Zionisme Amerika (Bagian Terakhir)

Said dan adik perempuannya, Rosemarie (1940)

Oleh Edward W. Said (Penulis buku monumental Orientalism)

Bagaimanapun, setiap aliansi atau kompromi dengan Israel dalam situasi dan kondisi sekarang, ketika kebijakan AS benar-benar didominasi Zionisme Amerika, dapat dipastikan hanya memunculkan hasil yang sama bagi Arab secara umum dan bangsa Palestina pada khususnya. Israel harus dominan, kepentingan Israel lebih utama, dan ketidakadilan sistemik Israel dapat terus berlangsung. Terkecuali Zionisme Amerika diatasi dan dilucuti—sebuah tugas yang sejatinya tidak sulit, seperti yang akan saya tunjukkan pada bagian selanjutnya—maka hasilnya akan sama: kepedihan dan kehinaan bagi kami sebagai Arab.

Peristiwa-peristiwa selama empat minggu terakhir di Palestina benar-benar menjadi kemenangan bagi Zionisme Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak kemunculan kembali pergerakan nasional Palestina modern pada akhir 1960-an. Wacana politik dan publik dengan sangat definitif mentransformasi Israel menjadi ‘korban’ dalam beberapa konflik terakhir. Bahkan meskipun dilaporkan 140 orang Palestina meninggal dan hampir 5000 lainnya terluka, tetap saja dikatakan bahwa “kekerasan orang Palestina” adalah faktor yang menghalangi kelancaran “proses perdamaian”.

Kini ada sebuah ritual kecil dari ungkapan-ungkapan yang setiap pengamat akan mengulanginya kata demi kata atau bergantung kepadanya sebagai sebuah asumsi yang tak terkatakan; semua itu telah terukir di dalam telinga, pikiran, dan ingatan sebagai pembimbing bagi orang yang bingung; sebuah manual atau mesin untuk menghasilkan ungkapan-ungkapan yang telah menghentikan udara selama, paling tidak, satu bulan. Saya dapat membacakan kembali sebagian besar dari ungkapan itu, bahwa: Barak menawarkan konsensi yang lebih banyak di Camp David daripada perdana menteri Israel sebelumnya (90 persen wilayah dan kedaulatan terbatas atas Yerusalem); Arafat penakut dan tidak memiliki keberanian untuk menerima tawaran Israel demi mengakhiri konflik; kekerasan orang Palestina, yang diarahkan oleh Arafat, telah mengancam Israel (semua jenis variasi mengenai ini, termasuk keinginan untuk mengeliminasi Israel, anti-Semitisme, bom bunuh diri untuk tampil di televisi, dan menempatkan anak-anak di garis depan hingga mereka menjadi martir) dan membuktikan bahwa “kebencian” klasik kepada Yahudi memotivasi orang-orang Palestina; Arafat adalah seorang pemimpin lemah yang mengizinkan dan memprovokasi rakyatnya untuk menyerang Yahudi dengan merilis para teroris dan memproduksi buku-buku sekolah yang mengingkari eksistensi Israel.

Mungkin terdapat satu atau dua formula lainnya yang tidak saya kutipkan, tetapi gambaran umumnya adalah bahwa Israel dikelilingi oleh para barbarian yang melempari batu sehingga bahkan rudal-rudal, tank-tank, dan helikopter-helikopter pemburu yang digunakan untuk “membela” Israel dari kekerasan hanyalah sebuah upaya untuk mencegah kekuatan yang mengerikan itu. Perintah Bill Clinton (dengan penuh kesetiaan ditirukan menteri luar negerinya) kepada Palestina untuk “mundur” berhasil mengesankan bahwa orang-orang Palestina menginfiltrasi wilayah Israel, dan bukan sebaliknya.

