Maria Callas

Maria Callas by Arianna Stassinopoulos

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2011)

Meski tulisan tentang biografi Maria Callas ini didasarkan pada bukunya Arianna Stassinopoulos, namun tulisan ini telah bercampur dengan fiksi….

Hari itu, hujan rupanya tak jadi singgah, meski langit tampak mendung dan gelap, hanya gerimis sebentar. Itu pun seolah-olah mereka hanya ingin bermain-main sesaat saja. Tetapi justru karena itu pula, cuaca seperti kiasan kesedihan yang tak mampu untuk berkata-kata. Ketika kesedihan yang tengah dirasakan seseorang ternyata memang tak hendak disalin menjadi sebuah prosa atau sejumlah paragraf yang membutuhkan sekian halaman kertas atau catatan harian –yang karena dengan demikian, hanya akan menghancurkan beberapa bagian darinya yang lembut dan bersahaja. Sebab, sesingkat dan sesederhana apa pun, sebuah sajak memang lebih mampu mengungkapkan kesepian dan kesedihan seseorang.

Saat itu, kebetulan ketika senja mulai lengkap, ia hanya terus memandangi setiap butir-butir gerimis dari balik jendela kaca ruangannya di kota metropolitan itu. Mungkin sekedar untuk mendapatkan dan menemukan sedikit ketenangan dan meredam gejolak yang ada di dalam benaknya. Ia juga seakan tak menyimak lengkingan suara tenor Enrique Caruso yang membahana di ruangannya itu. Seolah-olah, di hari itu, di separuh senja yang mulai lengkap itu, hatinya memang begitu murung bak sebuah lembah yang dirundung salju.

Sebelumnya, sudah beberapa kali ia menulis surat kepada sahabatnya, John Ardoin. Beberapa surat yang memang terasa sangat pribadi. “If I could have a medicine that could give me strength, mental and physical, especially physical….I’d be pleased with three years, three good years coming back to what I was.” Begitulah bunyi beberapa kalimat dalam sepotong paragraf dalam salah-satu suratnya kepada sahabatnya itu. Sejumlah kalimat, yang entah kenapa, seakan-akan mengutuki diri dengan bimbang. Tak ubahnya sebuah penyesalan yang canggung dan rasa bersalah seorang perempuan yang tiba-tiba kehilangan gairah di saat ia sadar bahwa setiap detil hidup yang ingin dijalaninya sesuai yang ia harapkan ternyata acapkali terjadi di luar kehendak dan keinginannya.

Saat itu, saat cinta telah berubah menjadi sekeping sepi yang begitu tajam dan keras, dan berubah menjadi rasa bosan dan putus-asa, ia hanya bisa diam dan mengenang sejumlah moment miliknya di masa silam, meski belum terlampau jauh. Sementara, di ruangannya itu, suara lengkingan tenor penyanyi kesayangannya masih terus berkumandang, meski ketika itu hanya semakin melengkapi suasana senyap yang ada.

Tak lama setelah itu, saat ia kini terlentang di sofa panjang miliknya di ruangan itu, tanpa ia sadar kedua matanya telah terpejam, mungkin karena lelah dan kalah dengan gejolak yang ada di benak dan di dalam hatinya ketika itu. Sedangkan di luar, rintik gerimis yang telah reda memang sudah pergi ketika nyala lampu-lampu mulai berkerumun dan sepi telah bersekutu dengan angin yang sesekali berhembus. Beberapa jam kemudian, di saat dirinya tengah lelap karena wabah sepi dan gundah itu, sebaris ketukan menghujani pintu depan ruangannya. Untuk beberapa saat ia tak sadar bahwa seseorang telah datang untuk menyelamatkan sisa nyawa yang dimiliknya di hari itu, di senja yang kini telah diusir malam dan kerumunan lampu-lampu kota metropolitan.

