Rustam dan Bahman

Prince_of_Persia_FanMade_by_3fkan

Dulu, di Persia ada seorang pahlawan besar. Namanya Rustam. Ia adalah anak pungut dari seekor burung ajaib, bernama Simurg. Ketika Rustam akan kembali ke masyarakat, burung itu memberinya sebuah bulu.

“Jika kau butuh pertolongan,” kata Simurg. “Bakarlah bulu ini. Aku akan datang menolongmu.”

Rustam punya seorang musuh. Namanya Bahman. Setiap kali bertemu dengan Rustam, ia selalu menantangnya untuk berkelahi. Suatu hari, ketika sedang berburu singa di gunung, Rustam bertemu dengan Bahman. Di sana, mereka berkelahi sepanjang hari. Barulah setelah malam, mereka berhenti, karena lemas kecapaian. Mereka jatuh bersebelahan di tanah. Masing-masing dari mereka tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.

Rustam bangun dan pergi meneruskan berburunya. Ia mendapatkan banyak singa. Kulit singa itu ia jadikan sebagai baju dan topi. Rustam mempunyai topi kulit singa yang ajaib. Jika topi itu ia pakai, maka ia dapat menghilang.

Sementara itu, Bahman kembali ke istana. Dalam perjalanan ke sana, ia dicemooh orang-orang. “Hai, Bahman, katanya kau dapat menangkap Rustam dengan tanganmu sendiri dan membawanya kepada Sang Raja. Dasar pembohong besar!”

Bahman sangat malu dikatakan sebagai pembohong besar. Wajahnya merah. “Aku akan membuktikan pada rakyat bahwa aku bisa mengalahkan Rustam dan memperoleh julukan pahlawan paling besar di negeri itu,” katanya dalam hati. Lalu, Bahman membuat sebuah benteng besar di bukit yang dindingnya terbuat dari baja. Ia tempatkan para penjaga di atas dinding itu dan ia kelilingi benteng itu dengan parit yang lebar.

Setelah benteng itu jadi, Bahman mengundang Rustam untuk mengadakan pertandingan. Rustam datang dengan kudanya, Rasksh. “Selamat datang, Rustam. Masuklah ke bentengku. Kita akan bertarung di sini, untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pahlawan paling besar di seluruh Persia ini,” teriak Bahman, ketika Rustam sampai di pintu gerbang benteng itu.

Pintu gerbang itu dijaga oleh jin Kaypush dan Yarapush. Jadi untuk dapat masuk ke dalam benteng itu. Rustam harus dapat mengalahkan kedua jin itu dulu. Rustam dengan pentungan kayunya yang besar dapat mengalahkan Jin Yarapush, sementara kuda Rustam, Rasksh, dengan tendangannya yang dahsyat berhasil melukai kepala Jin Kaypush.

Setelah mengalahkan kedua jin itu, Rustam mengenakan topi kulit singanya, agar ia bisa menghilang. Lalu, ia masuk lapangan Benteng Baja tersebut bersama Rasksh di sebelahnya. Bahman bingung, karena ia tidak melihat Rustam, yang ada hanya kudanya.

“Cepat cari Rustam di semua sudut benteng. Akan kuberi hadiah siapa saja yang pertama melihatnya,” teriak Bahman.

Mendengar perintah Bahman, para penjaga benteng dan jin berlarian ke sana kemari, mencari Rustam di setiap kamar, tetapi tidak ditemukan. Padahal, ketika itu Rustam sedang mengadakan penyelidikan di benteng itu. Ia melihat ada empat kamar berpintu baja di benteng itu. Kamar pertama berisi emas dan permata. Kamar kedua berisi tong-tong bubuk mesiu. Kamar ketiga berisi lembing dan tombak. Kamar keempat tertutup. Dari lubang kunci pintunya dapat dilihat bahwa di dalam kamar itu terdapat seorang gadis yang rambutnya diikat ke sebuah gantungan di langit-langit, lalu Rustam meletakkan tongkatnya dan merusak pintu itu. Sebelum melepaskan tawanan itu. Rustam membuka topinya, agar dapat terlihat kembali .

