Zionisme Amerika (Bagian Kedua)

Edward Said by William D Hart

Oleh Edward W. Said (Penulis buku monumental Orientalism)

“AIPAC selama bertahun-tahun menjadi begitu berpengaruh bukan hanya karena didukung oleh populasi Yahudi yang terorganisasi, terhubungkan dengan baik, sangat menonjol, sukses, dan kaya tetapi sebagian besarnya karena sedikit sekali resistensi terhadapnya”

Apa yang hendak saya diskusikan dalam bagian selanjutnya adalah bagaimana satu-satunya strategi politik yang mungkin bagi AS sejauh terkait kebijakan mengenai Arab dan Palestina bukanlah sebuah kesepakatan dengan Zionis maupun dengan kebijakan AS. Namun, strategi itu adalah sebuah mobilisasi kampanye publik yang diarahkan kepada rakyat AS demi kepentingan hak-hak kemanusiaan, sipil, dan politik bangsa Palestina. Semua kesepakatan, apakah itu Oslo atau Camp David, akan gagal karena, sederhananya, diskursus resmi mengenai Palestina secara total didominasi oleh Zionisme dan, dengan beberapa pengecualian, tidak ada alternatif lain yang mungkin. Dengan demikian, semua kesepakatan damai yang diambil atas dasar sebuah persekutuan dengan AS adalah kesepakatan yang justru lebih menjustifikasi kekuatan Zionisme ketimbang melawannya. Untuk menyerah begitu saja kepada kebijakan Timur Tengah yang didominasi Zionis, sebagaimana yang Arab telah lakukan selama lebih daripada satu generasi, tidak akan menghasilkan stabilitas di Palestina dan juga kesetaraan dan keadilan di AS.

Ironinya adalah bahwa masih ada sejumlah besar opini yang siap beroposisi, baik kepada Israel maupun kebijakan luar negeri AS. Tragedinya adalah Arab terlalu lemah, terlalu bercerai-berai, sangat tidak terorganisasi, dan tidak peduli untuk mengambil keuntungan dari kesempatan tersebut. Saya juga akan membahas faktor-faktor penyebabnya pada bagian selanjutnya karena harapan saya tertuju kepada generasi baru yang mungkin terkacaukan dan terlemahkan oleh tempat yang memilukan, dimana kebudayaan dan masyarakat kami kini berada, dan oleh kemarahan yang konstan serta kehinaan yang kami semua alami sebagai akibatnya. Sebuah episode kecil tapi mungkin memalukan terjadi sejak saya menulis bagian terakhir dari artikel ini dua minggu lalu. Martin Indyk, duta besar AS kepada Israel (untuk periode kedua selama masa pemerintahan Clinton), tiba-tiba dicabut jaminan keamanan diplomatiknya oleh Departemen Luar Negeri. Ceritanya karena ia menggunakan komputer jinjingnya tanpa melalui prosedur keamanan yang semestinya, dan karenanya mungkin telah merilis informasi kepada orang-orang yang tidak berwenang. Akibatnya, ia kini tidak bisa memasuki atau meninggalkan Departemen Luar Negeri tanpa pengawasan, tidak bisa tetap berada di Israel, dan seharusnya menjalani sebuah investigasi menyeluruh.

Kita mungkin tidak bisa menemukan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, apa yang menjadi rahasia publik dan sayangnya tidak dibahas oleh media adalah skandal penunjukkan Indyk pada kali pertamanya. Menjelang pelantikan Clinton pada Januari 1993, diumumkan bahwa Martin Indyk, yang lahir di London dan menjadi warganegara Australia, telah disumpah menjadi warganegara AS berdasarkan atas kehendak langsung presiden terpilih. Prosedur-prosedur yang semestinya tidak dilalui. Ini adalah sebuah tindakan dari hak prerogatif eksekutif, sehingga, setelah memperoleh kewarganegaraan AS, Indyk dapat segera menjadi seorang anggota Dewan Keamanan Nasional AS yang bertanggung jawab dalam kebijakan Timur Tengah.

