Esai Tentang Esai

Perang Antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji di Tahun 1682 Gambar Dibuat Tahun 1684

(Gambar: Perang Saudara di Banten Tahun 1682)

Disampaikan di Acara “Nyenyore Ramadhan Ala Rumah Dunia” 25 Agustus 2010 dengan Tema “Seni Menulis Esai”

Seorang esais bisa menulis sebuah esai lebih dimungkinkan dari sebuah keakraban dan keintiman dengan apa saja yang tiba-tiba menarik perhatian dan perasaannya dalam keseharian –sejauh pengalaman dan penangkapannya sendiri sebagai subjek atau pun pelaku hidup dan keseharian. Begitu pun ketika saya membaca sebuah esai, kadangkala sebuah esai yang saya baca membuat saya merasa terhibur dan membangkitkan minat saya untuk terus membaca esai yang sedang saya baca hingga tuntas –dan kadang mengajak saya untuk merenung, meragukan, dan memancing pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya saya anggap lumrah dan lazim sebelum esai yang saya baca menginformasikan sesuatu yang unik dan menyegarkan wawasan saya sendiri sebagai pembacanya.

Begitulah, ketika saya membaca sebuah esai –adakalanya saya merasa seperti tengah menyimak seseorang yang bercerita tentang pengalaman-pengalamannya yang terasa intim dan akrab, seolah-olah saya tengah berbincang dengan pacar atau kawan dekat saya sendiri ketika saya membaca sebuah esai yang ditulis seorang esais.

Karena itu menurut saya –bukanlah sesuatu yang tabu bila seorang esais mengemukakan atau pun menceritakan apa yang ditulisnya dengan pendekatan dan cara pandang yang amat pribadi dan subjektif. Bahkan ketika saya membaca sebuah esai yang ditulis oleh seorang esais, sedikit banyaknya saya akan mengenali dan menyelami karakter dan kepribadian penulisnya –jiwa dan perasaan-perasaan si esais itu sendiri melalui esai yang ditulisnya.

Seorang esais yang memiliki “sense of humor” yang segar biasanya akan menulis esai-esai yang nakal dan penuh canda untuk mengungkapkan pendapat-pendapat dan perasaan-perasaannya dalam sebuah esai –contohnya adalah ketika saya membaca esei-eseinya Mahbub Djunaidi, KH Abdurahman Wahid, dan Ahmad Sobary. Sementara itu, seorang esais yang memiliki kepribadian murung akan cenderung menulis esai-esai yang mengajak kita untuk merenung dan memancing kita untuk selalu bertanya –contohnya adalah esai-esai yang ditulis Soedjatmoko dan sebagian besar para pemikir dan filsuf.

Seorang esais akan sah mengungkapkan rasa suka atau tidak suka dalam sebuah esainya tentang apa yang dilihat, dipikirkan, dan dirasakannya. Seperti ketika saya membaca esai-esainya Michel de Montaigne yang tanpa rasa canggung sedikit pun mengungkapkan sejumlah kekesalan dan ketidaksetujuannya terhadap pandangan dan pemikiran yang menurutnya konvensional dan tak lagi memiliki relevansi dan manfaat untuk hidup keseharian. Montaigne pun tak canggung-canggung mengkritik kebekuan pemikiran atau pun tulisan-tulisan para filsuf yang dibacanya.

Dari tulisan-tulisan Montaigne-lah pengertian esai diambil dan diterima sebagai sebuah bentuk dan gaya tulisan –yang berbeda dengan artikel ilmiah yang mesti rigid, rigorous, dan steril dari perasaan-perasaan pribadi seorang penulis. Esai-esai Montaigne yang saya baca itu tak jarang pula menggunakan sindiran dan canda untuk mengkritik atau pun menolak pemahaman atau pun pemikiran dari tulisan-tulisan para penulis yang dibacanya sebelum dia sendiri menuliskan pendapat-pendapat dan komentar-komentarnya dalam esai-esai yang ia tulis.

