Menuju Kota Agung

pablo neruda

Pidato Pablo Neruda Ketika Meraih Nobel (13 Desember 1971)

Pidato yang hendak saya sampaikan berupa sebuah pengembaraan panjang, sebuah perjalanan yang saya tempuh menyusuri tempat-tempat terpencil dan jauh dari keramaian. Tetapi bukan karena itu jika ada sedikit kemiripan dengan lanskap dan kesunyian Skandinavia. Saya menunjuk pada cara garis batas negeri saya ditarik hingga ujung paling selatan. Begitu jauhnya kami bangsa Chili sehingga perbatasan kami nyaris menyentuh Kutub Selatan. Ini mengingatkan pada keadaan geografis Swedia, yang kepalanya menjamah kawasan utara bersalju planet ini.

Menyusuri bentangan luas negeri tumpah darah saya, menyusuri peristiwa-peristiwa yang sudah terlupakan, orang mesti melintasi, dan begitulah saya terpaksa melintas, Pegunungan Andes demi menemukan perbatasan negeri saya dengan Argentina. Rimba raya membuat kawasan tak terjamah itu menyerupai sebuah terowongan di mana kami menempuh perjalanan rahasia dan terlarang dan hanya menyediakan sedikit sekali tanda bagi gerak maju kami. Tak ada jejak tak ada setapak. Saya dan keempat pengiring saya, di atas punggung kuda, terus maju menempuh jalan penuh siksaan itu, menyusup-nyusup di celah pepohonan raksasa, menghindari sungai yang tak mungkin diseberangi, tebing karang raksasa, dan hamparan salju nan muram; meraba-raba mencari wilayah di mana kebebasan saya berada. Mereka yang menyertai saya paham betul bagaimana menerobos maju membelah rimbunnya dedaunan belantara, namun demi amannya mereka menandai rute dengan goresan parang di pohon-pohon, meninggalkan jejak di sana sini yang nantinya bisa mereka ikuti sesudah meninggalkan saya sendirian dengan nasib saya.

Masing-masing kami beringsut maju menembus kesunyian yang tak bertepi, pepohonan hijau dan putih dan bisu, akar bahar raksasa dan lapisan tanah mengendap selama berabad-abad. Batang-batang setengah roboh bisa tiba-tiba muncul sebagai hambatan baru bagi gerak maju kami. Kami tercampak di sebuah dunia yang rahasia dan mempesona, yang sekaligus juga merupakan hamparan dingin, salju, dan rintangan yang kian mengancam. Semua melebur jadi satu: kesunyian, marabahaya, kebisuan, dan kegentingan misi saya.

Kadang-kadang kami menyusuri setapak yang begitu samar-samar, mungkin dulu dibuat oleh para penyelundup atau penjahat kelas teri yang mencoba kabur, dan kami tak tahu berapa banyak dari mereka yang menemui ajal direnggut oleh tangan beku musim dingin, oleh ganasnya badai salju yang sekonyong-konyong mengamuk di Pegunungan Andes, yang menelan dan mengubur para musafir di bawah putih salju setinggi tujuh lapis.

Pada kedua sisi setapak saya bisa melihat, di tengah kemurungan alam bebas, sesuatu yang menelikung aktivitas manusia. Di situ menumpuk dahan-dahan yang telah teronggok selama sekian musim dingin, sesaji yang diberikan oleh beratus-ratus orang yang mengarungi tempat itu, gundukan kubur asal-asalan sebagai kenangan terhadap mereka yang jatuh sehingga siapa pun yang lewat di situ pasti teringat pada orang-orang yang tak mampu bertahan dan terbujur diselimuti salju selama-lamanya. Para pengiring saya juga membabat dengan parang mereka dahan-dahan yang menyapu kepala kami dan menjulur dari pohon-pohon oak raksasa yang daun-daun terakhirnya berserakan disapu badai musim dingin. Dan saya juga meninggalkan penghormatan pada tiap-tiap gundukan, sebuah tanda kunjungan dari kayu, sepotong dahan dari hutan untuk menandai tiap-tiap peristirahatan para pengelana tak dikenal itu.