Juga penting untuk disebutkan bahwa begitu berhasilnya upaya Zionisasi media ini sehingga tidak pernah ada sebuah peta pun yang diterbitkan atau ditunjukkan di televisi untuk mengingatkan para pembaca dan pemirsa Amerika—yang sangat tidak peduli dengan geografi dan sejarah—bahwa kamp-kamp, pemukiman-pemukiman, jalan-jalan, dan barikade-barikade Israel-lah yang mencacah tanah orang Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Lebih jauh, seperti di Beirut pada 1982, terjadi sebuah pengepungan riil Israel terhadap orang Palestina, termasuk terhadap Arafat dan orang-orangnya. Yang benar-benar telah dilupakan—jika ini memang benar-benar dipahami—adalah sistem wilayah A, B, dan C yang dengannya pendudukan militer Israel terhadap 40 persen Gaza dan 60 persen Tepi Barat terus berlangsung, dan yang proses perdamaian Oslo tidak pernah benar-benar dirancang untuk mengakhirinya, atau bahkan tidak memodifikasinya sama sekali.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh tidak adanya geografi dalam konflik yang sebagian besarnya bersifat geografis ini, maka kelemahan yang dihasilkan adalah hal yang sangat penting karena gambar-gambar ditampilkan atau dijelaskan tanpa konteks sama sekali. Menurut saya, penghapusan oleh media yang terzionisasi ini adalah tindakan yang disengaja pada awalnya dan kini lambat-laun menjadi hal biasa. Media yang terzionisasi memberikan tempat kepada para komentator palsu, seperti Thomas Friedman, untuk menjajakan komoditasnya tanpa perasaan malu sedikit pun, menyuarakan ketidakberpihakan Amerika, fleksibilitas dan kedermawanan Israel, dan pragmatismenya yang bijaksana, yang dengannya dia mengecam para pemimpin Arab dan mengejutkan para pembacanya yang membosankan. Ia tidak hanya membiarkan anggapan yang luar biasa absurd tentang Palestina yang menyerang Israel untuk tampil ke permukaan tetapi lebih jauh mendehumanisasi Palestina sebagai binatang-binatang buas yang memangsa tanpa kesadaran dan motif.

Ada sedikit pertanyaan mengapa ketika catatan mengenai siapa yang tewas dan terluka disebutkan, tidak ada informasi mengenai kebangsaan mereka? Hal ini jelas untuk membiarkan orang-orang Amerika berasumsi bahwa penderitaan terbagi secara seimbang di antara “kelompok-kelompok yang bertikai”, dan pada kenyataannya menonjolkan penderitaan Yahudi dan mereduksi atau menghilangkan sama sekali perasaan orang-orang Arab, terkecuali tentu saja bagi kemarahan mereka. Kemarahan dan faktor-faktor penyebabnya tinggal menjadi satu-satunya cara mendefinisikan emosi orang-orang Palestina. Hal itu menjelaskan kekerasan, dan memang, memperlakukannya sedemikian rupa sehingga Israel harus tampil sebagai representasi dari keluhuran moral dan demokrasi yang selamanya dikelilingi oleh kemarahan dan kekerasan. Tidak ada proses lain yang secara logis bisa menjelaskan para pelempar batu itu dan keperkasaan “pertahanan” Israel.

Tidak ada yang dikatakan mengenai penghancuran rumah, perampasan lahan, penahanan ilegal, penyiksaan, dan yang sejenisnya. Tidak ada yang dikutip mengenai apa yang disebut (kecuali bagi pendudukan Jepang atas Korea) pendudukan militer terlama dalam sejarah modern; tidak ada mengenai resolusi-resolusi PBB; tidak ada tentang pelanggaran Israel terhadap seluruh Konvensi Jenewa; tidak ada yang dikatakan mengenai penderitaan sebuah bangsa dan kekeraskepalaan bangsa lainnya.

Lupakan tentang bencana (Nakba) pada 1948, pembersihan dan pembantaian etnis, penghancuran Qibya, Kafr Qassem, Shabra serta Shatila, dan periode panjang pemerintahan militer bagi warga Israel non-Yahudi tidak mengatakan apa pun tentang penindasan yang terus berlangsung terhadap mereka sebagai 20 persen minoritas yang dikorbankan di dalam negara Yahudi. Ariel Sharon, dikatakan, sebagai provokator terbaik, dan bukan seorang penjahat perang sementara Ehud Barak adalah negarawan, dan bukan penjagal Beirut. Terorisme selalu menjadi catatan di pihak Palestina sementara “membela diri” adalah milik Israel.