Meski si pengunjung itu sempat berniat untuk membatalkan diri, namun karena intuisi yang hinggap begitu saja, ia segera mengangkat kembali tangan kanannya. Tetapi, sebelum tangan kanan si pengunjung itu mendarat di pintu depan ruangan apartemen di kota metropolitan itu, pintu itu telah terlanjur terbuka, yang pada saat itu segera menampakkan wajah seorang perempuan pemilik sepasang mata hitam yang besar dan menyala, wajah yang tampak sedikit lesu dan suram, namun tetap memancarkan aura dan kharisma seorang diva pujaan kelas menengah dan kelas atas di kota tempatnya berada itu.

“Aku sebenarnya tak menduga jika kau akan datang secepat ini, Nadia.” Ujarnya ketika itu kepada si tamu. “Masuklah!”. Pintu itu pun segera kembali tertutup tak lama setelah si tamu menginjakkan kedua kakinya ke ruangan, yang rupanya, sengaja tak menyalakan lampu yang cukup terang.

Si tamu yang mengunjuginya malam itu memang tak lain adalah sahabat dan sekretaris pribadinya, yang dalam beberapa hal telah mengenalnya dengan lebih baik ketimbang sahabat-sahabatnya yang lain. Mungkin karena faktor kesamaan jenis kelamin sebagai sesama perempuan. Sebab, hanya kepada Nadia lah ia bisa berkata jujur dan terus-terang perihal kebencian dan dendamnya kepada Jackie Kennedy, di mana perempuan yang dibencinya itu baginya tak lebih jelmaan iblis betina yang datang dan diutus sebagai kutukan dan nestapa berwujud perempuan atas dirinya.

Sementara itu, Nadia, yang sudah tahu benar kapan ia harus menjadi seorang sekretaris dan kapan harus memposisikan dirinya sebagai seorang sahabat, hanya mampu mencoba mendekap dan memeluknya, meski ada rasa sedikit canggung saat itu.

Sebenarnya, kedekatan kedua perempuan itu bisa dikatakan lebih karena memang keduanya berjalan dan hidup dalam dunia yang tak jauh berbeda. Entah dirinya dan Nadia sahabatnya itu, sama-sama menyadari bahwa ambisi dan hasrat tak selamanya berjalan serentak layaknya sepasang kekasih yang bergandengan tangan di sebuah senja.

“Medea,” ujar Nadia malam itu, Ibumu sempat menanyakan keadaanmu, dan kukatakan saja apa adanya.” Raut wajahnya tampak agak sedikit getir ketika sahabatnya itu memanggil dirinya dengan nama Medea, seorang tokoh dan karakter perempuan yang ia perankan dalam film yang disutradarai Pasolini, seorang sutradara yang terbilang eksentrik, yang memang telah memilih dirinya untuk memerankan tokoh dan karakter perempuan tersebut. Sadar telah membuat dirinya tak nyaman, Nadia pun menyesal dan segera memanggilnya Maria.

“Ah, lampu-lampu memang akan terasa sangat akrab di saat-saat tertentu, juga malam ini.” Ujar Nadia, yang lebih terdorong untuk mengisi kebekuan perbincangan mereka saat itu, di saat Nadia berada tepat di depan kaca jendela yang hordinnya masih terbuka. “Seolah-olah mereka telah menceritakan siapa diri kita di masa silam.” Balasnya, yang seketika itu Nadia menjadi sangat tersentuh sekaligus terkesima dengan apa yang dikatakannya itu.

Di luar, meski tampak hibuk, kota Paris saat itu memang tampak riang dan hingar, meski sempat diguyur hujan dan diserbu gerimis di waktu senja beberapa jam sebelum mereka berbincang dengan canggung dan akrab itu. Dan tentu saja, mereka telah akrab dengan sudut-sudut kota itu saat mereka sama-sama memandangi lampu-lampunya, meski tidak semuanya. Sebab, di kota itu, kadangkala mereka menyempatkan untuk menyusuri jalan yang sama di waktu malam atau pun pada saat senja, setelah atau sebelum Maria berada di panggung opera.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s