Kami harus menyeberangi sebuah sungai. Di atas ketinggian Pegunungan Andes sana ada aliran sungai kecil yang menjatuhkan diri dengan semburan dan tenaga menggila, menciptakan air terjun yang mengaduk-aduk tanah dan bebatuan yang mereka muntahkan dengan dahsyat. Namun kali ini kami menghadapi air tenang, hamparan luas bagai cermin yang dapat diseberangi. Kuda-kuda kami mencebur, kehilangan pijakan, dan mulai berenang mencapai seberang. Kuda saya hampir terbenam, saya timbul tenggelam tanpa dukungan, kaki saya meronta-ronta sejadi-jadinya sementara kuda saya berjuang agar kepalanya tetap menyembul di permukaan air. Akhirnya kami sampai di seberang, kawan-kawan saya, orang-orang dusun yang setia mengiringi perjalanan saya, bertanya dengan senyum dikulum: “Anda takut?” “Sangat. Kupikir ajalku sudah tiba,” kata saya. “Kami di belakang Anda menyiapkan laso kami,” mereka menukas. “Tepat di situ,” salah seorang menambahkan, “ayah saya jatuh dan terbawa arus. Itu takkan terjadi pada Anda.”

Kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di terowongan alamiah yang tercipta barangkali karena dibor oleh sungai besar yang kini sudah mati atau karena semacam gempa bumi saat dataran tinggi ini terbentuk. Kami masuk ke dalamnya, batu-batu granitnya seolah dipahat. Baru beberapa langkah kuda-kuda kami sudah tersaruk-saruk mencari pijakan di permukaan bebatuan yang tak rata dan kaki mereka terpeleset, bunga api memercik dari sepatu besi mereka—beberapa kali saya nyaris terlempar dan terkapar di bebatuan cadas. Moncong dan kaki kuda saya berdarah, tapi kami pantang menyerah dan terus menyusuri jalan panjang dan sukar namun menakjubkan itu.

Ada sesuatu yang menunggu kami di tengah hutan perawan liar ini. Mendadak, seakan-akan dalam mimpi yang aneh, kami disambut padang rumput kecil cantik yang tumbuh subur di antara batu-batu cadas: udara segar bersih, rumput hijau, bunga-bunga liar, sungai kecil berkelok dan langit biru di atas. Cahaya melimpah tanpa dihalangi dedaunan.

Di tempat itu kami seakan-akan berhenti di sebuah lingkaran magis, layaknya tamu di suatu tempat keramat, dan dalam upacara di mana sekarang ini saya terlibat masih menebar aroma sesuatu yang keramat. Para penggembala sapi yang mengiringi saya turun dari kuda mereka. Di tengah-tengah tempat itu terdapat tengkorak kepala lembu jantan yang dipajang layaknya dalam sebuah ritus. Tanpa berkata-kata, satu demi satu para lelaki itu menaruh uang logam dan makanan di rongga mata tengkorak. Saya mengikuti mereka memberikan persembahan yang ditujukan buat para pengelana yang tersesat, buat setiap pengungsi yang akan menemukan roti dan bantuan di rongga mata lembu mati itu.

Namun upacara yang tak pernah saya lupakan itu tidak berhenti di situ. Teman-teman saya melepas topi mereka dan mulai menarikan tarian ganjil, melompat-lompat di atas satu kaki di sekeliling tengkorak tersebut, bergerak berputar mengikuti jejak kaki yang ditinggalkan orang-orang yang lewat sebelum kami. Sedikit demi sedikit saya mengerti. Di sana, di samping perilaku ganjil para pengiring saya itu, terdapat semacam ikatan di antara orang-orang yang tidak saling kenal, sebuah perhatian, sebuah seruan, dan sebuah jawaban di tempat sunyi yang paling jauh dan paling terpencil di dunia ini.