Semua ini, saya percaya, merupakan skandal yang sebenarnya, bukan kecerobohan Indyk setelahnya atau atau ketidakhati-hatiannya, atau bahkan keterlibatannya dalan mengabaikan kode-kode etik yang resmi. Karena sebelum ia datang ke jantung pemerintahan AS pada puncak dan posisi yang seringkali dijalankan secara rahasia, Indyk adalah kepala Washington Institute for Near East Policy, semacam think thank yang terlibat dalam mendukung secara aktif kepentingan Israel, dan yang mengordinasikan aktivitasnya dengan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), lobi paling berpengaruh dan ditakuti di Washington. Patut diperhatikan bahwa sebelum datang ke pemerintahan Bush, Dennis Ross, penasehat Departemen Luar Negeri AS yang memimpin proses perdamaian Amerika, adalah juga kepala Washington Institute. Jadi, lalu-lintas antara lobi Israel dan kebijakan Timur Tengah AS sangatlah reguler, dan memang diregulasikan.

AIPAC selama bertahun-tahun menjadi begitu berpengaruh bukan hanya karena didukung oleh populasi Yahudi yang terorganisasi, terhubungkan dengan baik, sangat menonjol, sukses, dan kaya tetapi sebagian besarnya karena sedikit sekali resistensi terhadapnya. Terdapat ketakutan dan rasa hormat yang kuat bagi AIPAC di seluruh Amerika, dan khususnya di Washington, dimana dalam beberapa jam saja nyaris seluruh anggota Senat dapat digiring untuk menandatangani sebuah surat kepada presiden demi kepentingan Israel.

Siapa yang mau menentang AIPAC dan melanjutkan karirnya di Kongres, atau berhadapan dengannya demi kepentingan, katakan saja, bangsa Palestina ketika tidak ada hal konkret yang dapat ditawarkan dibandingkan dengan apa yang ditawarkan kepada siapa pun yang mendukung AIPAC? Di masa lalu, satu atau dua anggota Kongres memang melakukan resistensi terhadap AIPAC secara terbuka tetapi segera setelahnya pemilihan ulang mereka diblok oleh banyak komite aksi politik yang dikendalikan AIPAC. Satu-satunya senator yang terlihat memiliki pandangan oposisi terhadap AIPAC adalah James Abu Rezk, tetapi dia menolak untuk dipilih kembali dan, karena alasannya sendiri, mengundurkan diri setelah periode enam tahunnya berakhir.

Tidak ada pengamat politik yang secara jelas dan terbuka menentang Israel di AS. Seorang kolumnis liberal, seperti Anthony Lewis dari New York Times, kadang-kadang menulis kritik terhadap praktik pendudukan Israel, tetapi tidak ada yang dikatakannya mengenai 1948 dan seluruh isu tentang pengusiran Palestina yang orisinal, yang menjadi akar dari keberadaan Israel dan perilaku-perilaku setelahnya.

Dalam sebuah artikel, baru-baru ini mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, Henry Pracht, mengungkapkan adanya keselarasan opini yang luar biasa di semua sektor media Amerika, dari film, televisi, radio, suratkabar, hingga terbitan-terbitan mingguan, bulanan, kwartalan, dan harian: semuanya, lebih atau kurangnya, bersentuhan dengan garis kepentingan Israel, yang juga menjadi garis kebijakan resmi Amerika. Inilah keselarasan yang Zionisme Amerika capai sejak 1967, dan yang dieksploitasi dalam sebagian besar wacana publik mengenai Timur Tengah. Dengan begitu, kebijakan AS setara dengan kebijakan Israel, terkecuali dalam beberapa kesempatan yang teramat jarang (misalnya dalam kasus Pollard), dimana Israel melangkahi batas dan berasumsi bahwa ia mempunyai hak untuk menolong dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Kritik terhadap praktik-praktik Israel, karenanya, sangat terbatas pada manuver-manuver yang sporadik, yang sangat jarang hingga nyaris tidak terlihat. Konsensus utamanya benar-benar tak tersentuh kritik dan begitu kuat hingga dapat dipaksakan di mana-mana sebagai arus utama yang diterima. Konsensus ini terdiri dari ‘kebenaran’ yang anti-kritik mengenai status Israel sebagai negara demokrasi, kualitas dasarnya, hingga modernitas dan rasionalitas rakyat serta keputusannya.