Apa yang abai disebut Friedman dan “para pecinta perdamaian” pro-Israel ketika mereka memuji kedermawanan Barak yang tak terbayangkan sebelumnya adalah substansi sebenarnya dari hal itu. Kita tidak diingatkan bahwa komitmen Barak untuk melakukan penarikan mundur yang ketiga (dari sekitar 12 persen wilayah pendudukan) yang dibuat di Wye 18 bulan yang lalu tidak pernah terjadi. Maka, nilai apakah yang lebih daripada “konsesi” seperti itu? Kita diberi tahu bahwa Barak akan mengembalikan 90 persen wilayah. Apa yang diabaikan adalah bahwa 90 persen merupakan nilai yang Israel tidak pernah akan kembalikan. Yerusalem Raya pastinya adalah 30 persen Tepi Barat; pemukiman besar yang harus dianeksasi adalah 15 persen lagi; jalan-jalan militer di wilayah-wilayah itu belum diputuskan. Jadi setelah semua ini dideduksikan, 90 persen sama sekali bukan jumlah yang banyak.

Mengenai Yerusalem, konsesi Israel pada prinsipnya adalah mereka konon berkeinginan untuk membahasnya dan mungkin, cuma mungkin, menawarkan pembagian otoritas yang sama atas Haram asy-Syarif. Kemunafikan yang mengejutkan dari persoalan ini adalah bahwa seluruh Yerusalem Barat (mayoritasnya Arab pada 1948) telah disepakati oleh Arafat, plus sebagian besar Yerusalem Timur yang diperluas. Sebuah rincian yang lebih jauh: orang-orang Palestina yang menembakkan senjata-senjata kecil mereka ke Gilo secara rutin dibuat seakan-akan seperti kekerasan yang tak ada pemicunya, sementara tak ada seorang pun yang menyebutkan bahwa Gilo itu sendiri berdiri di atas tanah yang dirampas dari Beit Jala, tempat dimana tembakan itu berasal. Di samping itu, Beit Jala secara membabi-buta terus dihujani rudal oleh helikopter Israel untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk sipil.

Saya melakukan sebuah survei terhadap suratkabar-suratkabar utama. Beberapa kali sejak 28 September, terdapat setidaknya antara satu hingga tiga artikel rata-rata setiap harinya di New York Times, Washington Post, Wall Street Journal, Los Angeles Times, dan Boston Globe. Dengan pengecualian, mungkin, sekitar tiga artikel yang ditulis dari sudut pandang pro-Palestina di Los Angeles Times, dan dua lainnya (satu ditulis oleh seorang pengacara Israel, Alegra Pacheco, dan yang lainnya oleh jurnalis liberal pro-Oslo asal Yordania, Rami Khoury) di New York Times, seluruh artikel yang diterbitkan—termasuk yang ditulis para kolumnis reguler seperti Friedman, William Safire, Charles Krauthammer, dan yang serupa dengan mereka—berposisi mendukung Israel, proses perdamaian yang disponsori AS, dan ide bahwa kekerasan Palestina, kurangnya kerja sama Arafat, dan fundamentalisme Islam adalah yang patut dipersalahkan.

Para penulis yang dimaksud, semuanya, merupakan mantan pejabat militer dan sipil AS, pejabat dan apologis Israel, para spesialis dan ahli, serta pejabat-pejabat lobi dan organisasi pro-Israel. Dengan kata lain, peliputan media arus utama telah benar-benar berasumsi bahwa pandangan Palestina atau Arab atau Muslim mengenai persoalan-persoalan seperti taktik teror Israel terhadap penduduk sipil, kolonialisme pemukiman, dan pendudukan militer sama sekali tidak ada, atau tidak berharga untuk didengar. Hal ini terjadi bukan tanpa preseden dalam catatan jurnalisme AS, dan merupakan sebuah refleksi langsung dari pola pikir Zionis yang menjadikan Israel sebagai norma dalam perilaku manusia, yang dengan begitu mengenyampingkan pertimbangan yang setara dari eksistensi 300 juta Arab dan 1,2 milyar Muslim.

Pola pikir yang sudah saya gambarkan sungguh mengerikan dalam kesembronoannya dan, jika hal itu bukan sebuah distorsi realitas secara praktis dan juga aktual, orang bisa dengan sangat mudah berbicara tentang sebuah bentuk gangguan kejiwaan. Dan ia sangat bersesuaian dengan kebijakan resmi Israel dalam berhadapan dengan Palestina, bukan sebagai bangsa dengan sejarah tentang perampasan hak milik dimana dalam sebagian besar kasus Israel bertanggung-jawab secara langsung, tetapi sebagai suatu gangguan periodik bagi mereka yang memandang kekuatan, dan bukan pemahaman serta akomodasi penuh, sebagai satu-satunya respon yang mungkin. Segala sesuatu selain itu jelas tidak pernah terlintas dalam pikiran.

