tak mesti membeli buku-buku paket yang seringkali diwajibkan sekolah untuk membelinya dari sekolah. Pihak sekolah pun menjadi maklum ketika kujelaskan keadaan yang sebenarnya ketika aku sering tidak membeli sejumlah buku paket –kecuali untuk buku matematika dan fisika yang mau tak mau aku harus membelinya dari uang jajan yang kutabung diam-diam alias tak kugunakan untuk jajan.

Rustam dan Bahman

Prince_of_Persia_FanMade_by_3fkan

Dulu, di Persia ada seorang pahlawan besar. Namanya Rustam. Ia adalah anak pungut dari seekor burung ajaib, bernama Simurg. Ketika Rustam akan kembali ke masyarakat, burung itu memberinya sebuah bulu.

“Jika kau butuh pertolongan,” kata Simurg. “Bakarlah bulu ini. Aku akan datang menolongmu.”

Rustam punya seorang musuh. Namanya Bahman. Setiap kali bertemu dengan Rustam, ia selalu menantangnya untuk berkelahi. Suatu hari, ketika sedang berburu singa di gunung, Rustam bertemu dengan Bahman. Di sana, mereka berkelahi sepanjang hari. Barulah setelah malam, mereka berhenti, karena lemas kecapaian. Mereka jatuh bersebelahan di tanah. Masing-masing dari mereka tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.

Rustam bangun dan pergi meneruskan berburunya. Ia mendapatkan banyak singa. Kulit singa itu ia jadikan sebagai baju dan topi. Rustam mempunyai topi kulit singa yang ajaib. Jika topi itu ia pakai, maka ia dapat menghilang.

Sementara itu, Bahman kembali ke istana. Dalam perjalanan ke sana, ia dicemooh orang-orang. “Hai, Bahman, katanya kau dapat menangkap Rustam dengan tanganmu sendiri dan membawanya kepada Sang Raja. Dasar pembohong besar!”

Bahman sangat malu dikatakan sebagai pembohong besar. Wajahnya merah. “Aku akan membuktikan pada rakyat bahwa aku bisa mengalahkan Rustam dan memperoleh julukan pahlawan paling besar di negeri itu,” katanya dalam hati. Lalu, Bahman membuat sebuah benteng besar di bukit yang dindingnya terbuat dari baja. Ia tempatkan para penjaga di atas dinding itu dan ia kelilingi benteng itu dengan parit yang lebar.

Setelah benteng itu jadi, Bahman mengundang Rustam untuk mengadakan pertandingan. Rustam datang dengan kudanya, Rasksh. “Selamat datang, Rustam. Masuklah ke bentengku. Kita akan bertarung di sini, untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pahlawan paling besar di seluruh Persia ini,” teriak Bahman, ketika Rustam sampai di pintu gerbang benteng itu.

Pintu gerbang itu dijaga oleh jin Kaypush dan Yarapush. Jadi untuk dapat masuk ke dalam benteng itu. Rustam harus dapat mengalahkan kedua jin itu dulu. Rustam dengan pentungan kayunya yang besar dapat mengalahkan Jin Yarapush, sementara kuda Rustam, Rasksh, dengan tendangannya yang dahsyat berhasil melukai kepala Jin Kaypush.

Setelah mengalahkan kedua jin itu, Rustam mengenakan topi kulit singanya, agar ia bisa menghilang. Lalu, ia masuk lapangan Benteng Baja tersebut bersama Rasksh di sebelahnya. Bahman bingung, karena ia tidak melihat Rustam, yang ada hanya kudanya.

“Cepat cari Rustam di semua sudut benteng. Akan kuberi hadiah siapa saja yang pertama melihatnya,” teriak Bahman.

Mendengar perintah Bahman, para penjaga benteng dan jin berlarian ke sana kemari, mencari Rustam di setiap kamar, tetapi tidak ditemukan. Padahal, ketika itu Rustam sedang mengadakan penyelidikan di benteng itu. Ia melihat ada empat kamar berpintu baja di benteng itu. Kamar pertama berisi emas dan permata. Kamar kedua berisi tong-tong bubuk mesiu. Kamar ketiga berisi lembing dan tombak. Kamar keempat tertutup. Dari lubang kunci pintunya dapat dilihat bahwa di dalam kamar itu terdapat seorang gadis yang rambutnya diikat ke sebuah gantungan di langit-langit, lalu Rustam meletakkan tongkatnya dan merusak pintu itu. Sebelum melepaskan tawanan itu. Rustam membuka topinya, agar dapat terlihat kembali .

“Maaf, Nona. Apakah kau seorang puteri raja?” tanya Rustam pada gadis yang mengenakan baju kebangsawanan dan perhiasan dari emas permata.

“Ya,” kata gadis itu. ” Namaku Mah-Naz. Aku tidak tahu mengapa aku bisa diikat dengan rambutku sendiri di benteng yang menyeramkan ini. Terima kasih atas bantuanmu.”

“Ikutlah denganku, aku akan membawamu pergi” ajak Rustam. “Tapi. sebelum itu aku harus mengalahkan musuhku dulu, karena ia mengundangku ke tempat ini untuk bertarung.”

“Tuan, Aku mohon padamu untuk membawaku ke istana ayahku di Turkestan, tapi jangan sampai ketahuan oleh Bahman,” pinta gadis itu.

“Pakailah topi kulit singa ini dikepalamu,” suruh Rustam pada gadis itu.” Berjalanlah di belakangku, karena aku akan bertarung dengan Bahman dulu. Jika sesuatu terjadi padaku, bakarlah bulu ini, maka pelindungku, Simurg, akan datang. Mintalah kepadanya agar kau diantarkan ke istana ayahmu. Kau akan tiba disana dengan segera setelah kau minta padanya”

“Tidak, tidak, aku tidak mau meninggalkanmu, aku akan tetap bersamamu di sini,” kata Mah Naz, lalu ia memakai topi dan memegang bulu itu. Ia berjalan di belakang Rustam menuju ke tengah lapangan benteng itu.

Belum sempat Rustam bertarung dengan Bahman, ia sudah diserang oleh para penjaga benteng itu. Jin Efrit, Kaypush dan Yarapush menyergapnya dan membawanya ke tengah lapangan. Di sana, Bahman sedang duduk di singgasana keramik hitamnya didampingi dengan dua belas jin lainnya.

“Hai, Rustam, Pahlawan Besar Persia,” teriak Bahman. “Akhirnya kau terima juga tantangan dariku. Lepaskan dia, Jin Efrit! Berikan dia pentungan yang besar. Kita akan lihat sekuat apa lawan kita ini.”

Akhirnya, Bahman dan Rustam bertarung di tengah-tengah para penjaga benteng dan jin yang memberi dukungan kepada Bahman. Sementara, pendukung Rustam tidak ada, kecuali Mah-Naz yang tidak kelihatan. Dalam pertarungan itu, Rustam mengalami kekalahan. Ia jatuh di tanah dan tak dapat berdiri lagi. Mah-Naz menangis ketakutan. Ia pikir Rustam telah mati. Maka, dibakarlah bulu yang diberikan kepadanya. Dalam waktu sekejab, terdengarlah suara kepakan sayap yang keras dari seekor burung raksasa. Kepakan itu membuat suasana di benteng itu menjadi gelap gulita, dan para penjaga benteng berjatuhan.

“Siapa yang berani menyerang Rustam, yang berada di bawah lindunganku,” kata Simurg dengan suara yang dahsyat sambil mengusapkan sayapnya ke badan Rustam dan Rustam pun kembali sehat seperti semula.

Sementara itu, Bahman berusaha untuk melarikan diri, tapi terlambat, karena Simurg telah membacakan manteranya.

“Jadilah kau batu, Hai, Manusia jahat!” Dan, semua yang ada di benteng itu pun berubah menjadi batu.

Belum sempat Rustam mengucapkan terima kasih pada Simurg, karena telah menyelamatkannya, burung itu sudah tidak ada. Namun, ia meninggalkan bulu lainnya di atas tanah. Bulu itu disimpan oleh Rustam.

Lalu, Rustam dan Mah-Naz keluar dari benteng itu menuju ke Turkestan. Ketika tiba di Turkestan, rakyat menerima mereka dengan gembira, karena sang puteri yang diculik oleh Bahman telah kembali. Sang Raja menjamu Rustam selama berminggu-minggu dan memberinya hadiah emas.

Sebenarnya, Mah-Naz ingin sekali Rustam menjadi suaminya. Tapi, ketika ia menyuruh pengasuhnya untuk mengatakan hal itu kepadanya. Rustam memakai topi kulit singanya dan menghilang dari pandangan, karena ia selalu mencurahkan hidupnya untuk bertarung dan memburu binatang buas.

(Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah “Anak Gadis Di Sarang Jin”. Penulis: Males Sutiasumarga. Penerbit: Zikrul Hakim – Jakarta)

Injil Barnabas dalam Kontroversi Sejarah

Ilustrasi Isa al Masih

Injil Barnabas dianggap sebagai Injil yang ganjil dan mengada-ada oleh sejumlah kalangan, meski bukan berarti kita tak mungkin memeriksa kembali klaim sejumlah kalangan tersebut: adakah klaim tersebut benar dan memiliki dasar, ataukah malah justru sebaliknya?

Dan sebagai sebuah isu dan wacana yang dianggap kontroversial, pembicaraan tentang Injil Barnabas memang merupakan masalah yang selalu aktual dan hangat untuk dibicarakan dan didiskusikan, utamanya oleh para teolog dan intelektual yang memiliki pikiran terbuka untuk membincang persoalan apa saja yang memungkinkan terbukanya atau tersingkapnya “kebenaran” yang selama ini tak diketahui atau barangkali sengaja ditutupi karena sejumlah alasan.