Rabbi Arthur Hertzberg, seorang agamawan liberal Amerika, suatu kali pernah mengatakan bahwa Zionisme adalah agama sekuler komunitas Yahudi Amerika. Ini didukung secara jelas oleh beragam organisasi Amerika yang perannya adalah untuk mengawasi kehidupan publik dari perbedaan, bahkan ketika banyak organisasi Yahudi lainnya menjalankan rumah sakit, musium, dan lembaga-lembaga riset demi kebaikan negara ini. Dualitas ini tampaknya adalah sebuah paradoks yang tak tertuntaskan dimana lembaga-lembaga publik yang mulai eksis bersama dengan lembaga-lembaga yang tak berhati nurani dan nyaris tidak manusiawi. Karenanya, sebagai contoh, Zionist Organization of America (ZOA), sebuah kelompok fanatik kecil tapi vokal, memasang sebuah iklan di New York Times pada 10 September 2000. Iklan ini ditujukan kepada Ehud Barak seolah-olah ia adalah pegawai yang digaji Yahudi Amerika.

Iklan ini mengingatkan Barak bahwa enam juta Yahudi Amerika adalah lebih banyak daripada lima juta orang Israel yang telah memutuskan untuk menegosiasikan Yerusalem. Bahasa di dalam iklan itu bukan hanya bernada peringatan tetapi juga mengancam dengan mengatakan bahwa perdana menteri Israel secara tidak demokratis telah memutuskan apa yang ditentang oleh Yahudi Amerika, yang tidak rela dengan sikapnya. Tidaklah jelas siapa yang memberi kelompok fanatik kecil nan agresif ini sebuah mandat untuk menceramahi perdana menteri Israel dalam nada seperti itu. Namun, ZOA merasa mempunyai hak untuk mengintervensi urusan siapa pun.

Mereka secara rutin menghubungi dan menulis surat kepada rektor universitas saya agar ia mengeluarkan atau mencekal saya karena sesuatu yang telah saya katakan, seolah-olah universitas sama dengan taman kanak-kanak dan para profesornya dapat diperlakukan layaknya para penjahat di bawah umur. Tahun lalu, mereka menggalakkan sebuah kampanye untuk menjatuhkan saya dari posisi sebagai presiden Modern Language Association, dimana 30 ribu anggotanya mereka ceramahi seolah-olah kumpulan orang bodoh. Ini adalah jenis intimidasi gaya Stalin yang paling buruk tetapi telah menjadi ciri khas Zionisme Amerika dalam kondisinya yang paling fanatik.

Demikian juga, selama beberapa bulan terakhir, para penulis dan editor Yahudi sayap kanan (seperti Norman Podhoretz, Charles Krauthammer, dan William Kristol—untuk menyebut beberapa nama propagandis yang paling kasar) melancarkan kritik terhadap Israel karena telah membuat mereka tidak rela, seolah-olah mereka lebih berhak memiliki label “Israel” ketimbang siapa pun. Nada bahasa mereka dalam artikel-artikel tersebut, dan artikel-artikel lainnya, benar-benar mengerikan: sebuah kombinasi dari selera rendah, kebodohan yang eksplisit, khotbah soal moral, dan bentuk kemunafikan paling buruk. Semua itu mereka sampaikan dalam suasana kepercayaan diri yang sempurna.

Mereka berasumsi bahwa dengan adanya kekuatan organisasi-organisasi Zionis yang mendukung dan melindungi keliaran mereka, maka mereka bisa bebas begitu saja menampilkan verbalisme yang melewati batas. Namun, hal ini lebih banyak disebabkan oleh mayoritas orang Amerika yang tidak peduli kepada apa yang mereka katakan atau diintimidasi untuk bungkam sehingga membuat mereka terus melenggang dengan semua omong kosong tersebut. Hanya sedikit orang Amerika yang bersentuhan dengan aktualitas-aktualitas politik Timur Tengah yang sebenarnya. Bahkan, orang-orang Israel yang lebih sensitif kerap memandang jijik orang-orang seperti itu.

Zionisme Amerika kini telah mencapai level dari sesuatu yang nyaris murni fantasi, yakni bahwa apa yang baik bagi Zionis Amerika, dalam hegemoni mereka dan wacana fiksi mereka, adalah baik bagi Amerika dan Israel, dan tentunya bagi Arab, Muslim, dan Palestina, yang dipandang tak lebih daripada sekedar rasa gatal yang bisa diabaikan. Siapa pun yang menentang dan berani menantang mereka (khususnya ketika dia seorang Arab atau Yahudi yang mengkritik Zionisme) akan menjadi korban dari pembunuhan karakter dan kekerasan yang paling buruk, dimana semuanya bersifat personal, rasis, dan ideologis.