Terus berjalan, sebelum mencapai perbatasan yang akan memisahkan saya dari negeri saya untuk beberapa tahun, di malam hari kami menemukan celah terakhir pegunungan. Tiba-tiba kami melihat nyala api sebagai pertanda pasti akan kehadiran manusia, dan ketika kami makin mendekat kami mendapati bangunan setengah hancur, pondok-pondok yang sudah ditinggalkan. Kami memasuki salah satu pondok dan melihat nyala api dari balok-balok yang terbakar di tengah ruang, belahan kayu dari pohon-pohon besar, yang menyala siang malam dan menciptakan asap yang membumbung lewat celah pada atap dan melayang seperti selendang biru tua di kegelapan malam. Kami mendapati gunungan keju, yang dibuat oleh para penghuni dataran tinggi ini. Di dekat perapian duduk orang-orang yang menggerombol seperti karung. Dalam keheningan kami bisa mendengar nada petikan gitar dan syair lagu yang lahir dari bara api dan kegelapan, dan suara manusia pertama yang kami temui dalam perjalanan kami. Lagu itu mendengangkan cinta dan kota-kota yang jauh, sebuah ratapan dan kerinduan pada musim semi entah di mana, rasa rindu pada hidup yang membentang tanpa batas. Orang-orang itu tidak tahu siapa kami, tidak tahu-menahu tentang pelarian kami; atau mungkin sesungguhnya mereka tahu siapa kami? Yang jelas di perapian itu kami bernyanyi dan makan, lalu di tengah kegelapan kami memasuki semacam bilik-bilik primitif. Bilik-bilik yang dialiri arus hangat air vulkanik untuk kami mandi, satu kehangatan yang bersumber pada rangkaian pegunungan yang menyambut kami dalam keramahannya.

Sukacita kami mencebur, dan kami pun habis-habisan membersihkan diri, melepas penat setelah perjalanan panjang di punggung kuda. Menginjak fajar, kami memulai lagi perjalanan dengan tubuh segar, rasanya terlahir kembali dan dibaptis, menyusuri beberapa mil ke depan yang akan menjauhkan saya dari tanah air saya. Kami menunggang kuda sambil bernyanyi, diliputi suasana baru, dipenuhi kekuatan yang menggiring kami pada jalan raya terlapang di dunia yang sudah menunggu saya. Satu hal saya ingat betul, ialah ketika kami hendak memberikan pada para penghuni gunung itu beberapa keping uang logam sebagai tanda terima kasih untuk nyanyian mereka, untuk makanan, air hangat, penginapan, dan tempat tidur yang telah diberikan—untuk surga tak terduga yang kami jumpai di tengah perjalanan—dan pemberian kami ditolak mentah-mentah. Mereka melayani kami, itu saja. Tak ada apa pun yang berlebihan bagi mereka. Dan dalam sikap “tak ada apa pun” yang membisu itu, tersembunyi sesuatu yang kami mafhum, mungkin sebuah pengakuan, mungkin semacam mimpi-mimpi bersama.

Hadirin sekalian yang terhormat,

Tak pernah saya mempelajari satu pun resep menulis puisi dan karena itu saya akan berusaha keras tidak memberi saran apa-apa tentang bentuk atau gaya yang dianggap bisa memberikan setetes wawasan yang dinanti-nanti para penyair baru. Bila dalam pidato ini, dan di tempat ini—yang berbeda jauh dari tempat saya waktu itu—saya mengisahkan sesuatu tentang peristiwa di masa lalu, mengenang kembali sebuah kejadian yang tak terlupakan, itu karena dalam perjalanan hidup saya entah di mana saya senantiasa mendapatkan dukungan yang diperlukan: sebuah formula yang menanti saya. Bukan untuk dibekukan dalam kata-kata, tapi justru untuk menjelaskan kepada saya tentang diri saya sendiri.

Selama perjalanan panjang tersebut, saya menemukan komponen-komponen penting untuk menyusun puisi. Di situ saya menerima sumbangan dari tanah dan jiwa. Dan saya yakin bahwa puisi adalah sebuah tindakan, sekelebat atau khidmat, di mana kesunyian dan solidaritas, aksi dan emosi, kedekatan pada diri sendiri, pada umat manusia, dan pada manifestasi tersembunyi alam masuk ke dalamnya sebagai rekan yang sederajat. Di samping itu saya juga berpikir bahwa semua ini—manusia dan bayangannya, manusia dan tindak-tanduknya, manusia dan puisinya—bisa diterima oleh semangat berkomunitas yang kian mengembang, oleh suatu usaha yang akan selamanya menyatukan realitas dan mimpi dalam diri kita karena memang dengan cara itulah puisi menyatukan dan merajut semuanya. Jadi, saya katakan bahwa saya tidak tahu, setelah bertahun-tahun, apakah pelajaran yang saya petik ketika menyeberangi sungai yang menyurutkan nyali, ketika menari mengitari tengkorak sapi, ketika merendam tubuh dalam air pembersih di ketinggian puncak—saya tidak tahu apakah pelajaran-pelajaran itu mengalir melalui saya untuk ditanamkan ke orang-orang lain atau apakah semua itu adalah sebuah pesan yang dikirim oleh orang lain untuk saya sebagai sebuah permintaan atau tuntutan. Untuk semua syair yang saya alami hari ini, seluruh pengalaman yang nantinya saya tuang dalam bait-bait sajak, saya sungguh tidak mengerti apakah saya mengalami sesuatu atau menciptakan sesuatu, saya tidak tahu apakah ia sebuah kebenaran atau sebuah puisi, apakah ia sesuatu yang melintas atau tetap tinggal.