Sebagaimana kita tahu, di satu sisi, umat Islam pada umumnya menaruh simpati pada Injil ini, yang salah-satu alasannya adalah karena Injil Barnabas ini banyak menubuatkan mengenai kedatangan Nabi Muhammad saw, bahkan nama Muhammad berulang kali disebutkan dalam Injil ini.

Namun di lain pihak atau di lain sisi yang berbeda, sebagian besar kalangan atau sejumlah ummat Kristiani menolak keabsahan Injil Barnabas ini, dan menganggapnya sebagai Injil Palsu yang sesat dan menyesatkan. Sejumlah orang dan kalangan Ummat Kristiani, misalnya, mengklaim bahwa Injil Barnabas tidak dikenal dalam sejarah Kekristenan mula-mula (Periode Awal Gereja), dan masih menurut klaim mereka, Injil Barnabas dibuat oleh seorang Muslim yang bernama Fra Marino / Mustafa Arande, dan Injil ini baru mulai muncul (dikenal) pada sekitar abad ke-16 M. adakah benar demikian?

Terkait keberatan sejumlah kalangan dan beberapa pihat tersebut, berikut, akan kami sajikan beberapa fakta historis seputar Injil Barnabas yang sering dilupakan dan diabaikan oleh teman-teman di kalangan ummat Nasrani.

Injil Barnabas pernah diterima sebagai Injil Resmi (Kanonik) dalam kalangan Gereja-Gereja di wilayah Iskandariah sampai pada tahun 325 M. Berdasarkan keterangan Irenaeus (130-200 M), terbukti bahwa Injil Barnabas beredar luas pada abad pertama dan kedua Masehi. Dalam sejarah kita mengenal Irenaeus sebagai salah satu tokoh yang mendukung teori Keesaan Ilahi dan menentang ajaran Paulus serta menuduhnya bertanggung-jawab dalam melakukan asimilasi Agama Pagan Romawi dan Filsafat Plato terhadap ajaran Yesus (Isa al Masih putra Maryam) yang asli. Irenaeus banyak sekali mengutip pernyataan-pernyataan dalam Injil Barnabas untuk menguatkan argumentasinya.

Namun pada tahun 325 M diselenggarakanlah Konsili Nicea, dimana Doktrin Trinitas waktu itu disahkan sebagai keyakinan resmi. Konsekwensi dari keputusan tersebut adalah pemilihan dan penetapan empat Injil dari sekitar 300 lebih jenis Injil yang beredar saat itu sebagai Injil Resmi Gereja. Sedang nasib 300 Injil yang lain termasuk Injil Barnabas sangat memilukan di mata sejarah. Injil-Injil tersebut diperintahkan untuk dimusnahkan semuanya. Sebuah surat perintah pun diumumkan, yang menyatakan bahwa barang siapa dijumpai menyimpan / memiliki Injil-Injil yang tidak resmi itu akan dijatuhi hukuman mati.

Inilah tindakan pertama yang terorganisir sedemikian rupa untuk memusnahkan seluruh ajaran Yesus (Isa al Masih putra Maryam) yang asli, baik yang tertulis maupun yang terekam dalam ingatan orang dilenyapkan, karena dipandang bertentangan dengan ajaran Trinitas (hasil Konsili Nicea).

Namun lain halnya dengan Injil Barnabas, perintah pemusnahan Injil ini tidak selamanya berhasil, terbukti berulangkali nama Injil Barnabas tercantum dalam Daftar Kitab Terlarang untuk dibaca, diedarkan dan diperjual belikan.

Salah-satunya adalah yang dilakukan oleh PAUS DAMASUS yang tercatat dalam sejarah pernah menerbitkan sebuah Dekrit yang menyatakan bahwa Injil Barnabas terlarang untuk dibaca. Dekrit tersebut didukung penuh oleh Uskup Gelasus (wafat 395 M) yang menjabat uskup di Caesaria. Injil Barnabas termasuk dalam daftar Kitab Apokripa yang diumumkan Paus Damasus. Namun masih saja ada pihak-pihak yang memilikinya, karena terbukti Tokoh-Tokoh Gereja dimasa itu sering mengutip pernyataan-pernyataan dari Injil Barnabas tersebut, dalam tulisan mereka masing-masing.

Injil Barnabas juga dilarang beredar oleh Dekrit Gereja-Gereja Barat pada tahun 382 M. Ada juga Dekrit yang diumumkan PAUS HILARIUS pada tahun 465 M terkait pencekalan Injil Barnabas. Dekrit tersebut dikuatkan lagi oleh Dekrit PAUS GELASIUS I pada tahun 496 M yang kembali mencekal Injil Barnabas. Dekrit Paus Gelasius I kembali dikukuhkan oleh Dekrit PAUS HORMISDAS yang lagi-lagi mencekal Injil Barnabas.

Seluruh dekrit tersebut tercantum dalam Katalog Manuskrip Grik di dalam Perpustakaan Chancellor Seguir (1558-1672 M), yang dipersiapkan oleh B. De Montfaucon (1655-1741). Dan pada abad kelima Masehi, pada masa pemerintahan Kaisar Zeno (479-491 M), telah ditemukan MAKAM BARNABAS, naskah lengkap Injil Barnabas tulisan tangan beliau sendiri, ditemukan berada dalam kepitan tangan di dadanya. Hal ini tercatat dalam ACTA SANCTORUM karya Boland Junii pada Bab II halaman 422-450, diterbitkan di Antwerpen pada tahun 1698.

Dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan, bahwa klaim yang menyebutkan Injil Barnabas adalah Injil Palsu karangan seorang Muslim ternyata sangat tidak berdasar dan terkesan mengada-ada. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai Dekrit pencekalan Injil Barnabas, yang mana Injil ini berarti sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam, bahkan ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tahun 571 M.

Dengan melihat begitu menggebunya Gereja melarang peredaran Injil Barnabas, sampai-sampai 5 Dekrit telah diterbitkan untuk itu, maka wajar saja kalau kita bertanya-tanya: mengapa Injil Barnabas begitu terlarang di mata Gereja? Mungkinkah ada sesuatu yang hendak disembunyikan oleh Gereja dari umatnya? Atau mungkin karena nama MUHAMMAD dan nubuat kedatangannya terlalu jelas dan vulgar dibahas dalam Injil Barnabas sehingga membuat Gereja gerah dan resah?

Peradaban Syi’ah dan Ilmu Ke-Islaman

Peradaban Syiah dan Ilmu Keislaman

Oleh Prof. Dr. Sulaiman Dunya (Guru Besar Filsafat dari Fakultas Usuluddin di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir)

“Agar terjalin pertalian antara Syi’ah dan Sunni atas dasar prinsip-prinsip persaudaraan, pertalian cinta-kasih dan solidaritas, sekaligus mencerabut benih-benih perpecahan yang telah ditanamkan oleh musuh-musuh kedua mazhab ini”

Segala puji dan syukur hanya kepada Allah; Tuhan alam semesta. Shalawat dan salam atas Rasulullah, sebaik-baiknya makhluk, dan atas keluarganya yang suci nan mulia, serta atas segenap sahabatnya.

Amma ba’du. Beberapa waktu yang lalu, saya telah menulis sebuah risalah sederhana di bawah judul “Antara Syi’ah dan Sunni”; risalah yang menyimpan harapan yang besar dan keinginan yang kuat agar terjalin pertalian antara Syi’ah dan Sunni atas dasar prinsip-prinsip persaudaraan, pertalian cinta-kasih dan solidaritas, sekaligus mencerabut benih-benih perpecahan yang telah ditanamkan oleh musuh-musuh kedua mazhab ini ke dalam jiwa-jiwa setiap penganutnya. Masih di dalam risalah yang sama, saya menyerukan supaya setiap mazhab memandang perspektif mazhab lainnya selayaknya orang alim yang sedang mencari kebenaran, dan menyadari bahwa hanya kebenaranlah yang sepatutnya diikuti.

Telah saya katakan di sana, bahwa bila semangat yang kita warisi dari orang-orang soleh kita yang terdahulu itu telah menekankan keharusan komitmen pada kebenaran di mana pun, dan menerangkan bahwa kebanaran adalah pusaka berharga seorang mukmin yang hilang yang akan ia ambil di mana pun ia menemukannya, meskipun jatuh dari mulut orang kafir. Mereka menegaskan kepada kita bahwa orang yang berakal tidak akan menentukan kebenaran atas dasar figur seseorang, akan tetapi atas dasar bukti dan argumentasi. Maka dengan mengenal kebenaran, ia juga akan mengenal orang-orang yang benar.

Oleh karena itu, telah menjadi keharusan atas kita sebagai generasi penerus mereka, supaya senantiasa mencari kebenaran, berpegang teguh padanya, mempersiapkan diri dalam rangka menyampaikan pesan-pesannya dan bergerak di sekitar porosnya, tanpa lagi memandang siapa yang menyerukannya kepada kita.

Tentunya, dapat dimaklumi oleh orang-orang yang berakal bahwa perkara-perkara yang secara yakin masih belum diketahui selalu menjadi titik silang pendapat. Begitu pula, sikap saling menghormati setiap pendapat oleh setiap pengkaji dalam segala persoalan yang membuka pelbagai macam benturan pemikiran adalah sebuah keharusan dan tuntutan. Maka itu, mereka dapat berselisih pandangan dan, pada saat yang sama, duduk sejajar sebagai sahabat-sahabat yang baik.

Semoga Allah swt. melimpahkan rahmat kepada seseorang yang mengatakan: “Selisih pendapat tidaklah mengancam jalinan cinta”. Sesungguhnya Islam adalah agama yang menjunjung semangat toleransi dan keterbukaan sebegitu tingginya. Al-Quran menyatakan: “Dan berserulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan sebaik-baiknya cara”. Maka, bila seseorang ingin menikmati kebebasan dirinya dan mengekspresikan hasil-hasil kajian dan pikirannya, tidaklah sepatutnya memungkiri hak kebebasan pada orang lain untuk berbicara dan mengungkapkan hasil-hasil pemikiran dan pencarian intelektualnya.