“Maaf, Nona. Apakah kau seorang puteri raja?” tanya Rustam pada gadis yang mengenakan baju kebangsawanan dan perhiasan dari emas permata.

“Ya,” kata gadis itu. ” Namaku Mah-Naz. Aku tidak tahu mengapa aku bisa diikat dengan rambutku sendiri di benteng yang menyeramkan ini. Terima kasih atas bantuanmu.”

“Ikutlah denganku, aku akan membawamu pergi” ajak Rustam. “Tapi. sebelum itu aku harus mengalahkan musuhku dulu, karena ia mengundangku ke tempat ini untuk bertarung.”

“Tuan, Aku mohon padamu untuk membawaku ke istana ayahku di Turkestan, tapi jangan sampai ketahuan oleh Bahman,” pinta gadis itu.

“Pakailah topi kulit singa ini dikepalamu,” suruh Rustam pada gadis itu.” Berjalanlah di belakangku, karena aku akan bertarung dengan Bahman dulu. Jika sesuatu terjadi padaku, bakarlah bulu ini, maka pelindungku, Simurg, akan datang. Mintalah kepadanya agar kau diantarkan ke istana ayahmu. Kau akan tiba disana dengan segera setelah kau minta padanya”

“Tidak, tidak, aku tidak mau meninggalkanmu, aku akan tetap bersamamu di sini,” kata Mah Naz, lalu ia memakai topi dan memegang bulu itu. Ia berjalan di belakang Rustam menuju ke tengah lapangan benteng itu.

Belum sempat Rustam bertarung dengan Bahman, ia sudah diserang oleh para penjaga benteng itu. Jin Efrit, Kaypush dan Yarapush menyergapnya dan membawanya ke tengah lapangan. Di sana, Bahman sedang duduk di singgasana keramik hitamnya didampingi dengan dua belas jin lainnya.

“Hai, Rustam, Pahlawan Besar Persia,” teriak Bahman. “Akhirnya kau terima juga tantangan dariku. Lepaskan dia, Jin Efrit! Berikan dia pentungan yang besar. Kita akan lihat sekuat apa lawan kita ini.”

Akhirnya, Bahman dan Rustam bertarung di tengah-tengah para penjaga benteng dan jin yang memberi dukungan kepada Bahman. Sementara, pendukung Rustam tidak ada, kecuali Mah-Naz yang tidak kelihatan. Dalam pertarungan itu, Rustam mengalami kekalahan. Ia jatuh di tanah dan tak dapat berdiri lagi. Mah-Naz menangis ketakutan. Ia pikir Rustam telah mati. Maka, dibakarlah bulu yang diberikan kepadanya. Dalam waktu sekejab, terdengarlah suara kepakan sayap yang keras dari seekor burung raksasa. Kepakan itu membuat suasana di benteng itu menjadi gelap gulita, dan para penjaga benteng berjatuhan.

“Siapa yang berani menyerang Rustam, yang berada di bawah lindunganku,” kata Simurg dengan suara yang dahsyat sambil mengusapkan sayapnya ke badan Rustam dan Rustam pun kembali sehat seperti semula.

Sementara itu, Bahman berusaha untuk melarikan diri, tapi terlambat, karena Simurg telah membacakan manteranya.

“Jadilah kau batu, Hai, Manusia jahat!” Dan, semua yang ada di benteng itu pun berubah menjadi batu.

Belum sempat Rustam mengucapkan terima kasih pada Simurg, karena telah menyelamatkannya, burung itu sudah tidak ada. Namun, ia meninggalkan bulu lainnya di atas tanah. Bulu itu disimpan oleh Rustam.

Lalu, Rustam dan Mah-Naz keluar dari benteng itu menuju ke Turkestan. Ketika tiba di Turkestan, rakyat menerima mereka dengan gembira, karena sang puteri yang diculik oleh Bahman telah kembali. Sang Raja menjamu Rustam selama berminggu-minggu dan memberinya hadiah emas.