Dari semua ini, kawan-kawan, muncullah sebuah pemahaman bahwa penyair harus belajar lewat orang lain. Tidak ada kesunyian yang tak teratasi. Semua setapak mengarah pada tujuan yang sama: menyampaikan pada orang lain siapa kita sejatinya. Dan kita mesti melewati kesunyian dan kesulitan, kesendirian dan keheningan untuk mencapai tempat menyenangkan di mana kita bisa menarikan tarian aneh dan mendendangkan nyanyian pedih kita—namun dalam tarian atau nyanyian ini terlunaskan ritus paling tua dari suara hati kita, dalam kesadaran kita sebagai manusia dan dalam kesadaran kita untuk meyakini suatu suratan bersama.

Yang jelas, kalaupun ada beberapa atau banyak orang menganggap saya sektarian, enggan duduk bersama di meja persahabatan dan tanggung jawab, saya tak hendak membela diri, sebab saya yakin bahwa dakwaan maupun pembelaan tidak termasuk tugas seorang penyair. Kala semua sudah dikatakan, tidak ada penyair mana pun yang mampu mengatur puisi. Bila seorang penyair mau bersusah payah mendakwa rekan-rekannya atau jika sejumlah penyair lainnya menyia-nyiakan hidup dengan membela diri dari tuduhan yang masuk akal ataupun yang tidak, saya yakin bahwa hanya kecongkakan semata yang bisa begitu menyesatkan kita. Bagi saya musuh-musuh puisi bukanlah siapa yang menjalani puisi atau yang menjaganya, musuh puisi adalah tidak utuhnya pemahaman dalam diri penyair. Karena alasan ini maka sesungguhnya tak ada musuh besar bagi seorang penyair selain ketidakmampuannya sendiri untuk membuat agar dirinya dipahami oleh orang-orang sezamannya yang paling terlupakan dan paling terhisap, dan dalil ini berlaku di semua zaman dan semua negeri.

Seorang penyair bukanlah “dewa kecil”. Bukan, ia sama sekali bukan “dewa kecil”. Sama sekali ia tidak dipilih oleh takdir yang mistis sebagai lebih utama ketimbang mereka yang menekuni keahlian dan profesi lain. Di kepala saya selalu saya pupuk pikiran bahwa penyair adalah orang yang sehari-hari menyiapkan roti bagi kita: tukang roti terdekat yang tidak membayangkan diri sebagai dewa. Ia melakoni pekerjaan mulia dan tanpa pamrih—mengaduk adonan, memasukkannya dalam oven memanggangnya dalam warna-warni keemasan, dan menyajikan roti setiap hari bagi kita sebagai tugas terhadap sesama manusia. Dan, jika penyair mampu mencapai pemahaman sepele ini, maka kesadaran ini pun akan ditransformasikan menjadi elemen dalam dalam suatu aktivitas yang luar biasa, dalam struktur entah sederhana entah rumit yang menjadi kerangka bangunan komunitas. Ia akan menjadi elemen bagi perubahan kondisi yang melingkupi umat manusia, bagi penyajian hasil karya manusia: roti, kebenaran, anggur, dan impian. Jika seorang penyair hendak melibatkan diri dalam perjuangan yang terus-menerus demi menggapai tangan semua orang dan berniat membentangkan kerja, usaha, dan rasa kasihnya untuk merangkul kerja sehari-hari mereka, maka dia harus ambil bagian. Seorang penyair harus ambil bagian dalam keringat, dalam roti, dalam anggur, dan dalam seluruh impian manusia. Cuma dalam jalan mutlak menjadi manusia biasa inilah kita memberi puisi keluasan tak berperi, yang sedikit demi sedikit mengelupas di setiap zaman, tak ubahnya kita yang kian memudar.