Dan cukuplah sebuah kebanggaan bagi kaum Muslim tatkala mereka bersatu dan mufakat di atas prinsip-prinsip agama. Tampak begitu jelas; bagaimana prinsip ketuhanan menempati puncak sakralitas di dalam jiwa-jiwa Muslim, bagaimana prinsip Hari Kebangkitan, prinsip Kenabian dan kebergantungan umat manusia kepada prinsip-prinsip ini serta penutupan silsilah kenabian oleh Tuan umat manusia, Muhammad bin Abdillah saw., bagaimana mereka semua mempercayai kebenaran Al-Quran Al-Karim dan hadis-hadis sahih dari Rasulullah saw. Semua prinsip kepercayaan agama ini terpatri kuat di dalam dada dan jiwa segenap umat Islam.

Kehormatan dan sakralitas tiap-tiap prinsip itu tak terimbangi oleh sakralitas dan fanatisme agama apapun pada jiwa para penganutnya. Semua di atas tadi telah saya sampaikan bahkan lebih intensif lagi dalam risalah sederhana “Antara Syi’ah dan Ahli Sunnah (Sunni)”, meskipun di dalam risalah ini saya belum sempat menuliskan apa yang ingin aku ungkapkan lantaran pertimbangan kondisi proses penyetakan kala itu.

Dan kini adalah sebuah kebahagiaan besar bagi saya; yaitu diberi kesempatan guna membubuhkan kata pengantar untuk sebuah karya Sayyid Hasan Abu Muhammad, yang berjudul “Peradaban Syi’ah dan Ilmu Keislaman”. Di dalamnya, beliau membuka sebentang cakrawala yang barangkali masih asing bagi kebanyakan masyarakat Sunni.

Pada mulanya, saya ingin sekali mempelajari buku ini secara objektif, sehingga berdasarkan sejumlah data dan argumentasi, akan tampak jelas nilai kebenaran duduk persoalan yang tengah diupayakan oleh penulisnya untuk ditangani. Namun, saya mendapatkan buku ini justru di atas kapasitas dan kualifikasi saya sendiri, sebab penulis ra. memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan kekayaan data yang melimpah, sehingga beliau mampu memetakan semua ilmu-ilmu Islam dan Arab, memberikan klaim dan penilaian selayaknya seorang yang menguasai seluk beluknya, menggali kandungan rahasianya, membongkar faktor-faktor kelahirannya dan melacak tahaptahap perkembangannya.

Pada dasarnya, setiap jenjang ilmiah di atas menuntut keterlibatan sejumlah kelompok pakar dalam setiap ilmu tersebut, sehingga masing-masing pakar meneliti materi penelitiannya, lalu penulis yang mulia menerimanya atas dasar bukti, sebagaimana ia pun dapat menolaknya atas dasar bukti pula. Dan seandainya saya tidak lagi sempat berkecimpung di bidang ini dan mencermati subjek buku ini secara kritis lantaran kepercayaan saya pada kesungguhan para pakar yang begitu besar dalam mempelajari buku ini, tentu saya akan kecewa bila saja saya kehilangan kesempatan guna menorehkan sebuah kalimat yang saya anggap sebagai pendalaman atas apa yang telah tertulis di dalam risalah saya; “Antara Syi’ah dan Ahli Sunnah”. Kalimat itu ialah bahwa penulis yang mulia ra. mengklaim Syi’ah sebagai pelopor dalam merintis ilmu-ilmu agama dan Arab, lalu beliau membawakan bukti-bukti pendukung. Oleh sebab itu, buku ini berkisar pada penguraian klaim ini dan pemaparan argumentasinya.

Sementara di hadapan klaim tersebut, pembaca berada di antara dua sikap: Sikap pertama adalah sikap kaum pelajar, yaitu mereka yang tidak peduli terhadap peletak dan penggagas suatu bidang ilmu, dan hanya sibuk mempelajari materi-materi ilmu itu sendiri. Bagi mereka, tidaklah penting identitas para penggagas ilmu-ilmu; apakah ilmu itu hasil kreativitas Muslim Syi’ah saja, atau hasil kreativitas Muslim Sunni saja, atau hasil kerja sama mereka berdua.

Sikap kedua adalah sikap kaum terpelajar, yaitu mereka yang selain mempelajari ilmu-ilmu itu sendiri, juga mengamati kelahiran dan para penggagasnya serta tahap-tahap perkembangan yang dilaluinya. Karena, semua bidang ilmu mempunyai awal pembentukan dan perumusannya, persis dengan awal kelahiran tokoh-tokoh besar. Maka dari itu, setiap ilmu memiliki latar belakang sejarah sebagaimana akar sejarah kelahiran para tokoh besar tersebut.

Kepada kaum terpelajar saya katakan, bahwasanya buku ini merupakan usaha keras yang patut disyukuri. Penulisnya telah mengetengahkan buku tersebut kepada dunia Islam sebagai langkah partisipasi dalam mengemban tugas yang semestinya dipikul oleh para ulama Islam. Itulah sejarah ilmu-ilmu keislaman dan sejarah ilmu-ilmu lain yang diturunkannya.

Untuk itu, tidaklah pantas membalas budi usaha keras dan besar ini dengan cara pandang yang dangkal yang berdasar pada sikap acuh atau sinis. Tidaklah sepatutnya kita mengatakan, misalnya, bahwa usaha ini hanyalah fanatisme, atau penantangan, atau apa saja yang senada dengan kata-kata ini, sebagaimana yang digunakan sebagai alasan pembenaran diri oleh orang yang tidakmenginginkan dirinya terlibat di dalam jerih penelitian.

Sekali lagi, tidaklah sepatutnya kita beranggapan bahwa hanya ini, tidak ada selainnya. Sebab, tidak ada alasan untuk bersikap fanatik, pun tidak ada dalih untuk berlaga menantang, karena Syi’ah sebagaimana Sunni; mereka adalah Muslimin. Perselisihan pendapat mereka dengan Sunni hanya seputar persoalan-persoalan yang masih berada di bawah dataran prinsip agama. Maka itu, Syi’ah adalah saudara Muslim seiman, dan kepeloporan mereka dalam merintis sebagian bidang ilmu tak ubahnya dengan keunggulan seorang saudara di atas saudara lainnya. Dan bagaimanapun, fakta ini menumbuhkan semangat bersaing dan gairah kompetisi, tanpa menciptakan dampak negatif semacam kecurigaan, permusuhan dan pertikaian. Oleh kerena itu, kita tidak punya selain dua pilihan berikut ini:

Pertama, menundukkan kepala sebagai rasa syukur dan penghargaan atas usaha keras yang telah dicurahkan oleh penulis yang mulia, dan atas hasil-hasil penelitian yang telah dicapainya.

Kedua, membalas usaha keras penulis dengan cara dan kerja serupa, serta menawarkan hasilhasil penelitian yang diraih, berikut bukti-bukti yang kuat dan argumentasi yang dapat diterima.

Selanjutnya, saya menghadapkan diri kepada Allah; Dzat Yang Maha Kuasa, sambil berharap semoga Dia menyucikan jiwa-jiwa dari noda-noda yang mencemari mereka dan menggantikannya dengan benih-benih cinta, ketulusan dan persaudaraan, mengembalikan persatuan kepada Muslimin, memahamkan agama kepada mereka, mengingatkan akibat dari setiap urusan mereka, memberikan taufik-Nya kepada mereka sehingga tertuntun di bawah hidayah Islam dalam kehidupan pribadi dan sosial mereka, dan mengaruniakan inayah-Nya pada mereka agar dapat menyampaikan ajaran agama kepada umat manusia dengan mengamalkannya dan menjaga hukum-hukumnya sebagai bukti yang kuat atas keindahan dan kesempurnaannya.

Pada kesempatan ini, saya ingin sekali menyinggung salah satu keunggulan dan kegemilangan kaum Muslimin yang patut kita angkat dan kita banggakan, yaitu karya-karya Sayyid Muhammad Baqir Ash-Ashadr. Saya tidak mengira bahwa dunia sekarang dapat menciptakan semacamnya di tengah-tengah kondisi yang mempersulit penyusunannya. Kecerdasan beliau yang luar biasa telah menghasilkan dua karya besar; yaitu “Falsafatuna” dan “Iqtishoduna”. Itulah karya-karya yang mengetengahkan akidah Islam dan sistem sosialnya, dengan tetap mengoreksi pandangan-pandangan yang digagas oleh arus ateis Barat dan para antek-antek mereka yang seringkali memakai jubah Islam sedangkan Islam sendiri tampak jauh dari mereka.

Itulah pandangan-pandangan laksana tumbuhan kesembuhan yang sempat mengapung di permukaan laut lalu tenggelam hilang seakan tak pernah muncul. Untuk itu, kepada mereka yang mengoleksi pelbagai teori palsu di dalam kepala, saya menganjurkan agar menelaah karya-karya itu, dengan harapan mereka dapat menyucikan diri dari kotoran dan najis kebatilan dengan air suci kebenaran, dan menangkap cahaya wujud dari balik hati nurani mereka setelah tersesat di tengah arus alienasi, serta dapat menemukan diri mereka setelah menyia-nyiakannya.

Dan kepada kaum remaja Muslim yang terkecoh oleh sebersit janji peradaban yang palsu, saya menganjurkan agar meluangkan waktu guna membaca karya-karya tersebut. Pada saat yang sama, saya pun sadar bahwa bagaimana membaca karya-karya itu menjadi terasa sukar bagi mereka yang hidup dengan gaya hedonistik dan serba puas, hilang kesungguhan, lebih kerap dengan kebatilan daripada dengan kebenaran. Sebab, kebatilan dan hidup bersenang-senang adalah dua kendala yang telah menyelimuti akal, naluri dan hati sehingga mereka lalai dari kesungguhan dan kebenaran.