Mereka tak pernah mengenal lelah dan benar-benar tanpa rasa kasih sayang atau kemanusiaan yang tulus. Mengatakan bahwa serangan dan analisis mereka seperti Perjanjian Lama dalam praktiknya adalah sama dengan menghina Perjanjian Lama itu sendiri.

Dengan kata lain, menjalin persekutuan dengan mereka, seperti yang coba dijustifikasi oleh negara-negara Arab dan PLO sejak Perang Teluk, adalah sebuah ketidakpedulian yang paling bodoh. Zionis Amerika secara dogmatis menentang segala hal yang Arab, Muslim, dan khususnya perjuangan bangsa Palestina serta dengan segera akan menghancurkan segala sesuatunya alih-alih membuat kesepakatan damai dengan kita. Adalah juga benar adanya bahwa sebagian besar orang awam dikacaukan oleh antusiasme dalam nada bahasa mereka seraya tidak menyadari apa yang sebenarnya berada di balik itu. Kapan pun Anda berbicara tentang Palestina dengan orang-orang Amerika yang bukan Yahudi atau Arab, dan tidak akrab dengan persoalan Timur Tengah, seringkali terdapat kemarahan yang ditunjukkan lewat sikap intimidatif, seolah-olah seluruh Timur Tengah adalah milik mereka untuk mereka ambil.

Zionisme di Amerika, saya simpulkan, hanyalah sebuah fantasi yang dibangun di atas fondasi yang lemah. Tidaklah mungkin menjalin persekutuan atau melakukan pertukaran rasional dengannya. Namun, ia juga dapat dibongkar dan dikalahkan.

Berkali-kali sejak pertengahan 1980-an, saya menyatakan kepada para pemimpin PLO dan setiap orang Palestina serta Arab yang saya temui bahwa upaya PLO untuk menarik perhatian presiden AS sepenuhnya merupakan sebuah ilusi karena semua presiden AS kontemporer telah mendedikasikan dirinya kepada Zionisme. Saya mengusulkan bahwa satu-satunya jalan untuk mengubah kebijakan AS dan memperoleh hak menentukan nasib sendiri adalah dengan melalui sebuah kampanye publik yang langsung kepada rakyat Amerika tentang hak-hak asasi bangsa Palestina, yang berefek pada terbongkarnya Zionisme.

Sebagai populasi yang tidak tercerahkan oleh informasi dan masih terbuka kepada rasa keadilan, orang-orang Amerika akan bereaksi seperti yang mereka lakukan terhadap rezim apartheid ANC, yang pada akhirnya mengubah keseimbangan di dalam Afrika Selatan. Secara berimbang di sini, saya harus menyebutkan bahwa James Zogby, sebelumnya adalah seorang aktivis hak asasi manusia yang energik (sebelum dia menjalin hubungan dengan Arafat, pemerintah AS, dan Partai Demokrat), dulu merupakan seorang pelopor ide tersebut. Bahwa dia mengabaikannya sekarang hanyalah tanda bahwa dia telah berubah, dan bukan tanda invaliditas ide itu sendiri.

Namun, juga menjadi jelas bagi saya bahwa PLO tidak akan pernah melakukan ide itu karena beberapa alasan. Pertama, ide itu membutuhkan kerja keras dan dedikasi. Kedua, ia berarti mencakup sebuah pandangan filosofis yang benar-benar berbasiskan pada organisasi akar-rumput yang demokratis. Ketiga, ia harus menjadi sebuah pergerakan daripada sekedar sebuah inisiatif pribadi dalam kaitan dengan pemimpin-pemimpin yang ada sekarang. Dan terakhir, ia meniscayakan sebuah pengetahuan riil, dan bukan superfisial, tentang masyarakat AS. Di samping itu, saya merasa bahwa pemikiran konvensional yang selama ini mengunci kita dalam satu posisi yang buruk adalah sesuatu yang sulit diubah, dan waktu ternyata membuktikan hal itu benar.

Kesepakatan Oslo adalah sebuah penerimaan yang tak terbayangkan oleh Palestina bagi supremasi Israel-AS, alih-alih sebuah upaya untuk mengubahnya. (Bersambung ke Bagian Terakhir)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s