Sebenarnya, Mah-Naz ingin sekali Rustam menjadi suaminya. Tapi, ketika ia menyuruh pengasuhnya untuk mengatakan hal itu kepadanya. Rustam memakai topi kulit singanya dan menghilang dari pandangan, karena ia selalu mencurahkan hidupnya untuk bertarung dan memburu binatang buas.

(Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah “Anak Gadis Di Sarang Jin”. Penulis: Males Sutiasumarga. Penerbit: Zikrul Hakim – Jakarta)

Iklan

Injil Barnabas dalam Kontroversi Sejarah

Ilustrasi Isa al Masih

Injil Barnabas dianggap sebagai Injil yang ganjil dan mengada-ada oleh sejumlah kalangan, meski bukan berarti kita tak mungkin memeriksa kembali klaim sejumlah kalangan tersebut: adakah klaim tersebut benar dan memiliki dasar, ataukah malah justru sebaliknya?

Dan sebagai sebuah isu dan wacana yang dianggap kontroversial, pembicaraan tentang Injil Barnabas memang merupakan masalah yang selalu aktual dan hangat untuk dibicarakan dan didiskusikan, utamanya oleh para teolog dan intelektual yang memiliki pikiran terbuka untuk membincang persoalan apa saja yang memungkinkan terbukanya atau tersingkapnya “kebenaran” yang selama ini tak diketahui atau barangkali sengaja ditutupi karena sejumlah alasan.

Sebagaimana kita tahu, di satu sisi, umat Islam pada umumnya menaruh simpati pada Injil ini, yang salah-satu alasannya adalah karena Injil Barnabas ini banyak menubuatkan mengenai kedatangan Nabi Muhammad saw, bahkan nama Muhammad berulang kali disebutkan dalam Injil ini.

Namun di lain pihak atau di lain sisi yang berbeda, sebagian besar kalangan atau sejumlah ummat Kristiani menolak keabsahan Injil Barnabas ini, dan menganggapnya sebagai Injil Palsu yang sesat dan menyesatkan. Sejumlah orang dan kalangan Ummat Kristiani, misalnya, mengklaim bahwa Injil Barnabas tidak dikenal dalam sejarah Kekristenan mula-mula (Periode Awal Gereja), dan masih menurut klaim mereka, Injil Barnabas dibuat oleh seorang Muslim yang bernama Fra Marino / Mustafa Arande, dan Injil ini baru mulai muncul (dikenal) pada sekitar abad ke-16 M. adakah benar demikian?

Terkait keberatan sejumlah kalangan dan beberapa pihat tersebut, berikut, akan kami sajikan beberapa fakta historis seputar Injil Barnabas yang sering dilupakan dan diabaikan oleh teman-teman di kalangan ummat Nasrani.

Injil Barnabas pernah diterima sebagai Injil Resmi (Kanonik) dalam kalangan Gereja-Gereja di wilayah Iskandariah sampai pada tahun 325 M. Berdasarkan keterangan Irenaeus (130-200 M), terbukti bahwa Injil Barnabas beredar luas pada abad pertama dan kedua Masehi. Dalam sejarah kita mengenal Irenaeus sebagai salah satu tokoh yang mendukung teori Keesaan Ilahi dan menentang ajaran Paulus serta menuduhnya bertanggung-jawab dalam melakukan asimilasi Agama Pagan Romawi dan Filsafat Plato terhadap ajaran Yesus (Isa al Masih putra Maryam) yang asli. Irenaeus banyak sekali mengutip pernyataan-pernyataan dalam Injil Barnabas untuk menguatkan argumentasinya.