Begitu pula saya menganjurkan kepada para guru agar mempelajari karya-karya tersebut sehingga dapat membina jiwa-jiwa yang telah rusak, hati-hati yang telah gelap, akal-akal yang telah lumpuh dan terhina di mata para pecandu dunia lantaran mereka tidak mengecap betapa besar berkah dan fungsinya, dan pada gilirannya mereka pun tidak lagi mengenal nilai yang sesungguhnya. Dengan begitu, keadaan mereka tak menentu, kehidupan mereka menyimpang dan harapan-harapan mereka kabur, dan akhirnya mereka jatuh ke dalam kondisi yang perlu diciptakan kembali dari awal.

Di akhir pengantar ini, tidak ada yang layak saya sampaikan selain ungkapan terima kasih kepada saudara yang terhormat, Sayyid Murtadha Ar-Radhawi, pemilik perpustakaan An-Najah di kota Najaf, Republik Irak, atas usaha-usahanya yang mulia dalam menebarkan ilmu dan memperkenalkan khazanah-khazanah yang selama ini terpendam, juga atas kesempatan yang diberikan kepada saya sehingga saya dapat mengetahui karya ilmiah yang berharga ini [Peradaban Syi’ah dan Ilmu Keislaman].

Saya percaya bahwa buku ini akan menjadi subjek penelitian yang amat berarti bagi kaum pelajar dan terpelajar seketika edisi penerbitan terbarunya sampai di tangan mereka, Insya-Allah.

20 Ramadhan 1386 / 1 Januari 1967

Menuju Kota Agung

pablo neruda

Pidato Pablo Neruda Ketika Meraih Nobel (13 Desember 1971)

Pidato yang hendak saya sampaikan berupa sebuah pengembaraan panjang, sebuah perjalanan yang saya tempuh menyusuri tempat-tempat terpencil dan jauh dari keramaian. Tetapi bukan karena itu jika ada sedikit kemiripan dengan lanskap dan kesunyian Skandinavia. Saya menunjuk pada cara garis batas negeri saya ditarik hingga ujung paling selatan. Begitu jauhnya kami bangsa Chili sehingga perbatasan kami nyaris menyentuh Kutub Selatan. Ini mengingatkan pada keadaan geografis Swedia, yang kepalanya menjamah kawasan utara bersalju planet ini.

Menyusuri bentangan luas negeri tumpah darah saya, menyusuri peristiwa-peristiwa yang sudah terlupakan, orang mesti melintasi, dan begitulah saya terpaksa melintas, Pegunungan Andes demi menemukan perbatasan negeri saya dengan Argentina. Rimba raya membuat kawasan tak terjamah itu menyerupai sebuah terowongan di mana kami menempuh perjalanan rahasia dan terlarang dan hanya menyediakan sedikit sekali tanda bagi gerak maju kami. Tak ada jejak tak ada setapak. Saya dan keempat pengiring saya, di atas punggung kuda, terus maju menempuh jalan penuh siksaan itu, menyusup-nyusup di celah pepohonan raksasa, menghindari sungai yang tak mungkin diseberangi, tebing karang raksasa, dan hamparan salju nan muram; meraba-raba mencari wilayah di mana kebebasan saya berada. Mereka yang menyertai saya paham betul bagaimana menerobos maju membelah rimbunnya dedaunan belantara, namun demi amannya mereka menandai rute dengan goresan parang di pohon-pohon, meninggalkan jejak di sana sini yang nantinya bisa mereka ikuti sesudah meninggalkan saya sendirian dengan nasib saya.

Masing-masing kami beringsut maju menembus kesunyian yang tak bertepi, pepohonan hijau dan putih dan bisu, akar bahar raksasa dan lapisan tanah mengendap selama berabad-abad. Batang-batang setengah roboh bisa tiba-tiba muncul sebagai hambatan baru bagi gerak maju kami. Kami tercampak di sebuah dunia yang rahasia dan mempesona, yang sekaligus juga merupakan hamparan dingin, salju, dan rintangan yang kian mengancam. Semua melebur jadi satu: kesunyian, marabahaya, kebisuan, dan kegentingan misi saya.

Kadang-kadang kami menyusuri setapak yang begitu samar-samar, mungkin dulu dibuat oleh para penyelundup atau penjahat kelas teri yang mencoba kabur, dan kami tak tahu berapa banyak dari mereka yang menemui ajal direnggut oleh tangan beku musim dingin, oleh ganasnya badai salju yang sekonyong-konyong mengamuk di Pegunungan Andes, yang menelan dan mengubur para musafir di bawah putih salju setinggi tujuh lapis.

Pada kedua sisi setapak saya bisa melihat, di tengah kemurungan alam bebas, sesuatu yang menelikung aktivitas manusia. Di situ menumpuk dahan-dahan yang telah teronggok selama sekian musim dingin, sesaji yang diberikan oleh beratus-ratus orang yang mengarungi tempat itu, gundukan kubur asal-asalan sebagai kenangan terhadap mereka yang jatuh sehingga siapa pun yang lewat di situ pasti teringat pada orang-orang yang tak mampu bertahan dan terbujur diselimuti salju selama-lamanya. Para pengiring saya juga membabat dengan parang mereka dahan-dahan yang menyapu kepala kami dan menjulur dari pohon-pohon oak raksasa yang daun-daun terakhirnya berserakan disapu badai musim dingin. Dan saya juga meninggalkan penghormatan pada tiap-tiap gundukan, sebuah tanda kunjungan dari kayu, sepotong dahan dari hutan untuk menandai tiap-tiap peristirahatan para pengelana tak dikenal itu.

Kami harus menyeberangi sebuah sungai. Di atas ketinggian Pegunungan Andes sana ada aliran sungai kecil yang menjatuhkan diri dengan semburan dan tenaga menggila, menciptakan air terjun yang mengaduk-aduk tanah dan bebatuan yang mereka muntahkan dengan dahsyat. Namun kali ini kami menghadapi air tenang, hamparan luas bagai cermin yang dapat diseberangi. Kuda-kuda kami mencebur, kehilangan pijakan, dan mulai berenang mencapai seberang. Kuda saya hampir terbenam, saya timbul tenggelam tanpa dukungan, kaki saya meronta-ronta sejadi-jadinya sementara kuda saya berjuang agar kepalanya tetap menyembul di permukaan air. Akhirnya kami sampai di seberang, kawan-kawan saya, orang-orang dusun yang setia mengiringi perjalanan saya, bertanya dengan senyum dikulum: “Anda takut?” “Sangat. Kupikir ajalku sudah tiba,” kata saya. “Kami di belakang Anda menyiapkan laso kami,” mereka menukas. “Tepat di situ,” salah seorang menambahkan, “ayah saya jatuh dan terbawa arus. Itu takkan terjadi pada Anda.”

Kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di terowongan alamiah yang tercipta barangkali karena dibor oleh sungai besar yang kini sudah mati atau karena semacam gempa bumi saat dataran tinggi ini terbentuk. Kami masuk ke dalamnya, batu-batu granitnya seolah dipahat. Baru beberapa langkah kuda-kuda kami sudah tersaruk-saruk mencari pijakan di permukaan bebatuan yang tak rata dan kaki mereka terpeleset, bunga api memercik dari sepatu besi mereka—beberapa kali saya nyaris terlempar dan terkapar di bebatuan cadas. Moncong dan kaki kuda saya berdarah, tapi kami pantang menyerah dan terus menyusuri jalan panjang dan sukar namun menakjubkan itu.

Ada sesuatu yang menunggu kami di tengah hutan perawan liar ini. Mendadak, seakan-akan dalam mimpi yang aneh, kami disambut padang rumput kecil cantik yang tumbuh subur di antara batu-batu cadas: udara segar bersih, rumput hijau, bunga-bunga liar, sungai kecil berkelok dan langit biru di atas. Cahaya melimpah tanpa dihalangi dedaunan.

Di tempat itu kami seakan-akan berhenti di sebuah lingkaran magis, layaknya tamu di suatu tempat keramat, dan dalam upacara di mana sekarang ini saya terlibat masih menebar aroma sesuatu yang keramat. Para penggembala sapi yang mengiringi saya turun dari kuda mereka. Di tengah-tengah tempat itu terdapat tengkorak kepala lembu jantan yang dipajang layaknya dalam sebuah ritus. Tanpa berkata-kata, satu demi satu para lelaki itu menaruh uang logam dan makanan di rongga mata tengkorak. Saya mengikuti mereka memberikan persembahan yang ditujukan buat para pengelana yang tersesat, buat setiap pengungsi yang akan menemukan roti dan bantuan di rongga mata lembu mati itu.

Namun upacara yang tak pernah saya lupakan itu tidak berhenti di situ. Teman-teman saya melepas topi mereka dan mulai menarikan tarian ganjil, melompat-lompat di atas satu kaki di sekeliling tengkorak tersebut, bergerak berputar mengikuti jejak kaki yang ditinggalkan orang-orang yang lewat sebelum kami. Sedikit demi sedikit saya mengerti. Di sana, di samping perilaku ganjil para pengiring saya itu, terdapat semacam ikatan di antara orang-orang yang tidak saling kenal, sebuah perhatian, sebuah seruan, dan sebuah jawaban di tempat sunyi yang paling jauh dan paling terpencil di dunia ini.