Berbagai kekeliruan yang menghadapkan saya pada kebenaran relatif, dan kebenaran-kebenaran yang berulang kali menyeret saya kembali pada kesalahan, tidak memungkinkan saya menemukan jalan yang menuntun dan cara untuk mempelajari apa yang dinamakan proses kreatif, untuk mencapai ketinggian sastra yang sedemikian sukar digapai. Dan saya tidak pernah berkeberatan mengenai hal ini. Tapi satu hal saya pahami betul—bahwa kita sendirilah yang memunculkan semangat melalui penciptaan mitos pribadi kita. Dari bahan-bahan yang kita pergunakan, atau yang ingin kita pergunakan, muncullah rintangan selanjutnya bagi perkembangan diri kita dan perkembangan masa depan. Tak bisa tidak kita selalu dihadapkan pada realitas dan realisme, akhirnya secara tidak langsung mesti menyadari segala hal di sekitar kita dan juga jalannya perubahan. Lalu kita mengetahui, ketika tampaknya sudah terlambat, bahwa kita sendirilah yang telah menegakkan penghalang sedemikian besar hingga kita justru membunuh apa-apa yang hidup dan bukan membantu kehidupan untuk tumbuh dan berkembang. Kita memaksakan diri memikul realisme yang nantinya terbukti lebih merupakan beban ketimbang batu bata penyusun bangunan, tanpa pernah mendirikan bangunan yang kita anggap sebagai bagian tak terpisahkan dari tugas kita. Dan, sebaliknya, jika kita berhasil menciptakan permberhalaan atas sesuatu yang eksklusif dan rahasia, jika kita mengesampingkan realitas berikut kemerosotan realistisnya, maka sekonyong-konyong akan kita dapati diri kita terkepung oleh sebuah negeri kemustahilan, rawa-rawa penuh dedaunan, lumpur, dan mendung, di mana kaki kita terbenam dan kita dihimpit oleh kemusykilan berkomunikasi.

Sejauh menyangkut kami, para penulis di kawasan mahaluas Amerika, tiada henti kami menyimak seruan untuk mengisi kekosongan luar biasa ini dengan menjadi darah dan daging. Kami menyadari kewajiban sebagai orang-orang yang harus mengisi—dan pada saat bersamaan kami dihadang tugas tak terelakkan untuk menggarap komunikasi kritis dalam sebuah dunia yang melompong dan penuh ketidakadilan, hukuman, dan penderitaan—dan kami juga merasakan tanggung jawab untuk membangkitkan mimpi-mimpi lama yang lelap di patung-patung batu pada reruntuhan monumen kuno, di kebisuan yang membentang di dataran bumi, dalam kelebatan hutan perawan, di sungai yang gemuruh bagai halilintar. Kami mesti mengisi tempat-tempat paling terpencil di benua bisu ini dengan kata-kata dan kami mabuk oleh tugas untuk mencipta fabel dan memberi nama ini. Barangkali inilah yang paling menentukan dalam kasus sederhana saya, dan jika dengan demikian maka gaya melebih-lebihkan, membersar-besarkan, dan retorika saya semata-mata hanyalah peristiwa paling sepele dalam kerja sehari-hari seorang Amerika. Masing-masing sajak saya memilih kedudukannya sebagai sebuah objek yang gamblang, tiap syair harus menyatakan diri sebagai suatu instrumen kerja yang bermanfaat, dan setiap lagu berupaya menjalankan fungsi sebagai satu pertanda di angkasa bagi sebuah pertemuan antara jalan-jalan yang bersilangan, atau sebagai sebongkah batu atau sepotong kayu di mana seseorang, siapa saja, yang mengikutinya akan dapat mengukir tanda-tanda baru.

Dengan menyentuh konsekuensi-konsekuensi ekstrem tugas kepenyairan tersebut, entah benar entah keliru, saya menetapkan bahwa sosok saya dalam masyarakat dan di hadapan kehidupan adalah sosok yang dengan cara sederhana memilih berpihak. Saya putuskan demikian ketika saya menyaksikan begitu banyak kemalangan yang bermartabat, kejayaan yang sunyi, dan kekalahan yang agung. Di tengah perjuangan Amerika saya mendapati bahwa tugas kemanusiaan saya tak lain adalah bergabung dengan kekuatan besar massa rakyat yang terorganisir, bergabung dengan kehidupan dan jiwa yang akrab dengan derita dan harapan. Sebab hanya dari arus besar rakyat inilah perubahan yang diperlukan muncul, demi sekalian pengarang dan demi bangsa. Dan seandainya sikap saya ini melahirkan penolakan yang sengit atau keberatan yang bersahabat, yang jelas saya tidak bisa menemukan cara lain bagi seorang pengarang di negeri-negeri kami yang teramat luas dan kejam. Itulah cara paling sederhana jika kita menghendaki kegelapan menjadi taman bunga, jika kita ingin membagi perhatian kepada berjuta-juta rakyat yang tidak pernah belajar membaca apa yang kita tulis atau bahkan tidak belajar membaca apa pun sama sekali, yang tidak bisa menulis apalagi menulis kepada kita. Keberpihakan membuat saya merasa di rumah sendiri di kawasan terhormat ini dan tanpa itu mustahil bagi kita untuk menjadi manusia utuh.