Namun pada tahun 325 M diselenggarakanlah Konsili Nicea, dimana Doktrin Trinitas waktu itu disahkan sebagai keyakinan resmi. Konsekwensi dari keputusan tersebut adalah pemilihan dan penetapan empat Injil dari sekitar 300 lebih jenis Injil yang beredar saat itu sebagai Injil Resmi Gereja. Sedang nasib 300 Injil yang lain termasuk Injil Barnabas sangat memilukan di mata sejarah. Injil-Injil tersebut diperintahkan untuk dimusnahkan semuanya. Sebuah surat perintah pun diumumkan, yang menyatakan bahwa barang siapa dijumpai menyimpan / memiliki Injil-Injil yang tidak resmi itu akan dijatuhi hukuman mati.

Inilah tindakan pertama yang terorganisir sedemikian rupa untuk memusnahkan seluruh ajaran Yesus (Isa al Masih putra Maryam) yang asli, baik yang tertulis maupun yang terekam dalam ingatan orang dilenyapkan, karena dipandang bertentangan dengan ajaran Trinitas (hasil Konsili Nicea).

Namun lain halnya dengan Injil Barnabas, perintah pemusnahan Injil ini tidak selamanya berhasil, terbukti berulangkali nama Injil Barnabas tercantum dalam Daftar Kitab Terlarang untuk dibaca, diedarkan dan diperjual belikan.

Salah-satunya adalah yang dilakukan oleh PAUS DAMASUS yang tercatat dalam sejarah pernah menerbitkan sebuah Dekrit yang menyatakan bahwa Injil Barnabas terlarang untuk dibaca. Dekrit tersebut didukung penuh oleh Uskup Gelasus (wafat 395 M) yang menjabat uskup di Caesaria. Injil Barnabas termasuk dalam daftar Kitab Apokripa yang diumumkan Paus Damasus. Namun masih saja ada pihak-pihak yang memilikinya, karena terbukti Tokoh-Tokoh Gereja dimasa itu sering mengutip pernyataan-pernyataan dari Injil Barnabas tersebut, dalam tulisan mereka masing-masing.

Injil Barnabas juga dilarang beredar oleh Dekrit Gereja-Gereja Barat pada tahun 382 M. Ada juga Dekrit yang diumumkan PAUS HILARIUS pada tahun 465 M terkait pencekalan Injil Barnabas. Dekrit tersebut dikuatkan lagi oleh Dekrit PAUS GELASIUS I pada tahun 496 M yang kembali mencekal Injil Barnabas. Dekrit Paus Gelasius I kembali dikukuhkan oleh Dekrit PAUS HORMISDAS yang lagi-lagi mencekal Injil Barnabas.

Seluruh dekrit tersebut tercantum dalam Katalog Manuskrip Grik di dalam Perpustakaan Chancellor Seguir (1558-1672 M), yang dipersiapkan oleh B. De Montfaucon (1655-1741). Dan pada abad kelima Masehi, pada masa pemerintahan Kaisar Zeno (479-491 M), telah ditemukan MAKAM BARNABAS, naskah lengkap Injil Barnabas tulisan tangan beliau sendiri, ditemukan berada dalam kepitan tangan di dadanya. Hal ini tercatat dalam ACTA SANCTORUM karya Boland Junii pada Bab II halaman 422-450, diterbitkan di Antwerpen pada tahun 1698.

Dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan, bahwa klaim yang menyebutkan Injil Barnabas adalah Injil Palsu karangan seorang Muslim ternyata sangat tidak berdasar dan terkesan mengada-ada. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai Dekrit pencekalan Injil Barnabas, yang mana Injil ini berarti sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam, bahkan ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tahun 571 M.

Dengan melihat begitu menggebunya Gereja melarang peredaran Injil Barnabas, sampai-sampai 5 Dekrit telah diterbitkan untuk itu, maka wajar saja kalau kita bertanya-tanya: mengapa Injil Barnabas begitu terlarang di mata Gereja? Mungkinkah ada sesuatu yang hendak disembunyikan oleh Gereja dari umatnya? Atau mungkin karena nama MUHAMMAD dan nubuat kedatangannya terlalu jelas dan vulgar dibahas dalam Injil Barnabas sehingga membuat Gereja gerah dan resah?