Terus berjalan, sebelum mencapai perbatasan yang akan memisahkan saya dari negeri saya untuk beberapa tahun, di malam hari kami menemukan celah terakhir pegunungan. Tiba-tiba kami melihat nyala api sebagai pertanda pasti akan kehadiran manusia, dan ketika kami makin mendekat kami mendapati bangunan setengah hancur, pondok-pondok yang sudah ditinggalkan. Kami memasuki salah satu pondok dan melihat nyala api dari balok-balok yang terbakar di tengah ruang, belahan kayu dari pohon-pohon besar, yang menyala siang malam dan menciptakan asap yang membumbung lewat celah pada atap dan melayang seperti selendang biru tua di kegelapan malam. Kami mendapati gunungan keju, yang dibuat oleh para penghuni dataran tinggi ini. Di dekat perapian duduk orang-orang yang menggerombol seperti karung. Dalam keheningan kami bisa mendengar nada petikan gitar dan syair lagu yang lahir dari bara api dan kegelapan, dan suara manusia pertama yang kami temui dalam perjalanan kami. Lagu itu mendengangkan cinta dan kota-kota yang jauh, sebuah ratapan dan kerinduan pada musim semi entah di mana, rasa rindu pada hidup yang membentang tanpa batas. Orang-orang itu tidak tahu siapa kami, tidak tahu-menahu tentang pelarian kami; atau mungkin sesungguhnya mereka tahu siapa kami? Yang jelas di perapian itu kami bernyanyi dan makan, lalu di tengah kegelapan kami memasuki semacam bilik-bilik primitif. Bilik-bilik yang dialiri arus hangat air vulkanik untuk kami mandi, satu kehangatan yang bersumber pada rangkaian pegunungan yang menyambut kami dalam keramahannya.

Sukacita kami mencebur, dan kami pun habis-habisan membersihkan diri, melepas penat setelah perjalanan panjang di punggung kuda. Menginjak fajar, kami memulai lagi perjalanan dengan tubuh segar, rasanya terlahir kembali dan dibaptis, menyusuri beberapa mil ke depan yang akan menjauhkan saya dari tanah air saya. Kami menunggang kuda sambil bernyanyi, diliputi suasana baru, dipenuhi kekuatan yang menggiring kami pada jalan raya terlapang di dunia yang sudah menunggu saya. Satu hal saya ingat betul, ialah ketika kami hendak memberikan pada para penghuni gunung itu beberapa keping uang logam sebagai tanda terima kasih untuk nyanyian mereka, untuk makanan, air hangat, penginapan, dan tempat tidur yang telah diberikan—untuk surga tak terduga yang kami jumpai di tengah perjalanan—dan pemberian kami ditolak mentah-mentah. Mereka melayani kami, itu saja. Tak ada apa pun yang berlebihan bagi mereka. Dan dalam sikap “tak ada apa pun” yang membisu itu, tersembunyi sesuatu yang kami mafhum, mungkin sebuah pengakuan, mungkin semacam mimpi-mimpi bersama.

Hadirin sekalian yang terhormat,

Tak pernah saya mempelajari satu pun resep menulis puisi dan karena itu saya akan berusaha keras tidak memberi saran apa-apa tentang bentuk atau gaya yang dianggap bisa memberikan setetes wawasan yang dinanti-nanti para penyair baru. Bila dalam pidato ini, dan di tempat ini—yang berbeda jauh dari tempat saya waktu itu—saya mengisahkan sesuatu tentang peristiwa di masa lalu, mengenang kembali sebuah kejadian yang tak terlupakan, itu karena dalam perjalanan hidup saya entah di mana saya senantiasa mendapatkan dukungan yang diperlukan: sebuah formula yang menanti saya. Bukan untuk dibekukan dalam kata-kata, tapi justru untuk menjelaskan kepada saya tentang diri saya sendiri.

Selama perjalanan panjang tersebut, saya menemukan komponen-komponen penting untuk menyusun puisi. Di situ saya menerima sumbangan dari tanah dan jiwa. Dan saya yakin bahwa puisi adalah sebuah tindakan, sekelebat atau khidmat, di mana kesunyian dan solidaritas, aksi dan emosi, kedekatan pada diri sendiri, pada umat manusia, dan pada manifestasi tersembunyi alam masuk ke dalamnya sebagai rekan yang sederajat. Di samping itu saya juga berpikir bahwa semua ini—manusia dan bayangannya, manusia dan tindak-tanduknya, manusia dan puisinya—bisa diterima oleh semangat berkomunitas yang kian mengembang, oleh suatu usaha yang akan selamanya menyatukan realitas dan mimpi dalam diri kita karena memang dengan cara itulah puisi menyatukan dan merajut semuanya. Jadi, saya katakan bahwa saya tidak tahu, setelah bertahun-tahun, apakah pelajaran yang saya petik ketika menyeberangi sungai yang menyurutkan nyali, ketika menari mengitari tengkorak sapi, ketika merendam tubuh dalam air pembersih di ketinggian puncak—saya tidak tahu apakah pelajaran-pelajaran itu mengalir melalui saya untuk ditanamkan ke orang-orang lain atau apakah semua itu adalah sebuah pesan yang dikirim oleh orang lain untuk saya sebagai sebuah permintaan atau tuntutan. Untuk semua syair yang saya alami hari ini, seluruh pengalaman yang nantinya saya tuang dalam bait-bait sajak, saya sungguh tidak mengerti apakah saya mengalami sesuatu atau menciptakan sesuatu, saya tidak tahu apakah ia sebuah kebenaran atau sebuah puisi, apakah ia sesuatu yang melintas atau tetap tinggal.

Dari semua ini, kawan-kawan, muncullah sebuah pemahaman bahwa penyair harus belajar lewat orang lain. Tidak ada kesunyian yang tak teratasi. Semua setapak mengarah pada tujuan yang sama: menyampaikan pada orang lain siapa kita sejatinya. Dan kita mesti melewati kesunyian dan kesulitan, kesendirian dan keheningan untuk mencapai tempat menyenangkan di mana kita bisa menarikan tarian aneh dan mendendangkan nyanyian pedih kita—namun dalam tarian atau nyanyian ini terlunaskan ritus paling tua dari suara hati kita, dalam kesadaran kita sebagai manusia dan dalam kesadaran kita untuk meyakini suatu suratan bersama.

Yang jelas, kalaupun ada beberapa atau banyak orang menganggap saya sektarian, enggan duduk bersama di meja persahabatan dan tanggung jawab, saya tak hendak membela diri, sebab saya yakin bahwa dakwaan maupun pembelaan tidak termasuk tugas seorang penyair. Kala semua sudah dikatakan, tidak ada penyair mana pun yang mampu mengatur puisi. Bila seorang penyair mau bersusah payah mendakwa rekan-rekannya atau jika sejumlah penyair lainnya menyia-nyiakan hidup dengan membela diri dari tuduhan yang masuk akal ataupun yang tidak, saya yakin bahwa hanya kecongkakan semata yang bisa begitu menyesatkan kita. Bagi saya musuh-musuh puisi bukanlah siapa yang menjalani puisi atau yang menjaganya, musuh puisi adalah tidak utuhnya pemahaman dalam diri penyair. Karena alasan ini maka sesungguhnya tak ada musuh besar bagi seorang penyair selain ketidakmampuannya sendiri untuk membuat agar dirinya dipahami oleh orang-orang sezamannya yang paling terlupakan dan paling terhisap, dan dalil ini berlaku di semua zaman dan semua negeri.

Seorang penyair bukanlah “dewa kecil”. Bukan, ia sama sekali bukan “dewa kecil”. Sama sekali ia tidak dipilih oleh takdir yang mistis sebagai lebih utama ketimbang mereka yang menekuni keahlian dan profesi lain. Di kepala saya selalu saya pupuk pikiran bahwa penyair adalah orang yang sehari-hari menyiapkan roti bagi kita: tukang roti terdekat yang tidak membayangkan diri sebagai dewa. Ia melakoni pekerjaan mulia dan tanpa pamrih—mengaduk adonan, memasukkannya dalam oven memanggangnya dalam warna-warni keemasan, dan menyajikan roti setiap hari bagi kita sebagai tugas terhadap sesama manusia. Dan, jika penyair mampu mencapai pemahaman sepele ini, maka kesadaran ini pun akan ditransformasikan menjadi elemen dalam dalam suatu aktivitas yang luar biasa, dalam struktur entah sederhana entah rumit yang menjadi kerangka bangunan komunitas. Ia akan menjadi elemen bagi perubahan kondisi yang melingkupi umat manusia, bagi penyajian hasil karya manusia: roti, kebenaran, anggur, dan impian. Jika seorang penyair hendak melibatkan diri dalam perjuangan yang terus-menerus demi menggapai tangan semua orang dan berniat membentangkan kerja, usaha, dan rasa kasihnya untuk merangkul kerja sehari-hari mereka, maka dia harus ambil bagian. Seorang penyair harus ambil bagian dalam keringat, dalam roti, dalam anggur, dan dalam seluruh impian manusia. Cuma dalam jalan mutlak menjadi manusia biasa inilah kita memberi puisi keluasan tak berperi, yang sedikit demi sedikit mengelupas di setiap zaman, tak ubahnya kita yang kian memudar.

Berbagai kekeliruan yang menghadapkan saya pada kebenaran relatif, dan kebenaran-kebenaran yang berulang kali menyeret saya kembali pada kesalahan, tidak memungkinkan saya menemukan jalan yang menuntun dan cara untuk mempelajari apa yang dinamakan proses kreatif, untuk mencapai ketinggian sastra yang sedemikian sukar digapai. Dan saya tidak pernah berkeberatan mengenai hal ini. Tapi satu hal saya pahami betul—bahwa kita sendirilah yang memunculkan semangat melalui penciptaan mitos pribadi kita. Dari bahan-bahan yang kita pergunakan, atau yang ingin kita pergunakan, muncullah rintangan selanjutnya bagi perkembangan diri kita dan perkembangan masa depan. Tak bisa tidak kita selalu dihadapkan pada realitas dan realisme, akhirnya secara tidak langsung mesti menyadari segala hal di sekitar kita dan juga jalannya perubahan. Lalu kita mengetahui, ketika tampaknya sudah terlambat, bahwa kita sendirilah yang telah menegakkan penghalang sedemikian besar hingga kita justru membunuh apa-apa yang hidup dan bukan membantu kehidupan untuk tumbuh dan berkembang. Kita memaksakan diri memikul realisme yang nantinya terbukti lebih merupakan beban ketimbang batu bata penyusun bangunan, tanpa pernah mendirikan bangunan yang kita anggap sebagai bagian tak terpisahkan dari tugas kita. Dan, sebaliknya, jika kita berhasil menciptakan permberhalaan atas sesuatu yang eksklusif dan rahasia, jika kita mengesampingkan realitas berikut kemerosotan realistisnya, maka sekonyong-konyong akan kita dapati diri kita terkepung oleh sebuah negeri kemustahilan, rawa-rawa penuh dedaunan, lumpur, dan mendung, di mana kaki kita terbenam dan kita dihimpit oleh kemusykilan berkomunikasi.