Demikian juga –seorang esais bisa menulis sebuah persoalan yang mulanya dianggap remeh dengan sangat menarik dan menyadarkan saya tentang keberadaan sesuatu itu sendiri setelah sebelumnya saya menganggap persoalan yang dibicarakan dalam esainya seorang esais bukan sesuatu yang layak ditulis. Kemampuan tersebut dimungkinkan karena kesanggupan seorang esais itu sendiri dalam menyampaikannya dalam kata-kata dan tulisan dengan menarik dan merayu pembaca untuk membaca esai yang ditulisnya.

Misalnya, seorang esais bisa menulis tentang kehidupan dan keseharian seorang tukang becak dari sudut pandang yang bisa membuat kita bersimpati dan dapat merasakan kehidupan dan keseharian si tukang becak yang ditulis oleh seorang esais. Atau ketika saya membaca memoar seorang esais yang saya baca –sebuah otobiografi yang sanggup mengajak saya untuk merenungi diri saya sendiri ketika membacanya.

Dengan demikian dapatlah dikatakan –tentu saja ini pun masih dalam pengalaman dan pembelajaran saya sebagai seorang pembaca dan penulis, sebuah esei adalah sebuah tulisan dan bahasa yang memiliki jiwa dan kepribadian. Sebuah esai acapkali bersahaja –tetapi dengan kesahajaan dan keluguan itu saya sebagai pembacanya merasakan kejujuran apa saja yang dikatakan atau pun yang diceritakan oleh esai yang ditulis seorang esais yang saya baca.

Juga di lain waktu dan kesempatan yang berbeda –saya membaca sebuah esai yang acapkali nakal, segar, dan penuh canda, yang dengan kenakalan dan kesegarannya tersebut saya sebagai pembacanya merasa terhibur ketika membacanya sembari mendapatkan informasi dan pengetahuan dari sudut pandang yang unik, bahkan kadangkala menggelitik pemikiran dan perasaan saya yang membacanya.

Seperti itulah menurut pengalaman pembacaan saya –sebuah esai menjadi menarik dibaca dan merayu saya untuk terus membacanya karena suara-suara yang menggema dari kata-kata dan bahasa yang berbicara di dalamnya mampu menyentuh tidak hanya pemikiran atau pun kognisi saya, tetapi juga perasaan dan kepekaan bathin saya.

Bila tulisan ilmiah mesti steril dan objektif hingga terasa kering dan membosankan ketika saya membacanya, maka sebuah esai acapkali ditulis justru demi mengafirmasi dan merayakan subjektivitas seorang esais itu sendiri sejauh pengalaman, pendapat, pandangan, dan perasaan-perasaan yang ingin dikomunikasikan atau yang ingin diceritakan melalui medium tulisan demi membagi pengalaman-pengalaman, pandangan-pandangan, dan perasaan-perasaan yang ditulis seorang esais kepada saya sebagai sebentuk interaksi yang terasa hidup dan akrab ketika saya membaca esai-esai yang ditulis seorang esais.

Atas pengalaman dan pembacaan demikianlah –lagi-lagi saya ingin menegaskan pemahaman saya sendiri bahwa seorang esais akan menulis karena keakraban dan keintimannya dengan subjek-subjek yang dipikirkan, dijumpai, dan dialaminya, yang seringkali tulisan-tulisan yang ditulisnya lahir karena spontanitas alias bukan dari rencana yang ketat. Seorang esais akan menulis apa saja yang menarik minat dan perhatiannya tanpa mesti merasa terbebani dengan batas-batas disiplin dan kajian –yang dengan keakraban dan keintimannya itu, pikiran dan perasaan seorang esais menjadi sedemikian terlibat dengan subjek-subjek yang dialami dan dihidupinya. “Sebuah esei tidak dituntut menjadi netral atau pun bebas nilai dari imajinasi dan sisi-sisi pribadi seorang penulisnya”.

Sulaiman Djaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s