Ketidakpedulian yang luar biasa ini diperparah di Amerika Serikat karena Arab dan Muslim jarang dipedulikan kecuali sebatas (seperti yang sudah saya tulis sebelumnya) menjadi objek setiap politikus yang berambisi tinggi. Beberapa hari yang lalu, Hillary Clinton mengumumkan, dengan sebuah isyarat kemunafikan yang sangat menjijikkan, bahwa dia telah mengembalikan donasi sebesar $50,000 dari sebuah kelompok Muslim-Amerika karena, Hillary berkata, mereka mendukung terorisme; hal ini sesungguhnya adalah sebuah dusta yang luar biasa, karena kelompok yang dipersoalkan hanya mengatakan bahwa mereka mendukung resistensi bangsa Palestina terhadap Israel selama periode-periode krisis, dan dengan sendirinya bukanlah posisi yang problematik tetapi tetap dipandang kriminal di dalam sistem Amerika hanya karena Zionisme yang totaliter menuntut semua—dan lebih jelasnya saya bermaksud “setiap”—kritik terhadap apa yang Israel lakukan tidak dapat ditoleransi dan termasuk ke dalam kategori anti-Semitisme. Dan hal ini terjadi meski faktanya (kembali dalam maknanya yang paling jelas) seluruh dunia mengecam kebijakan-kebijakan pendudukan militer Israel, kekejaman yang tak sebanding, dan pengepungan bangsa Palestina.

Di Amerika, Anda harus menahan diri untuk tidak melancarkan kritik apa pun terhadap Israel jika Anda tidak ingin didakwa sebagai seorang anti-Semit yang meniscayakan penghinaan yang brutal.

Keanehan lebih lanjut dari Zionisme Amerika, yang merupakan sebuah sistem pemikiran antitesis dan distorsi gaya Orwellian, adalah bahwa tidak diizinkan untuk berbicara tentang kekejaman Yahudi, atau tindakan-tindakan Yahudi yang berkaitan dengan Israel, meskipun segala yang dilakukan Israel dilakukan atas nama Yahudi, untuk, dan oleh negara Yahudi. Fakta bahwa negara seperti itu (Israel) secara istilah tidaklah cocok, karena hampir 20 persen populasinya bukanlah Yahudi, tidak pernah disampaikan kepada publik dan hal ini juga bertanggung-jawab terhadap kesenjangan yang luar biasa, dan memang disengaja, antara apa yang media sebut sebagai “Arab Israel” dengan “Palestina”: mungkin tak seorang pembaca atau pemirsa pun tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sama, yang dalam kenyataannya dipisahkan oleh kebijakan Zionis, atau bahwa kedua komunitas itu merepresentasikan akibat dari kebijakan Israel—kasus apartheid di satu sisi, dan pendudukan militer serta pembersihan etnis di sisi lain.

Ringkasnya, Zionisme Amerika telah menciptakan setiap diskusi publik yang serius mengenai Israel, penerima bantuan asing AS terbesar yang pernah ada, baik masa lalunya maupun masa depannya, sebuah tabu yang tidak boleh dilanggar dalam situasi apa pun. Untuk menyatakan hal ini secara jelas sebagai tabu terakhir di dalam diskursus Amerika akan dipandang sebagai suatu pernyataan yang dibesar-besarkan. Aborsi, homoseksualitas, hukuman mati, bahkan anggaran militer yang suci itu telah dibicarakan dengan bebas (meski selalu harus berada di dalam batas). Bendera Amerika bisa saja dibakar di muka umum, sementara kesinambungan sistematis perlakuan Israel selama 52 tahun terhadap Palestina hampir tak terbayangkan, sebuah kisah yang tidak boleh muncul ke hadapan publik.

Konsensus ini hingga batas-batas tertentu mungkin dapat ditoleransi selama tidak menjadikan dehumanisasi yang terus berlangsung terhadap orang-orang Palestina itu sebagai sesuatu yang bermoral. Tidak pernah ada bangsa di dunia pada hari ini yang pembunuhan terhadap mereka di layar-layar televisi dipandang oleh mayoritas pemirsa Amerika untuk diterima sebagai sebuah hukuman yang wajar. Inilah yang menimpa Palestina yang kematian warganya sehari-harinya dipersepsikan di bawah judul “kekerasan dua pihak”, seolah-olah batu dan katapel anak-anak muda itu, yang lelah dengan ketidakadilan dan penindasan, merupakan kekerasan yang lebih utama alih-alih resistensi mereka yang berani terhadap perendahan nasib yang ditakar kepada mereka, bukan hanya oleh para prajurit Israeli dengan senjata buatan Amerika tetapi juga oleh sebuah “proses damai” yang dirancang untuk memenjarakan mereka di dalam Bantustan dan tempat-tempat penampungan yang hanya cocok untuk binatang.