Sejauh menyangkut kami, para penulis di kawasan mahaluas Amerika, tiada henti kami menyimak seruan untuk mengisi kekosongan luar biasa ini dengan menjadi darah dan daging. Kami menyadari kewajiban sebagai orang-orang yang harus mengisi—dan pada saat bersamaan kami dihadang tugas tak terelakkan untuk menggarap komunikasi kritis dalam sebuah dunia yang melompong dan penuh ketidakadilan, hukuman, dan penderitaan—dan kami juga merasakan tanggung jawab untuk membangkitkan mimpi-mimpi lama yang lelap di patung-patung batu pada reruntuhan monumen kuno, di kebisuan yang membentang di dataran bumi, dalam kelebatan hutan perawan, di sungai yang gemuruh bagai halilintar. Kami mesti mengisi tempat-tempat paling terpencil di benua bisu ini dengan kata-kata dan kami mabuk oleh tugas untuk mencipta fabel dan memberi nama ini. Barangkali inilah yang paling menentukan dalam kasus sederhana saya, dan jika dengan demikian maka gaya melebih-lebihkan, membersar-besarkan, dan retorika saya semata-mata hanyalah peristiwa paling sepele dalam kerja sehari-hari seorang Amerika. Masing-masing sajak saya memilih kedudukannya sebagai sebuah objek yang gamblang, tiap syair harus menyatakan diri sebagai suatu instrumen kerja yang bermanfaat, dan setiap lagu berupaya menjalankan fungsi sebagai satu pertanda di angkasa bagi sebuah pertemuan antara jalan-jalan yang bersilangan, atau sebagai sebongkah batu atau sepotong kayu di mana seseorang, siapa saja, yang mengikutinya akan dapat mengukir tanda-tanda baru.

Dengan menyentuh konsekuensi-konsekuensi ekstrem tugas kepenyairan tersebut, entah benar entah keliru, saya menetapkan bahwa sosok saya dalam masyarakat dan di hadapan kehidupan adalah sosok yang dengan cara sederhana memilih berpihak. Saya putuskan demikian ketika saya menyaksikan begitu banyak kemalangan yang bermartabat, kejayaan yang sunyi, dan kekalahan yang agung. Di tengah perjuangan Amerika saya mendapati bahwa tugas kemanusiaan saya tak lain adalah bergabung dengan kekuatan besar massa rakyat yang terorganisir, bergabung dengan kehidupan dan jiwa yang akrab dengan derita dan harapan. Sebab hanya dari arus besar rakyat inilah perubahan yang diperlukan muncul, demi sekalian pengarang dan demi bangsa. Dan seandainya sikap saya ini melahirkan penolakan yang sengit atau keberatan yang bersahabat, yang jelas saya tidak bisa menemukan cara lain bagi seorang pengarang di negeri-negeri kami yang teramat luas dan kejam. Itulah cara paling sederhana jika kita menghendaki kegelapan menjadi taman bunga, jika kita ingin membagi perhatian kepada berjuta-juta rakyat yang tidak pernah belajar membaca apa yang kita tulis atau bahkan tidak belajar membaca apa pun sama sekali, yang tidak bisa menulis apalagi menulis kepada kita. Keberpihakan membuat saya merasa di rumah sendiri di kawasan terhormat ini dan tanpa itu mustahil bagi kita untuk menjadi manusia utuh.

Kami mewarisi kehidupan rakyat yang merana ini, yang menyeret-nyeret beban kutukan selama berabad-abad, rakyat yang paling mempesona, paling murni, yang dengan bebatuan dan logam mereka ciptakan menara menakjubkan dan berlian yang memukau kilaunya—rakyat yang mendadak-sontak dirampok dan dibungkam di zaman gelap kolonialisme yang masih membekas hingga kini.

Bintang penuntun sejati bagi kami adalah perjuangan dan harapan. Tapi tidak pernah ada yang namanya perjuangan tunggal, tak ada pula harapan tunggal. Dalam setiap diri manusia terkandung masa lalu yang jauh, kepasifan, kesalahan, penderitaan, kepentingan hari ini yang mendesak, dan langkah sejarah. Apa jadinya saya jika, misalnya, dengan satu dan lain cara saya ikut menyumbang bagi pelestarian masa lalu feodal Benua Amerika? Lalu bagaimana saya bisa mengangkat muka di bawah guyuran kehormatan yang dianugerahkan Swedia kepada saya, jika saya tidak bisa merasakan semacam kebanggaan sebagai orang yang terlibat, meski tidak banyak, dalam perubahan yang kini melanda negara saya? Rasanya memang harus membuka peta Amerika, menempatkan diri di hadapan keanekaragamannya yang menakjubkan, di hadapan kemurahan kosmis tempat-tempat luas yang mengitari kami, guna memahami mengapa banyak penulis enggan berbagi malu dan masa lalu yang penuh penjarahan, sebuah masa ketika semua milik bangsa Amerika dirampas oleh dewa-dewa kegelapan.

Saya memilih jalan sukar untuk membagi tanggung jawab dan—daripada mengulang-ulang pemujaan individual sebagai matahari dan pusat sistem—saya lebih suka menawarkan jasa dengan segala kerendahan hati pada pasukan tentara yang terhormat, yang barangkali sering melakukan kesalahan tetapi terus maju dan bertarung setiap hari melawan anakronisme kepala batu dan ketidaksabaran mereka yang beroposisi. Sebab saya meyakini tugas saya selaku penyair melibatkan persahabatan tidak hanya dengan mawar dan simetri, yang mengagungkan cinta dan kerinduan abadi, tetapi juga dengan kesibukan manusia yang tiada henti, yang saya sertakan dalam puisi saya.

Tepat seratus tahun hari ini, seorang penyair murung dan cemerlang yang paling putus asa dari segala jiwa hilang asa, menulis nubuat ini: “A l’aurore, armés d’une ardente patience, nous enterons aux splendides Villes.” Saat fajar, bersenjatakan kesabaran yang berkobar, kita akan memasuki kota agung.”

Saya percaya pada ramalan Rimbaud, sang ahli nujum. Saya datang dari daerah gelap, dari tanah yang terpisah dari negeri lain oleh kontur tajam geografisnya. Sayalah orang paling tak dikenal dan puisi-puisi saya bercorak kedaerahan, pedih dan kuyub tersiram hujan. Tapi saya selalu percaya pada manusia. Tak pernah saya kehilangan harapan. Mungkin karena itulah saya berhasil melangkah sejauh ini dengan puisi saya dan juga panji-panji saya.

Akhirnya, saya ingin menyampaikan pada mereka yang beritikad baik, pada para pekerja, para penyair, bahwa seluruh masa depan sudah diungkap dalam bait Rimbaud berikut: hanya dengan kesabaran membara kita akan menaklukkan kota agung, yang akan memberi cahaya, keadilan, dan martabat bagi segenap umat manusia.

Dengan demikian puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan.

[Dipetik dari Il Postino, akubaca, Jakarta 2003].

Zionisme Amerika (Bagian Terakhir)

Said dan adik perempuannya, Rosemarie (1940)

Oleh Edward W. Said (Penulis buku monumental Orientalism)

Bagaimanapun, setiap aliansi atau kompromi dengan Israel dalam situasi dan kondisi sekarang, ketika kebijakan AS benar-benar didominasi Zionisme Amerika, dapat dipastikan hanya memunculkan hasil yang sama bagi Arab secara umum dan bangsa Palestina pada khususnya. Israel harus dominan, kepentingan Israel lebih utama, dan ketidakadilan sistemik Israel dapat terus berlangsung. Terkecuali Zionisme Amerika diatasi dan dilucuti—sebuah tugas yang sejatinya tidak sulit, seperti yang akan saya tunjukkan pada bagian selanjutnya—maka hasilnya akan sama: kepedihan dan kehinaan bagi kami sebagai Arab.

Peristiwa-peristiwa selama empat minggu terakhir di Palestina benar-benar menjadi kemenangan bagi Zionisme Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak kemunculan kembali pergerakan nasional Palestina modern pada akhir 1960-an. Wacana politik dan publik dengan sangat definitif mentransformasi Israel menjadi ‘korban’ dalam beberapa konflik terakhir. Bahkan meskipun dilaporkan 140 orang Palestina meninggal dan hampir 5000 lainnya terluka, tetap saja dikatakan bahwa “kekerasan orang Palestina” adalah faktor yang menghalangi kelancaran “proses perdamaian”.