Kami mewarisi kehidupan rakyat yang merana ini, yang menyeret-nyeret beban kutukan selama berabad-abad, rakyat yang paling mempesona, paling murni, yang dengan bebatuan dan logam mereka ciptakan menara menakjubkan dan berlian yang memukau kilaunya—rakyat yang mendadak-sontak dirampok dan dibungkam di zaman gelap kolonialisme yang masih membekas hingga kini.

Bintang penuntun sejati bagi kami adalah perjuangan dan harapan. Tapi tidak pernah ada yang namanya perjuangan tunggal, tak ada pula harapan tunggal. Dalam setiap diri manusia terkandung masa lalu yang jauh, kepasifan, kesalahan, penderitaan, kepentingan hari ini yang mendesak, dan langkah sejarah. Apa jadinya saya jika, misalnya, dengan satu dan lain cara saya ikut menyumbang bagi pelestarian masa lalu feodal Benua Amerika? Lalu bagaimana saya bisa mengangkat muka di bawah guyuran kehormatan yang dianugerahkan Swedia kepada saya, jika saya tidak bisa merasakan semacam kebanggaan sebagai orang yang terlibat, meski tidak banyak, dalam perubahan yang kini melanda negara saya? Rasanya memang harus membuka peta Amerika, menempatkan diri di hadapan keanekaragamannya yang menakjubkan, di hadapan kemurahan kosmis tempat-tempat luas yang mengitari kami, guna memahami mengapa banyak penulis enggan berbagi malu dan masa lalu yang penuh penjarahan, sebuah masa ketika semua milik bangsa Amerika dirampas oleh dewa-dewa kegelapan.

Saya memilih jalan sukar untuk membagi tanggung jawab dan—daripada mengulang-ulang pemujaan individual sebagai matahari dan pusat sistem—saya lebih suka menawarkan jasa dengan segala kerendahan hati pada pasukan tentara yang terhormat, yang barangkali sering melakukan kesalahan tetapi terus maju dan bertarung setiap hari melawan anakronisme kepala batu dan ketidaksabaran mereka yang beroposisi. Sebab saya meyakini tugas saya selaku penyair melibatkan persahabatan tidak hanya dengan mawar dan simetri, yang mengagungkan cinta dan kerinduan abadi, tetapi juga dengan kesibukan manusia yang tiada henti, yang saya sertakan dalam puisi saya.

Tepat seratus tahun hari ini, seorang penyair murung dan cemerlang yang paling putus asa dari segala jiwa hilang asa, menulis nubuat ini: “A l’aurore, armés d’une ardente patience, nous enterons aux splendides Villes.” Saat fajar, bersenjatakan kesabaran yang berkobar, kita akan memasuki kota agung.”

Saya percaya pada ramalan Rimbaud, sang ahli nujum. Saya datang dari daerah gelap, dari tanah yang terpisah dari negeri lain oleh kontur tajam geografisnya. Sayalah orang paling tak dikenal dan puisi-puisi saya bercorak kedaerahan, pedih dan kuyub tersiram hujan. Tapi saya selalu percaya pada manusia. Tak pernah saya kehilangan harapan. Mungkin karena itulah saya berhasil melangkah sejauh ini dengan puisi saya dan juga panji-panji saya.

Akhirnya, saya ingin menyampaikan pada mereka yang beritikad baik, pada para pekerja, para penyair, bahwa seluruh masa depan sudah diungkap dalam bait Rimbaud berikut: hanya dengan kesabaran membara kita akan menaklukkan kota agung, yang akan memberi cahaya, keadilan, dan martabat bagi segenap umat manusia.

Dengan demikian puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan.

[Dipetik dari Il Postino, akubaca, Jakarta 2003].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s