Bahwa para pendukung Israel di Amerika selama tujuh tahun merencanakan demi menghasilkan suatu dokumen yang utamanya didesain untuk memenjarakan banyak orang layaknya para pesakitan dalam sebuah tempat rehabilitasi atau penjara, adalah sebuah kejahatan yang nyata. Dan bahwa ini bisa disamarkan sebagai perdamaian alih-alih sebagai kebinasaan yang memang terjadi selama ini telah melampaui kemampuan saya untuk memahami atau cukup menggambarkannya sebagai sesuatu yang tidak lain daripada kebejatan yang tanpa batas. Hal terburuk dari semua ini adalah begitu tebalnya dinding yang membatasi wacana tentang Israel di Amerika, bahwa tidak ada pertanyaan yang dapat diajukan kepada pikiran mereka yang menghasilkan Oslo dan bahwa selama tujuh tahun rencana mereka disamarkan kepada dunia sebagai “perdamaian”. Nyaris tidak ada orang yang mengetahui manakah yang lebih jahat: mentalitas yang berpikir bahwa Palestina bukan entitas yang berhak untuk mengekspresikan perasaan ketidakadilan mereka (mereka terlalu rendah bagi hal itu) ataukah mentalitas yang terus merencanakan perbudakan atas mereka?

Apakah seluruh hal tersebut sudah cukup buruk? Namun, status kita yang menyedihkan terkait Zionisme Amerika semakin diperparah oleh tidak adanya institusi di sini atau di dunia Arab yang siap dan mampu menghasilkan sebuah alternatif. Saya cemas bahwa peliputan seputar batu yang dilemparkan para pengunjuk rasa di Bethlehem, Gaza, Ramallah, Nablus, dan Hebron tidak cukup terefleksikan di dalam kepemimpinan Palestina yang serba ragu, tidak mampu untuk mundur ataupun bergerak maju. Dan ini adalah kemalangan yang terakhir.

Catatan:

Tulisan ini dimuat sebagai artikel berseri (bersambung) di Al Ahram Weekly, 21-27 September, 2-8 November, Edisi No. 500-506.

Edward W Said (1935-2003) adalah teoritikus sastra Amerika-Palestina. Ia lahir dari keluarga Palestina Protestan. Posisi terakhirnya adalah Gurubesar Kesusastraan Inggris dan Komparatif pada Universitas Colombia, dan dipandang sebagai salah satu figur pelopor dalam teori posmodernisme. Dalam dunia Islam dan Ketimuran, Said dikenal sebagai salah seorang yang pertama menjelaskan dan mengkritik “Orientalisme”. Selain itu, ia juga populer sebagai aktivis pembela hak-hak bangsa Palestina. Awalnya, Said mendukung “solusi dua negara” dan masuk ke dalam Palestinian National Council (PNC) sebagai salah seorang anggotanya. Menjelang penandatanganan Kesepakatan Oslo 1993, Said mengundurkan diri dari PNC karena merasa Oslo sebagai pengkhianatan atas bangsa Palestina dan tidak akan pernah menghasilkan berdirinya negara Palestina yang berdaulat. Secara khusus, ia menyebut Yasser Arafat telah menjual “hak pulang” bangsa Palestina ke tanah air mereka. Akhirnya, ia mendukung “solusi satu negara” di tanah historis Palestina, dimana warganya, baik Yahudi, Arab, maupun lainnya, bisa hidup damai dan menikmati kesetaraan hak. Karena Leukemia kronis, Edward Said wafat pada 25 September 2003 di New York City pada usia 67 tahun. Pada 2006, seorang antropolog, David Price, berhasil membongkar kumpulan dokumen Biro Penyelidik Federal FBI, yang 147 halaman di antaranya berkaitan dengan Said. Sejak 1971, Said ternyata diawasi dan dimata-matai FBI dengan kode “IS Middle East” (IS= Israel).

Edisi cetakan terjemahan tulisan ini dapat dibaca di jurnal Al-Huda Volume 4, Nomor 14, 2008, halaman 66-84

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s