Kini ada sebuah ritual kecil dari ungkapan-ungkapan yang setiap pengamat akan mengulanginya kata demi kata atau bergantung kepadanya sebagai sebuah asumsi yang tak terkatakan; semua itu telah terukir di dalam telinga, pikiran, dan ingatan sebagai pembimbing bagi orang yang bingung; sebuah manual atau mesin untuk menghasilkan ungkapan-ungkapan yang telah menghentikan udara selama, paling tidak, satu bulan. Saya dapat membacakan kembali sebagian besar dari ungkapan itu, bahwa: Barak menawarkan konsensi yang lebih banyak di Camp David daripada perdana menteri Israel sebelumnya (90 persen wilayah dan kedaulatan terbatas atas Yerusalem); Arafat penakut dan tidak memiliki keberanian untuk menerima tawaran Israel demi mengakhiri konflik; kekerasan orang Palestina, yang diarahkan oleh Arafat, telah mengancam Israel (semua jenis variasi mengenai ini, termasuk keinginan untuk mengeliminasi Israel, anti-Semitisme, bom bunuh diri untuk tampil di televisi, dan menempatkan anak-anak di garis depan hingga mereka menjadi martir) dan membuktikan bahwa “kebencian” klasik kepada Yahudi memotivasi orang-orang Palestina; Arafat adalah seorang pemimpin lemah yang mengizinkan dan memprovokasi rakyatnya untuk menyerang Yahudi dengan merilis para teroris dan memproduksi buku-buku sekolah yang mengingkari eksistensi Israel.

Mungkin terdapat satu atau dua formula lainnya yang tidak saya kutipkan, tetapi gambaran umumnya adalah bahwa Israel dikelilingi oleh para barbarian yang melempari batu sehingga bahkan rudal-rudal, tank-tank, dan helikopter-helikopter pemburu yang digunakan untuk “membela” Israel dari kekerasan hanyalah sebuah upaya untuk mencegah kekuatan yang mengerikan itu. Perintah Bill Clinton (dengan penuh kesetiaan ditirukan menteri luar negerinya) kepada Palestina untuk “mundur” berhasil mengesankan bahwa orang-orang Palestina menginfiltrasi wilayah Israel, dan bukan sebaliknya.

Juga penting untuk disebutkan bahwa begitu berhasilnya upaya Zionisasi media ini sehingga tidak pernah ada sebuah peta pun yang diterbitkan atau ditunjukkan di televisi untuk mengingatkan para pembaca dan pemirsa Amerika—yang sangat tidak peduli dengan geografi dan sejarah—bahwa kamp-kamp, pemukiman-pemukiman, jalan-jalan, dan barikade-barikade Israel-lah yang mencacah tanah orang Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Lebih jauh, seperti di Beirut pada 1982, terjadi sebuah pengepungan riil Israel terhadap orang Palestina, termasuk terhadap Arafat dan orang-orangnya. Yang benar-benar telah dilupakan—jika ini memang benar-benar dipahami—adalah sistem wilayah A, B, dan C yang dengannya pendudukan militer Israel terhadap 40 persen Gaza dan 60 persen Tepi Barat terus berlangsung, dan yang proses perdamaian Oslo tidak pernah benar-benar dirancang untuk mengakhirinya, atau bahkan tidak memodifikasinya sama sekali.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh tidak adanya geografi dalam konflik yang sebagian besarnya bersifat geografis ini, maka kelemahan yang dihasilkan adalah hal yang sangat penting karena gambar-gambar ditampilkan atau dijelaskan tanpa konteks sama sekali. Menurut saya, penghapusan oleh media yang terzionisasi ini adalah tindakan yang disengaja pada awalnya dan kini lambat-laun menjadi hal biasa. Media yang terzionisasi memberikan tempat kepada para komentator palsu, seperti Thomas Friedman, untuk menjajakan komoditasnya tanpa perasaan malu sedikit pun, menyuarakan ketidakberpihakan Amerika, fleksibilitas dan kedermawanan Israel, dan pragmatismenya yang bijaksana, yang dengannya dia mengecam para pemimpin Arab dan mengejutkan para pembacanya yang membosankan. Ia tidak hanya membiarkan anggapan yang luar biasa absurd tentang Palestina yang menyerang Israel untuk tampil ke permukaan tetapi lebih jauh mendehumanisasi Palestina sebagai binatang-binatang buas yang memangsa tanpa kesadaran dan motif.

Ada sedikit pertanyaan mengapa ketika catatan mengenai siapa yang tewas dan terluka disebutkan, tidak ada informasi mengenai kebangsaan mereka? Hal ini jelas untuk membiarkan orang-orang Amerika berasumsi bahwa penderitaan terbagi secara seimbang di antara “kelompok-kelompok yang bertikai”, dan pada kenyataannya menonjolkan penderitaan Yahudi dan mereduksi atau menghilangkan sama sekali perasaan orang-orang Arab, terkecuali tentu saja bagi kemarahan mereka. Kemarahan dan faktor-faktor penyebabnya tinggal menjadi satu-satunya cara mendefinisikan emosi orang-orang Palestina. Hal itu menjelaskan kekerasan, dan memang, memperlakukannya sedemikian rupa sehingga Israel harus tampil sebagai representasi dari keluhuran moral dan demokrasi yang selamanya dikelilingi oleh kemarahan dan kekerasan. Tidak ada proses lain yang secara logis bisa menjelaskan para pelempar batu itu dan keperkasaan “pertahanan” Israel.

Tidak ada yang dikatakan mengenai penghancuran rumah, perampasan lahan, penahanan ilegal, penyiksaan, dan yang sejenisnya. Tidak ada yang dikutip mengenai apa yang disebut (kecuali bagi pendudukan Jepang atas Korea) pendudukan militer terlama dalam sejarah modern; tidak ada mengenai resolusi-resolusi PBB; tidak ada tentang pelanggaran Israel terhadap seluruh Konvensi Jenewa; tidak ada yang dikatakan mengenai penderitaan sebuah bangsa dan kekeraskepalaan bangsa lainnya.

Lupakan tentang bencana (Nakba) pada 1948, pembersihan dan pembantaian etnis, penghancuran Qibya, Kafr Qassem, Shabra serta Shatila, dan periode panjang pemerintahan militer bagi warga Israel non-Yahudi tidak mengatakan apa pun tentang penindasan yang terus berlangsung terhadap mereka sebagai 20 persen minoritas yang dikorbankan di dalam negara Yahudi. Ariel Sharon, dikatakan, sebagai provokator terbaik, dan bukan seorang penjahat perang sementara Ehud Barak adalah negarawan, dan bukan penjagal Beirut. Terorisme selalu menjadi catatan di pihak Palestina sementara “membela diri” adalah milik Israel.

Apa yang abai disebut Friedman dan “para pecinta perdamaian” pro-Israel ketika mereka memuji kedermawanan Barak yang tak terbayangkan sebelumnya adalah substansi sebenarnya dari hal itu. Kita tidak diingatkan bahwa komitmen Barak untuk melakukan penarikan mundur yang ketiga (dari sekitar 12 persen wilayah pendudukan) yang dibuat di Wye 18 bulan yang lalu tidak pernah terjadi. Maka, nilai apakah yang lebih daripada “konsesi” seperti itu? Kita diberi tahu bahwa Barak akan mengembalikan 90 persen wilayah. Apa yang diabaikan adalah bahwa 90 persen merupakan nilai yang Israel tidak pernah akan kembalikan. Yerusalem Raya pastinya adalah 30 persen Tepi Barat; pemukiman besar yang harus dianeksasi adalah 15 persen lagi; jalan-jalan militer di wilayah-wilayah itu belum diputuskan. Jadi setelah semua ini dideduksikan, 90 persen sama sekali bukan jumlah yang banyak.

Mengenai Yerusalem, konsesi Israel pada prinsipnya adalah mereka konon berkeinginan untuk membahasnya dan mungkin, cuma mungkin, menawarkan pembagian otoritas yang sama atas Haram asy-Syarif. Kemunafikan yang mengejutkan dari persoalan ini adalah bahwa seluruh Yerusalem Barat (mayoritasnya Arab pada 1948) telah disepakati oleh Arafat, plus sebagian besar Yerusalem Timur yang diperluas. Sebuah rincian yang lebih jauh: orang-orang Palestina yang menembakkan senjata-senjata kecil mereka ke Gilo secara rutin dibuat seakan-akan seperti kekerasan yang tak ada pemicunya, sementara tak ada seorang pun yang menyebutkan bahwa Gilo itu sendiri berdiri di atas tanah yang dirampas dari Beit Jala, tempat dimana tembakan itu berasal. Di samping itu, Beit Jala secara membabi-buta terus dihujani rudal oleh helikopter Israel untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk sipil.

Saya melakukan sebuah survei terhadap suratkabar-suratkabar utama. Beberapa kali sejak 28 September, terdapat setidaknya antara satu hingga tiga artikel rata-rata setiap harinya di New York Times, Washington Post, Wall Street Journal, Los Angeles Times, dan Boston Globe. Dengan pengecualian, mungkin, sekitar tiga artikel yang ditulis dari sudut pandang pro-Palestina di Los Angeles Times, dan dua lainnya (satu ditulis oleh seorang pengacara Israel, Alegra Pacheco, dan yang lainnya oleh jurnalis liberal pro-Oslo asal Yordania, Rami Khoury) di New York Times, seluruh artikel yang diterbitkan—termasuk yang ditulis para kolumnis reguler seperti Friedman, William Safire, Charles Krauthammer, dan yang serupa dengan mereka—berposisi mendukung Israel, proses perdamaian yang disponsori AS, dan ide bahwa kekerasan Palestina, kurangnya kerja sama Arafat, dan fundamentalisme Islam adalah yang patut dipersalahkan.

Para penulis yang dimaksud, semuanya, merupakan mantan pejabat militer dan sipil AS, pejabat dan apologis Israel, para spesialis dan ahli, serta pejabat-pejabat lobi dan organisasi pro-Israel. Dengan kata lain, peliputan media arus utama telah benar-benar berasumsi bahwa pandangan Palestina atau Arab atau Muslim mengenai persoalan-persoalan seperti taktik teror Israel terhadap penduduk sipil, kolonialisme pemukiman, dan pendudukan militer sama sekali tidak ada, atau tidak berharga untuk didengar. Hal ini terjadi bukan tanpa preseden dalam catatan jurnalisme AS, dan merupakan sebuah refleksi langsung dari pola pikir Zionis yang menjadikan Israel sebagai norma dalam perilaku manusia, yang dengan begitu mengenyampingkan pertimbangan yang setara dari eksistensi 300 juta Arab dan 1,2 milyar Muslim.

Pola pikir yang sudah saya gambarkan sungguh mengerikan dalam kesembronoannya dan, jika hal itu bukan sebuah distorsi realitas secara praktis dan juga aktual, orang bisa dengan sangat mudah berbicara tentang sebuah bentuk gangguan kejiwaan. Dan ia sangat bersesuaian dengan kebijakan resmi Israel dalam berhadapan dengan Palestina, bukan sebagai bangsa dengan sejarah tentang perampasan hak milik dimana dalam sebagian besar kasus Israel bertanggung-jawab secara langsung, tetapi sebagai suatu gangguan periodik bagi mereka yang memandang kekuatan, dan bukan pemahaman serta akomodasi penuh, sebagai satu-satunya respon yang mungkin. Segala sesuatu selain itu jelas tidak pernah terlintas dalam pikiran.

Ketidakpedulian yang luar biasa ini diperparah di Amerika Serikat karena Arab dan Muslim jarang dipedulikan kecuali sebatas (seperti yang sudah saya tulis sebelumnya) menjadi objek setiap politikus yang berambisi tinggi. Beberapa hari yang lalu, Hillary Clinton mengumumkan, dengan sebuah isyarat kemunafikan yang sangat menjijikkan, bahwa dia telah mengembalikan donasi sebesar $50,000 dari sebuah kelompok Muslim-Amerika karena, Hillary berkata, mereka mendukung terorisme; hal ini sesungguhnya adalah sebuah dusta yang luar biasa, karena kelompok yang dipersoalkan hanya mengatakan bahwa mereka mendukung resistensi bangsa Palestina terhadap Israel selama periode-periode krisis, dan dengan sendirinya bukanlah posisi yang problematik tetapi tetap dipandang kriminal di dalam sistem Amerika hanya karena Zionisme yang totaliter menuntut semua—dan lebih jelasnya saya bermaksud “setiap”—kritik terhadap apa yang Israel lakukan tidak dapat ditoleransi dan termasuk ke dalam kategori anti-Semitisme. Dan hal ini terjadi meski faktanya (kembali dalam maknanya yang paling jelas) seluruh dunia mengecam kebijakan-kebijakan pendudukan militer Israel, kekejaman yang tak sebanding, dan pengepungan bangsa Palestina.

Di Amerika, Anda harus menahan diri untuk tidak melancarkan kritik apa pun terhadap Israel jika Anda tidak ingin didakwa sebagai seorang anti-Semit yang meniscayakan penghinaan yang brutal.

Keanehan lebih lanjut dari Zionisme Amerika, yang merupakan sebuah sistem pemikiran antitesis dan distorsi gaya Orwellian, adalah bahwa tidak diizinkan untuk berbicara tentang kekejaman Yahudi, atau tindakan-tindakan Yahudi yang berkaitan dengan Israel, meskipun segala yang dilakukan Israel dilakukan atas nama Yahudi, untuk, dan oleh negara Yahudi. Fakta bahwa negara seperti itu (Israel) secara istilah tidaklah cocok, karena hampir 20 persen populasinya bukanlah Yahudi, tidak pernah disampaikan kepada publik dan hal ini juga bertanggung-jawab terhadap kesenjangan yang luar biasa, dan memang disengaja, antara apa yang media sebut sebagai “Arab Israel” dengan “Palestina”: mungkin tak seorang pembaca atau pemirsa pun tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sama, yang dalam kenyataannya dipisahkan oleh kebijakan Zionis, atau bahwa kedua komunitas itu merepresentasikan akibat dari kebijakan Israel—kasus apartheid di satu sisi, dan pendudukan militer serta pembersihan etnis di sisi lain.

Ringkasnya, Zionisme Amerika telah menciptakan setiap diskusi publik yang serius mengenai Israel, penerima bantuan asing AS terbesar yang pernah ada, baik masa lalunya maupun masa depannya, sebuah tabu yang tidak boleh dilanggar dalam situasi apa pun. Untuk menyatakan hal ini secara jelas sebagai tabu terakhir di dalam diskursus Amerika akan dipandang sebagai suatu pernyataan yang dibesar-besarkan. Aborsi, homoseksualitas, hukuman mati, bahkan anggaran militer yang suci itu telah dibicarakan dengan bebas (meski selalu harus berada di dalam batas). Bendera Amerika bisa saja dibakar di muka umum, sementara kesinambungan sistematis perlakuan Israel selama 52 tahun terhadap Palestina hampir tak terbayangkan, sebuah kisah yang tidak boleh muncul ke hadapan publik.

Konsensus ini hingga batas-batas tertentu mungkin dapat ditoleransi selama tidak menjadikan dehumanisasi yang terus berlangsung terhadap orang-orang Palestina itu sebagai sesuatu yang bermoral. Tidak pernah ada bangsa di dunia pada hari ini yang pembunuhan terhadap mereka di layar-layar televisi dipandang oleh mayoritas pemirsa Amerika untuk diterima sebagai sebuah hukuman yang wajar. Inilah yang menimpa Palestina yang kematian warganya sehari-harinya dipersepsikan di bawah judul “kekerasan dua pihak”, seolah-olah batu dan katapel anak-anak muda itu, yang lelah dengan ketidakadilan dan penindasan, merupakan kekerasan yang lebih utama alih-alih resistensi mereka yang berani terhadap perendahan nasib yang ditakar kepada mereka, bukan hanya oleh para prajurit Israeli dengan senjata buatan Amerika tetapi juga oleh sebuah “proses damai” yang dirancang untuk memenjarakan mereka di dalam Bantustan dan tempat-tempat penampungan yang hanya cocok untuk binatang.

Bahwa para pendukung Israel di Amerika selama tujuh tahun merencanakan demi menghasilkan suatu dokumen yang utamanya didesain untuk memenjarakan banyak orang layaknya para pesakitan dalam sebuah tempat rehabilitasi atau penjara, adalah sebuah kejahatan yang nyata. Dan bahwa ini bisa disamarkan sebagai perdamaian alih-alih sebagai kebinasaan yang memang terjadi selama ini telah melampaui kemampuan saya untuk memahami atau cukup menggambarkannya sebagai sesuatu yang tidak lain daripada kebejatan yang tanpa batas. Hal terburuk dari semua ini adalah begitu tebalnya dinding yang membatasi wacana tentang Israel di Amerika, bahwa tidak ada pertanyaan yang dapat diajukan kepada pikiran mereka yang menghasilkan Oslo dan bahwa selama tujuh tahun rencana mereka disamarkan kepada dunia sebagai “perdamaian”. Nyaris tidak ada orang yang mengetahui manakah yang lebih jahat: mentalitas yang berpikir bahwa Palestina bukan entitas yang berhak untuk mengekspresikan perasaan ketidakadilan mereka (mereka terlalu rendah bagi hal itu) ataukah mentalitas yang terus merencanakan perbudakan atas mereka?

Apakah seluruh hal tersebut sudah cukup buruk? Namun, status kita yang menyedihkan terkait Zionisme Amerika semakin diperparah oleh tidak adanya institusi di sini atau di dunia Arab yang siap dan mampu menghasilkan sebuah alternatif. Saya cemas bahwa peliputan seputar batu yang dilemparkan para pengunjuk rasa di Bethlehem, Gaza, Ramallah, Nablus, dan Hebron tidak cukup terefleksikan di dalam kepemimpinan Palestina yang serba ragu, tidak mampu untuk mundur ataupun bergerak maju. Dan ini adalah kemalangan yang terakhir.

Catatan:

Tulisan ini dimuat sebagai artikel berseri (bersambung) di Al Ahram Weekly, 21-27 September, 2-8 November, Edisi No. 500-506.

Edward W Said (1935-2003) adalah teoritikus sastra Amerika-Palestina. Ia lahir dari keluarga Palestina Protestan. Posisi terakhirnya adalah Gurubesar Kesusastraan Inggris dan Komparatif pada Universitas Colombia, dan dipandang sebagai salah satu figur pelopor dalam teori posmodernisme. Dalam dunia Islam dan Ketimuran, Said dikenal sebagai salah seorang yang pertama menjelaskan dan mengkritik “Orientalisme”. Selain itu, ia juga populer sebagai aktivis pembela hak-hak bangsa Palestina. Awalnya, Said mendukung “solusi dua negara” dan masuk ke dalam Palestinian National Council (PNC) sebagai salah seorang anggotanya. Menjelang penandatanganan Kesepakatan Oslo 1993, Said mengundurkan diri dari PNC karena merasa Oslo sebagai pengkhianatan atas bangsa Palestina dan tidak akan pernah menghasilkan berdirinya negara Palestina yang berdaulat. Secara khusus, ia menyebut Yasser Arafat telah menjual “hak pulang” bangsa Palestina ke tanah air mereka. Akhirnya, ia mendukung “solusi satu negara” di tanah historis Palestina, dimana warganya, baik Yahudi, Arab, maupun lainnya, bisa hidup damai dan menikmati kesetaraan hak. Karena Leukemia kronis, Edward Said wafat pada 25 September 2003 di New York City pada usia 67 tahun. Pada 2006, seorang antropolog, David Price, berhasil membongkar kumpulan dokumen Biro Penyelidik Federal FBI, yang 147 halaman di antaranya berkaitan dengan Said. Sejak 1971, Said ternyata diawasi dan dimata-matai FBI dengan kode “IS Middle East” (IS= Israel).

Edisi cetakan terjemahan tulisan ini dapat dibaca di jurnal Al-Huda Volume 4, Nomor 14, 2008, halaman 66-84

Lembar Sastra dan Forum Diskusi Sulaiman Djaya